Archive

Archive for March, 2009

arsitektur e-Journal, Volume 2 Nomor 1, Maret 2009

March 29th, 2009 Comments off

arsitektur e-Journal, Volume 2 Nomor 1, Maret 2009 hlm. 1-20


TIPOLOGI RAGAM HIAS RUMAH TINGGAL KOLONIAL BELANDA

DI NGAMARTO - LAWANG


Putri Ayu Pertiwi, Galih Widjil Pangarsa, Antariksa

Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang

Jl. Mayjen Haryono 167, Malang 65145

e-mail: niva_princess@yahoo.com


ABSTRAK

Lawang merupakan salah satu kawasan yang mendapat pengaruh kolonialisasi, sehingga memiliki peninggalan bangunan kolonial paling banyak (skala kawasan) di Malang Raya sampai sekarang. Salah satunya adalah kawasan permukiman yang terletak di pusat Kota Lawang tepatnya di belakang Stasiun Kereta Api Lawang, yaitu Ngamarto. Peniruan bentuk bangunan kolonial telah mempengaruhi rumah tinggal non Eropa. Hal yang wajar apabila pemilik berusaha menampilkan identitas dirinya pada tampilan bangunan atau menghias bentuk rumahnya. Melalui bentukan bangunan dapat diketahui gaya yang berkembang di Ngamarto saat itu, salah satunya melalui elemen penyusun bangunan, yaitu “riasan” yang merupakan seni dan unsur estetis sebuah bangunan. “Riasan” bangunan berupa ragam hias (ornamen) yang berkembang seiring dengan perkembangan arsitektur pada masa itu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi jenis ragam hias yang digunakan pada rumah tinggal kolonial dan menganalisis tipologi ragam hias rumah tinggal kolonial di Ngamarto. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dan eksploratif dengan metode purpossive sampling pada pemilihan kasus sehingga ditemukan bahwa tipologi bangunan rumah tinggal kolonial dikelompokkan berdasarkan gaya atau langgam bangunan. Rumah-rumah kolonial tersebut berkembang sekitar tahun 1850-1942. Selama kurun waktu tersebut terdapat 4 buah gaya yang digunakan, yaitu Voor 1900, NA 1900, Romantiek, dan tahun 1915-an. Ragam hias terdapat pada bagian kepala, badan, dan kaki bangunan (bagian luar dan dalam).

Kata Kunci: ragam hias, rumah tinggal kolonial, tipologi.


ABSTRACT

Lawang is one of area that influenced by the colonialization so that has the bigger number of colonial building (at scale area) in Malang Raya until right now. The one is housing area that located in the center of Lawang exactly behind theTranstation of Lawang that called as Ngamarto. The imitation of colonial building’s shape has influence the non Europ’s house. This thing became usual if the owner trying to performance his or her identity at the building appearance or decorate the shape of building. Through the shape of building can be knowed the style that has develop at Ngamarto at that time, those through the buildins arranger’s elements that called as “make up” that became the art and the estetic element in a building. The “make up” of building can be perform as element that develop as the develop of architecture at that time. The purpose of this study is to identifying the varient of ornament that being used in the colonial house and analizing the tipology of the house building’s ornament at Ngamarto. The methodthat being used for this study are descriptif and exploratif method by the purpossive sampling method for the case choice so that being found that the tipology of colonial house building can be classed based on the style of building. Colonial houses develop in 1850’s until 1915’s. As long as the period there been developed four style that being used at colonial house, they are Voor 1900, NA 1900, Romantiek, and 1915’s. The ornament can be found at the head section, body section, and feet section building, whether inside or outside of building.

Key word: the ornament, colonial’s house, tipology.


arsitektur e-Journal, Volume 2 Nomor 1, Maret 2009 hlm. 21-33

PELESTARIAN KAWASAN PECINAN KOTA PASURUAN


Ika Puspitasari, Antariksa, Fadly Usman

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Jl. Mayjen Haryono 167 Malang 65145 – Telp. (0341) 567886

E-mail: ikaniyy@yahoo.co.id


ABSTRAK

Tujuan dari studi ini adalah mengidentifikasi dan menganalisis karakteristik Kawasan Pecinan ditinjau melalui elemen pembentuk kawasan, sejarah, sosial budaya, tinjauan kebijakan, dan bangunan kuno. Kemudian mengevaluasi faktor penyebab perubahan bangunan kuno dan lingkungan di Kawasan Pecinan Pasuruan. Metode yang digunakan memakai pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif dan evaluatif. Landmark di Kawasan Pecinan berupa klenteng, node berupa simpul kegiatan, district berupa perdagangan, path berupa jaringan jalan dengan pola grid. Perkembangan kawasan pada masa kolonial Kawasan Pecinan dipengaruhi oleh politik dan sosial budaya. Pada masa setelah kemerdekaan dipengaruhi oleh variabel politik dan ekonomi, pada masa orde baru dipengaruhi oleh politik, ekonomi, dan sosial budaya, sedangkan pada masa setelah reformasi, dipengaruhi oleh variabel ekonomi dan sosial budaya. Bangunan yang mengalami perbaikan sebesar 39%, bangunan yang mengalami penambahan sebesar 26%, dan bangunan yang mengalami perombakan sebesar 35%. Penyebab perubahan bangunan kuno diperoleh empat faktor, faktor pertama terdiri atas variabel lokasi dan perubahan fungsi. Faktor kedua terdiri atas variabel perangkat hukum dan status kepemilikan. Faktor ketiga terdiri atas variabel keterawatan, usia, dan bahan bangunan tidak tahan lama. Faktor keempat terdiri atas faktor perubahan selera dan ketidakselarasan desain.

Kata kunci: Karakteristik, perubahan bangunan dan lingkungan, Pecinan.


ABSTRACT

The aims of this study are to identify and to analyze the changes of characteristic of Pasuruan’s China Town through element of region, history, sociocultulture, law consideration, and vernacular architecture. Then to evaluate the causes of vernacular architecture and environment change of Pasuruan’s China Town. The method used in this study is descriptive and evaluative with a quantitative approach. the landmark is China temple, Node is a center of activity, the district is the trading, path is roadways with grid systems. The developments of its area at colonial period are caused by politics and socio culture. After independent are caused by politics and economic, sociopolitical order in Indonesia since 1965 are caused by politics, economic, and socio culture, and reformation period are caused by economic and socio cultural. The architecture fixed is 39%, the architecture added is 26%, and the architecture renovated is 35%. The causes of changes of vernacular architecture consist of four factors; the first factors are location variable and function. The second factors are sets of law variable and ownership status. The third factors are treatment, age, and material building that is not long lasting. The fourth factors are changes of desire factor and incapability design.

Keywords: Characteristics, change of architecture and environment, China Town.



arsitektur e-Journal, Volume 2 Nomor 1, Maret 2009 hlm. 34-50

PELESTARIAN STASIUN KERETA API KOTA BARU MALANG


Artika Tri Widyanti, Ema Yunita Titisari, Antariksa

Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Jalan Mayjen Haryono 167, Malang 65145 Telp. (0341) 567486

E-mail: x_cazonic@yahoo.com

ABSTRAK

Studi ini bertujuan untuk menganalisis dan menemukan karakter bangunan Stasiun kereta api Kota Baru Malang dan kemudian menemukan strategi pelestarian yang dapat digunakan pada bangunan tersebut. Studi ini adalah deskriptif dengan menggunakan tiga macam metode pendekatan, yaitu metode deskripsi analisis, metode evaluatif (pembobotan) dan metode developmen. Penetuan sampel digunakan teknik Simple random sampling atau pengambilan sampel acak sederhana, yaitu sebuah sampel yang diambil, sedemikian rupa sehingga tiap unit penelitian atau satuan elementer dari populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sampel. Dalam studi ini ditemukan bahwa karakter bangunan Stasiun kereta api Kota Baru Malang ditentukan oleh beberapa elemen, yaitu antara lain gaya bangunan, atap bangunan yang menonjol, elemen-elemen pembentuk fasade/selubung bangunan (dinding, pintu, jendela/bukaan, bentuk massa bangunan, warna, ornamen bangunan, kolom, pengolahan vertikal dan pengolahan horisontal) dan juga dari segi interior bangunan tersebut. Setelah ditemukan karakter bangunan tersebut, maka digunakan metode evaluatif dan ditetapkan beberapa elemen bangunan yang mempunyai nilai potensial tinggi, sedang dan rendah. Dari hasil penetapan ditentukan strategi pelestarian yang sesuai dengan kondisi masing-masing elemen bangunan tersebut.

Kata kunci: strategi, pelestarian, Stasiun Kota Baru

ABSTRACT

The aims of this study is to analyze and find out the characteristic of Malang City Train Station building and also finding strategy that can be used to preserve the building. The research are based on descriptive study that used three different kind of method, the method are analysis descriptive method, evaluative method and also development method. The sample taking are using the simple random sampling technique, we took a sample that somehow in every units of research have the same opportunities to take as a sample. This research found that the characteristic of Malang City Train Station are based upon a few elements, such as building style, roof tops style, the elements that build the building (wall, doors, window, color, the building ornament, column, vertical manufacture and horizontal manufacture) and also the building interiors. After finding the building characteristic and with the evaluative method can find and decided a few of building elements that has high potential value, average and low potential value. Based on result of decide will curtained the strategy of preservation which suitability with the condition of each building elements.

Key words: strategy, preservation, Kota Baru Train Station


arsitektur e-Journal, Volume 2 Nomor 1, Maret 2009 hlm. 51-64

TIPOLOGI WAJAH BANGUNAN RUMAH TINGGAL KOLONIAL

DI NGAMARTO - LAWANG


Hany Perwitasari, Galih Widjil Pangarsa, Antariksa

Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Jl. Mayjen Haryono 167 Malang 65145 Telp. 0341-567486

E-mail: hanyperwitasari@yahoo.com


ABSTRAK

Kawasan Lawang memiliki potensi untuk menjadi sebuah kota pariwisata yang indah dan menarik. Daerah Lawang, merupakan daerah yang paling banyak memiliki bangunan kolonial di Malang Raya sampai saat ini. Bangunan kolonial masih banyak ditemukan di Lawang, terutama di daerah belakang Stasiun Kereta Api Lawang, yaitu di daerah Ngamarto, yang ditengarai berkembang pada pertengahan abad ke-19. Wajah bangunan atau muka bangunan merupakan hal yang pertama kali akan dilihat pada saat seseorang melihat atau mengamati suatu bangunan. Wajah bangunan rumah tinggal kolonial merupakan bagian yang paling penting, karena memiliki ciri-ciri spesifik yang dapat menjadi petunjuk tentang kebudayaan dan status sosial pemiliknya, kejayaan arsitektur kolonial, dan perkembangannya, yang turut memperkaya arsitektur nusantara. Tujuan dari penelitian dengan metode deskriptif dan eksploratif yang menggunakan metode purpossive sampling, untuk dilanjutkan dengan analisa dengan metode deskriptif-kualitatif terhadap wajah bangunan rumah tinggal kolonial yang ada di Kawasan Ngamarto - Lawang ini, adalah untuk mengidentifikasikan dan menganalisis tipologi wajah bangunan pada bangunan rumah tinggal kolonial di Kawasan Ngamarto - Lawang.

Kata Kunci: tipologi, wajah, rumah tinggal, kolonial


ABSTRACT

Lawang District, have a potention to be a beautiful and interesting city tourism. Untill now, Lawang District still have a big number of colonial building for Malang’s scope. Colonial building in Lawang can be found, especially at area behind The Train Station of Lawang, that called as Ngamarto, which is predicted was expanded in the middle of 19th century. Facade of the building, it’s the first thing that will be seen, when someone looking at or seeing a building. facade of colonial house building become an important part of the building, because it has a specific characteristic, that can be a clue of the culture and the social status of the owner, about the golden age of colonial’s architecture, and about it’s growth, that enriches the national’s architecture. The purpossive of reseach that use descriptive and eksplorative methods which use purpossive sampling method, that continued with analyzing by descriptive-kualitative method to the facade of colonial houses building at Ngamarto, Lawang, are to identifying and analyzing the tipology of Netherland’s Colonial House’s facade that has been found at Ngamarto, Lawang.

Keywords: tipology, facade, Hous, Colonial



arsitektur e-Journal, Volume 2 Nomor 1, Maret 2009 hlm. 65-78

PELESTARIAN KAWASAN PECINAN KOTA BOGOR


Septiana Suryaningrum, Antariksa, Fadly Usman

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Jl. Mayjen Haryono 167 Malang 65145; Telp (0341) 567886

email: septiana.suryaningrum@gmail.com


ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi perkembangan lingkungan dan bangunan, mengidentifikasi faktor-faktor penyebab terjadinya penurunan kualitas bangunan kuno, serta menentukan tindakan pelestarian dalam melindungi lingkungan dan bangunan kuno. Metode yang digunakan adalah deskriptif dan evaluatif. Hasil penelitian menunjukkan faktor penyebab utama penurunan kualitas lingkungan di pecinan adalah perubahan guna lahan, dan faktor penyebab utama penurunan kualitas bangunan adalah kurangnya perawatan bangunan. Tindakan pelestarian lingkungan di kawasan pecinan lebih menitikberatkan pada pengoptimalan fungsi kawasan guna mengurangi efek perubahan lahan akibat tekanan pembangunan berbasis ekonomi di kawasan sekitar pecinan. Pelestarian bangunan kuno yang di kawasan pecinan dibagi menjadi tindakan preservasi (8 bangunan), konservasi (57 bangunan) dan rehabilitasi (15 bangunan).

Kata kunci: Faktor-faktor, Penurunan kualitas bangunan kuno, pelestarian

ABSTRACT

The aims of this study are to identify the character of ancient environment and building, identified the factors caused degradation of ancient building quality, and determines the act of ancient environment and building protection. The method used in this study are descriptive and evaluation. The result of this study shows that the prime factor that caused degradation of environment quality is land use changed. The prime factor that caused degradation of building quality is less of building maintenance. The act to protect the ancient china town are optimation of environment function for minimize a land use changed effect caused by economic development around china town. The act to protect the ancient building are preservation (8 building), conservation (57 building), and rehabilitation (15 building).

Keywords: Factors, degradation of ancient building quality, protection


Copyright © 2009 by Antariksa


Categories: Uncategorized Tags:

Rumah Cut Nyak Dhien

March 24th, 2009 Comments off





Photos taken in April 2005

Copyright © 2009 by Antariksa
Categories: Uncategorized Tags:

Rumah Aceh

March 24th, 2009 Comments off





































Photos taken in April 2005

Copyright © 2009 by Antariksa
Categories: Uncategorized Tags: