Archive

Archive for January, 2010

Pelestarian Kawasan Pecinan Kota Pasuruan -Humanisme dalam sejarah, budaya dan arsitektur Cina-Eropa-

January 18th, 2010 Comments off
Antariksa, Fadly Usman, Ika Puspitasari, Hany Perwitasari

Abstrak
Kota Pasuruan merupakan salah satu kota pelabuhan terbesar di Pantai Utara Jawa pada abad ke-17. Letaknya yang strategis sebagai jalur perdagangan, membuat banyak sekali pedagang asing yang datang dan menetap di Pasuruan. Salah satunya adalah etnis Tionghoa, mereka datang sejak abad ke-17 dan kemudian tinggal di kawasan yang disebut sebagai Kawasan Pecinan. Pada awal abad ke-18, Belanda mulai menguasai Kota Pasuruan, saat Belanda memerintah Pasuruan terjadi akulturasi dan humanisme kebudayaan antara Kebudayaan Tionghoa, Kolonial, dan lokal. Akulturasi dan humanisme itu masih dapat terlihat pada bangunan-bangunan yang dibangun oleh etnis Tionghoa pada era kolonial, menjadi hal yang wajar apabila pemilik berusaha menampilkan identitas dirinya pada tampilan bangunan atau menghias bentuk rumahnya melalui bentukan bangunan yang sedang berkembang di Pasuruan saat itu. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis karakteristik Kawasan Pecinan ditinjau dari elemen pembentuk kawasan, sejarah, sosial budaya, tinjauan kebijakan, dan bangunan kuno yang ditinjau dari wajah, ragam hias bangunan serta humanisme Cina-Eropa yang terdapat pada elemen-elemen tersebut. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif, evaluatif, dan eksploratif dengan metode purpossive sampling pada pemilihan kasus bangunan kuno. Landmark di Kawasan Pecinan berupa klenteng, node berupa simpul kegiatan setempat, district berupa kawasan perdagangan dan path berupa jaringan jalan dengan pola grid. Tipologi bangunan rumah tinggal kolonial dikelompokkan berdasarkan elemen wajah bangunan, ornamen, gaya dan tahun pembuatannya. Gaya bangunan yang digunakan pada bangunan kolonial di Kawasan Pecinan Pasuruan adalah gaya Indische Empire Style, Voor 1900, NA 1900, Romantiek dan gaya bangunan tahun 1915-an. Ragam hias yang terdapat di luar ruangan terletak pada bagian kepala, badan, dan kaki bangunan. Studi diharapkan dapat menghasilkan karakter kawasan dan tipologi bangunan di Pecinan Kota Pasuruan yang dapat menjadi petunjuk tentang humanisme kebudayaan dan status sosial pemiliknya, kejayaan arsitektur kolonial dan perkembangannya, yang turut memperkaya arsitektur nusantara.
Kata Kunci: wajah bangunan, rumah tinggal kolonial, tipologi bangunan.

Pendahuluan

Hampir seluruh kota di Indonesia memiliki Kawasan Pecinan yang memiliki fungsi sebagai kawasan sentra perdagangan dan permukiman bagi etnis Cina. Secara visual, bangunan-bangunan bergaya arsitektur Cina di Kota Pasuruan banyak terdapat di Jl. Soekarno-Hatta, Jl. Hasanuddin, dan daerah di sekitarnya, yang letaknya berada di utara alun-alun. Pengamatan juga diperkuat dengan adanya klenteng di daerah tersebut, yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah saja, tetapi juga memiliki peran yang besar dalam kehidupan komunitas Cina di masa lampau. Sampai saat ini di Kawasan Pecinan masih berdiri bangunan-bangunan dengan aplikasi budaya Cina, yaitu dengan bentuk atap lengkung yang dalam arsitektur Cina disebut atap pelana sejajar gavel. Selain itu, tembok yang tebal, plafon yang tinggi, lantai marmer, dan beranda depan dan belakang yang luas juga menandakan adanya gaya Eropa dalam bangunan yang terdapat di Kawasan Pecinan Kota Pasuruan. Menurut Handinoto (1990:17), gaya arsitektur campuran Cina-Eropa yang terdapat di Pasuruan belum tentu terdapat di kota-kota pesisir Pulau Jawa yang lain, sehingga gaya arsitektur di Kawasan Pecinan Pasuruan dapat disebut ”Chinese of Pasuruan”.
Peniruan bentuk bangunan kolonial telah banyak mempengaruhi banyak bangunan di Indonesia, khususnya Pasuruan dan sekitarnya. Melalui bentukan yang ada, dapat dilihat gaya atau langgam arsitektur yang sedang berkembang di Pasuruan saat itu. Mengenal gaya bangunan dapat dilakukan dengan mempelajari bentuk bangunan beserta elemen-elemen yang menyusunnya. Salah satu bentuk yang dapat mencirikan bangunan adalah bentuk wajah bangunan. Wajah bangunan memiliki ciri-ciri spesifik yang dapat menjadi petunjuk tentang kebudayaan dan status sosial pemiliknya, kejayaan arsitektur kolonial, dan perkembangannya, yang turut memperkaya arsitektur nusantara.
Di samping wajah bangunan, salah satu elemen pembentuk bangunan, yaitu ”riasan” yang merupakan seni dan unsur estetis sebuah bangunan rumah tinggal. ”Riasan” pada bangunan dapat berupa ragam hias (ornamen), yang berupa komposisi unsur-unsur seni berupa titik, garis (linier dan semu), bentuk dan ruang, tekstur, warna dan bahan. Faktor tersebut dipengaruhi oleh langgam bangunan yang terjadi masa itu, sosial, ekonomi, agama, kepercayaan, politik, serta lingkungan.
Perkembangan kawasan baik dari segi perubahan guna lahan maupun bangunan kurang memperhatikan aspek historis yang dimiliki oleh Kawasan Pecinan Kota Pasuruan, seperti adanya bangunan baru yang bentuk bangunannya tidak mencerminkan situasi di sekelilingnya, dan perubahan bentuk muka bangunan dari bentuk aslinya, sehingga kesan historis dalam bentuk arsitektur campuran Cina-Eropa pada kawasan tersebut memudar.
Ditinjau dari aspek ekonomi dan sosial, posisi permukiman Cina berada di daerah yang menguntungkan, karena berada di dekat pasar kota, terletak di tepi jalan yang merupakan jalan poros Kota Pasuruan (Jalan Niaga), dan terletak di tepi jalan utama yang menghubungkan Surabaya dan Probolinggo (Jalan Soekarno-Hatta). Ketiga faktor di atas merupakan faktor-faktor yang mendukung lokasi permukiman Cina di Pasuruan sebagai tempat yang ideal untuk berdagang, sehingga pengalihan maupun perubahan dari rumah tinggal menjadi rumah toko sangat mungkin untuk terjadi.
Usaha pelestarian dan perlindungan bangunan bersejarah, selayaknya ragam hias pada bangunan rumah tinggal merupakan awal untuk menarik animo masyarakat agar lebih peduli terhadap keberadaan bangunan tua sebagai sebuah koleksi perkembangan peradaban humanisme umat manusia. Dinamika kota menjadi suatu hal yang tidak terelakkan karena tidak ada kota yang bersifat statis, sehingga tindakan pelestarian merupakan salah satu upaya yang dilakukan dalam perencanaan kota untuk menunjukkan identitas suatu kawasan.

Humanisme dalam Sejarah Pasuruan
Kota Pasuruan terletak di tepi utara Pulau Jawa dan merupakan Kota Bandar Kuno pada saat zaman Kerajaan Mataram Kuno di bawah pemerintahan Raja Airlangga. Kota Pasuruan sebagai suatu lokasi telah disinggung dalam uraian Kakawin Nagarakartagama yang ditulis Mpu Prapanca pupuh 82: 2 dengan sebutan Pasuruhan (Menelusuri Asal Muasal Pasuruhan 2001:3). Sejak jaman dahulu sebelum kolonial daerah Pasuruan merupakan salah satu tujuan bagi para pendatang baik dari luar maupun dari dalam negeri, sehingga pada waktu jaman penjajahan Belanda, Pasuruan merupakan karesidenan setingkat dengan Surabaya pada waktu itu. Banyak pedagang yang datang ke Pasuruan, tidak terkecuali pedagang Cina. Lokasinya yang strategis dan pelabuhan yang besar memudahkan masuknya budaya dan peradaban baru ke kehidupan masyarakatnya pada waktu itu.
Awal kedatangan warga etnis Cina di Pasuruan berpusat di pelabuhan yang dahulu dikenal dengan nama Tanjung Tembikar. Sesuai dengan tujuan kedatangannya, bangsa Cina mulai berdagang dan berperan sebagai pedagang perantara antara pedagang yang berasal dari Cina dengan penduduk pribumi. Hubungan antara orang Cina dengan penduduk lokal terjalin dengan perdagangan yang mereka lakukan. Sebagai pedagang perantara yang menghubungkan pedagang luar dengan pedagang lokal, untuk memudahkan kegiatan berdagangnya, pedagang Cina kemudian menetap di sekitar pelabuhan.
Bangsa Cina datang ke Pasuruan kali pertama untuk berdagang. Bangsa ini sudah datang dan menetap di Pasuruan sejak awal abad ke-17. pada saat Belanda datang ke Pasuruan pada abad ke-18, etnis Tionghoa yang jumlahnya sepertiga dari jumlah keseluruhan warga Pasuruan diharuskan untuk bermukim di kawasan yang sampai saat ini dikenal dengan Kawasan Pecinan Pasuruan. Di kawasan inilah, etnis Tionghoa bermukim, dan juga menjalankan usaha mereka. Keuletan etnis Tionghoa dalam hal berdagang, membuat mereka menjadi makelar dgang dan juga pebisnis yang handal, dan tentu saja membuat perekonomian mereka semakin kuat. Pada saat Belanda memberlakukan Undang-Undang Agraria, kebanyakan perkebunan yang ada di wilayah Pasuruan dan sekitarnya disewa dan dikuasai oleh etnis Tionghoa. Kegiatan perdagangan dan usaha perkebunan etnis Tionghoa ini, menghasilkan suatu kelompok elit lokal. Kesuksesan etnis Tionghoa dalam perekonomian dapat terlihat dengan jelas pada bangunan-bangunan rumah tinggal yang mereka bangun, dan tersebar di Kawasan Pecinan Pasuruan.
Menurut Babad Kitha Pasuruan pada masa pemerintahan Bupati Nitiadiningrat pada sekitar abad ke-18, dijelaskan bahwa Kota Pasuruan akan terus mengalami perkembangan dan akan banyak penduduk pendatang, sehingga memerlukan penataan dan pengawasan (Fahruddin 2002). Perubahan sistem tatanan politik yang ditandai dengan pembagian kekuasaan antara kerajaan (adipati) dengan pemerintah Hindia Belanda mengakibatkan perubahan kebijakan tentang permukiman. Suryadinata dalam Lilananda (1993:4) menyatakan bahwa untuk melindungi usaha dagang milik pemerintah kolonial Belanda serta kepentingan untuk mempermudah pengaturan dan pemantauan terhadap segala macam aktivitas (perdagangan dan mata pencaharian, pendidikan, keagamaan, politik dan sebagainya) yang dilakukan di wilayah mereka, pemerintahan kolonial Belanda kemudian memberlakukan sistem hukum yang mendiskriminasikan orang-orang Tionghoa. Kemudian berdasarkan UU Wijkenstelsel yang dikeluarkan oleh pihak Belanda dibentuklah kawasan-kawasan yang menjadi permukiman etnis-etnis tertentu, termasuk untuk etnis Cina, yang lebih dikenal dengan nama Pecinan. Selain itu, terdapat pula Passenstelsel, yaitu sistem surat jalan yang melarang orang-orang Tionghoa untuk bepergian ke luar wilayah tersebut tanpa dilengkapi dengan surat. Kedua peraturan ini membuat mereka terisolasi, sehingga hunian dan segala aktivitas yang dilakukan hanya berkisar di daerah tersebut. Hal ini tentunya akan berdampak terhadap peninggalan fisik yang ada, yaitu berupa lokasi hunian berikut tempat aktivitas usahanya ketika pertama kali berada di wilayah ini.
Secara visual, bangunan-bangunan bergaya arsitektur Cina di Kota Pasuruan banyak terdapat di Jl. Soekarno-Hatta, Jl. Hasanuddin, dan daerah di sekitarnya, yang letaknya berada di utara alun-alun. Pengamatan juga diperkuat dengan adanya klenteng di daerah tersebut, yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah saja, tetapi juga memiliki peran yang besar dalam kehidupan komunitas Cina di masa lampau. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan Tillema dalam Handinoto (1990: 5), bahwa tipikal kota-kota Jawa pada masa kolonial ditinjau dari tata ruang dan bangunannya terdiri atas alun-alun, masjid, kantor pemerintahan, penjara, dan kampung Cina.
Sampai saat ini di Kawasan Pecinan masih berdiri bangunan-bangunan dengan aplikasi budaya Cina, yaitu dengan bentuk atap lengkung yang dalam arsitektur Cina disebut atap pelana sejajar gavel. Bentuk atap yang ditemukan di Kawasan Pecinan Kota Pasuruan hampir sama dengan bentuk atap yang ditemukan di daerah Cina selatan. Kebanyakan imigran-imigran Cina yang datang ke Indonesia merupakan imigran yang berasal dari propinsi-propinsi di Cina bagian selatan seperti Fukien, Chekian, Kiang Si, dan Kwang Tung, karena propinsi-propinsi tersebut mempunyai tingkat kemakmuran yang rendah dan panen hasil pertanian mereka sering gagal karena sering terkena bencana alam (Lilananda 1998:9). Selain itu, tembok yang tebal, plafon yang tinggi, lantai marmer, dan beranda depan dan belakang yang luas juga menandakan adanya gaya Eropa dalam bangunan yang terdapat di Kawasan Pecinan Kota Pasuruan.
Peniruan bentuk bangunan kolonial telah mempengaruhi banyak bangunan di Indonesia, khususnya Kota Pasuruan dan sekitarnya. Gaya bangunan tersebut bukan hanya terdapat pada bangunan kolonial orang Eropa, tetapi juga terdapat pada bangunan rumah tinggal non Eropa. Hal yang wajar apabila pemilik berusaha menampilkan identitas dirinya pada tampilan bangunan dalam pembangunan atau menghias rumahnya. Melalui bentukan yang ada, dapat dilihat gaya atau langgam arsitektur yang sedang berkembang di Pasuruan saat itu.
Menurut Santoso (2003), seharusnya posisi sejarah dapat dijadikan kenangan yang lebih indah ketika ditempatkan kesejarahan tersebut pada posisi yang benar dan tepat. Keberadaan bangunan kuno di Kawasan Pecinan yang ada sebenarnya dapat dijadikan sebagai aset Kota Pasuruan. Bangunan kuno merupakan sebuah monumen hidup, karena merupakan bangunan bersejarah yang masih bersifat fungsional. Sangat disayangkan, beberapa pihak, termasuk pemerintah belum dapat menangkap keberadaan bangunan kolonial yang ada sebagai aset yang dapat digunakan sebagai salah satu kekayaan budaya lokal Pasuruan.
Perkembangan kawasan baik dari segi perubahan guna lahan maupun bangunan kurang memperhatikan aspek historis yang dimiliki oleh Kawasan Pecinan Kota Pasuruan, seperti adanya bangunan baru yang bentuk bangunannya tidak mencerminkan situasi di sekelilingnya, dan perubahan bentuk muka bangunan dari bentuk aslinya, sehingga kesan historis dalam bentuk arsitektur campuran Cina-Eropa pada kawasan tersebut memudar. Apalagi dengan status berupa kepemilikan pribadi, bangunan di Kawasan Pecinan Kota Pasuruan, seiring dengan perkembangan sektor ekonomi, dapat dengan mudah berubah menjadi bangunan komersial yang dapat menghilangkan identitas kawasan.

Elemen Pembentuk Kawasan

District
District merupakan kawasan-kawasan kota dalam skala dua dimensi. Sebuah kawasan district memiliki ciri khas yang mirip (bentuk, pola, dan wujudnya) dan khas pula dalam batasnya yang membuat orang merasa harus memulai atau mengakhiri. Karakter khusus yang dimiliki citra district di Kawasan Pecinan Pasuruan, antara lain dilihat dari fungsi dan karakter ruang luarnya. Kawasan yang memiliki fungsi yang homogen di Kawasan Pecinan adalah komplek perdagangan dan jasa di sepanjang Jalan Niaga. Kawasan Pecinan dikenal sebagai distrik perdagangan dikarenakan mayoritas pedagangnya adalah etnis Tionghoa. Selain itu, ruas Jalan Niaga memiliki kesamaan karakter ruang luar, yaitu deretan bangunan yang berbentuk ruko dua lantai. Keberadaan pertokoan di ruas Jalan Niaga telah mengalami perkembangan yang frontal seiring dengan perkembangan kawasan.
Berdasarkan sejarah, Jalan Niaga telah digunakan sebagai kawasan perdagangan sejak jaman kolonial. Hal ini dikarenakan fungsinya yang menghubungkan ke pusat kota, yaitu alun-alun. Kawasan pusat Kota Pasuruan juga memiliki potensi wisata religi melalui keberadaan Makam Kyai Hamid yang menarik wisatawan setiap minggunya, yang ditunjang dengan sarana perdagangan dan jasa di sekitarnya.
Pada Jalan Niaga, sisi jalannya telah dilengkapi dengan pedestrian. Kelancaran arus pergerakan kendaraan selain dipengaruhi oleh rute kendaraan dan parkir, juga dipengaruhi oleh pejalan kaki yang melintas. Diketahui bahwa pedagang kaki lima selain menggelar dagangannya di bahu jalan, sebagian juga menggunakan trotoar untuk berdagang, terutama di malam hari. Hal ini menyebabkan pejalan kaki menjadi tidak nyaman untuk menggunakan trotoar karena separuh lebar trotoar, yaitu sebesar 1 meter, digunakan oleh pedagang, sehingga pejalan kaki tumpah ke jalan. Barang-barang yang dijual di trotoar bervariasi, diantaranya yaitu jual beli emas, mainan, makanan, pakaian dalam, kepingan VCD, dan barang-barang yang terbuat dari plastik. Demikian halnya dengan pedestrian di Jalan Sulawesi yang seluruhnya telah digunakan untuk kegiatan perdagangan berupa warung dan VCD pada malam hari, sehingga menyulitkan mobilitas pejalan kaki.

Landmark

Secara fungsional Klenteng Tjoe Tik Kiong sudah dikenal masyarakat karena merupakan tempat ibadah dan sarana sosial khususnya bagi masyarakat keturunan Tionghoa, tidak hanya dari dalam kota saja tetapi juga yang berasal dari luar kota Pasuruan. Klenteng juga sering dikunjungi oleh masyarakat sekitarnya, meskipun bukan warga keturunan Tionghoa, terutama pada saat dipertunjukkannya pagelaran kesenian budaya Cina seperti Barongsai dan Wayang Cina.

Ketunggalan dan kekontrasan bentuk

Bangunan klenteng terbentuk dari struktur rangka kayu yang bila dikaji lebih jauh banyak memiliki makna filosofis pada bangunannya yang kaya akan simbol dan ornamen menurut kepercayaan Tionghoa. Bangunan klenteng bergaya arsitektur Cina yang masih asli, atap pelana dengan wuwungan berbentuk melengkung ke atas (chih wei), dan Tou-Kung yang merupakan sistem penyangga atap yang hanya dimiliki oleh bangunan Klenteng.
Klenteng Tjoe Tik Kiong sangat kontras dengan lingkungannya karena pada bagian pintu gerbang dan tiang-tiang kolom terdapat patung naga, pada dindingnya terdapat gambar dewa-dewa, dan pada atapnya terdapat detail khas Tiongkok dengan dominasi warna kuning dan merah.
Bentuk klenteng merupakan bentuk tunggal di Kawasan Pecinan Pasuruan yang spesifik, sehingga sangat baik sebagai landmark karena mudah dilihat dan mudah diingat. Lokasinya yang berada di perpotongan Jalan Lombok sisi barat dan timur dengan Jalan Bali, dengan jelas dapat terlihat ketika melintasi Jalan Jawa ataupun Jalan Soekarno-Hatta. Selain itu bangunan klenteng mencirikan keberadaan masyarakat Cina (Pecinan) di Kota Pasuruan, sehingga bangunan klenteng merupakan landmark Pecinan dalam skala kota bagi masyarakat Pasuruan. Selain memiliki nilai estetik dan historik, klenteng di Kawasan Pecinan juga memberikan manfaat yang bisa dirasakan semua masyarakat, tidak hanya bagi masyarakat Tionghoa di Pasuruan tetapi juga yang berasal dari luar kota.
Keberadaan Pecinan yang dibentuk pada masa kolonial mewariskan kebudayaan yang hingga saat ini masih diaplikasikan meskipun dulunya sempat mengalami pasang surut. Pada masa orde lama, banyak warga keturunan Cina yang dikatakan sebagai pendukung aktivitas PKI. Pada waktu itu pula hubungan antara Indonesia dengan Cina sangat mesra, sampai-sampai tercipta hubungan politik poros Jakarta-Peking. Pada masa inilah, setiap memperingati kemerdekaan, di Kota Pasuruan diadakan karnaval, termasuk tari Liong-liong yang merupakan kebudayaan Cina. Tari Liong-liong adalah tarian berbentuk naga dengan panjang sampai 5 meter yang dibawakan oleh 5 penari yang meliuk-liuk menyerupai naga yang sedang berjalan. Karnaval dimulai dari klenteng, melewati Jalan Niaga dan finish di alun-alun kota. Setelah meletusnya G30S/PKI, rezim orde baru melarang segala sesuatu yang berbau Cina. Segala kegiatan keagamaan, kepercayaan, dan adat istiadat Cina tidak boleh dilakukan lagi, yang dituangkan ke dalam Inpres No. 14 Tahun 1967. Di samping itu, mayarakat keturunan Cina dicurigai masih memiliki ikatan yang kuat dengan tanah leluhurnya dan rasa nasionalisme mereka terhadap Indonesia diragukan. Akibatnya, keluarlah kebijakan yang sangat diskriminatif terhadap mayarakat keturunan Cina baik dalam bidang politik maupun sosial budaya, termasuk larangan penggunaan bahasa Cina, sehingga kegiatan budaya dan keagamaan, seperti perayaan Imlek, dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan kegiatan di klenteng menjadi terhenti. Penggunaan bahasa Cina juga hanya di kalangan tertentu saja, khususnya mereka yang telah berusia lanjut. Masyarakat Tionghoa juga banyak yang beralih kepercayaan dari Kong Hu Cu menjadi kristen karena Kong Hu Cu sempat dilarang, sehingga peranan klenteng bagi masyarakat Tionghoa di Kawasan Pecinan semakin berkurang.
Setelah Orde Baru tumbang, Presiden Abdurrahman Wahid mencabut Inpres No. 14 Tahun 1967, sehingga kegiatan klenteng mulai semarak kembali, yaitu dengan mengadakan perayaan Imlek, atraksi barongsai, wayang Cina, tarian Liong-liong, dan melakukan berbagai upacara dan perayaan lainnya. Peranan klenteng beralih dari pusat keagamaan menjadi pusat kebudayaan karena banyak masyarakat Tionghoa yang meskipun beragama Kristen tetapi tetap mendatangi klenteng untuk belajar menulis kaligrafi Cina. Kebanyakan yang datang untuk belajar adalah yang telah berusia lanjut, sedangkan generasi mudanya sedikit sekali yang mau mengikuti karena sudah tidak mengenal kebudayaannya lagi, bahkan tidak jarang generasi mudanya tidak bisa berbahasa Cina dan kurang mengenal marga keluarga, dikarenakan telah bergesernya nilai-nilai yang dianut masyarakat Tionghoa di Kawasan Pecinan Pasuruan.
Namun untuk saat ini, meskipun larangan perayaan keagamaan telah dicabut, pihak klenteng selaku pengurus kegiatan kesenian budaya di Kawasan Pecinan menyatakan belum berani untuk melakukan kegiatan kesenian di luar klenteng kecuali mendapat undangan di suatu tempat, dikarenakan belum mendapat ijin dari dewa-dewi yang disembah untuk melakukan kegiatan seperti karnaval peringatan hari kemerdekaan.

Humanisme dalam Wajah Bangunan dan Ornamen (Ragam Hias)

Rumah tinggal merupakan ekspresi langsung dari perubahan nilai, images, dan juga gaya hidup pemiliknya. Interior, maupun eksterior sebuah rumah merupakan manifestasi simbolik dari nilai kebudayaan dan kesenian masyarakat pada jamannya. Rumah tinggal merupakan gambaran dan hasil refleksi/cerminan pola kehidupan pemiliknya dan komunitasnya dalam proses kehidupan serta lingkungannya. Seni arsitektur dalam sebuah lingkungan merupakan ekspresi dan cerminan pola hidup dan nilai bersama yang dianut oleh sekelompok masyarakat. Agama/kepercayaan, budaya, adat istiadat, pekerjaan crafmanship, senia, dan juga aktivitas (perdagangan, perkebunan) merupakan hal-hal yang berpengaruh terhadap bentukan fisik suatu karya arsitektur. Arsitektur dapat di-interpretasikan sebagai sebuah perwujudan dari ide yang muncul dan berkembang dari masa lalu, dan juga masa sekarang (saat pembangunan).
Etnis Tionghoa yang kaya, membangun rumahnya dengan megah, menggunakan bahan berkualitas, serta begitu banyak detail ornamen dan pekerjaan crafmanship yang dapat ditemukan pada bangunan-bangunan tersebut. Bangunan megah milik etnis Tionghoa paling banyak ditemukan pada koridor Jalan Soekarno-Hatta, yang merupakan kawasan elit pada masa kolonial, karena merupakan jalan arteri primer, yang merupakan bagian dari Jalan Anyer-Panarukan yang dibangun pada masa Pemerintahan Daendels. Pada koridor Jalan Soekarno-Hatta dulunya terdapat delapan buah bangunan rumah tinggal yang sangat megah, dan terkenal dengan sebutan ‘Gedhong Wolu’. Bangunan-bangunan tersebut merupakan milik etnis Tionghoa, yang memiliki peranan penting dalam perekonomian di Pasuruan. Dalam studi, bangunan-bangunan tersebut antara lain adalah SH 1, SH 2, SH 4, SH 6, SH 9, dan SH 10.
SH 1 pemilik awalnya merupakan seorang bermarga Han, yang merupakan seorang pedagang dan pengusaha. Beliau juga dipercaya oleh Belanda sebagai Mayor, yang bertugas untuk memantau kegiatan etnis Tionghoa di Kawasan Pecinan. Status sosial pemilik rumah SH 1 ini terlihat dari luasan bangunan, dan skalanya yang cukup besar, dengan bangunan utama yang megah, ditambah dengan bangunan penunjang yang berfungsi sebagai guest house pada bagian kiri dan kanan bangunan penunjang. Guest House diperuntukkan bagi pedagang dari luar daerah yang tidak memiliki tempat menginap selama tinggal di Pasuruan. Pemilik rumah akan menjamu tamu-tamu yang menginap di guest house tanpa menarik biaya sedikitpun. Ini merupakan salah satu bentuk rasa kemanusiaan pemiliknya. Hal ini terus berlanjut sampai kepemilikan berikutnya oleh Keluarga Tholib. Kebudayaan dan seni yang tinggi dari etnis Tionghoa terlihat dari ornamen yang digunakan pada elemen-elemen bangunan. Pekerjaan crafmanship terlihat dari ornamen berupa patung, pada bagian atap, gable/gavel yang kaya dengan ornamen dekoratif, ukiran dan motif sulur pada railing balkon bangunan penunjang dan bouvenlicht, serta pada kaca grafir sebagai bahan daun pintu. Kepercayaan yang dianut oleh pemilik rumah terlihat dari adanya patung singa pada bagian kanan-kiri gable/gavel yang merupakan simbol dari penjaga rumah. Selain keberadaan patung singa, kepercayaan yang dianut oleh pemilik rumah juga terlihat dari adanya altar sembahyang permanen dari bahan batu bata yang diletakkan pada bagian ruang tengah dalam bangunan. Patung naga kembar dan burung hong, yang merupakan simbol keharmonisan dan pelindung rumah juga dapat dilihat pada beberapa bagian rumah, terutama pada batas antar ruang. Sesuai dengan budaya dan kepercayaan yang dianut, meskipun bangunan SH 1 merupakan bangunan dengan gaya kolonial Indisch Empire, akan tetapi, pintu depan dan belakang tidak dibuat secara simetris, akan tetapi sirkulasinya dibagi menjadi dua pada area ruang makan, dengan pemberian altar sembahyang pada bagian tengahnya. Hal ini dilakukan, karena menurut budaya dan kepercayaan etnis Tionghoa, pintu depan dan belakang yang simetris membuat rejeki pemilik rumah dengan mudah hilang. Budaya asal pemilik, masih terlihat dari atap bangunan yang menggunakan atap pelana, dengan bentukan khas atap Hsuan Shan yang merupakan bentukan khas atap arsitektur Cina. Aktivitas pemilik sebagai pedagang dan juga pemilik perkebuanan, membuat pemilik membuat atap bangunan dalam skala yang besar, dan menjadikannya sebagai ruang (mezzanine) untuk menyimpan hasil panen dan barang dagangan. Bahan bangunan yang berkualitas, serta lukisan pada bagian atap kamar tidur utama, merupakan cerminan gaya hidup dan status sosial pemiliknya. Meskipun pemilik merupakan etnis Tionghoa, akan tetapi keberadaan bangunan secara keseluruhan, mencerminkan adanya akulturasi kebudayaan antara kebudayaan lokal, Tionghoa, dan juga kebudayaan Barat. Setelah bangunan dibeli oleh Keluarga Tholib, ada penambahan beberapa elemen dekoratif bernuansa Islami, agar nuansa Tionghoa tidak terlalu kuat mendominasi.
Kasus bangunan lainnya adalah kasus bangunan SH 2., pemilik asli bangunan SH 2 ini juga seorang Mayor dengan marga Han juga. Bisnis yang dikuasai oleh keluarga Mayor Han adalah bisnis perdagangan, perkebunan, dan juga transportasi. Bangunan SH 2 merupakan bangunan gaya Romantiek yang dipadukan dengan gaya 1915-an. Bagian wajah bangunannya, pada setiap elemennya terdapat ornamen dekoratif dengan nilai seni yang tinggi. Atap bangunan merupakan atap gabungan, dengan skala yang besar, dan terdapat tower sebagai main interest bangunan. Ketika survey dilakukan ke lokasi bangunan, pemilik tidak mengijinkan untuk masuk ke dalam rumah, sehingga pengamatan hanya sebatas pada bagian wajah bangunan. Dari wajah bangunan, dapat diketahui mengenai budaya dan adat istiadat yang dimiliki oleh pemilik rumah. SH 2 merupakan bangunan dengan gaya kolonial yang dipadukan dengan budaya lokal, dan juga budaya Tionghoa. Unsur kolonial dapat terlihat dari elemen-elemen wajah bangunan, dan gaya yang mengadopsi gaya kolonial, sedangkan ornamen dan bahan yang digunakan yang digunakan merupakan perpaduan dari budaya barat dan budaya lokal, seperti plafond dari bahan kayu, dan juga hiasan pada bagian gable/gavel. Unsur budaya Tionghoa, terlihat dari patung-patung yang terdapat di sekitar halaman rumah. Patung-patung ini merupakan ekspresi seni masyarakat Tionghoa di Indonesia, yang menjadi begitu populer pada abad ke-19, hingga awal abad ke-20. Kepercayaan pemilik rumah dapat terlihat dari ornamen-ornamen yang digunakan pada wajah bangunan. Banyak ornamen yang menggunakan bentukan bulat mutiara yang dirangkai menjadi satu. Dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa, mutiara merupakan lambing dari Tuhan (Thian), bahkan pada pintu gerbang klentheng, mutiara tersebut biasa diletakkan ditengah-tengah dua buah patung naga yang saling berhadapan. Hal ini mengandung arti bahwa Tuhan (Thian) dilindungi oleh malaikat kerubim yang dimanifestasikan kedalam bentuk naga. Usaha transportasi yang dijalankan pemilik rumah, membuat pada bagian depan rumah terdapat sebuah bangunan kecil seperti gazebo yang berfungsi sebagai tempat isi bahan bakar. Aktivitas dagang dan perkebunan yang dijalankan oleh pemilik, juga membuat pemilik membuat atap bangunan tinggi, sehingga ruang kosong di dalamnya dapat dimanfaatkan sebagai gudang penyimpanan. Agar tidak lembab, atap diberi elemen dormer, sehingga sirkulasi udara dan cahaya matahari tetap bias masuk ke dalam ruangan atap. Bahan material yang digunakan untuk bangunan adalah bahan pilihan, seperti lantai marmer dan juga beberapa material yang langsung didatangkan dari Eropa.
HS 3 merupakan salah satu bangunan kolonial paling megah dan terkenal di Kota Pasuruan. HS 3 merupakan bangunan kolonial milik etnis Tionghoa yang tua di Pasuruan. Bangunan ini menggunakan gaya Indisch Empire sebagai gaya bangunan, dengan detail ornament dan pekerjaan crafmanship yang cukup rumit yang terdapat pada bagian wajah bangunannya. Pemilik asli bangunan, konon merupakan pengusaha paling kaya yang ada di Kota Pasuruan. Hampir segala jenis usaha dan bisnis penting di Kota Pasuruan dimiliki oleh Keluarga Kweek, yang merupakan pemilik bangunan HS 3 ini. Bangunan HS 3 dibangun sekitar awal abad ke-19. Status sosial pemilik, terlihat dari megahnya bangunan dengan skala yang cukup besar, dan bangunan utama masih ditunjang dengan keberadaan bangunan penunjang yang dipisahkan dengan courtyard, elemen khas bangunan dengan arsitektur Cina. Budaya dan kepercayaan Cina juga berpengharuh terhadap tata ruang dan juga elemen dekoratif pada bangunan. Hal ini dapat terlihat dari dua buah patung singa dengan ukuran besar yang diletakkan tepat di depan pintu gerbang bangunan. Patung singa ini merupakan simbol penjaga pintu, yang dalam budaya Cina dan arsitekturnya biasa dilambangkan dengan killin (sejenis singa dengan bulu ikal). Selain itu, terdapat altar sembahyang di ruang tengah bangunan, yang memecah sirkulasi ke area belakang rumah, sehingga pintu depan dan belakang terhalang dengan dinding altar. Di sekitar altar sembahyangan tersebut, terdapat dekorasi dan ukiran-ukiran bernuansa khas Cina. Menurut kepercayaan Cina, hal ini bisa digunakan untuk menahan rejeki dan menghindari nasib sial. Alkuturasi kebudayaan Jawa, Cina, dan juga kolonial, dapat terlihat dari penataan ruang, bentukan masa, bangunan, dan juga elemen dan ornamen yang terdapat pada bangunan. Unsure budaya Jawa terlihat dari koleksi seperangkat gamelan, keris, dan juga tombak yang dimiliki pemilik rumah. Alat musik dan senjata khas Jawa ini masi terawat dengan baik sampai saat ini, dan diletakkan di salah satu sudut bangunan. Alat musik biasa digunakan pada saat pemilik rumah mengadakan jamuan, dan biasanya juga dipadukan dengan adanya pertunjukkan seni wayang kulit. Pemilik rumah juga menyediakan panggung sendiri untuk pertunjukan tersebut. Pada bagian panggung tersebut, terdapat ukir-ukiran khas Jawa yang banyak ditemukan pada bangunan joglo. Kebudayaan Jawa juga terlihat dari penempatan dua buah payung besar yang biasa dipakai untuk memayungi pejabat kerajaan Jawa, pada ruang tamu. Budaya kolonial terlihat dari gaya bangunan, dan juga bahan material yang digunakan, seperti lantai marmer, dinding porselen pada bagian kamar tidur, adanya serambi yang cukup luas pada bagian depan dan belakang bangunan, serta elemen-elemen seperti pintu dan jendela rangkap ganda, serta keberadaan gable/gavel, balustrade, dan juga bouvenlicht pada wajah bangunan. Bahan material yang bergaya kolonial, seperti lantai marmer, dan elemen-elemen lainnya, termasuk sanitair, memang sengaja didatangkan dari Eropa, dan hal ini bukan hal sulit, mengingat status Kota Pasuruan, sebagai kota pelabuhan dagang pada masa itu. Seni memahat dan juga seni patung, yang banyak digemari oleh etnis Tionghoa di Indonesia pada abad ke-19, sampai awal abad ke-20, juga dapat terlihat dari banyaknya patung yang diletakkan pada bagian wajah bangunan, seperti patung malaikat, burung hong, dan patung singa. Patung malaikat dan juga beberapa patung lainnya seperti patung pot bunga, ukiran bunga Lily dan juga patung angsa, merupakan elemen-elemen yang sarat dengan makna simbolik dalam seni Eropa, sedangkan patung singa dan burung hong, memiliki makna simbolik dalam kepercayaan, dan juga seni dalam kebudayaan Tionghoa.

Arahan Pelestarian

Arahan pelestarian dimaksudkan sebagai upaya melestarikan bangunan dalam Kawasan Pecinan. Makna yang dipertahankan dapat berupa nilai historis, arsitektural, dan kebudayaan yang menunjukkan kualitas hidup manusia dalam kawasan. Kegiatan pelestarian yang diterapkan pada arahan pelestarian adalah preservasi 8 bangunan, konservasi 21 bangunan, dan rehabilitasi sebanyak 17 bangunan. Untuk aspek sosial budaya adalah dengan meningkatkan masyarakat lokal terhadap pelestarian tradisi kesenian yang terdapat di Kawasan Pecinan.
Penciptaan suasana tradisional dilakukan dengan mempertahankan potensi lingkungan yang menonjol. Dalam melestarikan ruh koridor Jalan Niaga sebagai kawasan niaga, maka aspek yang perlu difokuskan dalam upaya pelestarian adalah fungsi kegiatan yang dibatasi pada kegiatan niaga (perdagangan dan jasa). Jalan Niaga merupakan distrik perdagangan Kawasan Pecinan yang telah ada sejak jaman kolonial hingga sekarang. Meskipun tampilan bangunan di koridor Jalan Niaga telah berubah total, namun suasana sebagai kawasan perdagangan kuno masih terasa melalui adanya toko-toko yang berderet seperti halnya pada masa kolonial. Jalan Niaga merupakan jalan kolektor primer yang sering dilalui untuk menuju pusat kota, sehingga masyarakat yang melewati Jalan Niaga akan merasakan kekhasan Pecinan sebagai kawasan perdagangan melalui keberadaan ruko. Bentuk pengendalian yang dapat dilakukan adalah dengan mempertahankan fungsi di Jalan Niaga dan mempertahankan konsep ruko di koridor Jalan Niaga dengan tidak merubah ke bentuk yang lebih modern seperti bentuk mall modern, sehingga dalam pembangunan baru dapat disesuaikan dengan karakter lingkungan yang telah ada dan tidak terlihat kontras dengan lingkungan yang telah terbentuk sejak jaman kolonial.
Menambah jumlah dan jenis node, yaitu klenteng. Hal ini dilakukan dengan memperkuat keberadaan dan peranan klenteng di Kawasan Pecinan, sehingga klenteng dapat dijadikan sebagai pusat kegiatan kesenian, sosial, dan religi di Kawasan Pecinan lagi, terutama setelah klenteng mengalami mati suri pada masa setelah kemerdekaan.
Memperkuat landmark yang ada dengan pembenahan dan penataan yang semakin memperkuat kekhasan dan ketunggalan bentuk dari landmark tersebut, yaitu penambahan hiasan berupa lampion-lampion untuk klenteng. Selain itu warna dan bentuk arsitektural pada klenteng tetap dipertahankan, seandainya diperlukan perbaikan atau penambahan ruangan, harus disesuaikan dengan bentuk yang telah ada.

Penutup
Tipologi wajah bangunan kolonial dapat ditentukan berdasarkan era/periode pembangunan, elemen yang terdapat pada wajah bangunan, dan juga berdasar gaya kolonial yang diadopsi. Kondisi Pasuruan pada masa kolonialisasi Belanda, dan banyak etnis yang bermukin di Pasuruan, telah menghadirkan sebuah arsitektur baru dengan jenis eklektik. Arsitektur eklektik ini dapat terlihat pada bangunan-bangunan kolonial di Kawasan Pecinan, yang dibangun oleh etnis Tionghoa. Hidup berdampingan dengan bangsa Eropa dan juga pribumi membuat etnis Tionghoa mengalami akulturasi budaya dengan budaya di sekitarnya. Budaya tersebut kemudian berpengaruh terhadap kehidupan sehari-hari mereka, termasuk dalam bangunan rumah tinggal mereka, yang merupakan cerminan kepribadian dan kebudayaan pemiliknya.
Ragam hias bangunan terdapat pada bagian, kepala, badan, dan kaki, yang bentuknya menyesuaikan dengan dengan gaya bangunan yang digunakan pada bangunan, yaitu gaya Indisch Empire, Voor 1990, NA 1990, dan gaya 1915-an. Ragam hias yang terdapat pada bagian kepala bangunan kolonial di Kawasan Pecinan adalah gavel, windwijzer, tower, hiasan puncak atap, bouvenlicht, dan konsul teritisan. Motif yang digunakan pada kepala bangunan adalah motif geometris, bebas, dan campuran dengan pola simetri pada setiap ragam hias bangunan.
Arahan pelestarian untuk bangunan terdiri dari arahan fisik dan non fisik. Non fisik meliputi aspek hukum, aspek ekonomi dan aspek sosial budaya. Arahan untuk bangunan diintegrasikan dengan arahan fisik meliputi kegiatan preservasi, konservasi, dan rekonstruksi/renovasi. Arahan pelsetarian fisik kawasan terdiri dari arahan guna lahan, sirkulasi dan parkir, jalur pedestrian, penciptaan suasana tradisional, pembentukan identitas melalui citra kawasan dan elemen jalan bersejarah, yaitu koridor Jalan Niaga.

Daftar Pustaka
Antariksa (2005). Permasalahan Konservasi dalam Arsitektur dan Perkotaan. Jurnal Emas. 15 (1): 66.
Catanese, A J. & Snyder, J.C (1992). Perencanaan Kota (ed). Jakarta: Erlangga.
Erwin, B (2000). Pelestarian dan Pengembangan Kawasan Bersejarah. Jurnal Emas. X (23): 23.
Fahruddin (2002). Transformasi Tatanan Permukiman sebagai Akibat Pembangunan Ekonomi di Pasuruan. Tesis. Tidak dipublikasikan, Surabaya: ITS.
GNU Free Documentation License (2005). Babad Pasuruan. http://id.wikipedia.org/wiki/babadpasuruan.html (13 Maret 2007)
Handinoto (1999). Lingkungan Pecinan dalam Tata Ruang Kota di Jawa pada Masa Kolonial. Jurnal Dimensi 27 (1): 20.
Handinoto (1999). Sekilas tentang Arsitektur Cina di Pasuruan. Jurnal Dimens Arsitektur. 27 (2): 1.
Lilananda, R.P. (1998). Inventarisasi Karya Arsitektur Cina di Kawasan Pecinan Surabaya. Penelitian. Tidak dipublikasikan. Surabaya: Universitas Kristen Petra.
Nurmala (2003). Panduan Pelestarian Bangunan Tua/Bersejarah di Kawasan Pecinan-Pasar Baru, Bandung. Skripsi. Tidak dipublikasikan, Bandung: ITB
Panjaitan, T.W.S. (2004). Peranan Konservasi Arsitektur Bangunan Dan Lingkungan Dalam Melestarikan Identitas Kota (Kasus Kota Surabaya). Selasar. 1 (1): 44.
Pemerintahan Republik Indonesia 2004. Undang-undang No. 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya: Dinas Pendikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur.
Pontoh, N.K. (1992). Preservasi dan Konservasi Suatu Tinjauan Teori. Jurnal PWK. IV (6):34-39.
Siregar, S.A. (2004). Kota Sebagai Arsitektur. Komposisi. 2 (1): 30.
Suprijanto, I 1996. Fenomenologi Melalui Sinkronik – Diakronik Suatu Alternatif Pendekatan Untuk Menjelajah Esensi Arsitektur Nusantara. SIMPOSIUM NASIONAL dalam Rangka Dies Natalis 34 Arsitektur – FTSP. ITS.
Tantri, A. W. (2006). Karakteristik Kawasan Pecinan Kota Kediri. Skripsi. Tidak dipublikasikan, Malang: Universitas Brawijaya.
Untung. (2001). Menelusuri Asal Muasal Pasuruhan, Pasuruan: Erlangga.
Widayati, N & Sumintardja, D. (2003). Permukiman Cina di Jakarta Barat (Gagasan Awal Mengenai Evaluasi SK Gubernur No. 475/1993). Jurnal Kajian Teknologi. 5 (1): 1-24.
Wulandari, K. V. (2006). Pelestarian Kawasan Pusat Kota Pasuruan. Skripsi. Tidak dipublikasikan, Malang: Universitas Brawijaya.

Tulisan di atas telah dipresentasikan dalam Seminar Nasional Riset Arsitektur dan Perencanaan (SERAP) 1 HUMANISME, ARSITEKTUR DAN PERENCANAAN 16 Januari 2010, Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan Universitas Gadjah Mada.

COPYRIGHT © 2010 BY ANTARIKSA
Categories: Uncategorized Tags:

Perkembangan Permukiman dan Tipologi Rumah-Tinggal pada Perumahan Karyawan Pabrik Gula (Studi kasus: Pabrik Gula Pesantren Baru-Kediri)

January 10th, 2010 Comments off

Dian Wicaksono1, Antariksa2, Harini Subekti3


1 alumni Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

2 dosen Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

3 dosen Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Brawijaya


Abstract

Effects of Dutch clonialism in Indonesia are widely spread throughout regions, since Dutch clonialization took along times. Almost all aspects of development durung Ditch clonization left a strong footprints, especially in architecture. Sugar factory and its surrounding settlements is one of proofs where Dutch clonialisation gave a strong impact on architecture. Even though, they commonly have similar performance, but each of them has a special architecture. Even though, they commonly have similar performance, but each of them has a special architecture type. This study is aimed to study employee settlement of sugar factory that developed during Dutch colonization. Method of study is based on a case in Pesantren Baru Sugar Factory’s employee settlement in Kediri City, East Java. Analysis of study embarace site history, area development, and housing typology. Through its development process, it is known historically that this factory moved several times into different locations. This type of development inevitably differentiates from other sugar factories in Indonesia and produces many architectural styles and housing types on its employee settlement. This study also found that this type of development affects different layout of settlement areas that corresponds to periodical era (colonial and after-colonial period).


Keywords: housing development, housing typologi, sugar factory


Dian Wicaksono, Antariksa, Harini Subekti. 2009. Perkembangan Permukiman dan Tipologi Rumah-Tinggal pada Perumahan Karyawan Pabrik Gula (Studi kasus: Pabrik Gula Pesantren Baru-Kediri). Jurnal Arsitektur dan Perencanaan. Jurusan Arsitektur dan Perencanaan. Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada. Vol 3. No. 1. April. Hlm. 22-32. ISSN: 1829-6610.


Copyright © 2010 by Antariksa



Categories: Uncategorized Tags: