Archive

Archive for November, 2008

arsitektur e-Journal, Volume 1 Nomor 3, November 2008

November 15th, 2008 Comments off

arsitektur e-Journal, Volume 1 Nomor 3, November 2008 hlm. 135-144

PELESTARIAN KAWASAN BERSEJARAH
KESULTANAN MELAYU RIAU-LINGGA DI PULAU PENYENGAT KEPULAUAN RIAU


Risqiana Dani, Antariksa, Septiana Hariyani

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
Jl Mayjend Haryono No. 167 Malang 65145, Telp. (0341) 551611-551615
E-mail: eqi_plano@yahoo.com

ABSTRAK

Penurunan apresiasi lingkungan terhadap karakter lokal di kawasan bersejarah Pulau Penyengat, baik dari segi budaya masyarakatnya maupun peninggalan bersejarah menjadi suatu alasan untuk melakukan studi ini. Studi ini bertujuan mengidentifikasi karakter khas Pulau Penyengat sebagai kawasan bersejarah berdasarkan identifikasi elemen pembentuk citra kawasan, menganalisis penyebab perubahan dan kerusakan bangunan dan lingkungan bersejarah berdasarkan faktor fisik dan non fisik serta mengevaluasi kinerja pelestarian yang sudah dilaksanakan berdasarkan penilaian makna kultural bangunan. Didapatkan bahwa penyebab utama dari perubahan dan kerusakan bangunan dan lingkungan bersejarah di Pulau Penyengat adalah kurangnya perawatan (faktor fisik) dan juga komitmen pemerintah (faktor non fisik). Berdasarkan penilaian makna kultural dapat dikelompokkan bangunan bersejarah ke dalam tiga kelompok dengan rincian: bangunan bersejarah potensial tinggi sebanyak tujuh bangunan dan diarahkan untuk preservasi, bangunan bersejarah potensial sedang sebanyak lima bangunan dan diarahkan untuk konservasi serta bangunan bersejarah potensial rendah sebanyak delapan bangunan dan diarahkan untuk rehabilitasi.
Kata kunci: Pelestarian, kawasan bersejarah, bangunan bersejarah

ABSTRACT

The degrading of environtment appreciation to local character at the historical site in Penyengat Island, from the culture of the society side as well as its historical remains has become one good reason for conducting this study. The targets of this study first is to identify the typical character of Penyengat Island as historical site based on identification element form the site’s image. Second, to analyze the causes of the changes and the damage of building and historical site based on their physical and non physical factors. The last is to evaluate the performance of the conservation that has been conducted based on the evaluation of the cultural meaning of building. It is found out that the main cause of the changes and the damage of building and historical site in Penyengat island is the lack of conservation (physical factor) and goverment’s commitment (non physical factor). Regarding to the evaluation of the cultural meaning of building, historical buildings can be gruoped into three groups with the following details: seven high potential historical buildings are recommended for preservation, five middle potential hirtorical buildings are recommended for conservation, eight less potential historical buildings are recommended for rehabilitation.
Keywords: conservation, historical site, historical buildings.



arsitektur e-Journal, Volume 1 Nomor 3, November 2008 hlm. 145-156

PELESTARIAN KAWASAN
EKS PUSAT KOTA KOLONIAL LAMA SEMARANG

Perawati Kesuma Dewi, Antariksa, Surjono
Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
Jl Mayjend Haryono No, 167 Malang 65145
- Telp. (0341) 567886
E-mail: im_inDpendent@yahoo.com

ABSTRAK

Kawasan Kota Lama Semarang merupakan cikal bakal terbentuknya Kota Semarang, yang memiliki nilai sejarah yang tinggi dan kekhasan kawasan dilihat dari aspek fisiknya. Pergeseran fungsi kawasan dari pusat pemerintahan pada masa kolonial Belanda menjadi kawasan mati saat ini merupakan hal yang melatarbekalangi studi ini. Tujuan studi ini adalah untuk mengidentifikasi karakteristik fisik (guna lahan, bangunan kuno, sirkulasi dan parkir, serta ruang terbuka) dan non fisik (sosial, ekonomi, budaya, hukum, konsep rencana, organisasi serta pendanaan) yang membentuk kawasan Kota Lama, serta mengevaluasi kinerja kegiatan pelestarian yang telah dilaksanakan di kawasan tersebut. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah metode deskriptif untuk mengetahui karakteristik fisik dan non fisik kawasan Kota Lama; dan metode evaluatif untuk mengevaluasi kinerja kegiatan pelestarian dengan importance performance analysis dan penilaian makna kultural. Hasil studi menunjukkan bahwa kinerja pelestarian yang harus diprioritaskan dalam penanganannya adalah sirkulasi dan parkir serta ruang terbuka (fisik), dan sosial, ekonomi, budaya, hukum, organisasi serta pendanaan (non fisik). Bangunan kuno yang termasuk potensial tinggi berjumlah 20 bangunan, potensial sedang berjumlah 24 bangunan, dan potensial rendah berjumlah 49 bangunan.
Kata kunci:
pelestarian, bangunan kuno, kinerja, kawasan Kota Lama


ABSTRACT

Semarang Old city district is the first beginning of Semarang City which have high historical value and unique area based on its physical aspect. Transitioned its area function from centre of government in Dutch colonial era be a death area is a thing that motivate this study. The purpose of this study is to identification physical (land use, old-fashioned building, circulation and park, and open space) and non physical (social, economic, culture, law, concept of plan, organization, and funding) characteristics of Semarang Old City that shaped Semarang Old City district, and also to evaluate progress conservation activities that have been applied on that district. Methods that be used in this study are descriptive method to know physical and non physical characteristics of Semarang Old City; and evaluative method to evaluating progress conservation activities with importance performance analysis (IPA) and cultural sense scoring. The result of this study show that progress conservation that must be priority on application is circulation and park; and open space (for physical characteristics), and social, economic, culture, law, organization, and also funding (non physical characteristics). The old-fashioned building that counted to high potential are 20 buildings, medium potential are 24 buildings, and low potential are 49 buildings.
Key word:
conservation, old-fashioned building, progress, Old City district


arsitektur e-Journal, Volume 1 Nomor 3, November 2008 hlm. 157-171

TIPOLOGI RANCANGAN PINTU DAN JENDELA RUMAH TINGGAL KOLONIAL BELANDA DI KAYUTANGAN MALANG

Nova Juwita Hersanti, Galih Widjil Pangarsa, Antariksa
Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
Jl. Mayjen Haryono 167, Malang 65145, Telp. 0341-567486
E-mail: vatati88@yahoo.com

ABSTRAK

Studi ini dilakukan sebagai salah satu kepedulian nyata terhadap konservasi bangunan rumah tinggal kolonial Belanda. Lokasi studi di perkampungan kota, yaitu di belakang koridor Jl. Jendral Basuki Rahmat, Malang. Pintu dan jendela merupakan elemen arsitektur yang penting dalam sebuah hunian. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi, menganalisa, dan mendeskripsikan tipologi rancangan pintu dan jendela rumah tinggal kolonial Belanda di Kayutangan Malang. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan tipologi. Pengumpulan data dilakukan dengan cara pengamatan, wawancara, kuisioner, pengukuran, dan rekaman foto. Tipologi dianalisis berdasarkan aspek ruang, bentuk, dan sistem teknologi struktur dan konstruksinya. Hasil studi menunjukkan bahwa hirarki ruang publik-privat pada sebuah rumah tinggal kolonial Belanda mempengaruhi rancangan pintu dan jendela. Tipe, ornamen, dan ukuran pintu dan jendela setiap ruang memiliki karakter. Bentuk geometris banyak digunakan dalam rancangan bentuk pintu dan jendela rumah tinggal kolonial Belanda di Kayutangan Malang. Kayu jati adalah material utama yang digunakan untuk rancangan pintu dan jendela.
Kata kunci
: rumah tinggal kolonial Belanda, pintu, dan jendela.

ABSTRACT

This research was carried out as one the real concerns for the conservation of Dutch colonial dwellings. The research sites are in kampong’s urban space, focused on behind the corridor of JPL. Jendral Basuki Rahmat, Malang. Door and window are the most important architecture element for a residence. The research is aimed to identify, to analyze, and to describe typology of door and window designs of the Dutch colonial dwellings at Kayutangan Malang. The research method is using descriptive qualitative method with typology approach. The collecting data were a performed by using observation, interview, questionnaire, measurement, and taking some photographs. Typology was analyzed based on the aspects of room, form, and structure technology system and its construction. The result of this study shows that the hierarchy of public-private room on the Dutch colonial dwellings influence door and window designs. Types, ornaments, and the measure of door and window in every room have their own character. Geometrical style is much used in the door and window form designs for Dutch colonial dwellings at Kayutangan Malang. Jati wood is the main material used for the door and window designs.
Key words: Dutch colonial dwellings, door, and window.


arsitektur e-Journal, Volume 1 Nomor 3, November 2008 hlm. 172-189

POLA TATA RUANG PERMUKIMAN TRADISIONAL
GAMPONG
LUBUK SUKON, KABUPATEN ACEH BESAR

Issana Meria Burhan, Antariksa, Christia Meidiana
Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya
Jl. Mayjen Haryono 167 Malang 65145 – Telp. (0341) 567886
Email : isana_burhan@hotmail.com

ABSTRAK

Sejak lama disadari bahwa sistem sosial dan budaya memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk pola tata ruang permukiman di Aceh. Tujuan dari penelitian adalah mengidentifikasi karakteristik sosial budaya masyarakat Gampong Lubuk Sukon, dan mengidentifikasi karakteristik pola tata ruang permukiman yang terbentuk, serta menganalisis pola tata ruang permukiman tradisional Gampong Lubuk Sukon yang terbentuk akibat pengaruh sistem sosial budaya masyarakatnya. Metode yang digunakan adalah deskriptif-evaluatif. Dari data yang dikumpulkan dari observasi lapangan, kuisioner dan wawancara, menunjukkan bahwa konsep keruangan makro yang terbentuk dari tatanan fisik lingkungan hunian memperlihatkan adanya pembagian ruang permukiman berdasarkan guna lahan, yaitu tempat hunian di bagian tengah Gampong (tumpok), fasilitas umum di bagian agak luar dari Gampong (ujong), dan lahan pertanian di bagian luar area permukiman (blang). Pada struktur ruang yang terbentuk, meunasah menjadi pusat orientasi Gampong. Pada skala yang lebih mikro, pola tata ruang permukiman masyarakat Gampong Lubuk Sukon terbentuk berdasarkan sistem kekerabatan dari pihak perempuan. Dalam hal ini, rumah orangtua menjadi bangunan inti (pusat) dari kelompok hunian suatu keluarga. Selanjutnya, dalam tataran rumah dan pekarangan, seuramoe keue (serambi depan) menjadi pusat dari bangunan rumoh Aceh. Struktur ruang pada rumoh Aceh menunjukkan dualisme antara ajaran Islam yang cenderung patriarkal, dengan adat peunulang Aceh yang bersifat matriarkal.
Kata kunci
: Pola tata ruang, permukiman tradisional Aceh, sosial budaya

ABSTRACT

It has been realize that socio-cultural system has an important role in configuring the settlement spatial pattern. The aim of this study is to seek understanding of the socio-cultural characteristic of the community in Gampong Lubuk Sukon, and to analyse the traditional spatial pattern formed by the socio-cultural aspect. The method used in this study is descriptive-evaluative. All data was collected through field observation, questionaire and in-depth interview. The study showed that the spatial concept formed by physical characters of the settlement, indicates a division of land us; housing area is located in the middle of settlement called tumpok, public facility is located not far from the housing area called ujong, and farming area is located outside of the housing area called blang. The spatial structure formed based on the community activities and religious rituals concluded that meunasah is the center of settlement. In micro context, the spatial pattern of traditional settlement in Gampong Lubuk Sukon is formed by female kinship groups, in which the parent’s house become the centre. More specifically, in the context of single unit building, it is identified that seuramoe keue is the centre of the house. The spatial structure in Acehnese traditional house showed that there is a dualism between the partiarchal Islamic teachings and the matriarchal peunulang custom in Aceh.
Key words: Spatial pattern, Acehnese traditional settlement, socio-cultural


arsitektur e-Journal, Volume 1 Nomor 3, November 2008 hlm. 190-205

PELESTARIAN KAWASAN PUSAT KOTA LAWANG

Pamela Dinar Rahma
, Antariksa, Turniningtyas
Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
Jl. Jl. Mayjen Haryono 167 Malang 65145 – Telp. (0341) 567886
E-mail : by_pam@yahoo.co
m

ABSTRAK

Tujuan dari studi ini adalah untuk mengidentifikasi karakteristik bangunan dan lingkungan, serta mengidentifikasi perubahan, serta mengevaluasi penyebab perubahannya. Metode yang digunakan, yaitu metode deskriptif dan evaluatif. Berdasarkan hasil analisis karakteristik kawasan studi merupakan pusat kegiatan masyarakat dengan intensitas tinggi yang didominasi dengan kegiatan perdagangan dan jasa, selain itu terdapat 84 bangunan kuno yang letaknya menyebar dengan gaya bangunan empire style, art deco dan neo klasik. Berdasarkan hasil analisis tingkat perubahan lingkungan yang dibagi empat periode, terjadi pengurangan pada jumlah landmark, semula terdapat tiga buah landmark, saat ini terdapat sebuah landmark, yaitu Hotel Niagara. Node saat ini adalah Pasar Besar Lawang, Stasiun Lawang dan Stadion Lawang. Path merupakan jalur pergerakan atau sirkulasi dalam kawasan yang terdiri dari path mayor dan path minor. Perubahan bangunan kuno, dikategorikan berdasarkan kondisinya, yaitu tetap, penambahan dan perubahan kecil, dengan rincian mengalami penambahan sebanyak 29 bangunan, perubahan kecil 24 bangunan, dan 31 bangunan tidak mengalami perubahan. Hasil analisis sinkronik-diakronik, didapatkan bahwa kawasan mulai mengalami perubahan pada masa penjajahan Belanda (1767-1942) dan masa pasca kemerdekaan (1945-2008), yang dipengaruhi oleh faktor ekonomi, politik, dan sosial budaya. Berdasarkan dari analisis korelasi, diketahui bahwa perubahan bangunan kuno dipengaruhi faktor usia bangunan, kondisi bangunan, fungsi bangunan dan status bangunan.
Kata kunci
: pelestarian, pusat kota, perubahan bangunan dan lingkungan

ABSTRACT

The aims of this study are to identify characteristic buiiding and environment of Lawang cetral area, identify changes of building and environtment, and evaluation for the assessment changement. The method used in this study is descriptive, and evaluative. Based on analize, Lawang central area are node activity people with high population. The building style architecture in Lawang central area is empire style, srt deco and noe classic. The stage of environmental changement which is divided into four periods of time, changes of environment are, decrease of landmark, former times there were three landmark, and now there one of landmark in Lawang is Niagara hotel. Nodes in Lawang are Pasar Besar Lawang, Lawang Stasiun, and Lawang Stadium, at the time path there mayor path and minor path. Change of old building have three catgorices, 24 building wih small level of changes, 31 building are no changes, and 29 building with increasing. According to the synchronic-diachronic analysis, the aspect that affected the changes in old buildings and environment of the colonialism era of Netherland (1767-1942) and era of after Indonesia independent (1945-2008) are politics, sosio culture, and economi. And then according to the correlate analysis these changes are caused by four main factors. The first factors are the age of building, condition of building, function of building and status of building.
Keywords
: preservation, central area, changes of building and environment

arsitektur e-Journal, Volume 1 Nomor 3, November 2008 hlm. 206-226

PELESTARIAN MARKAS TENTARA PETA
(PEMBELA TANAH AIR) KOTA BLITAR

Afandi, Antariksa, Septiana Hariyani
Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
Jl. Mayjen Haryono 167 Malang 65145 – Telp. (0341) 567886

e-mail: fandi_cipa@yahoo.co.id

Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik kawasan dengan menggunakan metode deskriptif (observasi lapangan dan data sekunder); serta menganalisis perkembangan kawasan dengan menggunakan metode deskriptif evaluatif (sinkronik diakronik). Hasil yang diperoleh dari studi tersebut, yaitu (1) Penggunaan lahan kawasan pada tahun 2007 sebagai kawasan pendidikan dengan kondisi kawasan yang kurang teratur karena pembangunan hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan fasilitas pendidikan dan mengabaikan keberadaan bangunan bersejarah; (2) Perkembangan kawasan studi terbagi menjadi lima periode, yaitu tahun 1910-1942 berfungsi sebagai kawasan pendidikan MULO (setingkat SMP), tahun 1942-1945 berfungsi sebagai Kawasan Markas Tentara PETA, tahun 1945-1965 berfungsi sebagai kawasan pendidikan (Sekolah Guru), tahun 1965-1998 berfungsi sebagai kawasan pendidikan yang mengalami beberapa pergantian instansi pengelola (Sekolah Teknik, Sekolah Kesejahteraan Keluarga Pertama, SMP) dan tahun 1998-2007 tetap berfungsi sebagai kawasan pedidikan untuk tiga SMP (SMPN 3, SMPN 5, SMPN 6) dan SMKN 3.
Kata kunci:
pelestarian, sinkronik diakronik


ABSTRACT
The aims of this study, first is to identify the character area uses descriptive method (observation data and secondary data). Second, to analyze the development of the area uses evaluative descriptive method (synchronic, diachronic). Finally, to analyze and determine the direction of conservation area uses development method (measurement of cultural meaning and the public opinion). The results of this study: (1) In 2007, the land use on area as a school area where the condition has not been restored because the aim of development has only to fulfill the education facilities needs and has been ignored these historical buildings; (2) The development of the area can be grouped into five periods with the following details: 1910-1942 the function of the development of area is as MULO (same level of Junior High School) school area. In 1942-1945, as army sation (PETA). In 1945-1965, as a school area for teaching proffesion. In 1965-1998, as school area with changes of the organizer for several times (Engineering Profession School, Family Prosperity School, Junior High School). In 1998-2007, the function is still as school area for Junior High School (3rd State Junior High School, 5th State Junior High School, 6th State Junior High School) and 3rd State Vocation.
Keywords
: conservation, synchronic, diachronic

Copyright © 2008 by antariksa

Categories: Uncategorized Tags: