Archive

Archive for August, 2008

ARSITEKTUR LINGKUNGAN BINAAN

August 29th, 2008 Comments off
Categories: Uncategorized Tags:

ARSITEKTUR KOLONIAL

August 29th, 2008 Comments off
Categories: Uncategorized Tags:

arsitektur e-Journal, Volume 1 Nomor 2, Juli 2008

August 10th, 2008 Comments off

arsitektur e-Journal, Volume 1 Nomor 2, Juli 2008 hlm. 64-76

TIPOLOGI FAÇADE RUMAH TINGGAL KOLONIAL BELANDA
DI KAYUTANGAN - MALANG

Arthantya Dwi Karisztia, Galih Widjil Pangarsa, Antariksa
Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya,

Jalan Mayjen Haryono 167, Malang 65145

E-mail:
arta_23@yahoo.com

ABSTRAK

Tujuan studi ini adalah untuk mendapatkan tipologi façade rumah tinggal kolonial Belanda yang ada di kawasan bersejarah Kayutangan. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah deskriptif. Penentuan sampel bangunan dilakukan secara purposif dengan analisisnya adalah façade (atap, dinding, dan lantai), dan metode analisis kualitatif-deskriptif dengan pendekatan tipologi. Hasil studi ditemukan bahwa macam atap yang digunakan pada rumah tinggal, yaitu perisai, pelana, dan gevel. Tipologi dinding dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu dinding polos, dinding dengan ornamen batu kali, dan dinding dengan ornamen batu tabur. Elemen bukaan pada rumah tinggal ditemukan empat jenis, yaitu pintu, jendela, bouvenlight, dan lubang angin. Jenis pintu dan jendela yang paling banyak ditemukan adalah jenis rangkap ganda dengan tipe gantung samping dengan bahan kayu sebagai bahan pembentuknya. Teritisan pada façade letaknya dikelompokkan menjadi dua, yaitu di sepanjang lebar façade dan di atas bukaan saja. Lantai pada keseluruhan kasus bangunan menggunakan bahan teraso dengan perbedaan ketinggian 30-60 cm dari permukaan tanah. Elemen façade bangunan yang paling besar rentan terhadap perubahan dinding (hampir 70% berubah), sedang elemen façade yang paling tidak rentan terhadap perubahan adalah atap
Kata kunci:
tipologi, façade, rumah tinggal

ABSTRACT

The aims of this study are to find the typology of Dutch colonial house façade in historical area of Kayutangan. This study used descriptive method. A sample building has been made purposively through analyzing the façade (roof, wall, and floor), and used descriptive-qualitative analysis method with typology approach. The study finds that the roof variations used in the colonial house at the area are shield, saddle and gevel. Wall typology has been classified into two groups: plain, ornamental with river stone, and ornamental with spreading stone. Opening element in the colonial house at the area involves four types, door, window, bouvenlight, and wind hole. The most often used door and window types submit to the double-fold with wooden-side hanger as the frame. Façade eaves may be grouped into two, along the façade wide and above the opening. The floor in all building cases applies the terrace materials with different heights of 30-60 cm above the ground surface. The greatest element of building façade seems susceptible to the wall modification (almost 70 % changes), while the strongest façade element against modification appears to be the roof.
Keywords:
typology, façade, house

ABSTRACT

This study carries out to recognize the characteristic of social economic, social culture and physical space of village settlement. The selection of Trowulan village as an object of study is based on finding of an archeologist which concluded that archeological density in the area of Segaran pond is extremely high. In the Majapahit period is also founded many religious sect and mysticism, and probably they previously be assimilate or religious syncretism. Sample taken is Trowulan village community which all at once as building owners. The result of this study shown that the majority of the community be found interrelatedness between traditional ceremony to carry out by the respondent through internal dwelling space pattern (hosing space pattern), and kinship relationship along with farmland agriculture location to external dwelling pattern (dwelling pattern in dwelling cluster). The physical space characteristic of dwelling pattern by means of yard oriented that used in a collective, inclined acquire of social characteristic, economic and culture is similar. Different with dwelling pattern through linear orientation and linear centered have inclined several of social characteristic, economic and culture.
Key words: village settlement, Trowulan village, dwelling pattern

arsitektur e-Journal, Volume 1 Nomor 2, Juli 2008 hlm. 94-109

PELESTARIAN POLA PERUMAHAN TANEYAN LANJHANG
PADA PERMUKIMAN DI DESA LOMBANG
KABUPATEN SUMENEP

Puspita Fitria Rahma Dewi, Antariksa, Surjono
Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
Jl. Mayjen Haryono 167 Malang 65145, Indonesia, Telp. 62-341-567886
E-mail: puz_fitria@yahoo.com

ABSTRAK

Pola perumahan taneyan lanjhang sebagai wujud budaya khas adat, merupakan ciri khas arsitektural Madura yang memiliki tatanan berbeda. Adat tradisi Madura yang kental, membawa nilai dan sistem kekerabatan yang erat sebagai salah satu budaya lokal masyarakat Madura. Melalui penelitian case study ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pola perumahan taneyan lanjhang pada permukiman di Desa Lombang. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah deskriptif eksploratif, sedangkan untuk mengetahui perubahan pola perumahan taneyan lanjhang dari waktu ke waktu digunakan teknik analisis diakronik serta teknik analisis crosstabs dan korelasi bivariate untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut. Hasil studi diperoleh 5 (lima) tipologi pola perumahan taneyan lanjhang yang didasarkan pada kelengkapan rumpun taneyan-nya dan pola selain taneyan lanjhang (linier sepanjang jalan). Secara diakronik diketahui bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi perubahan pola perumahan taneyan lanjhang. Di antaranya, yaitu faktor mata pencaharian, tingkat pendapatan, status kepemilikan pekarangan dan renovasi mempengaruhi perubahan pola perumahan taneyan lanjhang. Dengan korelasi cukup, status kepemilikan rumah dan kesadaran masyarakat memiliki tingkat korelasi kuat serta upaya pelestarian mempengaruhi perubahan pola perumahan taneyan lanjhang dengan korelasi sangat kuat.
Kata kunci:
pola perumahan, taneyan lanjhang, pelestarian

ABSTRACT

Taneyan lanjhang housing pattern as a form of custom typical culture, represent Madura architectural characteristic which has different appearance. Madura tradition custom is substantial bringing the value and solid relations system as one of the society local culture. By this case study research is mean to know taneyan lanjhang housing pattern characteristic according to settlement in Lombang village. Method used in this study is exploratif descriptive, even as knowing the changes of taneyan lanjhang housing village from time to time used diacronic analysis technics, crosstabs analysis and bivariate corelation to know the factors which influence of the changes. The results of this study are 5 (five) typologi of taneyan lanjhang housing patterns which based on taneyan stool equipment and the pattern besides taneyan lanjhang (linier as long as the road). By diacronic recognize that there are some factors which influence the changes of taneyan lanjhang housing village. Among the other things are job factor, income rising, farm owner status and renovation influence the changes of taneyan lanjhang. With sufficient corelation, farm owner status and society awareness have own strong corelation with awareness in preservation that influence the changes of taneyan lanjhang housing pattern with very strong corelation.
Key words: housing pattern, taneyan lanjhang, preservation

arsitektur e-Journal, Volume 1 Nomor 2, Juli 2008 hlm. 110-120

PERUBAHAN KAWASAN BERSEJARAH BENTENG DAN MASJID INDRAPURI
KABUPATEN ACEH BESAR

Khairul, Antariksa, Agus Dwi Wicaksono
Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
Jl. Mayjen Haryono 167 Malang 65145 – Telp. (0341) 7051558
E-mail: khairul_risyad@yahoo.co.id

ABSTRAK

Tujuan dari studi ini adalah mengidentifikasi dan menganalisis tingkat perubahan lingkungan dan bangunan kuno. Kemudian mengevaluasi faktor-faktor penyebab perubahan lingkungan dan bangunan kuno di Kawasan Benteng dan Masjid Indrapuri. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif dan evaluatif. Berdasarkan hasil analisis tingkat perubahan lingkungan dapat dibagi empat periode waktu, landmark berupa Masjid Indrapuri, node saat ini berpindah ke Pasar Indrapuri, district berupa permukiman, path berupa jalan yang telah diperkeras aspal, dan edge saat ini berupa sungai dan ruang terbuka hijau. Tingkat perubahan bangunan kuno terdapat tiga kategori: perubahan besar sebesar 46%, perubahan kecil sebesar 42% dan yang tidak mengalami perubahan sebesar 12%. Berdasar analisis sinkronik-diakronik, pada masa Kerajaan Lamuri aspek yang mempengaruhi perubahan bangunan dan lingkungan adalah politik dan sosial budaya. Masa Kerajaan Aceh (1513-1636) dipengaruhi aspek politik, ekonomi, dan sosial budaya, masa Kerajaan Aceh (1636-1942), dipengaruhi aspek politik dan ekonomi. Saat ini, aspek ekonomi, sosial budaya mempengaruhi perubahan bangunan dan lingkungan. Penyebab perubahan bangunan kuno di peroleh tiga kelompok faktor. Faktor I, usia bangunan, kurangnya perawatan bangunan, selera pemilik bangunan, dan tingkat pendapatan bangunan. Faktor II, faktor fungsi bangunan dan sosial budaya. Faktor III, yaitu status kepemilikan bangunan.
Kata kunci
: sejarah Aceh, perubahan bangunan, lingkungan.

ABSTRACT

The aims of this study are to identify and to analyze the level changes of ancient building and its environment. Then to evaluate the causal factors of environment changes and ancient buildings in the area of Indrapuri Mosque and Fortress. The method used in this study is descriptive-evaluative with quantitative approach. Based on analysis the level of environmental change is divided into four periods of time, the landmark is the Indrapuri Mosque, the node nowadays is the Indrapuri market, the district is the settlement, path is roadways that already surfaced with asphalt, and the edge is the river and open spaces. The level change of ancient buildings have three categories: 46% in a high level of changes, 42% in a medium level of changes, and 12% in a low level of changes. Based on synchronic-diachronic analysis, in the era of Lamuri Sultanate the influence aspect of the change of buildings and environment is politics and social culture. In the era of Aceh Sultanate (1513-1636), the influence aspect is economy, politic and social cultural. Politics and economy still become the main aspect that influenced in the era of Aceh Sultanate (1636-1942). Nowadays, economy, and social cultural are the aspects that influnced the changes of building and environment. These causal changes of ancient buildings have three factors group. The first factors are the building age, lack of maintenance and protection, owner preferences, and owner level of income. The second factors are the building function and social cultural. Last, the third factor is the status of the building owner.
Keywords:
history of Aceh, changes of buildings, environment

arsitektur e-Journal, Volume 1 Nomor 2, Juli 2008 hlm. 122-134

PELESTARIAN KORIDOR
JL. JAKSA AGUNG SUPRAPTO KOTA MALANG

Evy Rishnawati, Antariksa, Ismu Rini Dwi Ari
Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
Jl. Mayjen Haryono 167 Malang 65145
E-mail: actenemo@yahoo.com

ABSTRAK

Latarbelakang studi ini, adalah bahwa kota sedang menghadapi situasi dilematik antara tuntutan pengembangan (fisik) kota modern dengan pelestarian kota bersejarah. Akibatnya, beberapa tahun terakhir ini banyak bangunan kuno/bersejarah yang dibongkar, dengan alasan lahannya diperlukan untuk pembangunan gedung baru yang modern. Tujuan dalam studi ini adalah mengidentifikasi karakteristik koridor dari elemen-elemen perancangan kota, mengetahui variabel yang mempengaruhi perubahan pada bangunan kuno, serta menentukan prioritas pelestarian melalui kajian makna kulturalnya. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah deskriptif untuk mengidentifikasi karakteristik koridor, metode korelasi untuk menganalisis perubahan bangunan dan metode pembobotan untuk menentukan prioritas pelestarian. Hasil yang diperoleh, dari 15 bangunan kuno di koridor, 9 bangunan mengalami perubahan kecil, 1 bangunan mengalami perubahan besar dan 5 bangunan tidak mengalami perubahan. Variabel yang mempengaruhi perubahan bangunan kuno di koridor, yaitu variabel bahan bangunan yang tidak tahan lama dan variabel perubahan selera pemilik. Dari 15 bangunan kuno, 3 bangunan direkomendasikan untuk dipreservasi, 3 bangunan direkomendasikan untuk dikonservasi dan 9 bangunan direkomendasikan untuk direhabilitasi.
Kata kunci: koridor, perubahan, prioritas pelestarian

ABSTRACT

Background of this study is relating to the dilemmatic situation between quality demands of modern city development along with historical city conservation. As a consequence, in the last several years many ancient/historic buildings which are demolish, and the reason that the land owner is needed to expand a new modern buildings. The purpose of this study is to identify the corridor characteristic of elements design of town, to know a variable which influencing the changing of ancient building, and to determine conservation priority through a cultural meaning study. This study used descriptive method, and this method apply to identify corridor characteristic, correlation method to analyzing the change of buildings, and mass method to formative conservation priority. Result of this study obtained, from 15 ancient buildings in the corridor, there are 9 buildings in small change, 1 building in big change and 5 building do not occurrence change. Variable which influenced to the change of ancient buildings in the corridor is building material variable that is not durable and variable change of the owner enthusiasm. From 15 ancient building, 3 building recommended for preservation, 3 building recommended for conservation and 9 building recommended to be rehabilitated.
Keywords: corridor, change, priority of conservation

Copyright © 2008 by antariksa

Categories: Uncategorized Tags: