arsitektur e-Journal, Volume 5 Nomor 1, Maret 2012

July 15th, 2012 Comments off

ABSTRAK
Permukiman tradisional di Indonesia selalu memiliki lokalitas tertentu dalam menata dan menggunakan ruang, baik dalam skala hunian maupun permukiman. Seiring dengan kemajuan zaman dan globalisasi budaya,nilai dan bentuk-bentuk lokalitas ruang arsitektur tradisional pun semakin hilang.Kondisi tersebut sejalan dengan gerakan global untuk melindungi tempat-tempat yang memiliki warisan budaya yang signifikan. Di Dusun Sawun Kecamatan Wagir Malang terdapat permukiman masyarakat yang memiliki kebudayaan khas berupa akulturasi antara Kejawen dan Hindu yang tertuang dalam lokalitas ruang ritual dan sosialnya. Tujuan studi ini adalah untuk mengetahui nilai-nilai lokalitas ruang ritual dan sosial pada lokasi studi tersebut. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif, dan pendekatan Environment Behaviour Study. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lokalitas ruang ritualnya terwujud pada penggunaan konsep hirarki ruangnya, yaitu dimulai dari nilai kesakralan terendah (ruang nista) yaitu jalan umum desa;kesakralan menengah (madya) yaitupenggunaan ruang ritual pada halaman hunian maupun halaman pura;dan ruang dengan hirarki tertinggi (utama)yang terwujud dalam penggunaan ruang paling sakral baik dalam hunian maupun pura desa. Lokalitas ruang sosial dalam permukiman ini tercermin dalam terdapatnya pos-pos bambu di sekitar permukiman yang berfungsi sebagai sarana keamanan dan juga tempat warga bersosialisasi antar warga dalam lingkup kecil yang disebut dengan jagongan dan juga bale banjar Pura sebagai public space dan tempat kegiatan partisipatorik lainnya.
Kata kunci:  lokalitas, ruang,arsitektur tradisional, ritual, sosial.


ABSTRACT
Traditional settlements inIndonesia always hada particular locality in managing and using the space, both in residential and neighborhoodscale. Along with the development of civilization andglobalization of culture, values ​​and forms of traditionalarchitectural space locality getting lost. Conditions are in line with the global movementto protect the places that have significantcultural heritage. Hamlet Sawun WagirMalang District settlementsare communities thathave a distinctive culture as acculturation between Javanese andHindu locality contained in the ritual and social space. The purpose of this study is to determine the values ​​of locality and social ritualspace at the location of the study. The methodused in this study is qualitativedescriptive research and approach Environment BehaviorStudy. The results showed that the locality of the ritual space manifested in the use of the concept of spatial hierarchy, beginning from the sanctity of the lowest (abject space) is a public road villages, the sanctity of intermediate (middle) is the ritual use of space occupancy on a page orpages temples, and spaces with the highesthierarchy (main) embodiedin the use of the most sacred space in both the residentialand village temple. Locality social space in the settlements is reflectedin the presence of bamboo posts around theneighborhood that serves as a means of security andalso where peoplesocialize among people in a small scopecalled jagongan. BaleBanjar temple serves as a public space and places other participatoryactivities.
Key words: locality, space, traditional architecture, ritual, social.




ABSTRAK
Permukiman tradisional merupakan manifestasi dari nilai sosial budaya masyarakat yang memiliki peranan sangat penting dalam pembentukan struktur ruang permukiman di suatu desa. Permukiman Desa Wonokitri terbentuk dari nilai sosial budaya masyarakat Tengger yang terlihat dari penerapan kegiatan sosial budaya dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis karakteristik sosial budaya yang membentuk permukiman di Desa Wonokitri. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif eksploratif, analisis behavior mapping dengan metode person centered mapping dan analisis family tree. Hasil studi menunjukkan bahwa keterkaitan antara sistem aktivitas dengan ruang sebagai tempat pelaksanaannya membentuk pola pergerakan (lintasan) dan hierarki ruang tertentu di dalam permukiman masyarakat Tengger Desa Wonokitri. Terbentuk ruang budaya dan ruang ritual di dalam permukiman yang berdasarkan skala penggunaan ruangnya dikelompokkan menjadi skala ruang mikro, meso dan makro. Ditinjau dari tingkat kepentingan ruang ritual, pura, padhanyangan, makam keramat merupakan ruang sakral yang utama dan mempunyai peranan penting dalam pelaksanaan kegiatan sosial budaya di Desa Wonokitri. Pola pergerakan yang terbentuk dari pelaksanaan kegiatan sosial budaya menggambarkan pergerakan secara hierarkis, yakni pergerakan dari tempat sakral ke profan ataupun sebaliknya. Terdapat kesamaan dalam pola tahapan kegiatan, pola pergerakan dan penggunaan ruang pada beberapa kegiatan, terutama kegiatan yang terkait dengan ritual.
Kata kunci:sosial budaya, pola ruang, Tengger


ABSTRACT
Traditional settlement is a manifestation of the socio-cultural society that has a very important role in the formation of spatial structures in a rural settlement. Settlement of Wonokitri village formed from socio-cultural values ​​of Tengger society which is seen from the application of socio-cultural activities in the people’s daily lives.The purpose of this study is to identify and analyze the socio-cultural characteristics that form the settlement in Wonokitri village. The method used is descriptive exploratory method, behaviour mapping analysis with person centered mapping method and family tree analysis. The study results showed that the linkage between the activities and the space as a place where it happen form movement patterns (trajectory) and the hierarchy of a specific space in the settlement of Tengger society in Wonokitri village. Cultural space and ritual space formed in the settlement which is grouped into space scale micro, meso and macro based on the use of spatial scale. In terms of the importance of ritual space, temples, padhanyangan, sacred cemetery are the main sacred spaces and have a major role in the implementation of socio-cultural activities in Wonokitri village. Movement patterns that formed from the implementation of socio-cultural activities hierarchically describe the movement, the movement from the sacred place to the profane, or otherwise. There are similarities in the pattern of phases of activity, movement patterns and use of space in some activities, especially activities related to the ritual.
Key words: socio-cultural, space pattern, Tengger



Abstrak
Gaya arsitektur jengki merupakan modifikasi dan bukan tahapan lanjut dari gaya sebelumnya, yaitu arsitektur kolonial Belanda. Dari sisi bentuknya dapat dilihat dengan tanda unsur miring, seperti atap yang tidak menyatu pada puncaknya, tembok depan (gevel) miring, memiliki lubang angin (rooster) dan ragam ornamen yang campuraduk menjadi satu. Sesuatu yang tidak disadari di belakang adalah proses perkembangan pola pemikiran daripada bentuk fisiknya, yaitu sifat kemandirian, nasionalisme melawan penjajahan dan pencarian bentuk dari gaya yang sudah ada. Pola penyebarannya pun dapat dikatakan tidak merata dan tidak selalu memiliki ragam elemen yang kuat. Hal ini disebabkan arsitektur jengki berkembang pada era pasca kemerdekaan atau era transisi. Studi ini difokuskan untuk mengidentifikasi rumah bergaya jengki pada setiap kecamatan di Kota Malang dan Lawang, yang mana banyak ditemukan objek rumah jengki dan masih belum mendapat perhatian. Tujuan studi ini adalah untuk menganalisis tipologi dengan mengklasifikasi rumah jengki berdasarkan tipe-tipe tertentu dan menganalisis morfologinya berdasarkan tingkat perubahan dan kecenderungan perubahannya. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan rasionalistik dan studi kualitatif. Hasil studi adalah tabulasi tentang tipologi dan morfologi arsitektur jengki sebagai esensi pedoman bentuk arsitektur rumah jengki, yang akan memberikan kontribusi terhadap keilmuan arsitektur nusantara.
Kata Kunci:tipologi dan morfologi, arsitektur jengki,


Abstract
The jengki architecture style is a modification and not the later stages of the previous style of Dutch colonial architecture. From the form side it marked with at an angle elements, such as a roof that is not blend at its peak, the front side wall (gevel) at an angle, and have a vent (rooster) and ornaments variety that mixed into one. Something that not realized behind is the development process of the pattern than its physical form as nature of independence, nationalism against colonialism and searching the form from the existing style. The spreading pattern can be said uneven and not always have a strong various element. This is due the jengki architecture developed in post-independence era or the transition era. This research focused to identify the jengki style house in every district in Malang and Lawang, which many jengki houses object founded and still have not obtain attention. The purpose of this study is to analysis the typology with classified the jengki houses based on certain types and analysis the morphology based on the level and trends of change. The method used is descriptive with rationalistic approach and qualitative study. The result of this study is a tabulation of typology and morphology of jengki architecture as the essential guidelines for the jengki houses architecture and will contribute to scientific of nusantara architecture.
Key words:typology and morphology, jengki architecture 


ABSTRAK
Kampung Arab Kota Malang merupakan kampung kota yang terbentuk dari pengaruh kebijakan Pemerintah Belanda (Regering Regleementdan Vremde Oosterlingen), sehingga memiliki gaya arsitektur bangunan kolonial dan Jawa, serta budaya Islam. Namun modernisasi kawasan mengakibatkan perubahan tampilan visual bangunan kuno yang digantikan oleh bangunan modern. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengidentifikasi sejarah dan karakteristik kawasan dan bangunan kuno Kampung Arab. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif (observasi lapangan dan data sekunder) untuk mengidentifikasi dan menganalisis perubahan kawasan dan bangunan kuno, metode deskriptif evaluatif (analisis time series dan metode scoring), untuk mengetahui faktor penyebab perubahan kawasan, sedangkan untuk bangunan kuno digunakan metode deskriptif evaluatif (sinkronik diakronik dan analisis faktor). Hasil studi menunjukkan bahwa perubahan pada elemen fisik kawasan (character, connection, continuity, dan accessibility) adalah penambahan jumlah, jenis, dan kondisi bentuk elemen fisik kawasan dari periode ke periode. Untuk bangunan kuno terdapat 4 bangunan yang mengalami perubahan besar, 27 bangunan perubahan sedang dan 11 bangunan yang mengalami perubahan kecil. Perubahan kawasan dengan sinkronik-diakronik menunjukkan pengaruh perkembangan aspek sosial budaya, ekonomi dan politik saling memiliki keterkaitan terhadap perubahan kawasan maupun bangunan. Perubahan kawasan maupun bangunan disebabkan oleh ketiga aspek tersebut yang saling berkaitan. Penyebab perubahan bangunan kuno dikelompokkan menjadi tiga faktor, yaitu faktor I adalah kepemilikan dan lokasi, faktor II adalah usia dan perawatan, dan faktor III terkait adalah sosial budaya dan jumlah anggota keluarga.
Kata kunci: perubahan, kawasan dan bangunan kuno, Kampung Arab


ABSTRACT
Kampong Arab of Malang City represented in urban kampong is formed from by the influence policies of the Dutch Government (Regering Regleement and Vremde Oosterlingen) has an architecture style of colonial building and Javanese, as well as Islamic culture. However modernization of the area is consequently changes of the visual appearance of old buildings replaced by modern buildings. The purpose of this study is to identify the history and characteristics of the area and the old buildings in Kampong Arab. Method used is descriptive method (field observation and secondary data), to identify and analyze the changes of the area and the old buildings, evaluative descriptive method (time series analysis and scoring method), for old buildings used evaluative descriptive method (synchronic–diachronic and factor analysis). The result of this study showed that the changes of physical area elements (character, connection, continuity, and accessibility) are increase of the number, type, and the condition of physical area elements from period to period. For the old buildings enclose of 4 buildings which have in large change, 27 buildings have in moderate change and 11 buildings have small change. The changes of area used by synchronic-diachronic showed the influences concerning the development of social culture, economy and political aspects is have interconnected with the changes of area or the buildings. The changes of area or the buildings caused of the three aspects which is interconnected. Whereas the causal changes of the old buildings consist of three factors, the first factor are the owner and location, the second factors are age and treatment, and the third factors are social culture and number of family members.
Key words: changes, area and old buildings, Kampong Arab



© Antariksa  2012
Categories: Uncategorized Tags:

Pop Arsitektur Sebuah Dinamika Budaya

July 2nd, 2012 Comments off
Antariksa


Arsitektur perkotaan dewasa ini mempunyai bentuk tampilan fisik yang sangat beraneka ragam. Bentuk tampilan fisik itu menjadikan ciri budaya yang menarik bagi sebagian masyarakat, dan berkembangnya memunculkan spekulasi dari perjalanan arsitektur yang sulit untuk dikontrol lagi. Hal itu dilanjutkan dengan perkembangan arsitektur di seantero pelosok dunia yang sangat pesat pengaruhnya dan ini sebagai bagian dari era yang kita sebut dengan globalisasi. Tentu saja dari perkembangan tersebut akan memberikan pengaruh besar terhadap pendidikan arsitektur di Indonesia. Baik mazab, doktrin, style, maupun desain bangunannya. Arsitektur demikian berbicara dengan bahasa pop terkadang diproduksi massal dengan standar-standar tertentu. Dalam perkembangan dan perjalanannya karya-karya arsitektur semacam itu kadang-kadang terlihat tidak menghargai gaya masa lalu, yang muncul tanpa melihat kontekstual lingkungan tempat bangunan lain berada. Pada dasarnya seni ber’arsitektur’ itu tidaklah eksklusif dan sempit tentunya, tetapi selalu membaur dalam kehidupan fisiknya serta ingin sekali menghargai keanekaragaman dan pluralisme. Pada kenyataan perjalanan arsitek selalu mencari bentuk sederhana, dan dapat dijadikan sebuah karya yang bermakna tunggal. Meskipun banyak juga yang dalam prosesnya memunculkan elemen-elemen masa kini yang pada kenyataannya merupakan elemen “repetisi” (pengulangan). Karya asitektur dibangun dalam lingkungan urban yang sangan kontekstual sekali, namun teknik membangunnya tidak disertai pemahaman mengenai nuansa artistik. Bukan sebuah kisah arsitek dengan karya-karya yang melambangkan suatu dunia yang imajiner. Akan tetapi, aspek urban inilah yang memperlihatkan gaya, bentuk, dan corak yang saling bertentangan. Charles Moore dalam ‘Conversation with Architects’, mengatakan sebuah bangunan mempunyai kekuatan untuk menjadi apa yang diinginkannya, mengatakan apa yang ingin dikatakannya sehingga telinga kita mulai mendengar apa yang ingin disampaikan oleh bangunan tersebut (Grenz 2001:42). Kenyataannya kaum modernis menemukan identitas dirinya dengan membuang segala sesuatu yang lain dari dirinya; dengan cara ini, para arsitek modern mengatakan bahwa hasil karya arsitektur mereka bersifat murni (orisinal). Apakah arsitektur itu berkembang dan menjadi arus yang sangat dominan? Pada awalnya, mereka mempunyai keyakinan untuk menciptakan suatu tempat dan bangunan yang dapat memberikan kenyamanan pada manusia. Kenyataannya industrialisasi arsitekturlah yang menyingkirkan keanekaragaman tradisi dan lokalitas yang ada. Ekspansi ini berlanjut dengan menghancurkan bangunan kuno dan juga bangunan tradisional. Meskipun berdasarkan prinsip yang konon oleh Frank Llyod Wright dinyatakan dengan prinsip kesatuan (unity), dikatakan bahwa bangunan modern harus merupakan sebuah kesatuan organis. Bangunan harus merupakan “kesatuan yang agung” (one great thing) dan bukan kumpulan “bahan yang tidak agung” (little things) dalam kata lain bangunan harus mengekspresikan makna tunggal (Grenz 2001:39).
Arsitektur berkembang menjadi arus yang dominan sebagai cetusan jiwa modern untuk selalu “maju” dalam menghadapi tatanan global. Tidak Nampak kedalaman atau keluasan, melanggar batas sejarah demi untuk memberikan kesan masa kini. Melanggar orisinalitas dan tidak ada gaya sama sekali. Walter Gropius dalam “Programme of the staatloches Bauhaus in Weimar”, mengatakan mari bersama-sama kita bayangkan, pikirkan, dan ciptakan sebuah struktur masa depan baru yang meliputi bidang arsitektur, seni pahat, seni lukis sebagai sebuah kesatuan. Suatu hari, semua ini akan menjulang sampai ke langit melalui tangan berjuta-juta seniman. Ini menjadi keyakinan baru seperti sebuah kristal (Grenz 2001:40). Karena itu memikirkan struktur masa depan baru dengan menyingkirkan demensi modern dan postmodern dan hanya berfokus pada fungsi akan mengalami perjalanan yang tidak mudah. Bahwa demensi artistik mempunyai peran besar untuk menyampaikan suatu kisah. Ditekankan oleh Eco (2004:375), di dalam kasus-kasus tertentu, bahkan terjadi pembunuhan arsitektur. Hanyalah style-nyalah yang diberi kesempatan hidup. Dalam kondisi ketidakpastian sekarang ini sangatlah sulit untuk member pandangan definitif mengenai peran perancang di masa mendatang atau bahkan di masa kini. Cross (1975) meminta kita untuk mempertimbangkan apakah kita sekarang memasuki masyarakat pasca-industri dan karenanya memerlukan proses desain pasca-industri (Lawson 2007:29). Arsitektur haruslah memberikan kepastian dengan bahasa barunya, yaitu kesatuan dan keseragaman (uniformity), meskipun pada kenyataannya juga terdapat bangunan-bangunan yang sangat tidak manusiawi. Dengan berbagai produksi massalnya, kekuasaan arsitektur semakin menjadi, sehingga mereka kehilangkan nilai-nilai sejarah bahkan juga kreatifitas dan imajinatifnya. 
                                                                                                                                                                                                                                                  
Dinamika Modern dan Postmodern
Banyak sejarawan menyebut era modern sebagai “era industrialisasi”, karena era ini di dominasi oleh produksi barang-barang. Karena fokusnya pada produksi material-material, modernism menghasilkan masyarakat industri. Simbolnya dalah pabrik. Sebaliknya, era postmodern mengarahkan fokus kepada informasi. Kita sedang menyaksikan transisi dari masyarakat industry ke masyarakat informasi. Simbolnya adalah computer (Grenz 2001:33). Apakah benar bahwa ciri dari budaya postmodern adalah pluralism. Untuk itulah para arsitek yang berjiwa seni mulai mencampurkan berbagai komponen yang saling bertentangan menjadi sebuah karya seni. Perubahan ini hanya sekedar mencemoohkan apa yang dilakukan di dalam era modernism dengan tradisi industrialisnya. Sebuah ekletisme baru yang ditata sedemikian rupa seolah mengubah tata cara dan tradisi yang berkembang pada era modernism. Komerialisasi ini memberikan perubahan besar dalam peradaban ber’arsitektur’, mereka saling melakukan tawaran yang saling bertentangan baik secara teknologi mupun material bahannya. Tanggung-jawab dari akibat perubahan itu menjadikan arsitektur perkotaan sebagai tempat mereka melakukan eksperimen menawarkan cara-cara baru yang terkadang ironis. Charle Jencks dalam ‘What is Post-Modernisme?’ mengatakan, postmodern adalah campuran antara macam-macam tradisi dan masa lalu. Postmodern adalah kelanjutan dari modernism, sekaligus melampaui modernism. Ciri khas karya-karyanya adalah makna ganda, ironi, banyaknya pilihan, konflik, dan terpercaya berbagai tradisi, karena heteregenitas sangat memadai bagi pluralism (Granz 2001:37). Kemasa kinian membuat arsitektur terjerembah ke dalam fenomena baru dalam menjelaskan stylenya, pemiskinan komponen dan elemen arsitektur menjadi perhatian besar dalam karya-karya yang nampak diseantero belahan dunia. Tak terkecuali di Indonesia, tatanan yang dipamerkan semakin beragam dengan adaptasi dan pemikiran si arsitek menjadikan eksebisi baru dalam menata sebuah perkotaan. Kelokalitasan menjadi trend baru saat ini, pencerminan bahan dan teknologi dicoba untuk diperdagangkan dengan moralitas tinggi. Ide klasik ditata dengan tampilan baru yang terkesan glamour menjadikan suasana semu yang penuh misteri itulah lokalitas arsitektur yang modernistis. Tampilan itu menjadikan nuansa baru bagi lingkungan dan masyarakat awam yang melihatnya. Namun, dampak urban-arsitektural pun akan mengganggu sebuah kawasan dengan kontekstual kuat terhadap aspek kultur-historis, yang tentu saja menjadi sebuah hak milik masyarakat yang harus dihormati. Apakah tatanan postmodern telah memberikan jaminan perjalanan bagi karya-karya arsitektur, regionalism dan lokalitas menjadi tantangan yang tentu saja harus diadaptasi agar bisa berjalan berdampingan. Dengan bentuk dan ruang barunya dan untuk menjaga agar tidak terjadi keasingan di kawasan baru tersebut, maka tatanan masyarakat urban yang masih tradisionalistik itu perlu dijaga.
Reaksi terhadap tumbuhnya arsitektur yang akhir-akhir ini menjamur di perkotaan telah memperlihatkan gaya dan corak dengan kekhasan masing-masing. Apakah ini menjadikan sebuah gejala arsitektur yang simbolik, atau mereka selalu memikirkan fungsi tanpa melihat rasio dan logika yang berkembang. Seharusnya mereka melayani penghuni perkotaan, yaitu masyarakat yang mempunyai tatanan sosio-budaya-ekonomi dengan kelas menengah bawah yang tidak sama atau berbeda di antara mereka. Kesesuaian antara bentuk dan realitas yang diciptakan para artis dalam hal ini arsitek membaur di dalam tatanan urban yang selalu dinamis. Kesejajaran antara batasan ruang publik terhadap persepsi masyarakat perkotaan menjadi semakin tajam perbedaan nuansa budaya yang diciptakannya. Menjadikan kota sebagai ‘ekspetasi visual’ dibentuk oleh apa yang dinamakan ketidaksesuaian antara objek dan realitasnya.
Dengan kata lain, batas antara fakta arsitektur dengan berjalannya styleatau langgam yang dibawanya tampak tegas telah semakin mengabur di era dinamika ‘postmodern’ ini. Perubahan dalam merekonstruksi peradaban arsitektur menjadi bagian untuk mencari kebenaran tampilan fisiknya, sebagai alternatif dalam menelusuri masa lampau. Popularitas arsitektur masa kini dengan beberapa eksperimennya menjadi ilustrasi menarik untuk dikaji. Memiliki masa lampau dan masa depannya sendiri dengan struktur dan elemen-elemennya.   

Kebudayaan dan Budaya Popularitas
Kebudayaan adalah sebuah konsep yang definisi sangat beragam. Pada abad ke-19. Istilah ‘kebudayaan’ umumnya digunakan untuk seni rupa, sastra, filsafat, ilmu alam, dan musik, yang menunjukkan semakin besarnya kesadaran bahwa seni dan ilmu pengetahuan dibentuk oleh lingkungan sosialnya (Burke 2001:177). Lalu bagaimana dengan arsitektur, bahwa tradisi ber’arsitektur’ tidak bertahan selamanya dan akan terjadi sebuah perubahan di dalamnya. Apakah itu tradisi dalam berbudaya atau sebuah ‘reproduksi budaya’. Penafsiran ulang dalam arsitektur akan mengingatkan pada terjadinya proses di era modernisme yang berproses kemudian masuk menjadi bagian dari era postmodernisme. Dengan demikian, konstruksi dalam budaya ber’arsitektur’ seharusnya lebih dilihat sebagai sebuah masalah arsitektur, bukan yang lainnya dan dibutuhkan sebuah analisis yang lebih rinci. Pada sisi inilah kecenderungan-kecenderungan baru itu memberikan makna pada arsitektur, sehingga kota sebagai tempat masyarakat harus dilihat dalam dua sisi, meskipun menurut Rogier Chartier perlu diganti, yaitu ‘sejarah sosial kebudayaan’ (social history of culture) dan yang satunya adalah ‘sejarah budaya masyarakat’ (cultural history of society). (Burke 2001:182) Sebaiknya keduanya hal itu, baik sejarah sosial maupun sejarah budaya tidak saling ditinggalkan, dan dapat digunakan sebagai pendekatan dalam menyelesaikan permasalahan arsitektur diperkotaan.
Akhir-akhir ini banyak gaya bangunan muncul untuk mewakili ciri tertentu dari apa yang dinamakan ‘kebudayaan populer’, yakni sikap-sikap dan nilai-nilai masyarakat awam serta pengungkapannya dalam arsitektur yang mereka maknai sebagai arsitektur ‘kerakyatan’. Perhatian terhadap tinggalan arsitektur akhirnya mencul seperti sebuah ‘puisi kebudayaan’, di tata berjajar dalam sebuah koridor atau jalan, dengan kolase dan warna yang gemerlap, elemen-elemen eklektis menjadi hiasan kemegahan bangunan tersebut. Arsitektur akhirnya menjadi ladang kegagalan akibat eksperimen dari arsitek yang kurang memahami lokalitas (kearifan lokal) dan budaya setempat. Bangunan yang dirancang ditata seperti etalase, dipertontonkan dengan bentuk dan warna-warninya, dan menjadi bagian kepentingan ekonomi bagi pemilik, arsitek maupun pemerintah kota. Pola-pola kebudayaan dengan ekspresi-simboliknya dalam kehidupan sehari-hari tidak dimaknai sebagai bagian dari perjalanan sejarah. Bangunan dapat dilihat sebagai ‘habitus’ menurut Arsitoteles, yang didefinisikan sebagai seperangkat skema (tatanan) yang memungkinkan agen-agen menghasilkan keberpihakannya kepada praktik-praktik yang telah diadaptasi atau disesuaikan dengan perubahan situasi yang terus terjadi (Burke 2001:179-180). Di sinilah letaknya keterkaitan lingkungan-arsitektur-sosial-budaya menjadi bagian yang harus dan perlu untuk diperhatikan oleh arsitek dan penentu kebijakan. Ilustrasi hidup ini menjadi impian perjalanan arsitektur saat ini, meskipun style dan langgam menjadi bagian yang selalu menghantui para arsitek di dalam merencana dan merancang objek arsitekturalnya. Popularitas pasca postmodern menjadi budaya yang semakin digemari dengan komersialisasinya yang berkembang baik di perkotaan maupun di wilayah perdesaan. Budaya masyarakat dikalahkan oleh komersialisasi global dalam bidang ekonomi menjelajahi hampir semua wilayah di Indonesia. Menjadikan sebuah budaya yang populer dalam ber’arsitektur’ dengan bentuk permainan-permainan, dengan maksud untuk menggantikan pandangan tradisional bahwa ideologi adalah refleksi dari masyarakat. Rasa identitas (nativisme), menjadi alat agar tampilan bangunan sebagai karya arsitektur ini sangat tergantung kepada keefektifan dalam mempertahankan rintangan dengan cara mencegah masuknya para arsitek maupun paham-pahamnya dari luar.
Tradisi tidak otomatis bertahan selamanya, ditularkan oleh orang tua kita dulu secara turun-temurun yang sekarang menjadi bagian tinggalan dari budaya masa lalu. Perjalanan arsitektur yang direpresentasikan sebagai perjalanan peradaban bangsa ini memberikan banyak memunculkan bentukan fisik, yang saling kontroversial tanpa memahami kesadaran terhadap pentingnya ‘kebudayaan’ itu.  Sebaliknya perubahan kondisi sosio-kultural masyarakat adalah fakta sosial yang bukan ilusi tetapi fakta kolektif masyarakat urban. Popularitas arsitektur menjadi gaya trend saat ini, memunculkan bahasa baru dalam budaya ber’arsitektur’, di mana ruang publik sudah tidak lagi memerlukan dimensi artistik sebagai lambang masyarakat modern. Dengan bahan-bahan industri mereka melayani dunia baru yang dikuasai oleh kekuasan sains dan teknologi. Bahwa di dalam kebudayaan abad kedua puluh, arsitektur Barat didominasi oleh ekonomi dan teknologi. Brutalisme atau Venturisme, Archigram atau arsitektur rasional operasionalisme atau rasionalisme baru-semua mengandung kesan teknologis. Mereka adalah produk-produk masyarakat teknologis abad kedua puluh (Skolimowski 2004:124-125). Penghargaan akan gaya masa lalu menjadi sirna, gaya modern seolah telah menemukan identitas dirinya dengan membuang segala yang lain dari dirinya. Karena itulah, arsitektur seharusnya menganut keanekaragaman tidak hanya berbicara masalah global, tetapi budaya kelokalan atau dengan kata lain ada yang menyebut ‘regionalisme’, haruslah juga diperhatikan. Menurut Skolimowski (2004:125), kita tidak ingin membangun gedung-gedung yang steril, lingkungan-lingkungan yang bermutu rendah, ruang-ruang yang di dalamnya jiwa manusia dihalangi; kebudayaan kita membuatkita merancang lingkungan-lingkungan dan ruang-ruang semacam itu. Kemudian Skolimowski melanjutkan ada sesuatu yang tersembunyi dan membahayakan di dalam pertunjukan para arsitek yang berbakti, tekun, dan berbakat yang bisa, dan ingin, membangun lebik baik daripada yang diizinkan untuk mereka hasilkan di dalam konteks masa kini.

Dinamika Budaya Ber’arsitektur’
          Pergesaran budaya dalam arsitektur terjadi akibat beberapa pendekatan dalam tradisional. Banyak pengamat sosial sepakat bahwa dunia Barat sedang mengalami pergeseran atau perubahan. Faktanya kita sedang merasakan perubahan budaya yang berlawanan dengan cirri khas zaman modern, yakni inovasi yang lahir sebagai reaksi terhadap kemandulan dan kelumpuhan Abad Pertengahan. (Grenz 2001:8) Hal itu akibat dari kreativitas arsitek sebagai kekuatan aktif yang dilandasi oleh kesadaran akan bagaimana hubungan budaya tersebut dengan masyarakat sekitarnya dapat berlangsung. Arsitektur seharusnya dipandang sebagai bagian dari konstruksi budaya dalam artian telah terjadi adanya dialektis antara mempengaruhi dan dipengaruhi. Apakah masyarakat yakin bisa menerima inovasi baru? Bagaimana konsepsi tradisional tidak mampu untuk meyakinkan masyarakat tertentu pada masa sekarang? Bagaimanakah seorang arsitek dapat mengkonstruksi konsep dan pemikiran baru dengan anlisis yang lebih rinci dan menjadi sebuah kajian menarik? Pembangunan bangunan-bangunan baru setelah pasca-postmodern ini memunculkan reaksi bahkan konflik dalam melihat arsitektur sebagai model seni untuk membangun identitas kolektif dengan cara nenampilkan diri secara berbeda dari lingkungan/kawasan di sekitarnya.
Seberapa jelaskah batas-batas budaya yang ada itu dapat dijadikan patokan-patokan dalam berkarya, dan sampai kapan semuanya dapat bertahan dalam dunia arsitektur ini. Tanda-tanda ekspresi budaya dalam demensi hidup terganjal oleh dinamika fenomena arsitektur yang dibangun berdasar lokalitas. Pemahaman semu ini menjadikan era di mana gagasan, ide-ide, dan nilai-nilai bertahta ketika arsitektur menyeberang dari modern ke postmodernisme, dan seolah-olah kita sedang berpindah kepada sebuah era budaya baru. Budaya ber’arsitektur’ menjadikan kesadaran arsitek sekarang ini berkembang dengan pola pikir masa lalu. Radikalisme dalam meletakkan bangunan dengan segala macam ragam bentuk stylenya tercermin dalam sebuah tatanan bangunan Ruko, yang berkembang atas dasar optimisme ekonomis sebagai tempat mereka (arsitek) untuk bermain. Dinamika ini menjadikan semua wilayah ‘terjajah’ oleh globalisasi ekonomi yang mendominasi masyarakat dewasa ini. Munculnya beberapa apartemen baru dengan berbagai macam sajiannya masing-masing telah menyerbu kehidupan masyarakat sekarang ini. Seolah mereka berpikir bahwa hunian yang mereka rancang yang menjulang tinggi akan memberikan kenyamanan dengan lingkungan barunya. Sebenarnya komunitas tempat masyarakat berada dengan keanekaragaman dan sikap pluralismenya mempunyai keyakinan bahwa pemahaman akan kebenaran itu dapat hidup berdampingan.
Teori-teori dan pendekatan-pendekatan yang dilakukan para arsitek perlu ada penyempurnaan bukan petikan atau pengulangan dari karya lain. Bahkan apa yang dinamakan dengan stylistic integrity (integritas gaya) ini, bukan dalam artian menantang kekuatan aturan-aturan yang ada. Akan tetapi menjadi salah satu sikap keragaman arsitektur dalam massa tunggal maupun banyak. Harapannya, budaya pop dalam arsitektur ini sebagai sebuah karya yang tidak terkait waktu dan ide-ide yang tidak dibatasi oleh waktu. Karena arsitektur masa kini menyukai radikalisme bentuk massa bangunan dijadikan sebagai pangung teater, dan membuat berbagai elemen saling berbenturan.
Ciri khas ini akan mempengaruhi budaya populer kita sekarang ini, mereka kurang bisa menempatakan seni arsitektur bermutu tinggi di atas budaya tersebut. Arsitektur mengikhtisarkan kebudayaan di mana ia merupakan bagian. Di dalam suatu kebudayaan yang maju, arsitektur ikut serta di dalam kemegahan. Kemudian ia mengungkapkan bukan hanya kekokohan dan komoditi tetapi juga kegembiraan. Ketika sebuah kebudayaan sedang runtuh dan tak mampu mempertahankan corak khasnya, arsitektur mendapat bagian yang banyak dipersalahkan karena kekurangan-kekurangannya terlihat sangat mencolok dan dialami semua orang (Skolimowski 2004:123-124). Arsitektur menjadi objek yang menarik dan unik, namun hasilnya belum tentu bisa dijangkau oleh masyarakat kelas menengah maupun bawah. Dengan langgam dan elemen-elemen yang dikatakan bernilai seni tinggi, namun hasilnya belum tentu bisa diterima oleh masyarakat awam. Harapannya arsitektur dapat mentautkan dua alam yang berbeda, yaitu profesional dan popularitas di dalam menata budaya masyarakat setempat.


Sumber Pustaka
Grenz, S.J. 2001. A Primer on Postmodernism: Pengantar untuk Memahami Postmodernisme. Yogyakarta: Yayasan ANDI.
Lawson, B. 2007. Bagaimana Cara Berpikir Desainer (How Designr Think). Yogyakarta & Bandung: Jalasutra.
Eco, H. 2004. Tamasya Dalam Hiperealitas. Yogyakarta & Bandung: Jalasutra.
Burke, P. 2001. Sejarah dan Teori Sosial. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Skolimowski, H. 2004. Filsafat Lingkungan. Yogyakarta: Bentang Budaya.


© Antariksa 2012
Categories: Uncategorized Tags:

Pemikiran dan Tahapan dalam Pelestarian Permukiman Tradisional

June 27th, 2012 Comments off
Antariksa



Pengertian pelestarian
Istilah pelestarian diartikan beraneka ragam sesuai konsep dan persepsi masing-masing para ahli perkotaan. Berikut beberapa pengertian pelestarian yang dapat dikemukakan oleh beberapa ahli, Yuwono (1995:3), mengemukakan bahwa pelestarian berarti suatu tindakan pengelolaan atau manajemen suatu satuan wilayah perkotaan atau perdesaan sebagai suatu satuan organisme kehidupan yang tumbuh dan berkembang dengan dua tujuan orientasi, yaitu (1) tindakan pengelolaan sumber budaya atas lingkungan hidup binaan yang dilaksanakan melalui proses politik; dan (2) tindakan untuk meningkatkan pendapatan. Danisworo dalam Budiharjo (1997:14) mengemukan istilah pelestarian sebagai konservasi, yaitu upaya untuk melestarikan, melindungi, serta memanfaatkan sumber daya suatu tempat, seperti gedung-gedung kuno yang memiliki arti sejarah atau budaya, kawasan dengan kehidupan budaya dan tradisi yang memiliki arti, kawasan dengan kepadatan penduduk yang ideal, cagar budaya, hutan lindung, dan sebagainya. Dengan demikian konservasi berarti pula preservasi, namun tetap memanfaatkan kegunaan dari suatu tempat untuk menampung/memberi wadah bagi kegiatan yang sama seperti kegiatan asalnya atau bagi kegiatan yang sama sekali baru, sehingga dapat membiayai kelangsungan eksistensinya. Makna pelestarian dalam Piagam Burra (The Burra Charter, 1981) merupakan proses pengelolaan suatu tempat agar makna kultural yang ada terpelihara dengan baik sesuai situasi dan kondisi setempat (Nasruddin, 2001:14). Pada bagian lain, Pontoh (1992:36) mengemukakan bahwa konservasi merupakan upaya melestarikan dan melindungi, sekaligus memanfaatkan sumber daya suatu tempat dengan adaptasi terhadap fungsi baru, tanpa menghilangkan makna kehidupan budaya. Selain itu konservasi juga diartikan sebagai payung dari seluruh tindakan pelestarian.
Berdasar pada pengertian yang telah dipaparkan dapat disimpulkan bahwa yang dimaksudkan dengan pelestarian adalah seluruh upaya/tindakan untuk memelihara, mengamankan dan melindungi sumber daya sejarah yang berbentuk bangunan dan lingkungan pada suatu kawasan agar makna kultural yang ada terpelihara dengan baik sesuai situasi dan kondisi setempat untuk kemudian dimanfaatkan dan dikelola dengan tujuan untuk meningkatkan pendapatan.

Lingkup pelestarian
Lingkup pelestarian dalam suatu lingkungan kota, objek digolongkan dalam beberapa luasan sebagai berikut (Sidharta & Budihardjo 1989:11-12):1. Satuan areal, adalah satuan yang dapat berwujud sub wilayah kota; 2. Satuan pandangan, adalah satuan yang dapat mempunyai arti dan peran yang penting bagi suatu kota. Satuan ini berupa aspek visual yang dapat memberi bayangan mental atau image yang khas tentang suatu lingkungan kota; dan 3. Satuan fisik, adalah satuan yang berwujud bangunan, kelompok atau deretan, rangkaian bangunan yang membentuk ruang umum atau dinding jalan.
Konsep konservasi tidak hanya mencakup monumen, bangunan atau benda arkeologis saja melainkan juga lingkungan, taman dan bahkan kota bersejarah. Berdasarkan peraturan Undang-Undang Cagar Budaya No. 11 Tahun 2010, pasal 1, lingkup objek pelestarian yang ditetapkan antara lain: a. Benda cagar budaya adalah: - Benda buatan manusia, bergerak atau tidak bergerak yang berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bangiannya atau sisa-sisanya, yang berumur sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan: dan - Benda alam yang dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan; dan b. Situs adalah lokasi yang mengandung atau diduga mengandung benda cagar budaya termasuk lingkungannya yang diperlukan bagi pengamanannya.

Permasalahan dan kendala pelestarian
Dalam upaya penjabaran strategi pembangunan berwawasan identitas, salah satu aspek yang sering terlupakan adalah pelestarian bangunan kuno/bersejarah, yang banyak terdapat di segenap pelosok daerah. Perhatian terlalu banyak dicurahkan pada bangunan baru, yang memang lebih mengesankan sebagai cerminan modernitas. Padahal dengan hilangnya bangunan kuno tersebut, lenyap pula lah bangunan dari sejarah suatu tempat yang sebenarnya telah mencitakan suatu identitas tersendiri, sehingga menimbulkan erosi identitas budaya (Sidharta & Budihardjo 1989:3).
Sidharta & Budihardjo (1989:3) mengungkapkan bahwa kesinambungan masa lampau–masa kini–masa depan yang mengejawantah dalam karya-karya arsitektur setempat merupakan faktor kunci dalam penciptaan rasa harga diri, percaya diri dan jati diri atau identitas karena keberadaan bangunan kuno bersejarah tersebut mencerminkan kisah sejarah, tata cara hidup, budaya dan peradaban masyarakatnya. Oleh karena itu, pelestarian bangunan kuno/bersejarah perlu untuk dilestarikan. Namun pada kenyataannya, kegiatan pelestarian sering mengalami benturan dengan kepentingan pembangunan, sehingga pelestarian dianggap sebagai penghalang pembangunan yang mengakibatkan timbulnya pertentangan–pertentangan dalam pelestarian.
Budiharjo (2005:210) mengungkapkan bahwa kendala konservasi adalah suatu permasalahan yang menyebabkan terhambatnya kegiatan konservasi. Kendala yang klasik, yaitu keterbatasan dana dalam pelaksanaan kegiatan. Kendala tersebut terjadi karena dalam pelaksanaannya terdapat ketergantungan terhadap sumber dana tertentu, yakni subsidi pemerintah. Budiharjo mencontohkan kendala pendanaan dalam mengkonservasi bangunan–bangunan kuno di pusat Kota Lama Semarang. Dalam hal mengatasi kendala tersebut, dilakukan seni negoisasi dan transaksi real estate. Selain itu, yang menjadi permasalahan bahwa warisan budaya kota umumnya berada di pusat kota/menempati lokasi–lokasi yang strategis yang menyebabkan kepentingan ekonomi lebih diutamakan daripada kepentingan untuk konservasi. Ada baiknya dalam pengembangan kegiatan konservasi tersebut memadukan antara kepentingan konservasi dan kepentingan ekonomi tersebut dengan alih fungsi bangunan yang lebih sesuai, namun kegiatan baru tersebut tetap mempertahankan wujud asli bangunan serta mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat.
Adhisakti dalam Hardiyanti (2005:22) menegaskan seringkali kendala dalam kegiatan pelestarian pusaka adalah kurangnya keterlibatan masyarakat dalam kegiatan pelestarian, yang berdampak pada terhambatnya kelangsungan hidup politis pelaksanaan kebijakan pelestarian. Kurangnya keterlibatan masyarakat muncul sebagai dampak dari kurangnya pemahaman mendalam masyarakat terhadap kegiatan itu sendiri. Guna menentukan keterlibatan yang bisa dilakukan masyarakat adalah perlunya pendekatan persuasif secara berkesinambungan. Sebagai kajian awal, perlu dilakukan usaha untuk mengetahui bagaimana persepsi mereka terhadap pentingnya memahami aspek kesejarahan yang terkandung dalam kawasan, persepsi terhadap pentingnya kegiatan pelestarian, dan persepsi terhadap perlunya keterlibatan masyarakat di dalam pelestarian. Kesamaan/keanekaragaman persepsi tersebut akan menentukan positif dan negatifnya penilaian terhadap persepsi yang ada. Persepsi masyarakat tersebut dinilai positif jika dapat mendukung jalannya kegiatan pelestarian, artinya adanya kesamaan persepsi di dalam masyarakat terhadap pentingnya memahami aspek kesejarahan yang terkandung di kawasan, persepsi terhadap pentingnya kegiatan pelestarian, dan persepsi terhadap perlunya keterlibatan masyarakat di dalam kegiatan pelestarian, begitu pula sebaliknya.
Permasalahan yang berkaitan dengan pertentangan perlu atau tidaknya pelestarian dapat digolongkan sebagai permasalahan makro pelestarian. Permasalahan makro yang dihadapi dalam melakukan kegiatan pelestarian bangunan dapat dibedakan atas aspek ekonomi, sosial dan fisik. (Tabel 1)


Aspek
                                                      Permasalahan
Ekonomi
a.       Pelestarian dianggap menghambat mekanisme ekonomi pasar bebas sejak diadakan sistem legalisasi.
b.       Desain bangunan yang dilestarikan dianggap tidak efisien dan penggunaannya kurang ekonomis menjadi penghalang pembangunan gedung dan  fasilitas yang lebih baik.


Sosial
a.       Dipandang sebagai usaha pencegahan atas perbaikan lingkungan ’kelompok lemah’ karena adanya halangan untuk membangun gedung dan fasilitas yang baru, pelestarian dianggap menyebabkan rakyat biasa harus melanjutkan tinggal dan bekerja dalam kondisi yang kurang.
b.       Hakekat pembangunan yang berhasil membawa pengubahan pada pola pikir dan pandangan masyarakat sehingga dalam mengambil keputusan lebih menitikberatkan pada kepentingan efisiensi yang bertujuan mendapatkan keuntungan ekonomis yang sebesar-besarnya.


Fisik
a.       Usaha yang dilakukan para perencana maupun kelompok koservasi dalam mempertahankan bentuk fisik pada kawasan dianggap mengabaikan permintaan terhadap fasilitas perbelanjaan karena fasilitas perbelanjaan memerlukan area horizontal yang luas untuk ruang jual, ruang pamer dan parkir, sedangkan kawasan yang bernilai sejarah cenderung menyediakan unit-unit untuk pedagang eceran yang membutuhkan ruang sempit dalam bangunan vertikal.
Sumber: Gufron (1994\20-21); Yuwono (1996:2-3) dalam Krisna, 2005

Selain permasalahan pelestarian yang bersifat makro, di dalam penerapannya pelestarian juga menghadapi permasalahan yang timbul dalam pelaksanaan kegiatan pelestarian yang berkaitan dengan sistem pengelolaan warisan budaya, dengan perangkat terkait sebagai berikut: aspek legal, sistem administrasi, piranti perencanaan, kuantitas dan kualitas tenaga pengelola, serta pendanaan (Catanese & Snyder, 1992:429). Permasalahn mikro yang dihadapi dalam pencapaian sasaran pelestarian (Tabel 2).
Aspek
Permasalahan
Hukum
a.       Hak-hak dan tanggung jawab apa yang dimiliki oleh anggota masyarakat dalam pelestarian bangunan?
b.       Seberapa jauhkah seharusnya pembatasan-pembatasan atas pengubahan dalam bangunan-bangunan yang dilestarikan?
c.        Dapatkah pemerintah memaksa pemilik untuk melestarikan dan memelihara bangunan yang dilestraikan?
d.       Hak-hak apa yang dimiliki oleh pemilik dan penyewa dalam kaitannya dengan tanah?
e.        Siapakah yang berhak memperoleh keuntungan dan kerugiannya?


Pendanaan
a.       Siapakah yang membiayai konservasi dan siapa yang memperoleh keuntungannya?
Pengelolaan
a.       Siapakah yang berhak dan harus memutuskan apa yang dilestariakan, untuk berapa lama dan sejauh mana?
Sumber: Catanese & Snyder (1992:429) dalam Krisna 2005
           
Seiring dengan perkembangannya, permukiman–permukiman tradisional juga mengalami pergeseran atau perubahan. Menurut Altman dalam Krisna (2005:18), faktor – faktor penyebab perubahan tersebut dapat dibedakan menjadi dua, yaitu pengaruh dari dalam dan pengaruh dari luar.
1.      Pengaruh dari dalam
Perwujudan suatu rumah disebabkan oleh adanya dorongan dari berbagai kebutuhan manusia, sehingga perubahan kebutuhan atau kepentingan manusia itu sendiri akan menyebabkan adanya perubahan fisik.
2.      Pengaruh dari luar
Kebutuhan hidup seseorang senantiasa berkaitan dengan lingkungannya, sehingga perubahan yang terjadi pada suatu lingkungan hunian disebabkan oleh pengaruh luar yang diterima penghuninya.
Selain itu, perubahan fisik maupun non fisik yang terjadi pada suatu permukiman tradisional disebabkan oleh adanya heterogenitas masyarakat yang mempengaruhi perubahan pada fungsi bangunan, keberagaman etnis dan profesi yang mempengaruhi tatana kehidupan dan pandangan hidup masyarakat dan tingkat kepadatan hunian yang tinggi mempengaruhi tradisi atau budaya bermukim, tatanan sosial budaya serta tata fisik lingkungan (Aliyah  2003:23).
Tindakan pelestarian bertujuan untuk menjaga karya seni sebagai saksi sejarah, dalam implementasinya sering kali berbenturan dengan kepentingan lain, yaitu pembangunan, sehingga timbul pertentangan-pertentangan dalam upaya pelestarian. Kritik yang sering dilontarkan adalah karena pelestarian sangat menghambat perubahan dan kemajuan, baik dari segia material maupun imajinasi, menurut Astuti dalam Risbiyanto (2006:28) hal tersebut terjadi karena dua faktor, yaitu sebagai berikut: - Adanya anggapan bahwa pelestarian sebagai penghambat pembangunan, kondisi demikian akan terjadi apabila suatu proses pembangunan dilihat sebagai proses perubahan, yaitu mengganti bangunan yang telah ada, maupun merubah struktur kawasan; dan - Manfaat pelestarian kurang dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Akibatnya tindakan pelestarian hanya dianggap membatasi dan merugikan pemilik bangunan maupun pengguna kawasan.
Beberapa contoh permasalahan dan kendala dalam kegiatan pelestarian, yaitu:
1.      Permasalahan pelestarian wisata budaya Dusun Sade:
Permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan pelestarian pada kawasan wisata budaya di Dusun Sade dapat dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut (Krisna 2005:143): - Permasalahan makro berkaitan dengan adanya sebagian masyarakat yang tidak setuju dengan upaya pelestarian yang ada, karena dianggap tidak menguntungkan secara ekonomi serta membatasi hak mereka untuk mengubah bangunan tradisionalnya sesuai dengan kebutuhan dan selera; dan- Permasalahan mikro berkaitan dengan pelaksanaan pelestarian yang meliputi belum adanya penetapan batas–batas pelestarian yang berkekuatan hukum, belum adanya badan khusus pelestarian dan alokasi dana khusus untuk pemugaran bangunan tradisional, serta belum adanya pedoman desain, Perda tentang pengendalian aktifitas kawasan termasuk perubahan fisik yang terjadi, serta belum adanya koordinasi antar instansi terkait.
2.      Permasalahan pelestarian pola perumahan Taneyan Lanjhang di Desa Lombang
Beberapa permasalahan yang teridentifikasi menurut pendapat masyarakat terkait dengan upaya pelestarian pola perumahan Taneyan Lanjhang di Desa Lombang dapat dibedakan menjadi beberapa aspek, antara lain (Dewi 2008:264): a. Aspek ekonomi; - Masyarakat merasa takut dirugikan; dan - Pemerintah ingkar terhadap perjanjian dalam pelaksanaan upaya pelestarian; b. Aspek sosial; - Masyarakat yang fanatik terhadap Islam sehingga tidak siap menghadapi resiko masuknya budaya yang tidak sesuai dengan Islam; dan - Hilangnya budaya lokal seiring masuknya budaya asing; c. Aspek fisik; - Terjadinya perubahan pola perumahan Taneyan Lanjhang yang telah ada; d. Aspek hukum: - Meningkatnya kriminalitas sebagai dampak pelestarian; dan - Kesadaran masyarakat yang rendah.
3.      Permasalahan pelestarian pola tata ruang permukiman tradisional Desa Adat Ubud.
Beberapa permasalahan yang teridentifikasi menurut pendapat masyarakat terkait dengan upaya pelestarian pola tata ruang permukiman tradisional Desa Adat Ubud dapat dibedakan menjadi beberapa aspek, antara lain (Patimah 2006:349): a. Aspek ekonomi; - Mahalnya biaya pembangunan yang diperlukan dan keterbatasan penghasilan; b. Aspek sosial; - Adanya pengaruh budaya asing; - Perubahan moral masyarakat; dan - Perkembangan zaman; c. Aspek fisik; 1. Permasalahan terkait dengan tata ruang tempat tinggal, di antaranya: - Luas lahan yang sempit; - Masih terdapat bangunan yang tidak terawat sehingga mengurangi nilai estetika. 2. Permasalahan terkait dengan tata ruang desa, di antaranya: - Semakin tergesernya sarana–sarana adat yang diposisikan pada daerah pinggiran desa karena lokasi awal dimanfaatkan sebagai kawasan komersial; dan - Berubahnya kawasan Pempatan Agung yang seharusnya di bagian tenggara adalah lapangan, sekarang dimanfaatkan sebagai pasar; d. Aspek hukum; - Muncul masyarakat yang mensertifikatkan tanah Ayahan desa, padahal seharusnya tanah tersebut tidak bisa diperjualbelikan.

Persepsi masyarakat di kawasan pelestarian
Partisipasi masyarakat menurut Wibisana dalam Krisna (2005:44), diartikan sebagai keikutsertaan, keterlibatan dan kebersamaan anggota masyarakat dalam suatu kegiatan tertentu baik secara langsung maupun tidak langsung. Keterlibatan tersebut dimulai dari gagasan, perumusan kebijakan, hingga pelaksanaan program. Partisipasi secara langsung berarti anggota masyarakat tersebut ikut memberikan bantuan keuangan, pemikiran dan materi yang dibutuhkan. Menurut Wilson dalamKrisna (2005:44), keterlibatan masyarakat dapat dilakukan dengan memberikan pendapat dalam public hearing yang diadakan untuk setiap rencana peremajaan suatu kawasan.
Widayati dalamKrisna (2005:44), menambahkan bahwa peran aktif masyarakat dalam suatu pelestarian merupakan hal yang penting karena hanya masyarakatlah yang mengetahui permasalahan serta apa saja yang dibutuhkan demi kesinambungan kawasan yang dilestarikan, yang dapat membawa dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. Namun, sebelum menuju kearah partisipasi tersebut dibutuhkan kesamaan persepsi diantara pihak–pihak yang terlibat dalam upaya pelestarian. Menurut Nur’aini dalam Krisna (2005:44), penyamaan persepsi masyarakat yang tinggal pada suatu kawasan pelestarian merupakan hal penting karena persepsi tersebut merupakan salah satu tolok ukur yang dapat digunakan untuk menentukan keberhasilan dalam kegiatan pelestarian. Adapun kesamaan persepsi yang dimaksud dalam hal ini mencakup kesamaan terhadap keberadaan dan fungsi kawasan, pentingnya aspek sejarah yang dikandung, pentingnya kegiatan pelestarian, serta perlunya dukungan dan partisipasi masyarakat dalam pelestarian.
Persepsi sendiri diartikan sebagai salah satu faktor psikologis yang sangat erat hubungannya dengan keberhasilan manusia dalam berinteraksi dengan masyarakat. Devidoff dalam Krisna (2005:44), memandang persepsi sebagai salah satu proses yang antara satu dengan yang lain sifatnya berbeda (individualistic) dari apa yang diperkirakan orang, sehingga apa yang dipersepsikan oleh orang bisa secara substansial berbeda dengan kenyataan objek tersebut karena individu–individu melihat objek yang semu tapi memandangnya berbeda.

Arahan pelestarian
Arahan pelestarian bangunan dan lingkungan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu pelestarian secara fisik dan pelestarian secara non fisik. Arahan pelestarian secara fisik, terdiri dari teknik-teknik pelestarian yang sudah dikenal luas, seperti preservasi, konservasi, renovasi, dan sebagainya. Sementara itu arahan pelestarian secara non fisik merupakan upaya pelestarian yang bersifat ekonomi, sosial, dan hukum. Penjelasan mengenai masing-masing arahan pelestarian tersebut dapat diuraikan sebagai berikut (Attoe dalam Dewi 2008: 63):
Pelestarian fisik
Pelestarian bangunan yang bersifat fisik dapat dibagi dalam dua cara, yaitu penggunaan kembali yang adaptif dan petunjuk pelestarian.a. Penggunaan kembali yang adaptif: Bangunan-bangunan yang telah dipakai lebih lama daripada pemakaian aslinya serta tidak dilindungi, masih mempunyai kemungkinan berkembang melalui pemakaian kembali adaptif, misalnya: bekas gudang menjadi tempat perbelanjaan, bekas tempat pembuatan bir menjadi museum kesenian. Cara ini diimplementasikan melalui pemakaian kembali adaptif bangunan kuno dengan fungsi baru yang dapat ditunjang tindakan perubahan fisik. Pertimbangan yang dapat dijadikan dasar dalam memutuskan fungsi yang dinilai sesuai untuk sebuah bangunan yang dilestarikan, yaitu sebagai berikut (Ross dalam Dewi 2008: 63): - Apakah pemanfaatan ruang sekarang dari bangunan masih dapat dilakukan dengan atau tanpa modifikasi terhadap strukturnya?; -Apakah struktur bangunan cukup kuat? Jika tidak, bagian apa yang rapuh dan pemanfaatan apakah yang sesuai untuk keadaan demikian?; - Fungsi lain apakah yang sesuai dengan bangunan tersebut? Hal ini dilakukan dengan menanyakan kepada para pakar bangunan atau arsitektur mengenai fungsi apa yang dapat diterapkan dengan fisik atau struktur bangunan yang semula?; dan - Dana-dana apa saja yang tersedia dan apakah sesuai dengan kemungkinan hasil studi?; dan b. Petunjuk pelestarian: Petunjuk pelestarian berarti standar-standar khusus dalam pengubahan bangunan dan teknik pelestarian. Secara umum dikenal beberapa teknik pelestarian dalam rangka pelestarian bangunan (Tabel 3)


Tabel 3. Teknik Pelestarian Bangunan
No.
Jenis Pelestarian
Definisi
Standar Pengerjaan
Keterangan
1.
Preservasi
Merupakan upaya pelestarian lingkungan binaan tetap pada kondisi aslinya yang ada dan mencegah terjadinya proses kerusakannya.
Tindakan yang dapat dilakukan:
§ Pemeliharaan berkala;
§ Pengecatan bangunan secara rutin;
§ Penggantian bangunan yang telah rusak/ lapuk;
§ Penambahan ornamen pada bangunan.
§ Secara fisik, strategi ini nyaris tidak mengakibatkan adanya perubahan atau sedikit sekali menimbulkan perubahan pada fisik bangunan (tingkat perubahan tidak ada/ sangat kecil).
§ Preservasi termasuk dalam cakupan konservasi.
§ Tergantung pada kondisi bangunan atau lingkungan yang akan dilestarikan, maka upaya preservasi biasanya disertai pula dengan upaya restorasi, dan atau rekonstruksi.
2.
Konservasi
Semua kegiatan pemeliharaan suatu tempat guna mempertahankan nilai budayanya, dengan tetap meanfaatkannya untuk mewadahi kegiatan yang sama dengan aslinya atau untuk kegiatan yang sama sekali baru untuk membiayai sendiri kelangsungan keberadaannya.

§ Kegiatan konservasi mencakup pemeliharaan sesuai kondisi setempat.
§ Konservasi suatu tempat merupakan suatu proses daur ulang dari sumber daya tempat tersebut.
§ Konservasi sebenarnya merupakan upaya preservasi, tetapi tetap memperlihatkan dan memanfaatkan suatu tempat untuk menampung dan mewadahi kegiatan baru, sehingga kelangsungan tempat bersangkutan dapat dibiayai sendiri dari pendapat kegiatan baru.
§ Dapat meliputi preservasi, restorasi, renovasi, rekonstruksi maupun adaptasi.
§ Secara fisik, strategi ini mengakibatkan adanya perubahan fisik pada bangunan (tingkat perubahan kecil).
3.









Replikasi (peniruan)
Pembangunan bangunan baru yang meniru unsur-unsur atau bentuk-bentuk bangunan lama yang sebelumnya ada tetapi sudah musnah.
Dapat diterapkan untuk penambahan bangunan baru di sekitar bangunan atau kawasan peninggalan sejarah, yang dilakukan dengan memberikan persyaratan khusus pada bangunan baru tersebut, yang meliputi:
§ Pembatasan tinggi, volume;
§ Garis muka bangunan;
§ Bahan bangunan, warna; dan
§ Gaya/ langgam elemen bangunannya.
§ Secara umum teknik ini dilakukan untuk bangunan atau kawasan peninggalan sejarah yang selalu berkembang dan disekitarnya cukup tersedia lahan untuk pembuatan bangunan tembahannya.
§ Contoh: Gedung Sate di Bandung.
4.
Renovasi (perombakan)
Tindakan mengubah sebagian maupun keseluruhan bangunan, terutama interior bangunan, sehubungan dengan adaptasi bangunan tersebut terhadap bangunan baru, konsep-konsep modern atau dalam menampung fungsi baru.

Cara ini biasanya dilengkapi dengan pembuatan dokumen dari bangunan lama yang dirombak, dan penyelematan terhadap beberapa bangunan dan objek – objek atau potongan-potongan (ornamen atau ciri lainnya) yang merupakan benda langka.
§ Upaya ini biasnya disertai dengan konservasi dan gentrifikasi suatu bangunan atau lingkungan.
§ Teknik ini dapat pula berupa perombakan bangunan atau kawasan lama yang didasarkan pada pertimbangan bahwa perombakan merupakan satu-satunya cara untuk memperpanjang umur bangunan, yaitu dengan membuat bangunan baru yang memperhatikan keserasian dengan bentuk bangunan lama di sekitarnya.
§ Contoh; Bank Perniagaan dan Bank Nasional di Kota Bandung.
5.
Rehabilitasi
Pengembalian kondisi bangunan yang telah rusak atau menurun, sehingga dapat berfungsi kembali seperti sedia kala.

Mementingkan bentuk bangunan asalnya, sehingga upaya penggantian terhadap elemen yang rusak dapat saja dilakukan dengan jenis bahan yang lain asal masih serasi dengan bahan lama yang masih ada.
§ Secara fisik, strategi ini mengakibatkan adanya perubahan fisik pada bangunan (tingkat perubahan sedang).
§ Dapat mencakup alih guna bangunan (adaptive reuse) utama menjadi bangunan dengan fungsi baru.
6.
Restorasi (pemugaran)
Upaya pengembalian kondisi suatu tempat atau fisik bangunan pada kondisi asalnya dengan membuang elemen-elemen tambahan dan memasang kembali bagian-bagian asli yang telah rusak atau menurun tanpa menambah unsur/ elemen baru ke dalamnya.
Teknik ini biasa dilakukan pada bangunan atau kawasan lama yang telah mengalami perubahan (kerusakan atau penambahan) dan pengganti yang sama  masih tersedia serta mudah mendapatkannya.

§ Restorasi termasuk bentuk pelestarian yang paling konservatif.
§ Contoh: The Rock di Sydney, bekas kompleks penjara yang dijadikan kawasan pertokoan.
7.
Rekonstruksi
Upaya mengembalikan kondisi atau membangun kembali semirip mungkin dengan penampilan orisinil yang diketahui.
Teknik ini dapat berupa relokasi, yaitu membuat tiruan atau memindahkan bangunan di/ ke tempat lain yang dianggap lebih aman. Hal demikian dapat dilakukan jika bangunan yang perlu dilindungi tersebut mempunyai tingkat kepentingan tinggi untuk dilindungi.
§ Dalam proses rekontruksi bangunan dapat digunakan bahan baru atau lama.
§ Proses ini biasanya untuk mengadakan kembali bangunan atau kawasan yang telah sangat rusak atau bahkan yang telah hampir punah sama sekali.
8.
Adaptasi (penyesuaian)
Segala upaya dalam mengubah suatu tempat, untuk menyesuaikan diri dengan fungsi baru yang menggantikannya.
Melakukan sedikit perubahan terhadap bangunan dan kawasan peninggalan sejarah yang dilestarikan.
§ Cara ini biasanya sangat mempengaruhi interior bangunan.
9.
Subtitusi (pengalihfungsian bangunan)
Upaya mengganti fungsi bangunan bersejarah dengan status baru untuk meningkatkan kembali nilai dan fungsinya sesuai dengan kepentingan dan jamannya.
Teknik ini dilakukan bila bangunan/ kawasan yang akan dilestarikan mempunyai kepentingan perlindungan yang sangat tinggi, sehingga sejauh mungkin dihindarkan perubahan.

10.
Benefisasi
Upaya meningkatkan manfaat suatu bangunan bersejarah yang semula tidak menarik menjadi berfungsi untuk kepentingan hidup manusia baik untuk kepentingan pendidikan, penelitian, periwisata dan rekreasi.

§ Dapat dilakukan dalam bentuk penggunaan untuk perpustakaan, museum atau pendidikan yang sesuai dengan sejarah dan bentuk bangunannya.
11.
Perlindungan wajah bangunan
Metode yang dilakukan bila ciri utama dari bangunan lama yang perlu dilestarikan terletak pada wajah bangunannya. Perombakan umumnya dilakukan pada bagian dalam atau belakang bangunan, sedangkan wajah bangunan tetap dipertahankan.

Dilakukan pada bagian dalam atau belakang bangunan, sedangkan wajah bangunan tetap dipertahankan. Hal ini terutama dilakukan jika intensitas diamsukkan pada bangunan tersebut cukup tinggi dan perubahan tidak bisa dihindarkan.
§ Contoh: bangunan Hotel Prenger di Jl. Asia Afrika, Bandung.
12.
Perlindungan garis cakrawala atau ketinggian bangunan
Upaya yang dilakukan apabila bangunan/ kawasan peninggalan sejarah yang akan diubah terletak di sekitar suatu ciri lingkungan sejak lama terbentuk di kota tersebut.
Dilakukan dengan membatasi ketinggian bangunan baru yang akan dibangun disekitar ciri lingkungan tersebut, sehingga tidak mengganggu pandangan kearahnya (dalam hal ini termasuk pandangan ke garis cakrawala di sekitar kawasan tersebut).

13.
Perlindungan objek atau potongan
Upaya yang dilakukan terhadap ciri utama dari bangunan yang akan dirombak atau dihancurkan, sehingga perombakan yang dilakukan masih memperlihatkan bahwa pernah ada suatu bangunan atau kawasan lama tersebut.

§ Teknik ini hanya dilakukan dalam keadaan mendesak, yaitu bila keutuhan bangunan sudah tidak dapat dipertahankan dan membahayakan keselamatan penghuninya.
14
Demolisi
Upaya penghancuran atau perombakan suatu lingkungan binaan yang sudah rusak atau membahayakan.



Text Box: 47Sumber: Nurmala (2003: 38 – 40); Pontoh (1992: 34 – 35); Siregar (1998: 22 – 25); Setiawan (1988: 87 – 107) dalam Dewi (2008: 65-67)


Pelestarian non fisik
Secara non fisik, upaya pelestarian bangunan terdiri dari metode ekonomi, sosial, dan hukum. a. Metode ekonomi: Menurut Attoe dalam Dewi (2008: 68), metode ekonomi dalam pelestarian bangunan dan kawasan dapat dijabarkan sebagai berikut: 1. Insentif pajak: Insentif pajak yang dimaksudkan dapat berupa, antara lain: - Pengurangan tarif pajak untuk bangunan bersejarah; - Pembebanan pajak yang dibuat berdasarkan pemanfaatan bangunan yang ada, bukan berdasarkan pemanfaatan yang paling terbaik atau ideal; dan - Pemberian ijin investasi pada bidang rehabilitasi atau suatu pembebanan perbaikan lingkungan bersejarah untuk menggantikan bagian dari suatu pembayaran pajak; 2. Subsidi: Subsidi berupa pengurangan pendapatan pemerintah untuk menunjang tindakan pemeliharaan, baik dalam bentuk pemberian kredit, bantuan maupun penurunan harga; 3. Pinjaman: Tersedianya pinjaman dari pemerintah maupun swasta dapat memperbesar peluang bagi terjadinya perlindungan lingkungan kuno. Pertambahan nilai dari bangunan dan lingkungan bersejarah dapat mengimbangi biaya peminjaman. Pinjaman dapat dikembangkan dengan bunga atau penjualan hak milik yang dijual atau diperbaiki dengan pinjaman itu; dan 4. Pengalihan hak-hak membangun (Transfer Developoment Right): Pengalihan hak membangun atau TDR adalah salah satu perangkat dalam proses perencanaan kota yang telah banyak dipakai di beberapa Negara bagian di Amerika Serikat yang dirancang untuk memberikan kompensasi kepada pemilik tanah atau bangunan yang haknya untuk mengembangkan tanah atau bangunannya dibatasi oleh peraturan-peraturan yang berlaku (Uno 1998 dalam Dewi 2008: 68). Penerapan pengalihan hak atas KLB ini diatur oleh suatu perangkat Panduan Rancang Kota agar manifestasi fisik yang kemudian terbentuk tidak akan merusak atau mengurangi makna dari asset budaya/ historis tersebut, tetapi akan memperkuat keberadaan asset tersebut di dalam kota. Konsep TDR merupakan suatu mekanisme untuk mengendalikan desain yang inovatif dan mudah diadaptasi. Keuntungan dari konsep TDR, yaitu sebagai berikut: - Konsep TDR memungkinkan pemilik bangunan untuk menjual hak-hak kepada yang bangunan lainnya antara luas dan pemanfaatan sesungguhnya dari bangunan tersebut. Hal ini dapat menunjang bangunan lainnya jika bangunan menurut peraturan zoning lokal. Hak-hak umumnya dipindahkan kepada bangunan baru di sekitarnya. Dengan demikian, pemilik bangunan memperoleh keuntungan karena mendapat kompensasi pertukaran hak dan melalui pajak yang rendah; dan - TDR memberikan peluang pada pengembangan yang menyetujui untuk menggunakan hak membangun yang rendah pada suatu lokasi untuk memindahkan hak sisa ketinggian bangunannya kepada lokasi lain yang akan dibangunnya. Kedua lokasi tersebut dapat dalam berada jarak yang dekat ataupun tidak. Dalam beberapa kasus, terdapat beberapa kota yang membutuhkan kedekatan antara lokasi yang terletak dalam satu kawasan; b. Metode sosial: Penerapan metode sosial berupa pemberian penghargaan dari pemerintah, publikasi, serta keanggotaan perkumpulan pemilik atau pengelola bangunan. Metode ini bertujuan untuk memberikan motivasi atau dorongan moral kepada pemilik atau pengelola bangunan; dan c. Metode hukum: Menurut Attoe dalam Catanese (1992:426–428), metode hukum yang digunakan sebagai metode perlindungan bangunan yang dilestarikan, yaitu sebagai berikut: 1. Pedoman desain (design guidelines): Pedoman ini digunakan untuk mengembalikan kemungkinan terjadinya desain dan konstruksi baru yang dinilai menyimpang dari karakter bangunan atau lingkungan kuno serta berpeluang merusak karakter tersebut; 2. Zoning (penentuan wilayah): Suatu lingkungan yang telah ditetapkan sebagai lingkungan bersejarah dapat ditambahkan batasan-batasan tertentu khususnya bagi penggunaan bangunan dan konstruksi baru yang diperkenankan atau diijinkan; 3. Legal designation (perlindungan yang sah): Perlindungan yang sah ini diwujudkan dalam tiga bentuk, yaitu pendaftaran yang transparan terhadap suatu kawasan, lingkungan, bangunan serta objek yang dinilai harus dilestarikan pada tingkat nasional maupun internasional; pemeriksaan perubahan yang diusulkan pada bangunan tertentu; beberapa mekanisme pemeriksaan dalam menghentikan atau memperlambat proses perubahan; dan 4. Ownership (kepemilikan): Pedoman ini merupakan pengelolaan lingkungan maupun bangunan bersejarah (hak milik langsung dan permanen) yang dialihkan kepada suatu badan atau lembaga yang tertarik melakukan studi.
Menurut Uno (1998) dalam Dewi (2008:70), beberapa metode pelestarian non fisik yang dapat dipertimbangkan untuk diterapkan, yaitu sebagai berikut (Tabel 4):
Tabel 4. Jenis Pelestarian Non Fisik
Metode
Jenis pelestarian
Metode Ekonomi
§ Uang kompensasi
§ Pajak rehabilitasi
§ Keringanan membayar PBB
§ Pemberian pinjaman
§ Kemudahan perijinan pengalihan hak membangun (TDR)
§ Denda materi/ penalty


Metode Sosial
§ pemberian penghargaan
§ teguran
§ keanggotaan perkumpulan pemilik/ pengelola bangunan kuno


Metode Hukum
§ Pencantuman bangunan kuno dalam daftar bangunan kuno/ bersejarah yang berkekuatan hukum
§ Ijin khusus bagi pengubahan fisik bangunan kuno/ bersejarah
§ Perjanjian yang membatasi
§ Pemulihan
§ Sanksi hukum (contoh: penjara)
§ Pihak ketiga dalam pengalihan hak kepemilikan dan perawatan bangunan
§ Penetapn area konservasi
§ Petunjuk pelestarian
 
Sumber: Uno  (1998) dalamDewi (2008: 70)
Menurut Pontoh (1992: 39) kegiatan preservasi dan konservasi sebagai bagian dari pelestarian merupakan usaha meningkatkan kembali kehidupan lingkungan kota tanpa meninggalkan makna kultural maupun nilai sosial dan ekonomi kota. Arahan konservasi suatu kawasan berskala lingkungan maupun bangunan, perlu dilandasi motivasi budaya, aspek estetis dan pertimbangan segi ekonomis. Preservasi dan konservasi yang mengejawantahkan simbolisme, identitas suatu kelompok ataupun aset kota perlu dilancarkan. Terkait dengan hal tersebut, maka upaya preservasi dan konservasi harus diintegrasikan dengan elemen-elemen perancangan perkotaan. Kegiatan preservasi dan konservasi sebagai media pengendali pemanfaatan lahan dan aset warisan kota, khususnya dalam peremajaan lingkungan kota, merupakan usaha revitalisasi kawasan yang diremajakan.

Daftar Pustaka
Pontoh, N.K. 1992. Preservasi dan Konservasi Suatu Tinjauan Teori Perancangan Kota. Jurnal PWK, IV (6): 34-39.
Attoe, W. 1989. Perlindungan Benda Bersejarah. Dalam Catanese, Anthony J. dan Snyder, James C. (Editor). Perencanaan Kota: 413-438. Jakarta: Erlangga.
Nurmala. 2003. Panduan Pelestarian Bangunan Bersejarah di Kawasan Pecinan-Pasar Baru Bandung. Tesis. Tidak dipublikasikan. Bandung: ITB
Krisna, R., Antariksa & Dwi Ari, I.R. 2005. Studi Pelestarian Kawasan Wisata Budaya di Dusun Sade Kabupaten Lombok Tengah. Jurnal Plannit, 3 (2):124-133.
Patimah, S. 2006. Pelestarian Pola Tata Ruang Permukiman Tradisional Desa Ubud, Kab. Gianyar. Skripsi. Tidak dipublikasikan. Malang: Universitas Brawijaya.
Setiawan, A. I.1988. Identifikasi Potensi dan Kemungkinan Perlindungan terhadap Bangunan dan Kawasan Peninggalan Sejarah di Kota Bandung. Bandung: ITB.
Uno. 1998. Konsep Penerapan Insentif dan Disinsentif untuk Pelestarian Bangunan. Tesis. Tidak dipublikasikan. Bandung: ITB
Siregar, E. I. B. 1998. Arahan Tindakan Pelestarian Bangunan dan Kawasan Bersejarah di Kota Medan. Skripsi. Tidak dipublikasikan. Bandung: ITB.
Yuwono, J. S. E. 1995. Megalitik Indonesia dan Ambiguitas Pemaknaannya. Jurnal Artefak. 15: 26-30.
Krisna, R. 2005. Studi Pelestarian Kawasan Wisata Budaya di Dusun Sade Kabupaten Lombok Tengah. Skripsi. Tidak dipublikasikan. Malang: Universitas Brawijaya.
Aliyah, I. 2003. Arah Pelestarian Fisik Sebagai Dasar Pertimbangan Konservasi Kampung Kemlayan di Surakarta. Jurnal Arsitektural. 1 (1):18 – 36.
Aliyah, I. 2004. Identifikasi Kampung Kemlayan sebagai Kampung Tradisional Jawa di Pusat Kota. Jurnal Teknik. XI (1): 33 – 40.
Dewi, P.F.R., Antariksa & Surjono. 2008. Pelestarian Pola Perumahan Taneyan Lanjhang Pada Permukiman Di Desa Lombang Kabupaten Sumenep. Arsitektur e – journal.1 (2):94-109. (diakses  7 Desember 2007)
Dewi, P. F. R. 2008. Pelestarian Pola Perumahan Taneyan Lanjhang Pada Permukiman Di Desa Lombang Kabupaten Sumenep. Skripsi. Tidak dipublikasikan. Malang: Universitas Brawijaya.
Budiharjo, E. 2005. Tata Ruang Perkotaan. Bandung: PT Alumni.
Sidharta, & Eko Budiharjo. 1989. Konservasi Lingkungan dan Bangunan Kuno Bersejarah di Surakarta. Yogyakarta: Gadjahmada University Press.

© Antariksa  2012


Categories: Uncategorized Tags:

Arsitektur dan Pemiskinan Budaya

May 20th, 2012 Comments off

Antariksa




Perkembangan arsitektur sudah sedemikian rupa mengimbas kesegala pelosok daerah di Indonesia. Perubahan banyak terjadi pada bangunan (rumah tinggal) yang terdapat di kota-kota besar maupun di perdesaan. Menyerapnya informasi serta perkembangan industri, teknologi, dan perdagangan telah merubah mereka menjadi masyarakat penikmat, dan pemakai hasil arsitektur. Di mana masyarakat awam sendiri hanya mengikuti apa yang terjadi, tidak tahu menahu tentang asal usul bentuk arsitektur rumahnya, bahkan juga konsep serta ide-ide dasarnya. Apakah ini akibat globalisasi kota-desa atau dampak perubahan status sosio-budaya masyarakat di perkotaan dan juga di perdesaan. Sebagian besar hal ini terjadi karena untuk meningkatkan status sosial mereka terhadap lingkungannya agar dapat dipandang lebih tinggi secara sosio-kultural dengan masyarakat yang berada di sekitarnya. Kehidupan masyarakat merupakan bagian dari identitas yang dihasilkan dari konteks budaya dan sosial mereka. Maka, identitas dapat dianggap sebagai individual dan diri sendiri, tetapi juga identitas dapat semata bertransformasi menjadi bentuk yang berbeda mengikuti transformasi yang terjadi pada lingkungan sekitar kita. Dapat disimpulkan, bahwa tanpa usaha ber’arsitektur’ yang layak sebuah kota akan kehilangan sejarah dan identitas yang menghubungkan kita untuk menjelajah masa depan. Sebuah ’ideologi visual’ yang terkadang salah-letak secara geografis di dalam menetapkannya, dan hal itu dianggap sebagai budaya yang spesifik. Perubahan stilistik sepanjang waktu pun dapat membuka kunci dalam ber’evolusi budaya’, mencoba mentransformasikan ide dan keinginannya untuk dijadikan sebagai permainan objek desain belaka.

Peran gaya atau style dalam arsitektur
Masalah utama yang dihadapi adalah beragamnya pemberian makna pada arsitektur baik langgam ataupun style. Kata ‘style’ berasal dari bahasa Latin, stilus, yang berarti ‘peralatan menulis’, maka itulah ide tulisan tangan sebagai ekspresi langsung karakter individual. Jelaslah ini merupakan asal muasal teori ekspresi yang sangat berpengaruh dalam sejarah estetika; itu juga bisa disebut ‘teori tanda tangan’ (Walker 2010:170). Styleberkembang menjadi bagian mendasar dari penerjemahan fisik arsitektural yang memberikan wajah-wajah arsitektur perkotaan menjadi tempat eksebisi bagi para arsitek. Keraguan ini akhirnya muncul setelah pemahaman tentang gaya atau style tadi menjadi bagian dari peradaban ber’arsitektur’. Kemudian Walker (2010:171) juga menjelaskan bahwa, gaya atau style tadi dapat dipandang sebagai faktor dalam produksi artistik, yang dengan begitu sekalinya sejumlah gaya eksis, para seniman bisa memilih gaya mana yang ingin mereka gunakan atau diolah lagi. Mereka juga dapat memilih untuk menggabungkan berbagai gaya untuk menciptakan hibrida.
Dengan mengambil dasar iklim tropis (karena situasi geografis) pada bentuk desainnya, ternyata tidak dapat memberikan hasil yang sempurna. Kemudian muncul ‘arsitektur ramah lingkungan’ yang sepadan dengan ‘arsitektur berkelanjutan’ dan akhirnya muncul istilah green architecture, yang terkadang penerjemahannya secara fisik menjadi salah kaparah. Keramahan menjadi tidak adaptif terhadap lingkungan, dan tradisi budaya masyarakat di daerah kota maupun perdesaan baik dari golongan masyarakat menengah sampai bawah belum mengenal hal itu sebagai tatanan arsitekturnya. Hal inilah yang menjadikan permasalahan baru di dalam pendekatan arsitektur lingkungan binaan dengan sosio-kulturalnya. Bahan-bahan bangunan yang menjadi tuntutan secara arsitektural, terbentur dengan daya beli masyarakat menengah-bawah terhadap keadaan yang ditawarkan, dan akhirnya membuat masyarakat menjauhinya. Seorang arsitek dari Jepang Kurokawa (1988), mengatakan bahwa ada dua jalan pemikiran mengenai sejarah dan tradisi. Pertama, adalah sejarah yang dapat kita lihat seperti, bentuk arsitektur, elemen dekorasi, dan simbol-simbol yang telah ada pada kita. Kemudian yang kedua, adalah sejarah yang tidak dapat kita lihat seperti, sikap, ide-ide, filosofi, kepercayaan, keindahan, dan pola kehidupan. Penjelajahan arsitektur terkadang memberikan makna istilah lebih spesifik yang oleh Meyer Schapiro dijelaskan bahawa dengan gaya yang dimaksudkan adalah bentuk konstant-dan terkadang berbagi elemen, kualitas dan ekspresi kontras-dalam seni individual atau kelompok- di atas semuanya, gaya adalah sistem bentuk......deskripsi gaya merujuk kepada tiga aspek seni: motif atau elemen bentuk, berbagai hubungan bentuk dan kualitas (termasuk seluruh kualitas yang bisa kita sebut ’ekspresi’) (Walker 2010:171).
Dengan adanya ‘style’ tadi akhirnya memicu adanya simbol-simbol, seperti atap joglo dengan istilah-istilah seperti ‘tradisional’, ‘ciri-khas daerah’, ‘arsitektur Jawa’ dan lain sebagainya (yang seperti apa?). Ternyata penggunaan atap joglo di sini digunakan sebagai ungkapan simbol saja, tidak mencerminkan makna bagi penghuninya. Terkadang mereka hanya mengambil bentuk atapnya bukan ruang dalam serta struktur bangunannya. Pada hal joglo itu dibangun pada waktu lampau dimaksud agar ruang tersebut dapat menampung banyak orang, digunakan oleh para penguasa untuk bertatap muka dengan rakyatnya, dan dimiliki oleh kaum kebanyakan. Kecenderungan sekarang justru lain, adanya satu keinginan dari mereka agar istilah ‘ciri-khas daerah’ atau ‘arsitektur Jawa’ melekat pada bangunan mereka meskipun perilaku dan tatanan budayanya tidak mencerminkan sebagai orang Jawa. Bahkan dari pemilik rumah tersebut yang menggunakan atap joglo pada kenyataannya bukan orang Jawa. Di sini dinamisme sosial dan budaya telah mengawali perubahan pada masyarakat yang berakibat dan berpengaruh terhadap tempat huniannya. Adanya pengaruh tadi terlihat dari adanya perubahan tingkat ekonomi masyarakat yang dapat menaikkan derajat “status sosial” bentuk rumah mereka, dan bukan pada penghuninya. Hal yang sama juga ditegaskan oleh Rapoport (1990), bahwa budaya sebagai suatu kompleks gagasan dan pikiran manusia bersifat tidak teraga. Kebudayaan ini akan terwujud melalui pandangan hidup (world view), tata nilai (value), gaya hidup (life style) dan akhirnya aktifitas (activities) yang bersifat konkrit. Sebuah kecenderungan eklektis di dalam seni, khususnya arsitektur, untuk menghidupkan kembali pelbagai gaya di masa lalu alih-alih mengembangkan gaya-gaya baru yang sesuai dengan era di mana para seniman itu hidup. Istilah tersebut digunakan dalam pengertian ini oleh Pevsner. Historisisme artistik, dalam pandangannya, bersifat retrogresif: ”Semua pambangkitan gaya di masa silam adalah tanda kelemahan, sebab ketika membangkitkan pemikiran independen dan perasaan, permasalahannya tidak lebih dari kurangnya pilihan akan pola-pola.... Historisisme adalah keyakinan terhadap kekuatan sejarah sampai pada tingkat mematahkan aksi dan menggantinya dengan aksi yang diilhami oleh periode ditiru (Walker 2010:105) Pada sisi lain orang berbicara bagaimana bangunan lama dapat dipertahankan sebagai aset budaya bangsa, tetapi sisi lain memgembangkan arsitektur sebagai penerapan komersialisasi profesi. Warisan masa lalu terglobalisasi oleh perjalanan peradaban teknologi ber’arsitektur’, dan menjadi tempat untuk mengekspresikan ide-ide mereka yang mungkin bertentangan dengan sosio-kultural masyarakat. Salah satu yang banyak dikeluhkan dalam perkembangan kota modern adalah, hilangnya ciri khas wajah-wajah kota yang tergantikan oleh bangunan-bangunan bergaya internasional. Wajah-wajah tersebut menjadi anonimus dan tak berjiwa. Karena itulah warisan budaya menjadi penting mengingat gencarnya kegiatan modernisasi dan globalisasi kota-kota di dunia yang bila tidak dikendalikan akan memberikan wajah kota yang sama disetiap kota. Keprihatinannya dalam bidang arsitektur dan perkotaan di Indonesia dikemukakan oleh Budihardjo (1985), bahwa arsitektur dan kota di Indonesia saat ini banyak yang menderita sesak nafas. Bangunan-bangunan kuno bernilai sejarah dihancurkan dan ruang-ruang terbuka disulap menjadi bangunan. Banyak perencanaan arsitektur dan kota yang dikerjakan tidak atas dasar cinta dan pengertian sesuai etik profesional, melainkan berdasarkan eksploitasi yang bermotif komersial, sehingga menghasilkan karya berkualitas rendah. Gedung-gedung baru dari kaca dan benton yang mendominasi kota-kota adalah produk dari modernitas ini. Dalam hal ini, gedung-gedung itu adalah bagian dari modernisme, produksi gaya-gaya yang dimaksudkan sebagai inovatif, ekspresi kebaruan, dan biasanya menjadi kuno dalam satu-dua dekade. Mereka yang mendukung gagasan tentang gelora modernitas, ”para pembangun”, tidak melihat perbedaan antara modernitas dan modernisasi (Vickers 2009:173). Bahkan oleh Walkers (2010:104) dijelaskan bahwa sejarahwan seni menganggap gaya itu vital karena mereka memikirkannya sebagai manifestasi luaran dari wujud batin seorang person, kelompok sosial atau zaman. Dengan demikian, seseorang dapat memahami suatu gaya dengan melihat taerhadap keseluruhan nilai fisik arsitektural yang terpampang dalam bentuk bangunan tersebut. Apakah arsitektur bangunan itu mempunyai nilai dari suatu budaya asing, atau ungkapan masa lalu dari tampilan bentuknya atau memberikan tampilan strata sosial bentuk serta kawasan dimana bangunan itu berada.

Tradisi dan ke’daerah’an
Penyebab utama adalah adanya kebijakan-kebijakan yang diberikan oleh para penentu kebijakan (dalam hal ini pemerintah) yang ingin mentransformasikan budaya “ke-daerahan atau identitas ciri-khas” dengan cara memaksa serta mengharuskan mereka untuk mengubah bagian dari bentuk rumahnya. Sebagai contoh misalnya, pada permukiman di daerah perkotaan maupun di tingkat perdesaan banyak atap rumahnya harus mencerminkan ciri-khas daerah setempat, dinding ataupun atap rumah harus dicat warna tertentu, harus diberi pagar yang seragam, dan masih banyak lagi. Di sini terjadi ekspansi ide dasar yang menjurus kepada vandalisme arsitektur. Yang seolah-olah menutup kreatifitas masyarakat lingkungan sosial-kulturalnya dalam mengikuti perkembangan jaman. Kalau meminjam istilah psikolog Darmanto Jatman disebut pemaksaan jatidiri secara atributif. Hal ini akan mengundang persepsi yang serba salah kaprah.
Perjalanan bias dari atrsitektur dalam ide desain pun akhirnya menjadi bagian dari pop architecture (bentuk atau style arsitektur yang dapat muncul kembali setiap saat), yang berkembang merajalela di sekitar tahun 80-an. Salah satunya adalah style bangunan rumah tinggal dengan gaya kapsul betonnya. Dapat dikatakan bahwa style semacam itu sebagai impian model rumah tinggal modern. Pergeseran desain pun terjadi, bentuk yang tadinya menjadi populer saat itu, akhirnya bergeser ke sebuah bentuk baru, yaitu gaya Spanyolan dengan arsitektur ionic atau doric dengan lengkung-lengkungan dan kolom ala Yunani, menjadikan kearoganan baru dalam tatanan sosial bagi penghuni rumah tinggal tersebut. Popularitas gaya arsitektur itu pun akhirnya juga tenggelam, dan muncul sebuah tatanan baru, yaitu style mediteranean. Sebuah visi arsitektur adaptif yang mengkombinasikan unsur tropis dengan arsitektur indis ini berkembang sampai akhir tahun 2000-an. Dengan tradisi dan budaya beberbeda mencoba memberikan sebuah wacana dalam fisik dimensional bentuk tatanan rumah tinggal. Style ini pun tidak lama bertahan, suatu langgam baru muncul dengan bentuk minimalis sampai pada tatanan interior dan furniturenya. Secara simbolik menjadi kebanggaan baru bagi masyarakat konsumer yang mendambakaan sebuah tatanan rumah tinggal baru. Kecenderungan ini sudah menyusup keseluruh bagian tatanan permukiman di Indonesia baik yang dikota maupun perdesaan meskipun hanya secara eklektis mengambil konsep styleminimalis. Di sini urbanisme menjebak masyarakat dalam kebebasan untuk menentukan tempat kehidupan berarsitektur. Sebenarnya pekerjaan merancang bangunan atau merencanakan suatu kota harus mempertimbangakan keharmonisan antar bangunan dan kawasan barunya dengan sosio-kultural masyarakat sekitarnya. Menurut temuan McKinnon, para arsitek kreatif memiliki ketenangan dan percaya diri, meskipun terlalu suka bergaul. Secara watak mereka pun cerdas, memikirkan diri sendiri, berani bicara, dan bahkan agresif. Mereka juga memiliki opini yang sangat tinggi tentang diri mereka (Lawson 2007:160). Dengan demikian, diharapkan adanya kesinambungan styleantar bangunan baru dengan kawasan lamanya tanpa mengganggu lingkungan ber’arsitektur’ dan kehidupan sosio-kultural mereka. Hal ini penting, karena perkotaan dengan segala peradaban fisik arsitektural atau bangunannya dapat memberikan identitas atau karakteristik dari suatu kota terhadap sejarah masa lalunya. Salah satu manifestasi arsitektur adalah upaya berpegang teguh pada masa lalu, dan bahkan mengabstrasikan atau mengesensialkan unsur-unsur masa lalu sebagai bagian dari sejarah atau pusakanya.
Arsitektur itu diciptakan sebagai wadah untuk proses kehidupan manusia, melindungi dan memberikan akan kebahagiaan penghuninya. Dengan bentuk dan tatanan yang sangat beragam, kondisi geografis-kultural yang berbeda serta memunculkan adanya kearifan lokal. Di dalam arsitektur style ataupun langgam berjalan tanpa ada batas-batasnya. Proses perjalanan sejarahnya pun tidak dapat dipolitisasi bahkan direkayasa. Hal ini menjadi penting agar tradisi budaya mereka tidak terhenti. Kita berada pada “budaya citarasa” yang menawarkan berbagai macam gaya yang tidak ada habisnya (Grenz 2001:35)
Dengan demikian, kehendak untuk membisniskan kota menjadi ladang komersialisasi arsitektur hendaknya dipertimbangkan masak-masak, karena setiap kota mempunyai budaya dan sejarah yang mungkin berbeda dengan kota-kota lainnya. Demikian juga, kalau kita bandingkan dengan beberapa kota-kota di negara Asia lainnya mempunyai sejarah dan warisan budaya yang sangat panjang. Masyarakat dari masing-masing kota tersebut hidup dengan masa lalu dan masa sekarang dalam tatanan arsitektur perkotaannya, sekaligus juga dengan fisik dan spiritualnya. Adalah benar bahwa sistem tradisi di Asia didapati sangat berat untuk menghadapi tantangan dari dunia Barat dalam konteks globalisasi arsitektur, pada kenyataannya arus yang dikatakan global itu tak dapat dibendung. Modern biasanya disamakan dengan Barat, atau setidaknya pengaruh Barat. Salah satu pandangan yang muncul dari persamaan populer ini adalah bahwa apapun yang modern berarti asing bagi Asia Tenggara yang tradisional tulen (Vickers 2009:170). Ditambahkan oleh Vickers (2009:173) bahwa istilah ”modernisasi digantikan modernitas, kata yang dipakai untuk menyebut suatu proses subjektif (atau pembentukan subjek), kesadaran tentang menjadi modern, pengalaman tentang perubahan, dan cara merangkul hal-hal baru. Pertanyaan yang paling sukar adalah bagaimana untuk menetapkan nilai tradisi yang harus dimodifikasi tanpa menghilangkan identitas kebudayaan individu di dalam proses modernisasi. Kungkungan tradisi akan dibenturkan dengan hasrat modernitas dalam kehidupan yang penuh kontradiksi ini. Dahulu kutub-kutub yang berlawanan seperti kapitalisme dan sosialisme adalah kondisi material menjadi modern. Hal yang sangat mendasar adalah keinginan akan perubahan dan kebaruan, suatu rasa memutuskan arsitektur dari segala akar permasalahan yang melibatkan adanya sikap kembali ke masa silam. Orang Asia yang berusaha keras menjadi modern hanya bisa dianggap melakukan itu jika mengadopsi bentuk-bentuk dan ikon-ikon budaya Barat, dan dengan demikian menunjukkan bahwa mereka kekurangan sesuatu yang dimiliki Barat (Vickers 2009:175).
Pemiskinan akan pemahaman berarsitektur terjadi akibat sloganisasi para arsitek dan perencana kota dalam menstrukturkan tatanan lingkungannya. Penentuan dalam membuat bagian kehidupan berarsitektur telah terpolarisasi, sehingga masyarakat menjadi konsumer. Hal ini akan membuat pola ruang kota yang tadinya urban-tradisionalistik bergeser menjadi urban-modernis. Budaya urban tersebut secara perlahan akan masuk menjadi bagian yang akan mempengaruhi perkembangan arsitektur di Indonesia. Menjadi modernis adalah mendapati jatidiri kita berada di lingkungan yang menjanjikan petualang akan ketakutan dan kegembiraan yang bertranformasi pada saat yang bersamaan. Arsitektur perkotaan menunjuk pada suasana intelektual dan ekspresi kebudayaan yang sedang mendominasi masyarakat dewasa ini. Seolah-olah, kita sedang berpindah kepada sebuah era budaya baru, pasca-postmodernitas, tetapi kita harus memerinci apa saja yang tercakup dalam fenomena tersebut. Pencerahan melahirkan hal-hal yang baru dalam pemahaman budaya global dari generasi ke generasi melalui cara radikal dengan pola pikir yang tradisional. Kini masyarakat telah menyaksikan perubahan besar dan massal dengan bentuk-bentuk yang beranekaragam.


Sumber Pustaka
Budihardjo, E. 1985. Arsitektur dan Pembangunan Kota di Indonesia. Bandung: Alumni.
Kurokawa, K. 1988. Rediscovering Japanese Space. Tokyo: Kodansha.
Rapoport, A. 1990. History and Precedent in Environmental Design. New York: Plenum Press.
Sidharta & Budihardjo, E. 1989. Konservasi Lingkungan dan Bangunan Kuno Besejarah Di Surakarta. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Vickers, A. 2009. Peradaban Pesisir Menuju Sejarah Budaya Asia Tenggara. Denpasar: Pustaka Larasan-Udayana University Press.
Walker, J.A. 2010. Desain, Sejarah, Budaya; Sebuah Pengantar Komprehensif. Yogyakarta: Jalasutra.
Lawson, B. 2007. Bagaimana Cara Berpikir Desainer (How Designer Think). Yogyakarta&Bandung: Jalasutra.
Grenz, S.J. 2001. Pengantar Untuk Memahami Postmodernisme. Yogyakarta: Yayasan ANDI.


© Antariksa 2012
Categories: Uncategorized Tags:

Architecture Journals 2012-05-17 13:29:00

May 17th, 2012 Comments off

POLA TATA RUANG DALAM RUMAH TINGGAL KUNO DESA BAKUNG
KECAMATAN UDANAWU BLITAR
(The Spatial Structure Patterns of Ancient Houses in Bakung Village Udanawu District Blitar)



Siti Maria Ulfa, Antariksa, Ema Yunita Titisari
Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
E-mail: memer_dw@yahoo.co.id



ABSTRACT

The spatial structures of the ancient house in the village of Bakung, Udanawu District, Blitar have uniqueness on spatial changesthus forming a distinctive pattern. This change causeda change in mindset, one of which is influenced by the rapid modernization process ofthe modern information flow. The uniqueness comes withan adjustment to the condition of their home environment before making any changes. The purpose of this study was to determine the spatial structure pattern, the pattern changes and the factors influencing changes in the pattern. This study uses descriptive methods with historical approach. The study shows the spatial pattern of houses in this village. Changes in spatial structure patterns happen to createa new function, reduced function which may lead tochanges in the type of space, symmetry, organization and hierarchy of space. Of these changes led to old-modern conception of the spatial structure pattern of it. Factors affecting change is the basic human needs, new technologies, life style, economy factor, inheritancesystem and cultures.

Keywords: the spatial structure patterns inner, changes, ancient houses



ABSTRAK
Tata ruang dalam rumah kuno di Desa Bakung, Kecamatan Udanawu Blitar mempunyai keunikan pada perubahan tata ruang sehingga membentuk suatu pola tersendiri. Perubahan ini disebabkan adanya perubahan pola pikir yang salah satunya dipengaruhi proses modernisasi melalui cepatnya arus informasi modern. Keunikan ini muncul dengan adanya penyesuaian terhadap kondisi lingkungan rumahnya sebelum melakukan perubahan. Tujuan studi ini adalah mengetahui pola tata ruang, pola perubahannya serta faktor yang mempengaruhi perubahan pola tersebut. Studi ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan historis. Hasil studi menunjukkan pola tata ruang rumah di desa ini. Perubahan pola ruang terjadi untuk membuat fungsi baru, pengurangan fungsi yang dapat mengakibatkan perubahan jenis ruang, kesimetrisan, organisasi serta hirarki ruang. Dari perubahan ini memunculkan konsepsi lama-modern pada pola tata ruang dalamnya. Faktor yang mempengaruhi perubahan adalah kebutuhan dasar manusia, teknologi baru, gaya hidup, faktor ekonomi, system hak waris dan budaya.
 
Kata kunci: pola tata ruang dalam, perubahan, rumah tinggal kuno


Siti Maria Ulfa, Antariksa, Ema Yunita Titisari. 2011. Pola Tata Ruang Dalam Rumah Tinggal Kuno Desa Bakung Kecamatan Udanawu Blitar. Jurnal Tesa Arsitektur. Vol. 9 no. 2. Desember. Hlm. 71-81. ISSN: 1410-6094

Antariksa © 2012
Categories: Uncategorized Tags:

Architecture Journals 2012-04-22 18:16:00

April 22nd, 2012 Comments off

PERUBAHAN BENTUK BANGUNAN  BALE TANI DI DUSUN SADE LOMBOK TENGAH
(The Changes of Bale Tani Building in Sade Village Central Lombok)


Nur Fivi Anggraeny, Antariksa, Noviani Suryasari
Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya


ABSTRACT

One of manifestations and evidences of Sasak’s culture is the structural shape of its traditional house. As one of local identities, Sasak’s traditional house at Sade village could not avoid the phenomenon of change. This study aims to identify and analyze the physical changes of Bale Tani construction. This study applies historical-qualitative-descriptive research method. The changes mostly happen in the house spatial layout and the door. The change of the door deals with its shape, material, and color. The changes also occur in the building facade by adding openings or vents as pathways of flowing air. The building element that does not change or being kept original and authentic is the roof, of its shape, material, and color as well. People do not change the roof because they feel quite comfortable with it. Besides, the roof is the most important part of the house because it reflects the main characteristic of a traditional house. 

Keywords: the changes of shape, Sasak’s traditional house, Bale Tani.


ABSTRAK

Salah satu bentuk dari bukti kebudayaan Sasak adalah bentuk bangunan rumah adatnya. Rumah tradisional Suku Sasak di Dusun Sade sebagai identitas lokal tidak luput dari fenomena perubahan. Studi ini bertujuan mengidentifikasi dan menganalisis perubahan secara fisik yang terjadi pada bangunan Bale Tani.  Dalam studi ini, digunakan metode penelitian historis - kualitatif - deskriptif. Perubahan yang paling banyak muncul pada rumah tradisional, yakni perubahan pada ruang (denah) dan juga pada elemen pintu secara bentuk maupun material dan warna yang digunakan. Perubahan juga banyak terjadi pada fasade bangunan dengan adanya penambahan bukaan atau ventilasi sebagai jalur keluar masuknya udara. Elemen bangunan yang tidak berubah, yang masih dijaga keasliannya, yakni pada bentukan maupun material dan warna pada atap. Tidak dilakukan perubahan karena masyarakat sudah cukup nyaman dengan pemakaian atap tersebut. Atap merupakan bagian yang paling utama pada rumah karena atap mencerminkan ciri khas dari rumah tradisional.

Kata kunci: perubahan bentuk, rumah tradisional Sasak, bale tani.

Nur Fivi Anggraeny, Antariksa& Noviani Suryasari. 2011. Perubahan Bentuk Bangunan Bale Tani di Dusun Sade Lombok Tengah. Jurnal Tesa Arsitektur. 9 (2): 82-94. ISSN: 1410-6094.


© Antariksa 2012
Categories: Uncategorized Tags:

Makna Kultural Bangunan dan Strategi Pelestarian

April 15th, 2012 Comments off
Antariksa

Konsep makna kultural bangunan
Di dalam Burra Charter, makna kultural berarti "nilai estetika, peranan sejarah, keilmuan, atau sosial untuk generasi di masa lampau, sekarang, dan masa mendatang". Makna kultural merupakan sebuah konsep yang membantu untuk mengestimasi nilai suatu tempat yang dianggap signifikan. Diharapkan, dengan memahami masa lalu dan memperdalam masa kini, di masa mendatang akan menjadi bernilai bagi generasi selanjutnya.
Konsep ini merupakan gabungan nilai-nilai arsitektural dari suatu lingkungan bersejarah. Menurut Wiryomartono (2002), bangunan monumental yang merupakan bangunan yang dilindungi oleh undang-undang harus memenuhi satu atau lebih dari kriteria peradaban dan teknis sebagai berikut: 1. Memiliki sumbangan terhadap inovasi atau temuan kreatif atau prestasi dalam bidang ilmu pengetahuan, teknik rancangan, dan konstruksi; 2. Menjadi bagian terpadu ingatan kolektif masyarakat tentnga tempat dan masyarakatnya berada; 3. Usia yang lebih dari 50 tahun dengan dugaan secara ilmiah memiliki indikasi kuat, merupakan kesatuan atau bagian dari hasil peradaban dari zaman tertentu; 4. Kelangkaan dalam jumlah dan kualitas pada produk sejenis dan kini mudah diproduksi lagi. Jikapun dapat diproduksi lagi, keaslian dan keotentikan sistem produksi maupun konsumennya tidak menunjang; dan 5. Menjadi rujukan masyarakat dalam arti tempat ziarah atau tujuan dan identitas tempat.

Kriteria penilaian bangunan berdasarkan makna kultural
Dalam upaya pelaksanaan pelestarian baik bangunan maupun kawasan sebelum dilakukannya pelestarian tersebut, terdapat suatu proses penilaian makna kultural yang dimiliki bangunan maupun kawasan tersebut. Tujuan dari penilaian makna kultural ini ialah untuk menentukan arah serta strategi pelestarian yang dirasa sesuai dengan kondisi bangunan maupun kawasan yang akan dilestarikan. Menurut Catanese (dalam Pontoh, 1992) krietria penilaian pada bangunan yang memiliki makna kultural terbagi atas: a. Kriteria estetika atau keindahan yang berkaitan dengan keindahan arsitektural dari berbagai masa. Tolak ukur yang digunakan dalam kriteria estetika meliputi bentuk, gaya, struktur, tata kota yang mewakili prestasi khusus atau gaya sejarah tertentu; b. Kriteria kejamakan (typical), yaitu bangunan–bangunan yang merupakan wakil dari kelas atau tipe bangunan tertentu. Tolak ukur kejamakan ditentukan oleh bentuk suatu ragam atau jenis khusus yang spesifik; c. Kriteria kelangkaan (searcity), merupakan bangunan terakhir yang menjadi peninggalan dari gaya yang mewakili jamannya; d. Kriteria keluarbiasaan (superlative), merupakan kriteria bagi bangunan yang paling menonjol, besar, tinggi dan sebagainya; e. Kriteria peran sejarahnya (hystorical role), merupakan bangunan maupun lingkungan yang memiliki peran dalam peristiwa bersejarah, sebagai ikatan simbolis dengan peristiwa masa lalu dengan perkembangan kota; dan f. Kriteria memperkuat kawasan (landmark), kehadiran bangunan tersebut dapat mempengaruhi kawasan sekitarnya dan bermakna untuk meningkatkan dn citra lingkungan.
Selain ke enam tolak ukur yang telah dijabarkan oleh Catanese diatas, menurut Kerr (1983) dalam Budiharjo (1997) terdapat kriteria penilian lain yang menjadi tolak ukur penilaian antara lain: a. Kriteria nilai sosial, merupakan kriteria yang digunakan pada bangunan maupun kawasan yang bermakna bagi masyarakat; b. Kriteria nilai komersial, merupakan kriteria yang digunakan sehubungan dengan peluangnya untuk dimanfaatkan bagi kegiatan ekonomis; dan c. Kriteria nilai ilmiah, berkaitan dengan peranannya untuk pendidikan dan pengembangan ilmu.
Attoe (1989: 423-425) mengemukakan poin-poin yang menjadi pertimbangan dalam penilaian sutu bangunan, antara lain: 1. Estetika, Keindahan yang berkaitan dengan keindahan arsitektural dari berbagai masa; 2. Keluarbiasaan, Bangunan yang dianggap sebagai bangunan yang pertama dibangun, misalnya gereja pertama, bangunan bertingkat pertama, dan lain-lain; 3. Peranan sejarah, Bangunan yang memiliki kaitan dengan peristiwa atau tokoh sejarah tertentu; 4. Kelangkaan, Bangunan yang melambangkan tradisi kebudayaan, yaitu mencerminkan kedaan sebenarnya, cara kehidupan dan cara melakukan sesuatu pada sesuatu tempat dan suatu waktu tertentu; 5. Karakter bangunan, Bangunan yang unik dan langka dan merupakan warisan terahir dari suau tipe bangunan.
Dalam Guidelines to the Burra Charter (1988), dijelaskan mengenai criteria nilai-nilai makna kultural secara umum sebagai berikut: 1. Nilai estetika: Nilai estetika mencakup aspek persepsi sensorik yang kriteria dapat dan harus ditetapkan. Kriteria tersebut dapat mencakup beberapa pertimbangan, antara lain skala, bentuk, tekstur, warna, dan material dari kain, bau dan suara yang terkait dengan tempat dan penggunaannya; 2. Nilai historis (historic value): Nilai sejarah meliputi sejarah dari estetika, ilmu pengetahuan dan sosial, dan oleh karena itu, untuk sebagian besar persyaratan yang mendasar ditetapkan dalam bagian ini. Sebuah tempat mungkin memiliki nilai sejarah karena telah mempengaruhi, atau telah dipengaruhi oleh, sebuah peristiwa bersejarah, fase, atau kegiatan. Mungkin juga memiliki nilai sejarah sebagai lokasi peristiwa penting. Untuk setiap tempat tertentu signifikansi akan lebih besar tergantung dari bukti dari asosiasi atau peristiwa bertahan di situ, atau pengaturan secara substansial utuh, dari mana telah diubah atau bukti yang tidak dapat bertahan hidup. Namun, beberapa peristiwa atau asosiasi mungkin begitu penting bahwa tempat tetap penting terlepas dari pengobatan selanjutnya; 3. Nilai ilmiah: Nilai dari tempat yang dikaji akan tergantung pada pentingnya data yang terlibat, kelangkaan data tersebut, kualitas keterwakilan data, dan pada tingkat yang lebih lanjut dapat berkontribusi besar dalam memberikan informasi yang substansial; 4. Nilai sosial: Nilai sosial mencakup kualitas tempat yang telah menjadi fokus spiritual, sentimen budaya politik, nasional atau lainnya untuk mayoritas atau kelompok minoritas; dan 5. Pendekatan-pendekatan lainnya: Pengelompokan ke dalam nilai-nilai estetika, sejarah, ilmiah dan sosial merupakan salah satu pendekatan untuk memahami konsep signifikansi budaya. Namun, kategori yang lebih tepat dapat dikembangkan seiring dengan meningkatnya pemahaman akan tempat tertentu.

Strategi Pelestarian Bangunan
Pelestarian bangunan cagar budaya merupakan salah satu topik yang kurang mendapat perhatian dari masyarakat, sehingga mengakibatkan banyak bangunan bersejarah yang tidak memiliki fungsi lagi tidak mendapat perhatian yang sepatutnya dan secara tiba-tiba keberadaannya menghilang tanpa disadari. Upaya pelestarian bangunan maupun kawasan kuno banyak mengalami kendala khususnya di kota besar. Berdasarkan pada hasil studi yang dilakukan oleh (Panjaitan 2004), beberapa kendala yang terjadi pada usaha pelestarian bangunan antara lain: 1. Faktor Eksternal: - Kepadatan penduduk mempengaruhi pertumbuhan kota dan menjadikan nilai tanah dan bangunan menjadi tinggi, adanya perubahan struktur masyarakat yang berpengaruh pada kehidupan sosialnya; - Banyak bangunan baru yang tidak menjaga kesinambungan dengan bangunan lama, tidak sedikit pula pembangunan bangunan baru dilakukan dengan membongkar bangunan lama yang bersejarah; -Banyak bangunan lama yang terbengkalai dan digunakan untuk fungsi yang tidak semestinya; - Kondisi sosial ekonomi sebagian masyarakat yang masih rendah mengakibatkan kurangnya kesadaran masyarakatnya akan kesejarahan yang dimiliki kota; dan 2.Faktor Internal: - Rendahnya kesadaran serta minimnya pengetahuan berkaitan dengan bangunan bersejarah yang memiliki potensi besar serta berpengaruh terhadap identitas kota; - Tidak adanya kepastian hukum terhadap pelestarian objek-objek kawasan bersejarah di Kota Surabaya; - Tidak ada kesadaran akan pentingnya nilai gaya bangunan, skala bangunan ataupun skala ruang pada perancangan bangunan baru disekitar kawasan bangunan bersejarah.
Menurut Busono (2009) strategi pelestarian bangunan kuno sangat terkait erat dengan kegiatan pemeliharaan bangunan. Aktifitas pemeliharaan bangunan tidak sekedar merupakan kegiatan merawat bangunan secara fisik, melainkan kegiatan yang mencakup aspek teknis maupun administratif dalam mempertahankan dan memulihkan fugnsi bangunan sebagaimana mestinya. Kegiatan pemeliharaan bangunan meliputi berbagai aspek yang dapat dikategorikan dalam empat kegiatan, antara lain: - Pemeliharaan rutin harian; - Rectification ( perbaikan bangunan yang baru selesai); - Replacement( penggantian bagian yang berharga dari bangunan); dan - Retrofitting (melengkapi bangunan sesuai kemajuan teknologi).
Secara umum kegiatan pemeliharaan bangunan dapat dibagi menjadi 2 macam kegiatan yakni pemeliharaan rutin dan pemeliharaan remedial(perbaikan). Pemeliharaan rutin adalah pemeliharaan yang dilaksanakan dalam interval waktu tertentu untuk mempertahankan gedung dalam kondisi yang diinginkan. Sebagai contoh kegiatan pemeliharaan rutin ini ialah kegiatan pengecatan dinding luar yang dilaksanakan 2 tahun sekali, pengecatan interior 3 tahun sekali, pembersihan dinding luar dan sebagainya. Pemeliharaan rutin juga berkaitan dengan perbaikan atau penggantian komponen yang rusak akibat proses alami maupun proses pemakaian bangunan (Busono, 2009)
Dalam upaya adaptasi fungsi bangunan yang akan dilestarikan, tentunya akan ada upaya-upaya penyesuaian terhadap fungsi pengguna yang baru dan juga standar-standar bangunan di masa kini. Hal ini tentunya akan berdampak terhadap perubahan fisik eksisting bangunan untuk menyesuaikan kebutuhan saat ini. Secara umum, terdapat dua jenis strategi pelestarian bangunan, yakni strategi yang berupa arahan/panduan (guideline) dan strategi yang berupa aspek teknis pelaksanaan tindakan pelestarian. Nurmala (2003) menjabarkan strategi pelestarian komponen bangunan melalui standar pengaturan melalui beberapa dasar pertimbangan, antara lain estetika, kejamakan, kelangkaan, keistimewaan, dan nilai historis (Tabel 2).

Tabel 2. Standar Pengaturan Komponen Bangunan
Dasar Pertimbangan
Komponen
Variabel
Aturan Wajib
Aturan Anjuran
Estetika
Fasade
·  Bentuk dan ukuran bukaan
·  Material
+  Mempertahankan bentuk dan ukuran bukaan yang masih dalam kondisi baik yang mencerminkan estetika bangunan dan mewakili karakter gaya fasade bangunan.
+  Mempertahankan material dinding bukaan asli bangunan jika kondisinya masih baik
+  Memperbaiki bagian fasade yang rusak sesuai dengan tampilan dan tekstur aslinya.


Atap
·  Bentuk
·  Ukuran
·  Material
+  Mempertahankan bentuk, ukuran, dan material atap yang masih dalam kondisi baik dan estetis.
+  Mengganti material penutup atap yang rusak dengan material baru yang sesuai/mirip dengan material aslinya sehingga tidak menghilangkan karakter bangunan

-  Tidak diperbolehkan mengganti bentuk dan material atap yang dapat mengubah karakter bangunan.
+ Jika dilakukan pengembangan, atap bangunan baru disesuaikan dengan bentuk dan material atap bangunan lama untuk menjaga keharmonisan bentuk bangunan.
+ Diperbolehkan menambahkan teritisan dengan bentuk yang disesuaikan dengan atap bangunan lama untuk melindungi fasade bangunan terhadap tampias hujan dan cahaya matahari.

Ornamen
·  Gaya dan bentuk ornamen
·  Ukuran
+  Mempertahankan bentuk, ukuran ornamen yang kondisinya masih baik dan bersifat estetis.
+  Mengganti ornamen yang kondisinya sudah rusak dengan ornament baru yang sesuai dalam ukuran, bentuk, dan material dengan ornamen lainnya.

-  Tidak diperbolehkan menambahkan ornamen pada bangunan dengan bentuk baru tanpa memperhatikan kesesuaian dengan kondisi sebelumnya, sehingga dapat merusak nilai estetika bangunan.

+ Diperbolehkan menambahkan ornamen pada bangunan disesuaikan dengan fungsi bangunan dan bentuk ukuran ornamen asli.
Kejamakan
Ornamen
·  Gaya dan bentuk ornamen
·  Ukuran
+  Mempertahankan bentuk, ukuran ornamen yang memperkuat kekhususan gaya arsitektur.
+  Mempertahankan material bangunan yang mendukung kekhususan gaya bangunan.

-  Tidak diperbolehkan mengganti/menghilangkan bentuk ornamen unik pada bangunan sehingga menghilangkan karakter bangunan.

+ Diperbolehkan menambahkan ornamen pada bangunan disesuaikan dengan gaya, bentuk, dan ukuran ornamen asli serta fungsi bangunan.

Fasade
·  Bentuk dan ukuran bukaan
·  Material
+  Mempertahankan bentuk dan ukuran bukaan yang masih dalam kondisi baik yang mencerminkan ciri pada gaya fasade bangunan.
+  Mempertahankan material dinding bukaan asli bangunan jika kondisinya baik
+  Memperbaiki bagian fasade yang rusak sesuai dengan tampilan dan tekstur asli.

-  Tidak diperbolehkan mengganti material penutup dinding fasade dengan material yang kontras dengan aslinya sehingga merusak kekhususan gaya arsitektur bangunan asli.

+ Jika dalam perbaikan atau pengembangan tidak ditemukan material yang sama dengan material fasade bangunan lama, maka dapat digunakan material baru yang sedapat mungkin mirip karakternya dengan material asli, sehingga karakter asli bangunan tidak hilang.

Atap
·  Bentuk atap
·  Dimensi atap
+  Mempertahankan bentuk, ukuran, dan material atap yang masih dalam kondisi baik yang mendukung kekhususan gaya arsitektur bangunan
+  Mengganti material penutup atap yang rusak dengan material baru yang sesuai/mirip dengan material aslinya.

-  Tidak diperbolehkan mengganti bentuk dan material atap yang dapat merusak karakter asli bangunan.
+ Jika dilakukan pengembangan, atap bangunan baru disesuaikan dengan bentuk dan material atap bangunan lama untuk menjaga keharmonisan bentuk bangunan.
+ Diperbolehkan menambahkan teritisan dengan bentuk yang disesuaikan dengan atap bangunan lama untuk melindungi fasade bangunan terhadap tampias hujan dan cahaya matahari.


Kelangkaan
(indikator kelangkaan disesuaikan dengan perkembangan arsitektur suatu kota)
Ornamen
·  Gaya dan bentuk ornamen
·  Ukuran
+  Mempertahankan ornamen yang merupakan ciri gaya arsitektur khusus dalam kawasan.

-  Tidak diperbolehkan menambahkan ornamen yang berbeda gaya dan berukuran lebih dominan dari ornamen lama.

+ Diperbolehkan menambahkan ornamen pada bangunan disesuaikan dengan fungsi bangunan dan gaya, bentuk, serta ukuran ornamen asli.


Fasade
·  Bentuk dan ukuran bukaan
·  Material
+  Mempertahankan bentuk dan dimensi bukaan yang unik untuk mempertahankan tampilan fasade bangunan.
+  Mempertahankan material yang memberikan karakter pada fasade bangunan dan kondisinya masih baik.
+  Mengganti material yang rusak dan tidak bisa diperbaiki lagi dengan material yang memberikan tekstur yang sama dengan aslinya sehingga tidak merusak karakter kelangkaan bangunan asli.

-  Tidak diperbolehkan mengubah bentuk dan dimensi bukaan asli bangunan.

+ Jika dilakukan pengembangan, diperbolehkan menambah bukaan bangunan disesuaikan dengan bentuk dan dimensi bukaan asli serta tidak merusak tampilan fasade secara keseluruhan.
+ Jika dilakukan pengembangan, material yang dipilih disesuaikan dengan karakter material asli bangunan.

Keistimewaan
Bentuk dan skala bangunan
·  Bentuk
·  Ketinggian
·  Lebar
+  Mempertahankan bentuk dan skala bangunan asli.

-  Penambahan pada bangunan tidak boleh merubah bentuk dan skala fisik bangunan.
+ Jika dilakukan pengembangan bangunan, disesuaikan dengan bentuk-skala bangunan lama dan bangunan di sekitarnya, serta peraturan bangunan di kawasan.



Ornamen
·  Gaya dan bentuk ornamen
·  Material
·  Warna
·  Dimensi
+  Mempertahankan bentuk dan gaya ornamen asli.
+  Penambahan ornamen baru disesuaikan dengan gaya, bentuk dan dimensi ornamen asli.
+ Diperbolehkan menambahkan ornamen baru untuk kepentingan fungsi bangunan selama sesuai dengan gaya, bentuk, dan dimensi ornamen asli bangunan.






Keistimewaan
Ornamen
·  Gaya dan bentuk ornamen
·  Material
·  Warna
·  Dimensi
+  Memperbaiki ornamen khusus yang rusak dan mengganti ornamen yang sudah tidak dapat diperbaiki lagi dengan ornamen baru yang gaya, bentuk dan dimensinya sama dengan ornamen asli bangunan. Jika bentuk ornamen yang rusak tidak teridentifikasi lagi, maka dipilih ornamen yang sesuai dengan gaya bangunan tua/bersejarah baik dari segi bentuk, material, maupun warna.


Fasade
·  Bentuk dan ukuran bukaan
·  Material
+  Mempertahankan bentuk dan dimensi bukaan yang unik untuk mempertahankan tampilan fasade bangunan.
+  Mempertahankan material yang memberikan karakter pada fasade bangunan dan kondisinya masih baik.
+  Mengganti material yang rusak dan tidak bisa diperbaiki lagi dengan material yang memberikan tekstur yang sama dengan aslinya sehingga tidak merusak karakter kelangkaan bangunan asli.

-  Tidak diperbolehkan mengubah bentuk dan dimensi bukaan asli bangunan.
+ Jika dilakukan pengembangan, diperbolehkan menambah bukaan bangunan disesuaikan dengan bentuk dan dimensi bukaan asli serta tidak merusak tampilan fasade secara keseluruhan.
+ Jika dilakukan pengembangan, material yang dipilih disesuaikan dengan karakter material asli bangunan.

Konstruksi
·  Kekuatan
·  Material
·  Bentuk
·  Dimensi
+  Mempertahankan bentuk konstruksi yang unik pada bangunan.
+  Mengganti konstruksi khusus yang sudah rusak dengan bentuk, material, dan dimensi yang sama dengan konstruksi aslinya.
+ Jika dalam perbaikan tidak ditemukan material konstruksi yang sama, maka diperbolehkan menggunakan material yang berbeda disesuaikan dengan karakter material asli bangunan dengan mempertimbangkan kekuatannya pula.
Nilai Historis
Fungsi
·  Fungsi
+  Mempertahankan funsgi bangunan yang bernilai sejarah.
+ Jika terjadi perubahan fungsi, maka harus disesuaikan dengan fungsi kawasan dengan tidak merubah tampilan fisik bangunan yang mewakili sejarah gaya arsitektur tertentu.







Sumber: Nurmala (2003)

Highfield (1987) menjabarkan poin-poin aspek teknis yang harus diperhatikan dalam tindakan pelestarian bangunan, antara lain: 1. Meningkatkan ketahanan struktur eksisting terhadap api. Elemen-elemen bangunan yang paling umum dilakukan tindakan peningkatan (upgrading) terhadap api adalah elemen-elemen yang berhubungan dengan lantai kayu, kolom dan balok baja, atau besi tempa. Berikut adalah strategi pelestarian fisik elemen-elemen bangunan yang perlu ditingkatkan ketahanannya terhadap kebakaran: a. Meningkatkan resistensi lantai kayu terhadap api (i.  Menambahkan lapisan tahan api dibawah balok eksisting atau atap; ii.  Mengisi ruang kosong antara permukaan lantai dengan plafon); b. Meningkatkan resistansi terhadap api pada elemen baja dan besi (i. Solid encasement; ii.   Lightweight hollow encasement; iii. Spray-applied coating); c.  Meningkatkan resistensi terhadap api pada pintu; d. Meningkatkan resistensi terhadap api pada tembok; 2. Memperbarui finishing interior: a. Memperbarui permukaan dinding ( i. Lapisan plaster; dan ii. Dry linings): b. Memperbarui permukaan langit-langit; dan c. Memperbarui lapisan lantai; i. Melapisi ulang dengan kayu; ii. Re-screeding; dan iii. Memoles lantai seperlunya untuk pengrataan kembali); 3. Memperbarui performa akustik dari elemen eksisting: a. Dinding antar ruangan; b. Lantai antar ruangan; dan c. Dinding pemisah dengan dunia luar; 4. Mencegah kelembaban dalam bangunan: a. Mencegah penetrasi air hujan melalui tembok eksternal (i. Dry linings; ii. Lapisan penahan kelembaban; iii. Cairan kedap air; iv. Cat tahan air); b. Mencegah penambahan kelembaban pada tembok (i. Instalasi ulang penahan kelembaban baru; dan ii. Injeksi bahan kimia penahan kelembaban di dinding); c. Mencegah peningkatan kelembaban pada lantai dasar; d. Mencegah penetrasi air hujan pada atap; 5. Mencegah kerusakan kayu: a. Serangan jamur(i. Dry rot (Serpula lacrymans); ii. Wet rot (Coniophora puteana); dan b. Serangan serangga dengan injeksi in-situ injection untuk elemen-elemen kayu; dan c. Perbaikan dan restorasi menggunakan epoxy-resin pada kayu yang mulai hancur; dan 6. Perkuatan lantai kayu eksisting: a. Mengganti dengan bagian kayu atau baja baru; b. Memperkuat dengan potongan baja kanal baru; c. Memadatkan dengan baja atau kayu; d. Memadatkan dengan pelat baja; dan e. Memperkuat dengan metode beton bertulang.
Mills (1994) menjabarkan aspek-aspek teknis yang pada umumnya dilakukan pada pelestarian bangunan, antara lain perawatan pada kerusakan bangunan eksisting dengan cara: 1. Menambahkan kapasitas tarik; 2. Mencegah penetrasi kelembaban; 3. Antisipasi penetrasi air hujan melalui atap; 4. Antisipasi penetrasi air hujan melalui dinding; 5. Antisipasi penetrasi air tanah; 6. Mencegah pembusukan kayu; 7. Antisipasi serangan jamur pada kayu; dan 8. Antisipasi serangan serangga pada kayu.


Sumber Pustaka
Akihary, H. 2006. Ir. F.J.L.Ghijsels: Architect in Indonesia. Utrecht: Seram Press.
Antariksa. 2010. Tipologi Wajah Bangunan dan Riasan dalam Arsitektur Kolonial Belanda. http://antariksaarticle.blogspot.com/2010/05/tipologi-wajah-bangunan-dan-riasan.html.  (diakses 27 Februari 2011)
Attoe, W. 1989. Perlindungan Benda Bersejarah. Dalam Catanese, Anthony J. dan Snyder, James C. (Editor). Perencanaan Kota: 413-438. Jakarta: Erlangga.
Badan Pelestarian Pusaka Indonesia. 2003. Piagam Pelestarian Pusaka Indonesia. http://www.indonesianheritage.org/produk-hukum/74-piagam-pelestarian-pusaka-indonesia.html. (diakses 3 Maret  2011)
Budihardjo, E. 1985. Arsitektur dan Pembangunan Kota di Indonesia. Bandung: Alumni.
Budiharjo, Eko. 1985. Arsitektur dan Pembangunan Kota di Indonesia. Bandung : Alumni
Budiharjo, Eko. 1997. Arsitektur Pembangunan dan Konservasi. Jakarta: Djambatan
Budiharjo, Eko. 1997. Arsitektur sebagai  Warisan Budaya. Jakarta: Djambatan
Dobby, A.. 1984. Conservation and Palnning. London : Hunchinson
Fitch, J.M. 1992. Historic Preservation:Curatorial Management of The Build World. New York: Mc Graw Hill Book company.
Handinoto. 1996. Perkembangan Kota dan Arsitektur Kolonial Belanda di Surabaya (1870-1940). Surabaya: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Kristen PETRA Surabaya.
Handinoto. 1996. Perkembangan Kota dan Arsitektur Kolonial Belanda di Surabaya (1870-1940). Surabaya: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Kristen PETRA Surabaya.
Handinoto. 2004. Kebijakan Politik dan Ekonomi Pemerintah Kolonial Belada yang Berpengaruh pada Morpologi (Bentuk dan Struktur) Beberapa Kota di Jawa. Dimensi Teknik Arsitektur. 32 (1): 19-27.
Handinoto. 2010. Arsitektur dan Kota-kota di Jawa pada Masa Kolonial. Yogyakarta : Graha Ilmu
Hastijanti, R. 2008. Analisis Penilaian Bangunan Cagar Budaya. http://saujana17.wordpress.com/2008/analisis-penilaian-bangunan-cagar-budaya .html.  (diakses 27 Februari 2011)
Highfield, D. 1987. Rehabilitation and Re-use of Old Building. London: E. & F.N. Spon.
ICOMOS. 1981. Charter for the Conservation of Places of Cultural Significance. http://australia.icomos.org/wp-content/uploads/BURRA_CHARTER.pdf. (diakses 5 Maret 2011)
Istiantomo. 2009. Revitalisasi Gedung Balai Pemuda Surabaya. Skripsi tidak dipublikasikan. Malang  : Universitas Brawijaya
Kerr, J. 1982. The Conservation Plan: A Guide to the Preparation of Conservation Plans for European Cultural Significant. New South Wales: The National Trust of Australia.
Krier, Rob. 1988. Komposisi Arsitektur. Jakarta: Erlangga.
Mills, E. 1876. Planning: Building for Education, Culture, and Science. London: Newnes-Butterworth.
Mills, E. 1994. Building Maintenance and Preservation: a Guide for Design and Management. Oxford: Butterworth-Heinemann.
Moelyono, P. Abdy, D, Djaya, H, Ghufron, M. 1988. Pengantar Metode Penelitian. Jakart : Penerbit Fero.
Muhammad, N B. 2004. Model Pelestarian Arsitektur Berbasis Teknologi Informasi. Jurnal Dimensi Teknik Arsitektur. 32.
Mutiari, D. 2003. Heritage Environment Conservation Management Related to Economic Orientation in Urban Design. Proseding dalam International Symposium and Workshop on Managing Heritage Environment in Asia. Pusat Pelestarian Pusaka Arsitektur. Yogyakarta, 8-12 Januari 2003.
Nurmala. 2003. Panduan Pelestarian Bangunan Bersejarah di Kawasan Pecinan-Pasar Baru Bandung. Tesis. Tidak dipublikasikan. Bandung: ITB
Panjaitan, T.W.S. 2004. Peranan Konservasi Arsitektur Bangunan dan Lingkungan dalam Melestarikan Identitas Kota. Selasar Jurnal Arsitektur. 1 (1):
Pontoh, N.K. 1992. Preservasi dan Konservasi Suatu Tinjauan Teori Perancangan Kota. Jurnal PWK, IV (6): 34-39.
Shirvani, H. 1985. Urban Design Process. New York: Van Nostrand Remhold
Sopandi, S. 2008. Arsitektur Kota Bogor: Dulu dan Sekarang. http://handelstraat.wordpress.com/2008/11/24/arsitektur-kota-bogor-dulu-dan-sekarang-setiadi-sopandi/ (diakses 27 Februari 2011)
Sudibyo, I. 1997. Pembongkaran Bangunan Kuno: Sebuah Kemiskinan Budaya. Dalam Budiharjo, Eko (Penyunting). Arsitektur Pembangunan dan Konservasi: 142 - 149. Jakarta: Djambatan
Widodo, Indra. 2003. Pengembangan Balai Pemuda Surabaya sebagai Gedung Seni Pertunjukan. Skripsi tidak dipublikasikan. Malang  : Universitas Brawijaya
Wiryomartono, B. P. 2002. Urbanitas dan Seni Bina Perkotaan. Jakarta: Balai Pustaka.
Yunani, R.M. 2009. Bergejolaklah Sebelum Dibongkar.  Jayabaya.


 ©Antariksa 2012

Categories: Uncategorized Tags:

Beberapa Teori Dalam Pelestarian Bangunan

April 8th, 2012 Comments off
Categories: Uncategorized Tags:

Architecture Journals 2012-03-23 08:14:00

March 23rd, 2012 Comments off
CONSERVATION OF CHINATOWN AREA IN PASURUAN


Antariksa, Fadly Usman, Ika Puspitasari, Hany Perwitasari

Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Brawijaya, Malang Indonesia


ABSTRACT
The aims of this study are to identify and to analyze the changes of characteristic of Pasuruan's Chinatown through the element of area, history, socio culture, law consideration, and vernacular architecture, especially on façade and ornament of the building. The method used in this study is descriptive, evaluative, and explorative with a qualitative approach. The landmark is the Chinese temple, node is a center of activity, the district is the trading, and the path is roadways with grid systems. Objects of the research is building that can be classified into three periods of time built, the which are <1800-1840 period Empire style that has Indisch that quite famous in Indonesia since 18th century until 1840, the 1850-1890 period, the which represent two different styles the which are Voor 1900 1900 NA style and style, and from 1900 to 1945 period is more influenced by the which Romantiek 1915-1930 style. Perpetuation guide for the physical building preservation for seven buildings have high potential, conservation for 22 buildings have middle potential, and rehabilitation for 17 buildings have low potential. Perpetuation guide for the region are guidance for elements of area, activity limitation function, and make-region identity.

Keywords: characteristics, facade, ornaments, Chinatown.


Antariksa, Fadly Usman, Ika Puspitasari & Hany Perwitasari. 2012. Conservation of Chinatown Area in pasuruan. Journal of Applied Environmental and Biological Sciences (JAEBS). 2 (1):1-8. ISSN 2090-4215.

© Antariksa 2012


Categories: Uncategorized Tags:

arsitektur e-Journal, Volume 4 Nomor 3, November 2011

January 14th, 2012 Comments off

arsitektur e-Journal, Volume 4 Nomor 3, November 2011 hlm. 143-155

TIPOLOGI FASADE BANGUNAN KOLONIAL

DI KORIDOR JALAN LETNAN JENDERAL SOEPRAPTO

KOTA SEMARANG

Bunga Indra Megawati, Antariksa, Noviani Suryasari

Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Jl. Mayjen Haryono 167 Malang 65145 Telp.0341-567486

e-mail: ninja_archi@yahoo.com


ABSTRAK

Bangunan kolonial Belanda menjadi titik awal dari studi yang dapat memberikan pengetahuan tentang tipologi fasade dan perkembangan bentuk arsitektur kolonial berlandaskan kebudayaan lokal dan iklim tropis. Bentuk–bentuk arsitektur tersebut dapat menjadikan cermin bangunan-bangunan kolonial di Indonesia. Dalam studi ini, digunakan metode deskriptif-eksploratif, dan pemilihan sampelnya digunakan purpossive sampling, kemudian dilanjutkan dengan metode deskriptif-kualitatif dibantu dengan metode kuantitatif. Variabel yang dijadikan bahan antara lain adalah era pembangunan, elemen fasade bangunan, dan komposisi fasade bangunan. Hasil studi ditemukan empat periode pembangunan, yaitu pada abad ke-18, abad ke-19, abad ke-20 serta setalah abad ke-20, dan disetiap periode memiliki tipe fasade bangunan kolonial (elemen kepala bangunan, badan bangunan, dan kaki bangunan). Selain perbedaan periodesasi juga terdapat perbedaan fungsi–fungsi yang berbeda, yaitu sebagai tempat ibadah, perkantoran, perdagangan dan hunian. Tipologi berdasarkan elemen fasade bangunan mampu memberikan hasil visual terhadap kasus terpilih, yaitu 18 buah bangunan diketahui mempunyai morfologi elemen bangunan terhadap iklim. Secara umum disebutkan bahwa karakter visual dan tipe setiap tipologi fasade bangunan memiliki beberapa jenis atap, yaitu atap perisai, pelana, kubah serta kombinasi pada bentuk gable dan tower. Berdasarkan komposisi bangunan memiliki tipologi yang berbeda di setiap kasus bangunan antara lain memiliki sumbu yang simetris, dengan ritme atau perulangan pada elemen pembentuk fasade seperti pintu dan jendela yang dinamis, serta hirarki terpusat dengan nilai yang tinggi pada ukuran dan peletakkan entrance.

Kata kunci: tipologi, fasade, kolonial


ABSTRACT

The Dutch colonial buildings to be the first point of study which can given a knowledge relating to façade typologies, and the development of colonial architecture form is based on local culture and tropical climate. The architectural forms can construct a reflection of colonial buildings in Indonesia. This study used descriptive-exploratory methods, and the selection of the sample used purposive sampling methods, and then to analysis is used descriptive-qualitative method, which assisted with quantitative methods. Variables are used as aspect among others, is the era of development, building facade elements, and the composition of the building facade. The results study show four periods construction as in 18th, 19th, 20th and after 20th centuries, and each period had its own façade typology type (the head of the building element, body of the building, and foot of the building). Besides the different periods is found different functions, as place for pray, office, commerce and dwellings. Typology based on building façade elements be able to give visual result concerning selected cases, it results 18 buildings known have morphologies building elements toward climates. Generally, as is mention that visual character and every typology building façade types have several kind of roof shapes, which are angular roof (perisai), domes (pelana kubah), and combine gable and tower. Based on building compositions is have typology which different in every building cases, such as symmetric axes with its rhythm or repetition on its façade elements; as doors, windows which dynamic, and centralized hierarchy with high values on the sizes and entrance positioning.

Keywords: typology, façade, colonial

arsitektur e-Journal, Volume 4 Nomor 3, November 2011 hlm. 156-173

TATA RUANG DALAM RUMAH PENINGGALAN

MASA KOLONIAL DI TEMENGGUNGAN KOTA MALANG


Lintang Satiti Mahabella, Antariksa, Noviani Suryasari

Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Jl. Mayjen Haryono 167, Malang 65145, Telp. 0341-567486

e-mail: lintang.mahabella@gmail.com

ABSTRAK

Peninggalan masa kolonial yang banyak ditemukan di Kota Malang antara lain adalah bangunan pemerintahan, dan rumah tinggal. Studi ini dilakukan pada tata ruang dalam rumah peninggalan masa kolonial di Temenggungan Kota Malang. Pembahasan ini dilakukan untuk mengetahui dan menggambarkan tata ruang rumah kolonial yang ada di kawasan studi, yang telah ada sejak masa kolonial. Tujuan studi ini adalah untuk menggambarkan tata ruang dalam rumah peninggalan masa kolonial di Temenggungan Kota Malang, diikuti oleh perubahan yang terjadi beserta faktor yang menyebabkan perubahan yang ada. Studi dilakukan dengan metode deskriptif, yang diawali oleh penentuan variabel dan sampel studi, sesuai dengan topik yang diangkat. Hasil studi menunjukkan tata ruang dalam rumah peninggalan masa kolonial di Temenggungan Kota Malang, tersusun atas tatanan zona publik di bagian depan rumah, diikuti dengan penataan zona semipublik, dengan zona privat di sisi kanan dan kiri zona semipublik. Perubahan terjadi pada beberapa rumah peninggalan masa kolonial di Temenggungan Kota Malang, disebabkan oleh beberapa faktor, yang meliputi faktor ekonomi, kebutuhan manusia akan ruang (privasi), bertambahnya jumlah penduduk, faktor sosial ekonomi, dan aksesibilitas ruang yang cepat.

Kata Kunci: tata ruang dalam, rumah, arsitektur kolonial, perubahan

ABSTRACT

The legacy of colonial which are found in Malang city, are government buildings and residences. This study is conducted on spatial patterns in the relics of the colonial house in Temenggungan Malang. The purpose of this study is to describe spatial patterns in the relics of the colonial house in Temenggungan Malang, followed by changes that occur and the factors that cause the changes. The study is conducted with descriptive method, which are begins by determining the variables and the study sample, according to the topics which are rose. The results from the analysis data showed a pattern of spatial of the relics colonial houses in Temenggungan Malang, composed of public order in the front zone of the house, followed by the arrangement of semi-public zones, with a private zone on the right and left side of the semi-public zone. Changes that are occur in some of the relic’s colonial houses in Temenggungan Malang, caused by several factors, including economic factors, the human need for space (privacy), increase of population, socioeconomic factors, and the faster spatial accessibility.

Keywords: spatial pattern, houses, colonial architecture, changes

arsitektur e-Journal, Volume 4 Nomor 3, November 2011 hlm.174-184

VITALITAS KAWASAN BERSEJARAH

PT GARAM KALIANGET-MADURA


Siti Nuurlaily R, Antariksa, Nindya Sari

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Jl. Mayjen Haryono 167 Malang 65-Telp (0341)567886

e-mail: nuurlaily.90_plano@rocketmail.com

ABSTRAK

Pada abad ke-19 Pulau Madura adalah produsen garam satu-satunya di Indonesia terletak di kawasan Kalianget. Keberadaannya yang tersisa adalah bangunan-bangunan kuno dengan ciri khas Belanda. Saat ini kawasan Kalianget mengalami penurunan kawasan, yaitu terdapatnya bangunan kuno yang kosong dan sebagian bangunan kuno mengalami kerusakan. Tidak adanya dokumen yang mengatur tentang benda-benda cagar budaya menimbulkan kesemrawutan perawatan bangunan kuno. Namun adanya tujuan pemerintah untuk menjadikan kawasan Kalianget sebagai wisata kota tua, maka dibutuhkan tinjauan mengenai vitalitas kawasan. Tujuan studi ini untuk mengidentifikasi dan menganalisis tingkat vitalitas serta faktor penyebab penurunan vitalitas kawasan Kalianget. Metode yang digunakan adalah deskriptif-evaluatif dengan menggunakan teknik scoring serta metode evaluatif untuk mengetahui faktor yang menyebabkan penurunan vitalitas kawasan. Hasil studi ini menunjukkan bahwa kawasan bersejarah PT Garam Kalianget berada pada tingkat rendah, atau dalam kondisi mati. Faktor penyebab penurunan vitalitas kawasan, yaitu pertama, faktor ekonomi, kurangnya pendanaan (pemerintah dan pemilik bangunan) untuk merawat dan menjaga bangunan kuno; kedua, fisik bangunan, terjadi penurunan pemanfaatan bangunan kuno (pengosongan bangunan kuno); ketiga, faktor sosial, rendahnya partisipasi masyarakat terhadap kawasan bersejarah (masyarakat penghuni bangunan kuno dan non penghuni bangunan kuno).

Kata kunci: kawasan bersejarah, vitalitas, faktor penurunan, vitalitas kawasan.

ABSTRACT

In the 19th century, Madura Island is the only salt producer in Indonesia located in the sub district of Kalianget. The existence that remains is old buildings with Dutch architecture characteristic. At the present time Kalianget sub district have an area decrease that there are be found some of the buildings are left empty without someone living and some of the buildings have damage condition. This condition is probably caused of the lack documents related to regulate in managing the building preservation give and disorganized in protection of the old buildings. However with government purpose for Kalianget sub district as old city tourism, then need contemplation on area vitality. The aims of this study are to identification and analyze the level of vitality and causal factor of the decrease Kalianget sub district. Research methods use in this study is dealing with descriptive-evaluative using scoring technique and valuation method to identify the causal decrease on the sub district. The result of this study shows that historical area of on salt factory of PT Garam Kalianget placed in the low level or in dead condition. The causal factor of vitality decrease area, first is the economic factor, shortcoming financing (government and owner of building) for caring and protect the old buildings; second, is physical building, it occur in decreasing to make use of old buildings (clearing of old building); third, social factor, too short of community participation in historical area (community occupant of old buildings and community non occupant of old buildings).

Keywords: historic area, vitality, decrease factor, vitality area

arsitektur e-Journal, Volume 4 Nomor 3, November 2011 hlm.185-197

PERUBAHAN KAWASAN JALAN BRIGJEN SLAMET RIYADI

(ORO-ORO DOWO) KOTA MALANG


Dessy Aliana Rachmawati, Antariksa, Dian Kusuma Wardhani

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Jl. Mayjen Haryono 167 Malang 65145; Telp (0341) 567886

e-mail: dhe_zzz@yahoo.co.id

ABSTRAK

Tujuan dari studi ini adalah untuk mengidentifikasi sejarah, perkembangan, dan karakteristik kawasan, serta mengidentifikasi perubahan dan menganalisis penyebab perubahan kawasan. Metode deskriptif digunakan untuk mengidentifikasi sejarah, perkembangan, dan karakteristik kawasan, serta menganalisis tipe perubahan perkembangan dan fungsi kawasan. Metode evaluatif digunakan untuk menganalisis perubahan dan penyebab perubahan kawasan, termasuk di dalamnya perubahan dan penyebab perubahan bangunan kuno sebagai bagian dari karakter masa lampau kawasan. Hasil studi menunjukkan bahwa perkembangan kawasan tidak hanya mencakup fisik, namun juga unsur non fisik (sosial, ekonomi dan politik/kebijakan pemerintah) yang mempengaruhi proses terjadinya perubahan. Perkembangan kawasan menunjukkan bahwa kawasan mengalami perubahan dari tipe perkembangan horizontal ke perkembangan interstisial. Perubahan kawasan dengan sinkronik-diakronik menunjukkan pengaruh perkembangan aspek sosial, ekonomi dan politik terhadap fisik kawasan yang ternyata saling memiliki keterkaitan. Namun pengaruh masing-masing aspek tersebut tidak sama pada setiap periode waktu. Penyebab perubahan kawasan disebabkan oleh faktor aktivitas ekonomi dan politik (kebijakan pemerintah), sedangkan kondisi sosial tidak terbukti memilki korelasi sebagai penyebab perubahan. Penyebab perubahan bangunan terdiri dari tiga kelompok faktor, yaitu faktor pertama terkait dengan bangunan dan pemilik, faktor kedua terkait dengan kawasan dan faktor ketiga terkait dengan non fisik (desain dan hukum).

Kata kunci: perkembangan, perubahan


ABSTRACT

The purposes of this study are to identify history, development and characteristics of the area, and to identify the changes that occur to the area and to analyze the cause of area changes. Descriptive method used to identify history, development of the area, and to identify the characteristic. In addition, it analyzes the type of development changes and function of the area. Evaluative method used to analyze changes and to analyze causal changes in the area, which also the causal changes of old buildings as a part of the past character area. The result of this study showed that the development of area involved not only physical aspect, but also non-physical aspects (social, economic and politics or government policies) that influenced the process of change. The development of area showed that the area changed from horizontal to interstitial type. The changes of area used synchronic-diachronic analyze showed the influence of development aspects as social, economy, and political aligned with physically area which apparently have interrelatedness. However the influence of each aspect is not the same in every period of time. The causal of area changed cause of economic activity factor and politic (government policies), and the social condition have no correlation as causal change. The causal changes of the old building consist of three group’s factor, the first factor is interrelated with building and the owner, the second factor is interrelated with the area, and the third factor is interrelated with non physical (design and regulation).

Key words: development, changes

arsitektur e-Journal, Volume 4 Nomor 3, November 2011 hlm.198-210

PERUBAHAN KAWASAN KAMPUNG TUGU JAKARTA UTARA


Dana Adisukma, Antariksa, Dian Kusuma Wardhani

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Jalan MT. Haryono 167 Malang 65145, Indonesia. Telp. +62-341-567886

e-mail: d_adisukma@ymail.com

ABSTRAK

Tujuan studi ini adalah untuk mengidentifikasi karakteristik dan perubahan kawasan Kampung Tugu serta menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan kawasan Kampung Tugu Jakarta Utara. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah metode deskriptif-evaluatif. Karakteristik kawasan Kampung Tugu diidentifikasikan berdasarkan atribut pembentukan kawasan. Perubahan kawasan Kampung Tugu dapat dilihat pada perubahan penggunaan lahan, aksesibilitas dan elemen pembentuk kawasan. Berdasarkan analisis sinkronik-diakronik dapat disimpulkan bahwa perubahan kawasan Kampung Tugu dipengaruhi oleh faktor ekonomi dan politik. Berdasarkan analisis faktor terdapat tiga faktor utama yang mempengaruhi perubahan kawasan Kampung Tugu. Faktor I adalah sejarah kawasan dan atraksi budaya, faktor II adalah landmark dan aktifitas kawasan dan faktor III adalah masyarakat.

Kata kunci: perubahan kawasan, Kampung Tugu

ABSTRACT

The purpose of this study is to identify the characteristics and changes in Kampung Tugu area and analyze factors that influence the changes in Kampung Tugu area, North Jakarta. The method used in this study is descriptive-evaluative method. Ccharacteristics of Kampung Tugu area identified based on the form attributes of the area. Changes in Kampung Tugu area were seen in land use, accessibility and the forming elements of the area. Based on the synchronic-diachronic analysis it concluded that the changes in Kampung Tugu area affected by economic and political factors. Based on the factors analysis, there are three main factors that affected changes in Kampung Tugu area. The first factors historyy of the area and cultural attractions, the second factors is landmarks and activities of the area and the third factor is the citizen.

Keywords: changed area, Kampung Tugu

Antariksa © 2011

Categories: Uncategorized Tags: