Archive

Archive for December, 2009

Situs Majapahit: ”Menuju Pelestarian yang Berbudaya”

December 25th, 2009 Comments off
Antariksa

Perhatian mata kita beberapa waktu yang lalau adalah munculnya permasalahan hangat tentang ’perusakan’ kota tua’ yang terjadi di situs (suatu bidang lahan yang mengandung tinggalan arkeologi) Trowulan, ibu kota kuno Majapahit. Masalah ini muncul disebabkan dengan rencana akan dibangunnya Pusat Informasi Majapahit (PIM) yang menjadi bagian dari Majapahit Park, di kawasan tersebut. Dengan demikian identitas masa lalu yang dipunyai situs itu menjadi terancam keberadaan fisiknya. Pertanyaannya apakah masih dapat dijadikan sebagai kawasan budaya di masa mendatang? Seorang ahli hukum dari Universitas Kopenhagen, Denmark, JJA Worsaae pada abad ke-19 mengatakan, ”bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak hanya melihat masa kini dan masa mendatang, tetapi mau berpaling ke masa lampau untuk menyimak perjalanan yang dilaluinya.
Permasalahan di atas memberikan fakta bahwa situs yang terdapat di Segaran III dan IV merupakan situs permukiman kuno Majapahit yang mewakili citra satu komunitas budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Menjadi bagian dari sejarah dan tradisi yang telah berlangsung lama, kehidupan situs tersebut merupakan bagian dari identitas yang dihasilkan dari konteks budaya dan sosial. Maka dengan dilakukkannya penggalian pondasi untuk pembangunan PIM ternyata telah memporakporandakan tatanan struktur artefak arkeologi situs bekas ibu kota kerajaan Majapahit ini. Peradaban bangsa kita akan dipertaruhkan dengan hilangnya tinggalan sejarah dan identitas yang dapat menghubungkan dengan masa lalu. Karena ’perusakan’ situs yang sedemikian rupa akan memberikan dampak sangat luas yang dapat dikatakan, bahwa ”polusi dari bangunan-bangunan baru nantinya tidak hanya akan menghancurkan situs bersejarah tersebut, tetapi menghancurkan seluruh atmosfir dari kawasan itu” dan ”jika nanti kita berkunjung ke ’situs Majapahit’ akan terlihat bahwa atmosfir kearkeologian sejarah budaya dari situs itu menjadi hilang”. Keprihatinan dalam arkeologi perkotaan di Indonesia menjadi pupus, ironisnya telah memakan korban situs budaya terbesar di Asia Tenggara. Situs Trowulan merupakan satu-satunya tinggalan purbakala kota tua dari era kerajaan kuno di masa klasik Nusantara. Lahan yang sangat kaya akan peninggalan, ibu kota Majapahit menjadi harta terpendam tentang sejarah budaya permukiman rumah (situs Segaran III dan IV) zaman Majapahit beserta halamannya akan mengalami ’kepunahan’. Maka, untuk penyelamatan situs dan benda-benda cagar budayanya ini dari ’penghancuran’ perlu mendapat perhatian dan dukungan.
Sebenarnya yang paling menarik adalah dengan munculnya protes dari kalangan akademisi dan masyarakat yang ingin mempertahankan warisan budayanya. Protes yang dilakukannya sudah menjadi satu kesadaran budaya, bahwa mereka telah ikut membuat satu lompatan dalam membantu kelancaran proses pelestarian situs Majapahit sebagai kawasan urban awal di Nusantara pada abad ke-13 hingga ke-15. Perseteruan antara mempertahankan warisan budaya situs Majapahit dan hasrat modernisasi –pembangunan Pusat Informasi Majapahit– telah menjadi masalah serius, dan berakibat pada sisa-sisa warisan budaya yang semakin berkurang, terutama di kawasan situs Segaran III dan IV (yang merupakan situs permukiman kuno Majapahit).
Dengan ’menghancurkan’ kawasan situs ibu kota Majapahit ini sama halnya dengan menghapuskan salah satu cermin untuk mengenali sejarah dan tradisi masa lalu. Pengrusakan sebagian artefak dari situs ini, berarti lenyap pula bagian sejarah-arkeologi-arsitektur dari tempat bermukim masa lalu dan diciptakan melalui peradaban yang bernilai tingi, akan hilang tinggalan identitas sosial-budayanya.
Tanpa usaha pencegahan akan ’perusakan’ peninggalan purbakala, maka sebuah peradaban akan kehilangan sejarah-arkeologis dan identitas yang berhubungan dengan masa lalunya. Dengan demikian, meng’hancurkan’ situs Trowulan sama halnya dengan menghapus salah satu lansekap urban masa lalu untuk dikenali lagi sejarah dan tradisinya. Terhapusnya kawasan situs tersebut, dapat membuat sisa-sisa kerajaan baik candi-candi maupun prasasti akan menjadi lenyap. Pada hal nilai sejarah-budaya dari situs tersebut telah memberikan sumbangan istimewa secara arkeologis-arsitektur dan telah diungkapkan dalam sebuah tatanan identitas yang bernama Nusantara.

Melihat kembali arsitektur Ibu Kota Majapahit menurut Nagarakretagama
Rekonstruksi ibu kota Madjapahit berdasar uraian pujangga Prapanca seperti yang terdapat dalam Nagarakretagama pupuh 8 sampai 12. Prapanca menggunakan kata kuta untuk pengertian benteng yang mengelilingi kompleks keraton, dan kata negara untuk pengertian ibu kota. Penjelasannya sebagai berikut. Tembok batu merah tebal lagi tinggi mengitari keraton. Itulah benteng keraton Majapahit. Pintu besar di sebelah barat yang disebut purawakatra menghadap ke lapangan luas. Di tengah lapangan itu mengalir parit yang mengelilingi lapangan. Di tepi benteng ditanami pohon beringin (brahmastana), berderet-deret memanjang, dan berbagai bentuknya. Di situlah tempat tunggu para perwira yang sedang meronda menjaga paseban (Muljana 2007:55).
Di sebelah utara ada lagi sebuah gapura, pintunya besi. Alun-alun keraton membujur dari utara keselatan. Kita uraikan sekarang apa yang terdapat dalam benteng. Biasanya pintu pura itu terdapat di tengah-tengah benteng. Di sebelah timur pintu besi adalah panggung tinggi, lantainya berlapis batu putih, mengkilat. Panggung ini merupakan rumah pertama dalam deretan gedung-gedung yang berimpit membujur ke selatan. Dimuka deretan gedung ini terdapat jalan yang membatasi alun-alun dan gedung kompleks keraton. Di sebelah selatan panggung ialah balai prajurit tempat bermusyawarah para menteri, perwira, pendeta dari tiga aliran agama, para pembantu raja, kepala daerah dan kepala desa baik dari ibu kota maupun dari luar pada tiap tanggal satu bulan Caitra. Di sebelah timur balai prajurit atau balai pertemuan menjulang bertiga-tiga mengelilingi kuil Siwa yang tinggi. Di sebelah selatannya ialah gedung bersusun tempat tinggal para wipra; di sebelah barat tempat tinggal para wipra membentang halaman berkaki ringgi. Di sebelah utara kuil Siwa tertegak gedung sang Budha atapnya bertingkat tiga, puncaknya penuh berukir.
Di sebelah selatan balai pertemuan adalah balai agung manguntur dengan lapangan watangan luas di belakangnya. Di tengah balai agung manguntur terdapat balai witana. Bagian utara adalah penangkilan, tempat duduk para pujangga dan para menteri. Bagian timur adalah tempat berkumpul para pendeta Siwa-Budha. Bagian selatan tersekat pintu-pintu ialah paseban, yang teratur rapi. Di sebelah selatan paseban adalah jalan dari timur ke barat. Jalan ini bertemu dengan jalan dari utara ke selatan; pertemuan itu merupakan jalan simpang empat atau jalan silang di bagian selatan alun-alun. Di sepanjang jalan dari timur ke barat kanan kiri berjajar rumah-rumah. Deretan pohon tanjung membelah jalan dari timur ke barat.
Di sebelah barat daya manguntur, agak jauh, berdiri sebuah balai tempat berkerumun anggota tentara. Halamannya sangat luas. Di tengah halaman ada mandapa, tempat memelihara burung. Boleh dipastikan bahwa balai tersebut adalah tempat jaga para tentara, letaknya di sebelah selatan jalan dari tumur ke barat dan di sebelah barat jalan dari utara ke selatan. Di sebelah timur jalan ada paseban yang membujur dari utara ke selatan, sampai pintu kedua dari istana. Di belakang pintu tersebut terdapat halaman sangat luas dan rata. Di sebelah timur halaman ada sebuah bangunan asri indah lagi tinggi. Di bangunan itulah baginda sambil duduk di balai witana menerima para tetamu yang datang menghadap. Itulah ruang tamu baginda. Halaman di kelilingi pelbagai balai. Balai-balai ini termasuk kompleks keraton. Atapnya bertingkat-tingkat, berdiri berkelompok-kelompok, masing-masing mempunyai pintunya sendiri-sendiri. Komplels istana ke timur sampai tembok benteng sebelah selatan.

Pembagian kompleks istana
Istana sebelah utara di belakang paseban adalah tempat tinggal rani Kahuripan bersama sri nata Kretawardana. Istana sebelah timur jauh dari pintu pertama adalah istana sri nata Rajasanagara. Istana sebelah selatan adalah istana saudara perempuan sri nata, yakni rani Pajang bersama suaminya Singawardana, Raja Paguhan.
Semua rumah mempunyai tiang-tiang yang penuh berukir berwarna-warna, kakinya dari batu merah penuh relief; bermacam-macam atapnya. Halamannya ditanami pohon tanjung, kesara dan campaka.
Di sebelah barat laut berdiri beberapa bangunan, tempat tinggal menteri yang bertindak sesepuh penangkil (yang mengetuai orang-orang yang menghadap). Di sebelah selatan adalah rumah tinggal para abdi dalem raja Paguhan, yang terus-menerus menghadap. Bagian ini terletak antara dua jalan, yakni jalan dari timur ke jurusan barat dan dari utara ke jurusan selatan.
Sekarang tentang keadaan di luar benteng. Di sebelah timur adalah tempat tinggal para pendeta Siwa dengan pemukanya hyang Bhrahmaraja. Di sebelah timur terpisah oleh lapangan adalah pasanggrahan raja Wengker. Raja Matahun dan rani Lasem tinggal di gedung paling ujung berbatasan dengan benteng istana. Demikianlah di sebelah luar benteng adalah gedung raja Matahun; di sebelah dalam benteng adalah istana tempat tinggal raja Majapahit.
Yang tinggal di sebelah selatan benteng. Di ujung timur berbatasan dengan istana adalah tempat tinggal kepala mahkamah agung (dharmadhyaksa), diapit dua candi. Di sebelah timur adalah candi Siwa, di sebelah baratnya adalah candi Budha. Para pendeta Budha dengan pemukanya Rengkannadi menempati bagian selatan di luar benteng. Di sebelah utara benteng dibagian timur adalah rumah patih Gadjah Mada, di bagian barat adalah kuwu (rumah) Bhatara Narapati, patih Daha. Di sebelah barat benteng bagian utara adalah tempat tinggal para menteri dan punggawa (pegawai), di bagian selatan adalah tempat tinggal sentana raja (sanak saudara raja) dan para kesatria. (Muljana 2007:56-58)

Peraturan perundangan dan agenda pelestarian
Pada konteks pelestarian, sebenarnya peraturan untuk perlindungan bangunan dan benda kuno telah dimulai sejak abad ke-15 di Italy. Pada tahun 1700 konsep pelestarian pertama kali dirintis oleh seorang arsitek dari Inggris, yaitu Vanberg. Kemudian pada abad ke-19 beberapa negara mulai membuat peraturan perundangan, dan melakukan langkah-langkah administrasi untuk melindungi warisan budayanya (cultural heritage). Seperti, Church State (1802), Yunani (1834), Prancis (1869), Inggris 1882), dan Jepang (1897).
Di Indonesia, upaya terhadap pelestarian warisan budaya telah dimulai sejak masa kolonial. Untuk pertama kalinya dibentuk komite khusus pada tahun 1822 sebagai lembaga pemerintah. Dengan tujuan mengeksplorasi sumber daya budaya Indonesia untuk meningkatkan citra Belanda di luar negeri. Peran negara tersebut menjadi semakin kuat dengan ditetapkannya Monumenten Ordonantie, Staatsblad 238/1931, atau dikenal dengan MO 1931. Secara tegas gedung-gedung yang termasuk cagar budaya tidak boleh dibongkar atau diubah bentuknya, baik ‘living monument’ (keraton, rumah adat, bangunan bersejarah) maupun ‘dead monument’ (candi-candi). Kemudian dalam perjalanan sebagai pengganti MO 1931 di atas, Pemerintah Indonesia juga telah menetapkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Di dalamnya dijelaskan, bahwa yang dimaksud dengan Cagar Budaya, adalah benda buatan manusia, bergerak atau tidak bergerak yang berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya atau sisa-sisanya, yang berumur sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun, atau mewakili masa gaya yang khas dan mewakili masa gaya yang sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun, serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Undang-undang di atas dipertegas lagi dengan Piagam Pelestarian Pusaka Indonesia yang dicetuskan oleh Jaringan Pelestarian Pusaka Indonesia 2003, yang bertekad untuk bersama-sama melaksanakan Agenda Tindakan dalam Dasa Warsa Pelestarian Pusaka Indonesia 2004-2013 meneguhkan upaya pelestarian sebagai berikut: 1. Pusaka Indonesia adalah pusaka alam, pusaka budaya, dan pusaka saujana. Pusaka alam adalah bentukan alam yang istimewa. Pusaka budaya adalah hasil cipta, rasa, karsa, dan karya yang istimewa dari lebih 500 suku bangsa di Tanah Air Indonesia, secara sendiri-sendiri, sebagai kesatuan bangsa Indonesia, dan dalam interaksinya dengan budaya lain sepanjang sejarah keberadaannya. Pusaka saujana adalah gabungan pusaka alam dan pusaka budaya dalam kesatuan ruang dan waktu; 2. Pusaka budaya mencakup pusaka berwujud dan pusaka tidak berwujud; 3. Pusaka yang diterima dari generasi-generasi sebelumnya sangat penting sebagai landasan dan modal awal bagi pembangunan masyarakat Indonesia di masa depan, karena itu harus dilestarikan untuk diteruskan kepada generasi berikutnya dalam keadaan baik, tidak berkurang nilainya, bahkan perlu ditingkatkan untuk membentuk pusaka masa mendatang; dan 4. Pelestarian adalah upaya pengelolaan pusaka melalui kegiatan penelitian, perencanaan, perlindungan, pemeliharaan, pemanfaatan, pengawasan, dan/atau pengembangan secara selektif untuk menjaga kesinambungan, keserasian, dan daya dukungnya dalam menjawab dinamika jaman untuk membangun kehidupan bangsa yang lebih berkualitas.
Pelestarian dalam bidang arkeologi-arsitektur-perkotaan terhadap Trowulan perlu penyempurnaan, mengingat dulu sentuhan akan kawasan ini pun pernah dilakukan oleh Thomas Stamford Raffles dalam History of Java dan juga Ir. Henry Maclaine Pont dengan mendirikan komunitas peneliti peninggalan Majapahit (Oudheidkundige Vereenneging Majapahit-OVM). Di sini pelestarian dapat memberikan fungsi dan peran yang jelas, ke mana sejarah budaya bangsa ini akan dibawa. Mempertahankan peradaban dengan menjunjung tinggi nilai-nilai budaya yang terdapat pada pola ruang ibu kota kuno ini menjadi bagian dari awal sejarah tata ruang kota Nusantara. Artefak arkeologis ini dapat dijadikan model tata ruang kuno untuk pembelajaran masyarakat dalam meniti budaya bangsanya. Dapat memberikan kearifan lokal masa lalu yang tertata begitu indah dalam bentuk tatanan ruang permukiman masa lalu. Pelestarian dilakukan agar tinggalan bekas kerajaan pubakala ini dapat dijadikan contoh sejarah peradaban Nusantara yang pernah kita miliki. Untuk mempertahankan situs Majapahit ini harus dilakukan secara terintegrasi dan diprogramkan sebagai proses yang secara fundamental berdasar pada pengertian dan kejelasan dari nilai kehidupan-budaya dalam komunitas kawasan. Solusinya harus diformulasikan berdasar pada kelangsungan hidup mereka, dan kemungkinan implementasinya. Usulan harus jelas dalam waktu, mengakar pada budaya, ekonomi, dan struktur politik dari masyarakat yang berada di kawasan bersejarah tersebut.

Nilai budaya dan arkeologi Nusantara
Sebenarnya kekayaan yang dipunyai situs Majapahit merupakan aset bangsa yang tidak ada duanya di dunia. Lahir dengan budaya tradisional menjadikan bagian dari kebijakan dan kearifan pembangunan ruang hidup bermukim masyarakat pada waktu itu, dan memberikan tinggalan yang dapat dilihat sampai saat ini. Keberadaannya lekat dengan hidup keseharian masyarakat tradisional agraris yang masih menganut tata kehidupan kolektif. Situs Majapahit dan kawasannya telah membentuk ’wilayah budaya’ yang bertumpu pada adat istiadat dan kepercayaan Jawa-Budha-Hindu yang telah diyakininya sejak dulu. Nagarakretagama pupuh 81 menguraikan bahwa Dyah Hayam Wuruk Sri Rajasanagara berusaha keras untuk menyatukan dan mewawuhkan tiga aliran agama di wilayah Majapahit yang disebut tripaksa, tiga sayap, yakni agama Siwa, Budha, dan Brahma (Muljana 2008:234). Dalam penjelasannya, Muljana (2008:235) pun menegaskan bahwa atas dasar pemberitaan Nagarakretagama di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa di Majapahit pada abad ke-14, ada empat golongan pendeta, yakni Siwa, Brahma, Wisnu, dan Budha. Di antara tiga aliran, agama Siwa mempunyai pengikut paling banyak berkat kedudukannya sebagai agama resmi kerajaan Majapahit. Agama Budha menduduki tempat yang kedua.
Tatanan kota Majapahit sebagai pusat kerajaan Hindu-Jawa di Jawa Timur adalah satu bentuk budaya material yang dihasilkan oleh kelanjutan proses alkulturasi antar budaya Hindu-India dengan budaya Jawa Kuno (Hermanislamet 1999:99). Hasilnya, tata ruang kota Majapahit adalah wujud tatanan yang merupakan perpaduan antara unsur-unsur dua kebudayaan, India, dan Jawa. Hal ini memberikan pemahaman terhadap kesesuaian dan bentuk ’arsitektur-arkeologi’ yang sudah ada, diciptakan atau ditafsirkan kembali untuk memenuhi keberlanjutan budaya ke dalam wajah budaya tradisional. Majapahit adalah kota tempat kedudukan ’pusat kerajaan teokratis’, sehingga wajahnya atau gubahan kotanya diwarnai oleh tata bangunan dan ’tata kota simbolis’, yang memiliki kandungan konsep ’kosmis’ keagamaan atau ’kosmologis’ yang menonjol. Bahwa situs Majapahit dengan kota tuanya merupakan bagian dari sejarah, budaya, arsitektur, dan simbol-simbol yang telah ada di satu sisi serta filosofi, kepercayaan, keindahan, dan pola kehidupan di sisi yang lain. Hal yang sama juga ditegaskan oleh Rapoport (1990), bahwa budaya sebagai suatu kompleks gagasan dan pikiran manusia bersifat tidak teraga. Kebudayaan ini akan terwujud melalui pandangan hidup (world view), tata nilai (value), gaya hidup (life style) dan akhirnya aktifitas (activities) yang bersifat konkrit. Dalam tradisi dan adat membentuk budaya yang khas, termasuk dalam lingkungan hidup tempat bangunan dan arsitektur di dalamnya. Situs Majapahit telah memberikan arsitektur dan membentuk ’wilayah budaya’ dengan tradisi dan adat istiadat serta kepercayaan.
Mengingat situs Trowulan adalah satu-satunya peninggalan yang mempunyai rentang sejarah yang amat panjang. Dengan pola tata ruang arkeologi kehidupan masa lalu, situs ini mempunyai peninggalan artefak kepurbakalaan yang sangat tinggi nilainya. Ruang kota Majapahit distrukturkan oleh bagian-bagian ruang fungsional atau ruang simbolis berjenjang, yaitu bagian-bagian wilayah pusat kerajaan berupa keraton, tempat pertemuan, tempat ibadah dan pasar besar, serta tempat tinggal patih dan pangeran di kelilingi oleh kawasan permukiman (Hermanislamet 1999:164). Demikian juga sejarah arsitekturnya situs Majapahit ini berhubungan dengan sejarah kebangsaan yang telah melahirkan arsitektur candi mewakili periode klasik Indonesia sebagai arsitektur masa lalu dengan bangunan dari batu dan batu bata menaungi lambang dewa-dewa Hindu dan Budha di awal abad ke-9. Menurut Munandar (2008:98), salah satu hal yang menarik adalah ditemukannya beberapa kesesuaian antara monumen atau bangunan yang ada di situs Trowulan dengan konsep kedewataan yang dikenal dalam kelompok Astadikpalaka. Kenyataan itu tentu bukan merupakan kebetulan belaka, melainkan telah dirancang dengan seksama di masa lalu oleh masyarakat Majapahit itu sendiri. Penempatan bangunan candi yang biasa digunakan sebagai wadah pengabdian sosok pimpinan atau tokoh kerajaan ayang diagungkan setelah yang bersangkutan meninggal dunia. Candi sebagai setting seremoni keagamaan Hindu menjadi bagian unsur kota dalam mewujudkan pola dan citra keruangan kota yang amat kuat. Maka, tidak perlu diragukan lagi bahwa bangunan Candi Tikus sebenarnya replika dari penggambaran alam semesta menurut ajaran para brahmana. Menurut Sanga Mandala area itu merupakan wilayah paling suci di Trowulan. Oleh karena itu, pantas saja jika dibangun patirthan yang dinamakan oleh penduduk dengan Candi Tikus, yaitu simbol dari segala kesucian dan persemayaman kekuatan dewa-dewa (Munandar 2008:98). Oleh karena itu, penataan ruang kota yang hendak menonjolkan aspek simbolisme keagamaan, secara terencana dapat menciptakan suasana monumental dengan penempatan bangunan candi pada tempat yang tepat.
Kalau kita lihat, sejarah arsitektur situs kota tua Trowulan merupakan bagian dari struktur budaya suku bangsa Indonesia, karena di dalamnya terkandung peri kehidupan yang mengakar pada kepribadian bangsa. Kebudayaan dalam arkeologi perkotaan ibu kota Majapahit berhubungan dengan kebangsaan berjalan dalam periode yang panjang, melahirkan arsitektur candi dalam konteks Jawa-Budha-Hindu, dari tempat itu lahirlah arkeologi-arsitektur yang indah. Mereka menampilkan suatu kilasan perbedaan bentuk dan tradisi dengan teknologi yang mencerminkan keragaman zaman Majapahit, yang menjadikan kekayaan warisan sejarah-budaya dan arkeologi-arsitektur perkotaan masa lalu.
Dari arah pandang arsitektur, Nusantara ini mempunyai rentang sejarah yang amat panjang. Tatanan kehidupan-bersama telah ada terbentuk melalui peninggalan situs kota tua Majapahit melahirkan keterikatan emosional dengan arsitektur lamanya. Tidak diragukan lagi, sejarah arsitektur yang berhubungan dengan sejarah kebangsaan telah melahirkan budaya-arsitektur candi, arsitektur tradisional, arsitektur Islam, arsitektur kolonial, dan arsitektur modern. Upaya untuk menyatukan unsur-unsur yang membentuk sejarah arsitektur Nusantara ini, sebaiknya memperhatikan asal-usul arkeologi-geografis serta aneka tradisi yang menyumbang warisan budaya-arsitekturnya.

Menuju Pelestarian Budaya
Kesadaran tentang nasionalisme baru dalam pelestarian di situs Majapahit haruslah mencerminkan jatidiri budaya bangsa. Penjelajahan kekayaan warisan budaya bertujuan untuk melindungi dan mengkonservasi peninggalan sejarah budaya bangsa. Dengan menyatukan unsur-unsur yang membentuk sejarah budaya Indonesia. Sebaiknya pelestarian atau konservasi budaya dalam situs bersejarah tidak hanya berdasar pada konsep pelestarian yang bersifat statis, yaitu bangunan yang menjadi objek pelestarian dipertahankan sesuai dengan kondisi aslinya. Namun konsep yang statis tersebut dapat dikembangkan menjadi konsep konservasi yang bersifat dinamis dengan cakupan lebih luas. Sasaran pelestarian tidak hanya pada peninggalan arkeologi saja, melainkan meliputi juga arsitektur-budaya kampung kuno pada kawasan bersejarah tersebut.
Mempertahankan situs Trowulan sesuai dengan kondisi aslinya dan dikembangkan secara dinamis dengan cakupan lebih luas. Sasaran pelestariannya tidak hanya pada peninggalan arkeologi saja, melainkan meliputi juga karya peninggalan arsitektur lingkungan permukiman bahkan situs bersejarahnya. Hal ini penting, karena arsitektur-perkotaan atau situs bersejarah dapat memberikan identitas atau karakteristik dari suatu kota terhadap sejarah masa lalunya. Pelestarian situs arkeologi perkotaan ini, adalah sebuah proses untuk memelihara kawasan situs bersejarah sedemikian rupa, sehingga makna kultural yang berupa nilai keindahan, sejarah, keilmuan, atau nilai sosial-budaya untuk generasi lampau, masa kini dan masa mendatang akan dapat terpelihara.
Kelekatan kita dengan warisan budaya -masyarakat, tradisi-budaya, kearifan lokal, warisan arsitektur- harus dilihat bahwa warisan situs Majapahit menjadi milik kita bersama. Karena mempertahankan kawasan situs Majapahit dengan aspek kesejarahannya dapat berfungsi sebagai pendidikan moral, penalaran, politik, kebijakan, perubahan, masa depan, dan keindahan. Sebenarnya situs ini mempunyai basis ruang-sejarah dan fisik-arsitektural sebagai tempat bagi pengembangan budaya bangsa. Karena itu, situs ini tidak hanya menjadi bagian dari kawasan sekitarnya saja, tetapi merupakan suatu bagian dari seluruh kompleks atau permukiman di kawasan Trowulan. Maka, perlu adanya penekanan pada pelestarian fisiknya agar situs Majapahit dapat menjadi bagian dari warisan arsitektur. Karena pola ruang kota Majapahit terbentuk oleh adanya bangunan prasarana kota, baik jalur-jalur saluran prasarana air maupun jaringan jalan kota, yang saling bersilangan secara tegak lurus satu sama lain, menghasilkan bagian-bagian ruang kota berpola grid.
Pelestarian situs Majapahit yang terintegrasi harus diprogramkan sebagai proses yang secara fundamental berdasar pada pengertian dan kejelasan dari nilai kehidupan-budaya dalam komunitas kawasan. Solusinya harus diformulasikan berdasar pada kelangsungan hidup mereka, dan kemungkinan implementasinya. Usulan harus jelas dalam waktu, mengakar pada budaya, ekonomi, dan struktur politik dari masyarakat penghuninya. Kebijakan yang dihasilkan merupakan pertimbangan dari tinjauan sisi sejarah arsitektur maupun kawasan. Konsep pelestarian dapat dipertanggung-jawabkan secara akademis, dan dapat memberikan sumbangan pada pengelola cagar budaya dalam memutuskan atau menentukan bangunan maupun kawasan bersejarah sebagai tempat yang dilindungi dan dilestarikan.
Konteks pelestarian budaya dalam bangunan maupun situs kota tua merupakan salah satu daya tarik bagi sebuah kawasan bersejarah. Sebenarnya dengan terpeliharanya satu situs tua-bersejarah pada suatu kawasan akan memberikan ikatan kesinambungan yang erat, antara masa kini dan masa lalu. Situs Majapahit dengan kota tuanya merupakan bagian dari sejarah, budaya, arsitektur, dan simbol-simbol yang telah ada di satu sisi serta filosofi, kepercayaan, keindahan, dan pola kehidupan di sisi yang lain.

Penutup
Memang benar, saat ini banyak perencanaan arsitektur dan kota yang dikerjakan tidak atas dasar nurani dan pengertian, sesuai etik profesional dalam memahami kultural-geografis, historis-konservasi dan arsitektur-arkeologis melainkan berdasarkan eksploitasi yang bermotif komersial. Untuk itu, kepentingan membangun bangunan baru pada situs maupun kawasan bersejarah peninggalan Majapahit perlu pemikiran yang lebih cerdas lagi, agar warisan budaya (cultural heritage) yang kita punya dapat dipertahankan dari kerusakan dan kehancuran. Dengan demikian, situs ibu kota kuno Majapahit sebagai salah satu warisan budaya secara jelas bertujuan untuk mengelola lingkungan hidup dan dirumuskan dengan kalimat, memayu hayuning bawana. Artinya adalah, menjaga atau melindungi keselamatan dunia dalam melestarikan warisan budaya. Hal ini dipertegas lagi oleh para leluhur-leluhur kita, seperti diungkapkan, “wewangan kang umure luwih saka paroning abad, haywa kongsi binabad, becik den mulyakna kadya wujude hawangun”, artinya bangunan dengan umur yang lebih dari 50 tahun merupakan bangunan sejarah dan budaya, dapat digunakan sebagai penelitian, menambah pengetahuan dan lain kebutuhan kemajuan serta bermanfaat sebagai tuntutan hidup. Hal senada juga diungkapkan pula oleh leluhur kita dalam sebuah petuah bijak ”Yen wis kliwat separo abad, jwa kongsi binabad”, artinya kalau sudah melewati separuh abad atau 50 tahun, jangan sampai dihancurkan.

Sumber Pustaka
Antariksa. 2007. Pelestarian Bangunan Kuno Sebagai Aset Sejarah Budaya Bangsa. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalam Bidang Ilmu Sejarah dan Pelestarian Arsitektur. Pada Fakultas Teknik Universitas Brawijaya. Disampaikan pada Rapat Terbuka Senat Universitas Brawijaya. Malang, 3 Desember 2007.
Hermanislamet, B. 1999. Tata Ruang Kota Majapahit, Analisis Keruangan Pusat Kerajaan Hindu Jawa Abad XIV di Trowulan Jawa Timur. Disertasi. Tidak diterbitkan. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.
Ketika Sejarah Dinistakan. Kompas. 4 Januari 2009. Hlm 17.
Muljana, S. 2007. Menuju Puncak Kemegahan (Sejarah Kerajaan Majapahit). Yogyakarta: LKiS.
Muljana, S. 2008. Tafsir Sejarah Nagara Kretagama. Yogyakarta: LKiS.
Munandar, A.A. 2008. Ibukota Majapahit, Masa Jaya dan Pencapaian. Jakarta: Komunitas Bambu.
Mundardjito. 2002. Pertimbangan Ekologis: Penempatan Situs Masa Hindu-Buda di Daerah Yogyakarta. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.
Satu-satunya Situs Kota di Indonesia. Kompas. 4 Januari 2009. Hlm. 18.

Copyright © 2009 by Antariksa
Categories: Uncategorized Tags:

BUDAYA DALAM REVITALISASI PERKOTAAN

December 6th, 2009 Comments off
Antariksa

Revitalisasi Sebuah Pengantar

Revitalisasi adalah upaya untuk mendaur-ulang (recycle) dengan tujuan untuk memberikan vitalitas baru, meningkatkan vitalitas yang ada atau bahkan menghidupkan kembali vitalitas (re-vita-lisasi) yang pernah ada, namun telah memudar. Menurut Departemen Kimpraswil (2002) revitalisasi dapat dijelaskan, adalah rangkaian upaya menghidupkan kembali kawasan yang cenderung mati, meningkatkan nilai-nilai vitalitas yang strategis dan signifikan dari kawasan yang masih mempunyai potensi dan atau mengendalikan kawasan yang cenderung kacau atau semrawut. Dalam lingkup kawasan, vitalitas dapat diartikan kemampuan, kekuatan kawasan untuk tetap bertahan hidup. Hidupnya suatu kawasan dapat tercermin dari kegiatan yang berlangsung di dalam kawasan sepanjang waktu di mana orang datang, menikmati, dan melakukan aktivitas-nya di sini. Namun dalam konteks perkotaan sebuah vitalitas atau revitalisasi tidak hanya menekankan pada aspek ekonomi saja, tetapi perbaikan fisik dalam kawasannya yang akan dijadikan objek juga harus mendapat perhatian khusus. Vitalitas terlihat dari kualitas kehidupan di sepanjang jalan (Abramson 1981:82). Kualitas kehidupan ini dinikmati oleh suluruh lapisan masyarakat, baik pengunjung maupun pekerja, yang ditandai dengan peningkatan penjualan dan menjadi daya tarik pengunjung (Wiedenhoeft 1981:5). Adaptasi revitalisasi merupakan upaya untuk mengubah suatu lingkungan binaan agar dapat digunakan untuk fungsi baru yang sesuai, tanpa menuntut perubahan drastis atau hanya memberikan dampak yang minimal.


Pendekatan dalam Revitalisasi

Pada dasarnya dapat dikatakan bahwa revitalisasi adalah upaya untuk memvitalkan kembali suatu kawasan atau bagian kota yang dulunya pernah vital/hidup, akan tetapi kemudian mengalami kemunduran/degradasi. Untuk itu, revitalisasi dapat dikatakan sebagai salah satu pendekatan dalam meningkatkan vitalitas suatu kawasan kota yang bisa berupa: 1. penataan kembali pemanfaatan lahan dan bangunan; 2. renovasi kawasan maupun bangunan-bangunan yang ada, sehingga dapat ditingkatkan dan dikembangkan nilai ekonomis dan sosialnya; 3. rehabilitasi kualitas lingkungan hidup; dan 4. peningkatan intensitas pemanfaatan lahan dan bangunannya. Keberhasilan pendekatan revitalisasi dalam suatu kawasan dipengaruhi oleh aspek sosial dan karakteristik kawasan yang merupakan image atau citra suatu kawasan, bukan pada ide atau konsep yang diterapkan tanpa penyesuaian dengan lingkungan kawasan tersebut. Pendekatan revitalisasi berdasarkan tingkat, sifat dan skala perubahan yang terjadi di dalam kawasan dapat dilakukan dengan preservasi/konservasi, rehabilitasi dan pembangunan kembali (redevelopment).

Revitalisasi kawasan diarahkan untuk memberdayakan daerah dalam usaha menghidupkan kembali aktivitas perkotaan/perdesaan dan vitalitas kawasan untuk mewujudkan kawasan layak huni (livable), mempunyai daya saing pertumbuhan dan stabilitas ekonomi lokal, berkeadilan sosial, berwawasan budaya serta terintegrasi dalam kesatuan sistem kota/desa.

Revitalisasi pada prinsipnya tidak hanya menyangkut masalah konservasi bangunan dan ruang kawasan bersejarah saja, tetapi lebih kepada upaya untuk mengembalikan atau menghidupkan kembali kawasan dalam konteks kota yang tidak berfungsi atau menurun fungsinya agar berfungsi kembali, atau menata dan mengembangkan lebih lanjut kawasan yang berkembang sangat pesat namun kondisinya cenderung tidak terkendali.


Beberapa Tahapan Revitalisasi

Pelaksanaan revitalisasi harus melalui beberapa tahapan, di mana masing-masing tahapan harus memberikan upaya untuk mengembalikan atau menghidupkan kawasan dalam konteks perkotaan. Dengan demikian konservasi bangunan dan kawasan bersejarah merupakan tempat yang dapat difungsikan kembali menjadi kawasan yang mempunyai nilai sosial-ekonomi tinggi. Tahapan-tahapan yang dapat kita cermati di antaranya adalah: 1. Intervensi fisik, intervensi fisik mengawali kegiatan fisik revitalisasi dan dilakukan secara bertahap, meliputi perbaikan dan peningkatan kualitas dan kondisi fisik bangunan, tata hijau, sistem penghubung, sistem tanda/reklame dan ruang terbuka kawasan; 2. Rehabilitasi ekonomi, revitalisasi yang diawali dengan proses peremajaan artefak urban harus mendukung proses rehabilitasi kegiatan ekonomi; dan 3. Revitalisasi sosial/institusional, keberhasilan revitalisasi sebuah kawasan akan terukur bila mampu menciptakan lingkungan yang menarik (interesting), jadi bukan beautiful place.

Pertanyan yang mendasar adalah, apakah ketiga hal di atas dapat memperbaiki penurunan kualitas kawasan perkotaan dan dapat memberikan pemaknaan kembali pada daerah yang menjadi fokus kegiatan revitalisasi. Dengan menghidupkan kembali kawasan ini tentunya harus mempertahankan historis budaya masyarakat dan kawasannya. Pengendalian kawasan menjadi sangat penting di sini agar perkembangan dan pembangunan di masa mendatang tidak merusak lingkungannya. Seperti dikatakan Danisworo (2000), hilangnya vitalitas awal dalam suatu kawasan historis budaya umumnya ditandai dengan kurang terkendalinya perkembangan dan pembangunan kawasan, sehingga mengakibatkan terjadinya kehancuran kawasan, baik secara self destruction maupun creative destruction.


Kawasan Revitalisasi

Kawasan merupakan suatu wilayah yang di dalamnya terdapat kawasan bersejarah yang dahulu hidup dan vital dan mampu mempertahankan eksistensinya. Ironisnya dalam proses perkembangan sebuah kota, berbagai indikasi penurunan kualitas fisik justru dapat dengan mudah diamati pada kawasan bersejarah tersebut. Kawasan yang mempunyai nilai sejarah tinggi perlu adanya mekanisme untuk pemeliharaan dan kontrol terus menerus agar kualitas yang terdapat di dalam lingkungan tersebut dapat secara produktif dikembangkan ke masa depan. Ada beberapa tingkatan dalam revitalisasi kawasan, yaitu berdasar fungsi, letak serta ke-kuno-an dan ke-sejarahan kawasannya. Kawasan-kawasan revitalisasi dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. Ditinjau dari fungsi kawasan: - Revitalisasi kawasan perniagaan; - Revitalisasi kawasan perumahan; - Revitalisasi kawasan perindustrian; - Revitalisasi perkantoran pemerintah; - Revitalisasi kawasan olah raga, dan fasilitas sosial lainnya; dan - Revitalisasi kawasan khusus. 2. Ditinjau dari letak kawasan: - Revitalisasi kawasan pegunungan/per-bukitan; - Revitalisasi kawasan tepian air (sungai, laut, danau); - Revitalisasi kawasan perairan/rawa; dan - Revitalisasi kawasan khusus lainnya. 3. Ditinjau dari ke-kuno-an dan ke-sejarahan: - Revitalisasi kawasan bersejarah; dan - Revitalisasi kawasan baru.


Keterlibatan Masyarakat Dalam Revitalisai

Peran masyarakat akan sangat berpengaruh dalam proses revitalisasi, hal ini menjadi bagian penting dalam pendekatan dan pelaksanaannya. Faktor sosial-ekonomi mempunyai peran penting, tetapi aspek budaya akan lebih berperan dalam pendekatan sejarah lokalnya. Kearifan lokal sebaiknya lebih dominan di dalam proses revitalisasi dalam konteks arsitektur perkotaan. Revitalisasi dengan mengajak masyarakat ikut berpartisipasi baik dalam perencanaannya maupun pelaksanaannya merupakan langkah interaktif demi mencapai keberhasilan program revitalisasi kawasan tersebut. Dengan adanya peran serta masyarakat dapat menjadikan kawasan tersebut kawasan yang hidup dan tertata dengan baik karena masyarakat memiliki dan mampu memeliharanya. Sebagai konsekuensinya pasti membutuhkan waktu yang panjang, karena revitalisasi harus ditumbuhkan dengan akar yang kuat agar mampu berkembang secara berkelanjutan, sepanjang masa. Menurut Widayati (2000:88), kenapa tidak memualai dengan sesuatu yang telah dipunyai oleh masing-masing kota yang nantinya kalau sudah tertata dengan baik akan menjadi ciri dari kota tersebut? Sebagai contoh, permasalahan revitalisasi kawasan kota tua Jakarta dibahas dari berbagai sudut pandang, mulai dari potensi kesejarahannya, studi perbandingan dengan kasus sejenis dari mancanegara, pendekatan komersial dalam merevitalisasi kawasan hingga kepada peranan museum pada kawasan tersebut. Menarik untuk dicermati adalah adanya semangat dan nuansa ‘baru’ dalam menentukan common goal-nya (Martokusumo 2000).

Revitalisasi dalam pelaksanaannya sering menghadapi persoalan yang terdapat di masyarakat, seperti ketidakserasian pendapat antara pihak pemerintah dan pihak pemilik bangunan. Hal ini lebih disebabkan karena pihak pemilik bangunan sering tidak mempunyai dana untuk pemeliharaan bangunan, sementara pihak pemerintah belum mampu untuk memberikan subsidi kepada para pemilik bangunan. Di lapangan seringkali didapati ketidaksesuaian antara harapan dan keinginan masyarakat. Pengaruh pendidikan, latar belakang budaya, dan kesadaran akan pemahaman akan kearifan lokal yang dapat dijadikan aset pemerintah setempat menjadikan sebuah hambatan. Mempertahankan budaya dalam sebuah kawasan dengan segala kearifannya yang akan direvetalisasi belum tentu dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. Untuk itu ada beberapa hal yang perlu ditegaskan yang menurut Martokusumo (2000) adalah: pertama, hanya sebagian kelompok masyarakat yang bisa memahami gagasan konservasi yang sementara ini memang masih elitis, terutama sekali mereka yang pernah mengenyam pendidikan barat; kedua, adanya kecenderungan dari pihak institusi terkait untuk melihat tapak dan bangunan (topos) sebagai suatu barang komoditas; dan ketiga, kondisi bangunan dan lingkungan yang relatif mudah rusak mengingat faktor iklim dan kondisi geografis lingkungan.

Untuk itu perlu diperhatikan ada beberapa hal di antaranya bahwa: 1. Pelaksanaan revitalisasi memerlukan adanya keterlibatan masyarakat yang bukan hanya sekedar ikut serta untuk mendukung aspek formalitas perlunya partisipasi masyarakat; 2. Keterlibatan masyarakat ini terkait erat karena revitalisasi berarti adanya kegiatan baru dalam suatu kawasan, sehingga keterlibatan tersebut didukung oleh pemahaman yang mendalam tentang revitalisasi dan konservasi; 3. Sosialisasi tentang pentingnya revitalisasi perlu diupayakan untuk mengubah dan menumbuhkan kemauan publik dan swasta untuk melakukan investasi pada pelestarian pusaka alam dan budaya dengan tujuan menjadikan kawasan yang terpelihara dan bahkan berkembang sepanjang masa.

Sebagai contoh, Historic Massachusetts USA, yang bermitra dengan penduduk lokal dan berbagai organisasi untuk revitalisasi, menyeleksi sumber daya budaya untuk revitalisasi dan menetapkan tiga buah kriteria dasar: a. sumber daya tersebut harus menunjukkan hubungan yang penting antara pelestarian dan kebangaan masyarakat setempat; b. sumber daya tersebut harus potensial menjadi katalisator usaha revitalisasi dan pembangunan; dan c. sumber daya tersebut harus memiliki dukungan masyarakat dan politik.

Pada hal kalau ditelusuri, kawasan lama biasanya mempunyai banyak potensi antara lain (Widayati 2000:92): 1. Kehidupan masyarakatnya masih tradisionil baik dari segi spiritualnya maupun kulturalnya; 2. Masyarakat setempat biasanya mempunyai mata pencaharian berupa kerajinan tangan sesuai dengan daerahnya masing-masing; 3. Mempunyai kesenian rakyat; 4. Mempunyai lahan atau bangunan yang spesifik yang dapat dijadikan objek wisata; dan 5. Mempunyai situs peninggalan masa lalu yang berkaitan dengan sejarah.

Apa yang telah dijelaskan di atas masih perlu ada satu pendekatan lagi, yaitu bagaimana budaya lokal yang melekat pada lingkungan atau kawasan bersejarah tersebut dapat diungkapkan dengan baik dan jelas. Aspek perilaku masyarakat memang sangat menentukan, demikian juga aspek kondisi geografisnya bila kawasan perkotaan ataupun perdesaan akan dijadikan objek pelestarian yang terkait dengan revitalisasi.

Semuanya ini dapat dilakukan tanpa merubah ciri khas dari tempat di sekitar kawasan atau lingkungan bersejarah itu sendiri. Kalau hal ini berhasil dilakukan, maka revitalisasi kawasan bersejarah akan berhasil dalam pelaksanaannya. Bagaimanapun juga warisan budaya masa lalu telah dihadirkan pada kawasan dalam bentuk fisik, maka identitas fisik itu perlu dipertahankan dan dijaga sebagai bagian dari pelestarian budaya bangsa.


Penggunaan Teknologi Informasi

Sebenarnya penggunaan informasi ini sebagai salah satu cara untuk dapat menginformasikan hal-hal yang dapat didokumentasikan dalam melihat budaya apa yang terdapat di kawasan atau lingkungan tersebut. Tinggalan fisik arsitektural apa yang dapat memberikan jaminan untuk melindungi bangunan tersebut yang dapat diperlihatkan secara fisik bagi masyarakat yang ingin mendapatkan informasi tentang sejarah fisik kawasan itu. Untuk itu perlu ada: 1. identifikasi dan dokumentasi berbagai sumber daya alam dan budaya dalam dokumentasi digital dan dapat diwujudkan dalam website, sehingga mudah diakses; 2. berbagai gagasan revitalisasi disosialisasikan melalui website dan pemasangan hasil cetaknya di tempat-tempat strategik; 3. membuat forum dalam bentuk mailing list agar masyarakat dan semua pihak dapat menyampaikan pendapatnya secara langsung dan berdiskusi tentang revitalisasi secara terbuka; 4. pameran secara regular tentang pengembangan upaya revitalisasi melalui produk-produk teknologi informasi di lokasi atau di luar lokasi dapat dilakukan untuk menjaring gagasan dan kemitraan; dan 5. melalui upaya ini dapat dirumuskan pula beragam insentif yang akan diberikan kepada pihak-pihak yang melaksanakan program pelestarian dan revitalisasi.


Keuntungan Pemaduan Kegiatan Pelestarian dan Revitalisasi

Kedua kegiatan ini perlu mendapat perhatian dalam pelaksanaannya, konsep yang ditata dalam sebuah pemikiran dalam hal ini pelestarian dan revitalisasi, ternyata membutuhkan kecermatan dalam implementasi di lapangan. Ada beberapa hal yang dapat dipakai sebagai dasar dalam memadukan kedua kegiatan tersebut, di antaranya: 1. Keuntungan budaya, diperoleh karena semakin memperkaya sumber sejarah, sehingga akan menambah rasa kedekatan (sense of attachment) pada sejarah atau kejadian penting di masa lalu. 2. Keuntungan ekonomi, yaitu dapat meningkatkan taraf hidup, mengurangi pengangguran lokal, omset penjualan, naiknya harga sewa, pajak pendapatan oleh pemerintah daerah. 3. Keuntungan sosial, timbul karena meningkatnya nilai ekonomi dan menumbuhkan rasa percaya diri pada masyarakat. Ketiga keuntungan tersebut harus dapat memeberikan kontribusi pemahaman bagi masyarakat yang kawasan atau lingkungannya akan di revitalisasi. Pendekatan ini membutuhkan waktu yang lama selain penataan fisik kawasannya, sehingga keuntungan sosial juga harus dapat mempertahankan budaya masyarakat setempat yang akan ditata untuk masa mendatang. Budaya masyarakat harus berjalan dan dipertahankan agar masyarakat merasa ikut memiliki warisan budayanya. Meningkatnya daya dukung sosial masyarakat sekitar dalam tataran ekonomi harus dapat memberikan jaminan. Perjalanan masa depan kawasan secara fisik harus terjaga sedemikian rupa dalam menghadapi perkembangan, sehingga sejarah fisik masa lalu lingkungan dan kawasan tersebut dapat langgeng dan terjaga dengan baik.


Pendekatan Budaya Dalam Revitalisasi

Budaya sebagai bagian dari kehidupan masyarakat perlu mendapat tempat dalam pelaksanaan revitalisasi. Sentuhan budaya akan dapat memberikan arah dan tujuan baik pelestarian fisik maupun non fisik. Baik secara tata ruang kotanya maupun arsitektur bangunannya harus benar-benar mendapat prioritas utama untuk dipertahankan dari segala macam penghancuran maupun perusakan. Perlu diingat bahwa permasalahan pada kawasan atau lingkungan bersejarah itu bukan saja hanya persoalan arsitektur. Kebudayaan pada dasarnya merupakan segala macam bentuk gejala kemanusiaan, baik yang mengacu pada sikap, konsepsi, ideologi, perilaku, kebiasaan, karya kreatif, dan sebagainya. Hal ini yang perlu dipahami di dalam melakukan revitalisasi, kecenderungan dan karakteristik wilayah dan kawasan kota besejarah harus dipahami sebagai bekal awal untuk melangkah. Budaya yang melekat pada wilayah kota terbuka luas dan tidak dapat diselesaikan dengan waktu singkat, karena budaya menyangkut semua aspek kehidupan manusia. Faktanya sangat kompleks selain memiliki kekhasan dan terkadang memiliki ciri yang sangat universal baik fisik dan perilaku budayanya. Memang, dalam pengertian kebudayaan juga termasuk tradisi, dan “tradisi”dapat diterjemahkan dengan pewarisan atau penerusan norma-norma, adapt istiadat, kaidah-kaidah, harta-harta. Itulah sebabnya mengapa kebudayaan merupakan ceritera tentang perubahan-perubahan: riwayat manusia yang selalu memberi yang selalu memberi wujud baru kepada pola-pola kebudayan yang sudah ada (van Peursen 1976:11).

Demikian juga revitalisasi bukan hanya sekadar bagaimana menciptakan sebuah tempat dengan beautiful place belaka, tetapi lebih kepada interesting place. Untuk itu perlu dikembangkan pemikiran-pemikiran yang kontekstual maupun holistik, yang berangkat dari budaya masyarakat setempat beserta seluruh kearifan lokalnya yang masih melekat, dan dikombinasikan dengan permasalahan lingkungan yang berkembang saat ini. Keunikan tersebut, selain aspek sosial budaya, mengandung kearifan lokal yang dapat menjadi daya tarik wisata, dan berpotensi meningkatkan peertumbuhan ekonomi kreatif masyarakat. Potensi aset budaya tersebut memiliki nilai kesejarahan, dan menjadi suatu rangkaian pusaka (heritage) yang perlu dilestarikan bahkan potensial untuk dikembangkan secara positif, berkesinambungan serta dapat dijadikan pijakan (Ernawi 2009:1). Revitalisasi harus dipandang sebagai sebuah objek budaya dengan segala aspek yang melingkupinya, dan perlu dipadukan dengan permasalahan sosial, ekologi dan arsitektural yang sudah tertata di kawasan atau lingkungan bersejarah tersebut. Hanya saja, langkah yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana mengakomodasikan permasalahan sosial, ekologi serta aspek terkait lainnya melalui sebuah kegiatan pelestarian. Ernawi (2009:2) menjelaskan, bahwa dunia dipenuhi oleh banyak entitas kebudayaan yang saling berasimilasi, berakulturasi, atau bahkan saling berkompetisi satu sama lain. Dengan adanya arus globalisasi, dunia dihadapkan pada arus budaya tunggal yang evolusinya bergulir begitu kuat, hingga bahkan dapat menggeser tatanan budaya lokal hampir di seluruh belahan dunia.

Budaya harus dilihat sebagai fenomena pilihan hidup yang terdapat dalam sebuah kawasan bersejarah yang tentu saja selalu eksis dan berkembang. Cara melihatnya pun harus dalam konteks ruang dan waktu. Kawasan bersejarah telah menjadi milik kolektif masyarakat yang mendiami kawasan tersebut, baik dalam perilaku dan konfigurasi unik dalam cita rasa yang khas serta gaya yang dipunyainya. Penentuan atau pemilihan setting kawasan yang akan direvitalisasi harus benar-benar siap respek dijadikan objek pelestarian. Tempat atau lokasi yang akan dijadikan objek revitalisasi harus mempunyai peninggalan fisik arsitektural baik bangunan, lingkungan maupun budaya masyarakatnya. Fenomena budaya lingkungan dan masyarakat setempat harus menjadi nilai penting dalam proses pelaksanaan revitalisasi.


Sumber Pustaka

Ernawi, I. S., 2009. Kearifan Lokal Dalam Perspektif Penataan Ruang. Makalah dalam Seminar Nasional Kearifan Lokal Dalam Perencanaan dan Perancangan Lingkungan Binaan. Malang, 7 Agustus 2009.

Hartono, S. & Handinoto. 2000. Alun-alun dan Revitalisasi Identifikasi Kota Tuban. Dimensi Teknik Arsitektur : 1-11.

Kautsary, J. 2008. Sudaryono & Subanu, L.P. 2008. Makna Ruang Dalam Permukiman Pecinan (Aspek yang Terlupakan Dalam Upaya Revitalisasi Kawasan). Seminar Nasional Eco Urban Design. Semarang: Universitas Diponegoro. 1-12.

Martokusumo, W. 2000. Revitalisasi Kota Tua Jakarta. www.arsitekturindis.com/. (6 September 2009)

Van Peursen, C.A. 1976. Strategi Kebudayaan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Widayati, N. 2000. Penyertaan Peran Serta Masyarakat dalam Program Revitalisasi Kawasan Laweyan di Surakarta. Dimensi Teknik Arsitektur. 28 (2): 88-97

Wongso, J., Alvares, E. & Zulherman. Strategi Revitalisasi Kawasan Pusat Kota Bukittinggi Sumatera Barat.

Copyright © 2009 by Antariksa


Categories: Uncategorized Tags: