Archive

Archive for February, 2010

arsitektur e-Journal, Volume 2 Nomor 3, November 2009

February 14th, 2010 Comments off

arsitektur e-Journal, Volume 2 Nomor 3, November 2009 hal. 142-159


PELESTARIAN KAWASAN ALUN-ALUN KOTA MALANG


Dindar Rahajeng, Antariksa, Fadly Usman

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Jl. Mayjen Haryono 167 Malang 65145, Indonesia

Telp. 62-341-567886; Fax. 62-341-551430

Email: ajeng_namaku@yahoo.com


ABSTRAK

Alun-alun merupakan identitas kota maupun kabupaten di Jawa pada umumnya. Konsep keruangan alun-alun merupakan simbol kesatuan aktivitas yang bersifat filosofis-religius, politis, ekonomis dan kultural, namun dalam perkembangannya dari jaman kerajaan hingga sekarang selalu mengalami perubahan maupun pergeseran makna. Kawasan Alun-alun Kota Malang merupakan pusat pemerintahan Kabupaten Malang pada jaman dulu sekaligus merupakan lokasi awal pertumbuhan wilayah Malang. Identifikasi terhadap sejarah dan perkembangan kawasan Alun-alun Kota Malang dilakukan untuk menemukan potensi pelestarian pada kawasan alun-alun, sebagai wujud menghargai warisan budaya, perwujudan identitas dan mewarisi nilai sejarah. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif, analisis sinkronik diakronik perkembangan kawasan serta potensi pelestarian dengan penilaian makna kultural, nilai guna serta perkembangan kawasan. Kebijakan politik yang berpengaruh terhadap perkembangan kawasan alun-alun di antaranya: Staadblad 1819 No. 16, kebijakan UU Gula dan UU agraria (1870) UU desentralisasi (1903) serta proklamasi kemerdekaan RI. Ditinjau dari aspek politik perkembangan kawasan alun-alun terlihat pada perubahan massa bangunan, gaya bangunan dan fungsi bangunan. Ditinjau dari aspek ekonomi perkembangan kawasan alun-alun terlihat pada perubahan guna lahan, fungsi bangunan, kondisi fisik alun-alun serta aktivitas. Ditinjau dari aspek sosial budaya perkembangan kawasan alun-alun terlihat pada perubahan aktivitas, gaya bangunan serta citra kawasan. Potensi pelestarian di Kawasan Alun-alun Kota Malang ditemukan pada bangunan Hotel Riche, Toko Oen, Gereja Hati Kudus, Mall Sarinah, Kantor Pajak Pratama, Bank Indonesia, Kantor Kabupaten, Pendopo Kabupaten, Hotel Santoso, Kantor KPPN, Hotel Pelangi, Bank Mandiri, Masjid Jami’, Kantor Sekretariat Masjid Jami’, Gereja Imanuel, dan alun-alun.

Kata kunci: alun-alun, perkembangan kawasan, pelestarian


ABSTRACT

Alun-alun is common identity open space in many cities in Java. Spatial concept of alun-alun reflects a symbol integration of philosophical, religious, political, economical and cultural activities. The development of alun-alun Malang from the royal age throughout recent days indicates the modification of meaning. District of Alun-alun Malang refered to the core of the old government of Malang Regency and also become an early point of Malang growth. The identification with the history and the development of alun-alun district was the aim for finding the preservation aspect as an effort to appreciate urban heritage, preserve local identity, and history. The methods include descriptive analysis to identify characteristic of alun-alun district, sinkronik-diakronik analysis in order to explain the district development and analysis of cultural value and use value to find the potential preservation. Political policies affecting the development of alun-alun district involve: Staadblad 1819 No.16, Sugar Act and Agrarian Act (1870), Decentralization Act (1903) and Independence Proclamation of Indonesian Republic. Considering the political aspect the development of alun-alun district was seen by the change of building mass, building use and building style. Based on economical aspect the development of alun-alun district was seen by the change of land use, building use, form and pattern of alun-alun and activity. The social and cultural aspect indicated the change of activity, building style and image around the district. The preservation of alun-alun district was seen prominent by the existence of Riche Hotel, Oen Store, Hati Kudus Church, Sarinah Mall, Pratama Tax Office, Bank of Indonesia, Regency Office, Regency Mansion, Santoso Hotel, KPPN Office, Pelangi Hotel, Mandiri Bank, Great Mosque, Secretariat Office of Great Mosque, Immanuel Church, and alun-alun.

Key words: alun-alun, district development, preservation


arsitektur e-Journal, Volume 2 Nomor 3, November 2009 hal. 160-178


POLA PERMUKIMAN KAMPUNG KAUMAN KOTA MALANG


Ekahayu Rakhmawati, Antariksa, Fadly Usman

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Jl. Mayjen Haryono 167 Malang 65145

Telp. 62-341-567886; Fax. 62-341-551430

Email: ekahayu_planology@yahoo.co.id


ABSTRAK

Sejarah Islam di Indonesia telah menyisakan peninggalan/karya budaya yang berharga. Permukiman sebagai salah satu hasil budaya pada masa (kerajaan) Islam telah membentuk identitas lingkungan (district) yang turut memperkaya wajah kota secara keseluruhan. Kauman sebagai permukiman lslam merupakan suatu usaha untuk menggambarkan pola spasial Kauman sebagai permukiman islami (Islamic Village) berdasarkan peninggalan sejarah Islam di Jawa (kerajaaan Islam Mataram). Keseluruhan studi ini dapat dibagi menjadi tiga bagian besar yang meliputi penggambaran karakteristik pola permukiman Kampung Kauman Kota Malang, pola spasial permukiman dan pengaruh pembentukannya, serta membuat rekomendasi arahan penataan Kampung Kauman Kota Malang. Hasil studi berupa komponen yang menunjang terbentuknya permukiman, komponen-komponen yang tidak menunjang dan komponen-komponen koreksi atau pengayaan terhadap komponen yang telah dibuat secara konseptual (studi sebelumnya). Pembangunan lingkungan permukiman Kauman pada masa mendatang diharapkan dapat memperkuat identitas Kauman sebagai kampung islami (dengan memperhatikan komponen yang menujang keislaman), tanpa merusak nilai sejarah dan citra lingkungan sebagai salah satu komponen kawasan peninggalan pusat kota kerajaan/kadipaten. Untuk mencapai permukiman islami yang optimal, maka sangat penting untuk mempertimbangkan unsur budaya lokal dan karakteristik masyarakat dalam perumusan komponen perumahan islami.

Kata kunci: pola perumahan, Kampung Kauman, pelestarian.


ABSTRACT

Indonesian Islamic history was leaving priceless heritage. Housing as the one of heritage asset at the age of Islamic empire was formalize enviroment identity, that also enrich face of the city roundly. Kauman as Islamic village is an effort to describe Kauman spatial pattern as Islamic village, based on Islamic heritage on Java (Mataram Islamic empire). Over all this study can be divided into three major parts, that cover characteristic presentment of malang city’s ‘Kampung Kauman’ housing pattern, the spatial housing pattern and it’s establishment, and also recommend the guidance of Malang city’s ‘Kampung Kauman’ arrangement. Final results of the study are the elements that support village establishment, non support elements, and correction elements or enrichment of the element that have been made conceptually (the previous study). In the future, development of Kauman housing enviroment expected to strenghten Kauman identity as Islamic village, without ruin the history values and enviroment image as the one of empire city central area element. To achieve the best Islamic housing, it’s very important to consider local culture element and people characteristic under the fomularization of Islamic housing element.

Key words: housing pattern, Kampung Kauman, perpetuation.


arsitektur e-Journal, Volume 2 Nomor 3, November 2009 hal. 179-190


PERUBAHAN KAWASAN PECINAN KOTA TUA JAKARTA


Mauliandini Nur Noviasri, Antariksa, Fadly Usman

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Jl. Mayjend Haryono 167 Malang 65145 – Telp. (0341) 567886; Fax. (0341) 551430.

e-mail: andiniasri@gmail.com


ABSTRAK

Kawasan Pecinan Kota Tua Jakarta merupakan salah satu kawasan perdagangan tertua dan terbesar di Kota Jakarta bahkan di Asia Tenggara. Namun karena memiliki fungsi sebagai kawasan perdagangan maka hal tersebut dapat mengancam keberadaan bangunan cagar budaya yang banyak digantikan oleh bangunan modern. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi perubahan Kawasan Pecinan Kota Tua Jakarta menggunakan metode deskriptif (observasi lapangan dan data sekunder); dan untuk menganalisis faktor perubahan kawasan menggunakan metode deskriptif evaluatif (sinkronik diakronik dan analisis faktor). Hasil studi didapatkan bahwa terjadi perubahan pada node, path, district dan edge, tetapi tidak terjadi perubahan pada landmark. Untuk bangunan terdapat 47 bangunan yang mengalami perubahan besar, 20 bangunan perubahan sedang dan 17 bangunan yang tidak mengalami perubahan. Pada sinkronik-diakronik faktor yang mempengaruhi perubahan lingkungan dari masa ke masa adalah faktor ekonomi, politik dan sosial budaya. Untuk bangunan terbentuk 3 faktor, yaitu faktor bangunan, faktor eksternal, dan faktor pemilik.

Kata kunci : perubahan lingkungan, bangunan cagar budaya, Kawasan Pecinan


ABSTRACT

The Jakarta ancient Chinatown area is represented one of the biggest and eldest commerce area in Jakarta city and even in South-East Asia. However cause have a function as commerce area therefore can menace the existence of the cultural heritage buildings which replaced by many modern buildings. The aim of this study is to identify the changing of ancient Chinatown area in Jakarta used descriptive method (field observation and secondary data); and to analyze the changing factor area used evaluative descriptive method (synchronic – diachronic and factor analysis). The result of this study is acquired to arise the changing on node, path, district and edge, but there is changeless in landmark. For the buildings enclose of 47 buildings which to realize in large change, 20 buildings to realize in moderate change, and 17 buildings to realize changeless. At the synchronic – diachronic, the influence of environment changing factors from period to period are economic, politic, and socio-cultural. For the buildinsg is formed in 3 factors there are the building factor, external factor and the owner factor.

Keywords: environment change, cultural heritage buildings, Chinatown area


arsitektur e-Journal, Volume 2 Nomor 3, November 2009 hal. 191-207


PELESTARIAN POLA PERMUKIMAN MASYARAKAT USING

DI DESA KEMIREN KABUPATEN BANYUWANGI


Tri Kurnia Hadi Muktining Nur, Antariksa, Nindya Sari

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Jl. Mayjen Haryono 167 Malang 65145, Indonesia, Telp./fax. 62-341-7051558

E-mail: trikurnia_bwi@yahoo.com


ABSTRAK

Using adalah salah satu suku bangsa Indonesia yang hanya terdapat di Kabupaten Banyuwangi. Seiring dengan perkembangan jaman mengakibatkan permukiman Using semakin berkurang. Wilayah yang masih mempertahankan adat dan istiadat Using adalah Desa Kemiren. Tujuan studi ini adalah untuk mengidentifikasi karakteristik pola permukiman masyarakat Using yang berada di Desa Kemiren. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah metode deskriptif eksploratif. Hasil studi menunjukkan bahwa pola permukiman makro terbentuk akibat adanya pengaruh sosial budaya, fisik bangunan, guna lahan dan ruang-ruang budaya secara makro. Kegiatan sosial budaya dan religi masyarakat yang bersifat rutin dan menggunakan ruang yang bersifat tetap, dapat membentuk suatu pola ruang dalam permukiman secara temporer yang diantarnya adalah ruang rumah, pekarangan, sanggar kesenian, jalan dan sumber mata air. Dalam skala mikro, pola permukiman dipengaruhi oleh orientasi kosmologis bangunan yang menghadap ke jalan utama desa dan berorientasi utara-selatan; struktur bangunan yang diidentifikasi melalui tipe atap dan pola ruang dalam rumah; serta tata letak bangunan yang berkaitan dengan sistem kekerabatan. Topografi wilayah yang bergelombang mengakibatkan pengelompokan permukiman di wilayah yang landai, yaitu di bagian tengah wilayah desa. Kecenderungan perkembangan permukiman dari tahun ke tahun adalah memusat di sepanjang jalan utama yang dikelilingi oleh wilayah pertanian.

Kata kunci: pelestarian, pola permukiman, Using


ABSTRACT

‘Using’ is one of the Indonesian ethnic groups concentrated in Banyuwangi Regency. The settlement of ‘Using’ community has decreased nowadays. Kemiren Village is one of district in Banyuwangi Regency which maintain ‘Using’ tradition. The objective is to identify settlement pattern characteristics of ‘Using’ community in Kemiren Village. The method used in this study is descriptive explorative. The result shows that macro settlement pattern is formed by socio cultural, building physically, land use and cultural spaces in a macro manner. Socio cultural and religion activity could form space pattern temporarily in the settlement, such as house, yard, art workshop, main road and water spring. In micro scale, the settlement pattern was affected by the cosmological orientation of the building which face the main road and North-South orientation; the building structure identified through roof type and space pattern inside building; also the layout of the building related kinship system. Surging landscape made the settlement centered into the flatter area, in the middle of territory. The settlement grows tend to agglomerate along main road was surrounded by agriculture area.

Key words: preservation, the settlement pattern, ‘Using’


arsitektur e-Journal, Volume 2 Nomor 3, November 2009 hal. 208-228


PELESTARIAN POLA PERMUKIMAN TRADISIONAL SUKU SASAK

DUSUN LIMBUNGAN KABUPATEN LOMBOK TIMUR


Rina Sabrina, Antariksa , Gunawan Prayitno

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Jl. Mayjen Haryono 167 Malang 65145, Telp. 62-341-7051558

Email: sabrina_plano@yahoo.com


ABSTRAK

Karakter suatu suku dapat dilihat dari tradisi dan budaya terbentuk dalam suatu permukiman yang masih menjaga local wisdomnya. Ini terlihat dari permukiman tradisional yang terdapat pada Suku Sasak di Dusun Limbungan, dan mereka masih menjaga rumah adatnya dari segala bentuk perubahan. Tujuan studi adalah untuk mengidentifikasi karakteristik non fisik sosial budaya masyarakat, mengidentifikasi karakteristik fisik pola tata ruang permukiman yang terbentuk, menganalisis pola tata ruang permukiman tradisional yang terbentuk akibat pengaruh fisik, non fisiknya, dan kearifan lokalnya. Metode yang digunakan adalah deskriptif-evaluatif. Hasil studi menunjukkan bahwa konsep keruangan makro yang terbentuk dari tatanan fisik lingkungan hunian memperlihatkan adanya pembagian ruang permukiman berdasarkan guna lahan, yaitu tempat hunian di bagian tengah, dan lahan pertanian di bagian luar area permukiman. Struktur ruang permukiman tradisional Suku Sasak Limbungan terbentuk berdasarkan konsep filosofi, yaitu konsep arah sinar matahari, konsep terhadap Gunung Rinjani, konsep pembangunan rumah dan elemennya secara berderet, tanah berundak-undak, dan konsep bentuk rumah yang seragam terdiri dari rumah yang berjajar (suteran). Penempatan elemen rumah (Bale) berupa panteq memiliki posisi saling berhadapan dengan Bale. Pola pengembangan tata ruang masyarakat Sasak di Dusun Limbungan berorientasi pada nilai kosmologi berdasarkan sistem kepercayaan dan tradisi-tradisi masyarakat yang berbasis budaya dan menghasilkan ruang-ruang khusus.

Kata kunci: pola, permukiman tradisional, Sasak Limbungan, sosial budaya


ABSTRACT

The characteristics of an ethnic can be seen from the tradition and culture be formed in a settlement which are still protecting by their local wisdom. It can be seen in traditional settlement of the Sasak ethnic in Limbungan village, where they still waking their traditional house from all changes. The aim of this study is to identify the non physical of social culture characteristics of the community, and to identify the physical characteristics of the pattern layout of the settlement that formed, as well as analyses the pattern of the layout of the traditional settlement resulting from the influence of the culture social system of their community's, and even their local wisdom. The method used in this study is descriptive-evaluative. All data collected through field observation, questionnaires and in-depth interview. The study shown that the spatial concept is formed by physical characters of the settlement indicates a division of land use; housing area is located in the center of settlement, and farming area is located outside of the housing area. Traditional structure space settlement of the Sasak Limbungan ethnic is formed based on the philosophical concepts, the direction of the sun rays concept, against the mountain Rinjani concept, the development of the house and his element in a lined-up manner concept, and form of the house that uniform consists of the lined-up house (suteran) concept. The allocation elements of the house (Bale) take form of panteq have the position face each other with Bale. The pattern of development of layout community Sasak in Limbungan village is oriented in cosmology value based on belief system and the community's traditions which based on culture and producing special spaces.

Key words: pattern, traditional settlement, Sasak Limbungan, social culture


arsitektur e-Journal, Volume 2 Nomor 3, November 2009 hal. 229-241


PELESTARIAN POLA PERMUKIMAN DI DESA ADAT BAYAN

KABUPATEN LOMBOK UTARA


Adhiya Harisanti Fitriya, Antariksa, Nindya Sari

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Jl. Mayjen Haryono 167 Malang 65145, Indonesia, Telp. 62-341-7051558

Email: adhiyaharisanti@yahoo.co.id


ABSTRAK

Desa Adat Bayan merupakan salah satu desa tradisional di Pulau Lombok yang masih menjalankan dan menjaga adat istiadat kehidupan asli Suku Sasak-Bayan. Pola permukiman mengelompok di Desa Adat Bayan terbentuk oleh kondisi alam yang berbukit-bukit dan berdasarkan sistem kekerabatan yang kuat dalam kehidupan masyarakatnya. Tujuan studi ini adalah mengidentifikasi karakteristik pola permukiman di Desa Adat Bayan dan mengidentifikasi permasalahan pelestarian pola permukiman. Metode yang digunakan adalah deskriptif-eksploratif. Hasil studi diketahui bahwa pola permukiman di Desa Adat Bayan terdapat pembagian wilayah berdasarkan stratifikasi sosial kemasyarakatannya. Adanya awig-awig adat Bayan yang mengatur pembentukan pola perumahan sebagai bagian dari pola permukiman di Desa Adat Bayan. Selain itu, terdapat pola ini juga terbentuk berdasarkan kegiatan adat yang masih dilaksanakan masyarakat Desa Adat Bayan.

Kata kunci: pola permukiman, Sasak-Bayan, pelestarian


ABSTRACT

Bayan Village is one of traditional villages in Lombok Island that keeps the custom of Sasak-Bayan tribe. The settlement pattern in Bayan Village is formed by mountainous geographical condition and kinship. The objectives of this reseach are to identify the characteristic of settlement pattern in Bayan Village and to identify the problem of settlement pattern’s conservation. The method used in this reseach is descriptive-explorative. The results show that settlement pattern in Bayan Village is based on community’s social stratification. The presence of Bayan’s awig-awig, controlls the establishment of housing pattern as part of settlement pattern. Beside that, the pattern is also formed by traditional activities upheld by the community of Bayan Village.

Key words: the settlement pattern, Sasak-Bayan, conservation


Copyright 2010 © by Antariksa

Categories: Uncategorized Tags:

Melihat Sejarah dan Arsitektur Kawasan Pecinan

February 1st, 2010 Comments off
Antariksa

Aspek Historis Kawasan Pecinan

Hampir seluruh kota di Indonesia memiliki Kawasan Pecinan yang memiliki fungsi sebagai kawasan sentra perdagangan dan permukiman bagi etnis Cina. Pengamatan juga diperkuat dengan adanya klenteng di daerah tersebut, yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah saja tetapi juga memiliki peran yang besar dalam kehidupan komunitas Cina di masa lampau. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan Tillema dalam Handinoto (1990:5) bahwa, tipikal kota-kota Jawa pada masa kolonial ditinjau dari tata ruang dan bangunannya terdiri atas alun-alun, masjid, kantor pemerintahan, penjara, dan kampung Cina. Sampai saat ini di Kawasan Pecinan masih berdiri bangunan-bangunan dengan aplikasi budaya Cina, yaitu dengan bentuk atap lengkung yang dalam arsitektur Cina disebut atap pelana sejajar gavel.

Setiap daerah atau kawasan memiliki keunikan arsitektur tersendiri, yang terbentuk karena adanya kekhasan budaya masyarakat, kondisi iklim yang berbeda, karakteristik tapak, pengaruh nilai-nilai spiritual yang dianut, dan kondisi politik atau keamanan dari suatu kota atau daerah. Keunikan pada suatu daerah atau kawasan bersifat temporer, yaitu berubah seiring dengan perjalanan waktu. Dalam satu rentang waktu yang panjang, suatu kota atau daerah akan mengalami pergantian penguasa yang seringkali diikuti dengan adanya pergantian kebijakan. Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan turut mempengaruhi bentukan arsitektur dari suatu daerah atau kawasan (Tigor 2004: 40). Wujud fisik spasial kota-kota yang ada sekarang ini adalah produk sejarahnya masing-masing dan merupakan superimposisi lapisan zaman, cerminan berbagai kekuatan (budaya, politik, ekonomi, dan sebagainya) sepanjang proses pembentukannya (Sandi 2004: 30).

Hampir seluruh kota di Indonesia memiliki Kawasan Pecinan yang memiliki fungsi sebagai kawasan sentra perdagangan dan permukiman bagi etnis Cina. Terjadi berbagai macam keragaman dalam menentukan awal mula keberadaan Pecinan di Indonesia. Berbagai bukti dan catatan sejarah membuktikan keberadaan komunitas warga Tionghoa pada masa prakolonial. Kedatangan orang Tionghoa ke Asia Tenggara disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain karena bencana kelaparan, situasi politik, dan karena adanya peluang untuk membuka usaha. Faktor-faktor tersebut saling memperkuat satu sama lain yang kemudian mendorong sebagian orang Tionghoa untuk meninggalkan negara asalnya. Makin dikenalnya nama Indonesia dengan kondisi alamnya yang subur, kaya akan rempah-rempah, ditunjang dengan letaknya yang strategis dalam dunia pelayaran, membuat pedagang Cina berkeinginan untuk menetap di Indonesia. Tujuan bangsa Cina datang ke Indonesia, sebelum Belanda datang adalah untuk berdagang, mereka mencari rempah-rempah dari penduduk pribumi untuk dibeli atau ditukar dengan barang-barang yang mereka bawa (terutama kain sutera) dan kemudian dikirim ke Kanton, Hongkong dan Malaka (Lilananda 1993:25). Melalui ekspedisi yang dilakukan, mereka kemudian mengenal kepulauan Indonesia. Pada awalnya bangsa Cina banyak menetap di Pulau Sumatera, Pulau Kalimantan dan akhirnya sampai di Pulau Jawa.

Soedjatmiko dalam Lilananda (1993:27-30) mengatakan, lima abad setelah kedatangan Kubilai Khan di Pulau Jawa, orang-orang Tionghoa pernah didatangkan oleh pemerintah kolonial Belanda ketika menjajah Indonesia untuk mengisi sebuah kota yang baru didirikan Belanda, yaitu Batavia. Mereka tidak datang secara sukarela tapi dengan berbagai cara dipaksa oleh Belanda atau atas dasar jual beli, karena kondisi sosial ekonomi yang sulit di negeri asal mereka, orang Tionghoa seringkali menjual dirinya untuk mendapat kehidupan yang lebih baik di negeri rantau. Jumlah mereka terus bertambah, sehingga pemerintah Belanda tidak lagi mampu mengatur mereka. Pada tahun 1740 terjadi suatu insiden pembunuhan terhadap orang-orang Tionghoa secara besar-besaran di Batavia, apalagi ditambah dengan adanya tuduhan bahwa mereka ikut dalam gerakan tentara di Jawa Tengah melawan Belanda. Sejak terjadinya peristiwa berdarah tersebut, banyak orang Tionghoa meninggalkan Batavia untuk mendapatkan kehidupan yang lebih bebas. Peristiwa tersebut juga mendorong pemerintah Belanda mengeluarkan bermacam-macam peraturan yang membatasi aktivitas orang-orang Tionghoa di Batavia, terkonsentrasinya pemerintah kolonial Belanda di Batavia memberikan dampak luputnya pengawasan pemerintah kolonial Belanda kepada daerah-daerah di luar Batavia.

Untuk bisa melihat arsitektur Cina di suatu kota, biasanya harus melihat di daerah Pecinannya. Namun, untuk menentukan tempat bekas daerah Pecinan pada suatu kota tidaklah mudah. Hal ini selain karena perkembangan kota yang sangat cepat, juga karena biasanya daerah Pecinan tidak terdokumentasi dengan baik. Daerah Pecinan beserta peraturannya sudah dihapus sejak tahun 1900-an, meskipun penghapusan peraturan secara resmi baru dilakukan pada tahun 1920 (Handinoto 1990: 5-7).

Sampai saat ini di Kawasan Pecinan masih berdiri bangunan-bangunan dengan aplikasi budaya Cina, yaitu dengan bentuk atap lengkung yang dalam arsitektur Cina disebut atap pelana sejajar gavel. Bentuk atap yang ditemui di Kawasan Pecinan hampir sama dengan bentuk atap yang ditemukan di daerah Cina selatan. Kebanyakan imigran-imigran Cina yang datang ke Indonesia merupakan imigran yang berasal dari propinsi-propinsi di Cina bagian selatan seperti Fukien, Chekian, Kiang Si, dan Kwang Tung, karena propinsi-propinsi tersebut mempunyai tingkat kemakmuran yang rendah dan panen hasil pertanian mereka sering gagal karena sering terkena bencana alam (Lilananda 1998:9). Selain itu, tembok yang tebal, plafon yang tinggi, lantai marmer, dan beranda depan dan belakang yang luas juga menandakan adanya gaya Eropa dalam bangunan yang terdapat di Kawasan Pecinan.

Pada bagian lain Santoso (2003) mengatakan, seharusnya posisi sejarah dapat dijadikan kenangan yang lebih indah ketika ditempatkan kesejarahan tersebut pada posisi yang benar dan tepat. Keberadaan bangunan kuno di Kawasan Pecinan yang ada sebenarnya dapat dijadikan sebagai aset kota. Bangunan kuno merupakan sebuah monumen hidup, karena merupakan bangunan bersejarah yang masih bersifat fungsional. Sangat disayangkan, beberapa pihak, termasuk pemerintah belum dapat menangkap keberadaan bangunan kolonial yang ada sebagai aset yang dapat digunakan sebagai salah satu kekayaan budaya lokal.

Perkembangan kawasan baik dari segi perubahan guna lahan maupun bangunan kurang memperhatikan aspek historis yang dimiliki oleh Kawasan Pecinan kota, seperti adanya bangunan baru yang bentuk bangunannya tidak mencerminkan situasi di sekelilingnya, dan perubahan bentuk muka bangunan dari bentuk aslinya, sehingga kesan historis dalam bentuk arsitektur campuran Cina-Eropa pada kawasan tersebut memudar. Apalagi dengan status berupa kepemilikan pribadi, bangunan di Kawasan Pecinan kota, seiring dengan perkembangan sektor ekonomi, dapat dengan mudah berubah menjadi bangunan komersial yang dapat menghilangkan identitas kawasan.


Pengertian Kawasan Pecinan

Pada perkembangan di luar Cina, banyak dikenal lingkungan China Town atau Pecinan seperti di kota-kota negara Asia, Eropa, Amerika dan Australia dapat dijumpai China Town menjadi landmark kota yang menarik para turis mancanegara. Identitas China Town di negara-negara tersebut dengan karakteristik kegiatan yang hidup didalamnya, menjadi lingkungan bersejarah yang umumnya merupakan kumpulan/kelompok bangunan yang membentuk suatu komunitas masyarakat Cina dengan ciri/karakter bangunannya yang khas, memiliki berbagai dekorasi dan elemen-elemen serta pintu gerbang juga sebagai tempat aktvitas perdagangan (bisnis) retail seperti restoran, pertokoan, teater dan bangunan rekreasi lainnya (Widayati 2004:43-44). Kawasan Pecinan adalah kawasan yang merujuk pada suatu bagian kota yang dari segi penduduk, bentuk hunian, tatanan sosial serta suasana lingkungannya memiliki ciri khas karena pertumbuhan bagian kota tersebut berakar secara historis dari masyarakat berkebudayaan Cina (Lilananda 1998:1).


Kampung dan Rumah Tionghoa di Indonesia

Bentuk awal perumahan masyarakat Cina memang tidak banyak diketahui. Umumnya bangunan hunian mereka akan mengadopsi dengan bentuk umum bangunan hunian masyarakat asli di sekitar mereka. Pada saat Kolonial membangun perumahan bagi warga Belanda, maka komunitas Cina di dalam benteng tersebut akan mengikuti pola perumahan warga Belanda, yaitu bangunan rumah gandeng menerus dengan atau tanpa lantai bertingkat, dengan ukuran lebar rumah yang menghadap ke kanal atau jalan antara 5-8 meter. Bangunan rumah semacam ini disebut dengan tipe stads wooningen atau rumah kota. Pola ini kemudian berkembang menjadi pola bangunan rumah-toko yang terdapat di Pecinan (Widayati 2003).

Vasanty dalam Koentjaraningrat (1999), menyebutkan Kampung Tionghoa di kota-kota biasanya merupakan deretan rumah-rumah yang berhadapan dengan jalan pusat pertokoan. Deretan rumah-rumah itu, merupakan rumah-rumah petak di bawah satu atap, yang umumnya tidak mempunyai pekarangan. Sebagai ganti pekarangan, di tengah rumah, biasanya ada bagian tanpa atap untuk menanam tanam-tanaman, untuk tempat mencuci piring dan menjemur pakaian. Ruangan paling depan dari rumah selalu merupakan ruang tamu dan tempat meja abu. Biasanya ruang ini dipakai sebagai toko, sehingga meja abu harus ditempatkan di ruang belakangnya. Sesudah itu terdapat lorong dengan di sebelah kanan-kirinya terdapat kamar tidur. Di bagian belakang terdapat dapur dan kamar mandi. Ciri khas dari rumah masyarakat Tionghoa dengan tipe yang kuno adalah bentuk atapnya yang selalu melancip pada ujung-ujungnya (Chih-Wei), dengan ukir-ukiran pada tiang-tiang dari balok.

Dinyatakan pula bahwa di tiap-tiap Kampung Tionghoa selalu terdapat satu atau dua kelenteng. Bangunan klenteng biasanya masih memiliki bentuk yang khas dan kaya akan ukir-ukiran Tionghoa. Kuil-kuil yang dijelaskan di atas bukan merupakan tempat untuk beribadah, tetapi hanya merupakan tempat orang-orang meminta berkah, meminta anak, dan tempat orang mengucapkan syukur. Untuk itu ia membakar dupa kepada dewa yang melindunginya. (Vasanty dalam Koentjaraningrat 1999)


Ciri Bangunan Cina Kuno

Arsitektur Cina mengacu kepada sebuah gaya asitektur yang sangat berpengaruh di kawasan Asia selama berabad-abad lamanya. Prinsip-prinip struktur dari arsitektur cina telah membekas dan sulit untuk dihapuskan, dan apabila ada yang berubah, mungkin hanya pada unsure dekoratifnya saja. Sejak jaman Dinasti Tang, Arsitektur Cina telah memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap gaya arsitektur di Korea, Vietnam, dan Jepang.

Usia dari Arsitektur Cina sama tuanya dengan usia Peradaban Cina. Dari hampir semua sumber infomasi, literatur, gambar, buku-buku, terdapat bukti-bukti yang cukup kuat dan telah teruji, tentang fakta-fakta, bahwa Etnis Cina selalu menggunakan sistem konstruksi asli (lokal) yang menjaga dan memegang teguh prinsip-prisip karakteristiknya mulai dari jaman dahulu kala sampai saat ini. Di berbagai tempat yang mendapat pengaruh dari kebudayaan Cina, ditemukan bangunan-bangunan dengan sistem konstruksi yang sama.

Sistem konstruksi tersebut dapat menjaga dan menguatkan keberadaannya lebih dari ratusan tahun di daerah yang cukup luas dan tetap membekas sebagai sebuah arsitektur yang terus berkembang, menjaga dan memelihara prinsip-prinsip karakteristiknya, meskipun di Cina sendiri sudak terjadi berkali-kali serangan bangsa asing, baik dalam hal militer, intelektual, maupun spiritual. Hal ini membuktikan bahwa bangsa Cina memiliki peradaban yang sangat tinggi.

Pada awal abad ke-2, Bangsa Barat sudah mulai mengenalkan Arsitektur Barat ke Cina, bahkan mereka mendidik orang-orang Cina untuk belajar tentang Arsitektur Barat. Orang-orang Cina yang mempelajari Arsitektur Barat ini kemudian mengkombinasikan Arsitektur Tradisinal Cina dengan Arsitektur Barat, dengan dominasi Arsitektur Barat, akan tetapi hasilnya tidak terlalu maksimal. Selain itu, tekanan dan paksaan untuk pengembangan permukiman melalui Arsitektur Kontemporer Cina membutuhkan kecepatan konstruksi yang sangat tinggi dan lahan yang cukup luas, yang berarti bahwa bangunan dengan Arsitektur Cina tidak dapat dikembangkan di perkotaan besar, dan digantikan dengan bangunan modern. Meskipun demikian, segala macam ketrampilan seni konstruksi Cina masih digunakan pada arsitektur vernakular di daerah yang cukup luas di Cina.

Salah satu bentuk aplikasi budaya Cina yang masih dapat ditemui di Kawasan Pecinan adalah pada gaya bangunannya yang menonjolkan budaya Cina yakni dalam bentuk atap lengkung, yang dalam arsitektur Cina disebut atap pelana sejajar gavel. Bentuk atap yang ditemui di Kawasan Pecinan hampir sama dengan bentuk atap yang ditemukan di daerah Cina Selatan. Kebanyakan imigran-imigran Cina yang datang ke Indonesia merupakan imigran yang berasal dari propinsi-propinsi di Cina bagian selatan, seperti Fukien, Chekian, Kiang Si dan Kuang Tung, karena propinsi-propinsi tersebut mempunyai tingkat kemakmuran yang rendah dan panen hasil pertanian mereka sering gagal karena terkena bencana alam (Lilananda 1998:9).

Knapp dalam Lilananda (1998:9) menyatakan bahwa struktur bangunan Cina yang terdapat di Indonesia banyak dipengaruhi oleh bentukan yang ada di Cina Selatan. Hal ini dikarenakan imigran-imigran Cina yang datang ke Indonesia kebanyakan berasal dari propinsi-propinsi bagian selatan, seperti Fukien, Chekiang, Kiang Si, dan Kwang Tung. Secara garis besar bangunan Cina dapat dibedakan fungsi dan jenis bangunannya: Fungsi umum dan pribadi, jenis bangunannya (Rumah ibadah= klenteng dan vihara, rumah abu, rumah perkumpulan); Bangunan hunian dan usaha, jenis bangunannya (perdagangan dan jasa, ruko/hunian campuran, hunian, lain-lain [gudang dan gerbang], hiburan, dan olah raga). (Lilananda 1998: 36)

Pembagian ini terkadang sulit dibedakan secara tegas, karena terkadang terdapat beberapa bangunan yang berfungsi umum, tetapi juga berfungsi pribadi, misalnya bangunan ibadah, ada yang berfungsi untuk umum, tetapi ada pula bangunan ibadah yang berfungsi untuk pribadi, tetapi kerabat dekat bisa juga menggunakannya. Hunian biasanya digambarkan memiliki ciri khas, yaitu bergaya arsitektur Cina, yang dapat dijumpai pada bagian atap bangunan yang umumnya dilengkungkan dengan cara ditonjolkan agak besar pada bagian ujung atapnya yang disebabkan oleh struktur kayu dan juga pada pembentukan atap. Selain bentuk atapnya juga ada unsur tambahan dekorasi dengan ukiran atau lukisan binatang atau bunga pada bumbungannya sebagai komponen bangunan yang memberikan ciri khas menjadi suatu gaya atau langgam tersendiri. Terdapat lima macam bentuk atap bangunan bergaya Cina, yaitu (Widayati 2003:48): 1. Atap pelana dengan struktur penopang atap gantung (pelana di luar gavel) atau overhanging gable roof; 2. Atap perisai (membuat sudut) atau hip roof; Atap piramid atau pyramidal roof; 3. Atap pelana dengan dinding sopi-sopi (pelana sejajar gavel) atau flush gable roof; dan 4. Gabungan atap pelana dan perisai atau gable and hip roofs.


Bangunan ibadah

Klenteng

Fungsi klenteng dapat dibedakan dari beberapa segi, yaitu (Lilananda:1993): a. Segi keagamaan, tempat suci untuk menjalankan ibadah kepada Tuhan; Tempat melaksanakan pemujaan kepada dewa-dewi; Tempat melaksanakan penghormatan pada orang-orang suci; Tempat melaksanakan upacara keagamaan; dan Tempat menampung segala aktivitas (konsultasi, pendalaman, dan komunikasi) tentang hal-hal keagamaan; b. Segi sosial, tempat penyaluran dan pemberian bantuan/amal bagi umat yang kurang mampu serta pada fakir miskin; Tempat kontak sosial antar umat; dan Menyediakan tempat bermalam bagi umat yang membutuhkan ketika berkunjung kesana; c. Segi kebudayaan, menampung segala aktivitas untuk mempelajari kebudayaan (kesusastraan, tarian, barongsai) terutama di kalangan generasi muda; dan menjadi tempat tujuan wisata/rekreasi; d. Vihara, vihara adalah tempat/bangunan atau suatu kompleks bangunan tempat umat Buddha beribadah dan pada bangunan tersebut harus ada tempat yang khusus dimana patung sang Buddha diletakkan, juga terdapat tempat untuk umat berkhotbah yang dinamakan Dharmasala dan tempat tinggal untuk para biksu menginap yang disebut kuil (Lilananda:1993).


Bangunan Hunian dan Usaha

Rumah toko

Bangunan ini mempunyai dua fungsi, yaitu sebagai hunian di lantai atas dan di lantai bawah digunakan untuk berdagang. Inilah cikal bakal konsep ruko yang terlihat sekarang menjamur di kota-kota besar (Lilananda 1995:25).

Rumah besar/rumah keluarga

Pada bangunan ini tinggal satu keluarga dengan tiga generasi. Umumnya anak lelaki tertua yang tinggal di dalam rumah ini, meneruskan generasi orang tuanya, sampai pula beranak cucu yang juga sudah berkeluarga dan tinggal bersama dalam satu rumah. Ciri yang kuat dari rumah keluaraga ini, ada meja sembahyang atau meja abu leluhur setelah masuk dari pintu utama rumah keluarga ini. Pemujaan terhadap leluhur masih merupakan tradisi kuat dalam keluarga Cina (Lilananda 1995:25). Widodo dalam Lilananda (1990:51-52) menyatakan bahwa ciri-ciri rumah Cina adalah sebagai berikut: 1. pembagian zoning yang cukup jelas, yaitu publik, semi publik, privat, dan servis; 2. adanya dark alley (lorong) sebagai sirkulasi; dan 3. adanya courtyard sebagai penghubung antara rumah depan dan belakang.

Bentuk rumah courtyard khususnya di Cina memiliki tiga karakteristik yang terlihat sangat penting, yaitu bentuknya yang tertutup yakni biasanya bangunan dikelilingi oleh tembok-tembok yang memisahkan bangunan dengan lingkungan sekitarnya, simetri dan struktur hirarkinya. Courtyard terbentuk oleh empat paviliun yang mengitari suatu pekarangan dalam. Empat paviliun ini sendiri juga menjadi sebuah dinding pada sebelah luarnya. Gerbang yang merupakan akses menuju courtyard hampir selalu diletakkan pada sudut tenggara dengan pertimbangan Hong-Sui. Pintu ini menuntun kita pada courtyard yang pertama, yang paling tidak penting tingkatannya, misalnya untuk pembantu laki-laki, tamu atau keluarga yang tidak dekat hubungannya, atau keluarga yang paling miskin.

Court yang pertama, melewati pintu kedua menuju courtyard kedua yang merupakan court utama, dan terdapat dua buah bangunan yang berseberangan dan menghadap selatan. Bangunan ini merupakan tempat berkumpul keluarga inti dan bangunan di seberangnya merupakan tempat istirahat dan tidur. Pada sisi timur dan sisi barat court utama terdapat tempat tinggal keluarga generasi kedua. Berseberangan dengan bangunan ini dibangun ruang service, dapur dan lain sebagainya. Pada banyak kasus ditemukan, di belakang bangunan utama terdapat court ketiga yang merupakan tempat tinggal selir dan pembantu tinggal, kadang-kadang dapur juga ditemukan di sini (Lilananda 1998:16-18). Gambaran dari bentuk sebuah bangunan courtyard di Cina (Gambar 2).


Rumah kampung

Rumah kampung merupakan rumah rakyat masyarakat Cina pada masa lalu. Sekarang, umumnya sudah berbaur dengan berbagai etnis lain, tetapi ciri bangunan rumah kampung dengan arsitektur Cina masih kuat terlihat dari tatanan rumah dalamnya (Lilananda 1995:25).


Arsitektur kolonial milik etnis Tionghoa di Indonesia

Skala arsitektur bangunan Cina, berbeda dengan bangunan di Eropa, lebih menunjukkan skala manusia daripada Tuhan. Emperan yang rendah digaris beranda depan dan ketinggian wuwungan yang masih empat kali tinggi manusia memberikan inpreresi masih bisa dicapai oleh manusia yang hidup di halaman sekitarnya. Bahkan bangunan dua lantai yang tingginya lima sampai enam kali tinggi manusia, dengan pengaturan teritisan yang rendah tetap memberikan kesan kehangatan yang sangat manusiawi.


Beberapa karakter arsitektur Cina

Pada buku tulisan Gin Djin Su (1964) dijelaskan bahwa karakter arsitektur Cina dapat dilihat pada: 1. Pola tata letaknya, pola tata letak bangunan dan lingkungan merupakan pencerminan keselarasan, harmonisasi dengan alam. Ajaran Konghucu dimanifestasikan dalam bentuk keseimbangan dan harmonisasi terhadap adanya konsep ganda. Keseimbangan antara formal dan non-formal. Formalitas dicapai dengan bentuk denah rumah atau peletakan bangunan yang simetris. Non-formalitas dicapai dalam bentuk penataan taman yang khas dinamis dan tidak simetris. Keduanya membentuk satu kesatuan yang seimbang dan harmonis; 2. Keberadaan panggung dan teras depan/balkon, panggung dan teras depan/balkon digunakan sebagai ruang transisi; dan 3. Sistem struktur bangunan, sistem struktur merupakan sistem rangka yang khas dan merupakan struktur utama yang mendukung bobot mati atap. Beban yang disangga struktur utama disalurkan melalui kolom. Rangkaian sistem kolom dan balok merupakan suatu hal yang spesifik. Umumnya, struktur bangunan merupakan rangka kayu di mana rangka tersebut menerima beban atap yang diteruskan ke bawah melalui kolom-kolom. Pintu dan jendela merupakan pengisi saja, oleh karena itu bisa bersifat fleksibel, sedangkan pintu dan jendela pada bagian teras menggunakan sistem bongkar-pasang (knock down). Sistem kuda-kuda yang digunakan merupakan khas arsitektur Cina, yaitu kuda-kuda segi empat. Lantai atas umumnya merupakan lantai-lantai papan yang disangga oleh balok. Plat beton ini juga dipakai untuk lisplank serta atap. Beban bergerak dan beban mati yang diterima lantai diteruskan ke dinding untuk diteruskan ke pondasi. Semua proporsi dan aturan tergantung pada sistem standart dimensi kayu dan standard pembagiannya. Keseluruhan bangunan Cina dirancang dalam modul-modul standard dan modulor dari variabel ukuran yang absolut proporsi yang benar melindungi dan mempertahankan hubungan harmoni bagaimanapun besarnya struktur. Di dapat satu kenyataan bahwa arsitektur Cina berkembang sesuai dengan jamannya. Semua evolusi yang terjadi adalah pada proporsinya. Skala arsitektur bangunan Cina, berbeda dengan bangunan di Eropa, lebih menunjukkan skala manusia daripada Tuhan. Terasan yang rendah digaris beranda depan dan ketinggian wuwungan yang masih empat kali tinggi manusia memberikan inpreresi masih bisa dicapai oleh manusia yang hidup di halaman sekitarnya. Bahkan bangunan dua lantai yang tingginya lima sampai enam kali tinggi manusia, dengan pengaturan teritisan yang rendah tetap memberikan kesan kehangatan yang sangat manusiawi; 3. Tou-Kung, siku penyangga bagian atap yang di depan (teras) merupakan bentuk yang khas dari arsitektur Cina dan karena keunikannya, disebut tou-kung. Merupakan sistem konsol penyangga kantilever bagian teras sehingga keberadaannya dapat dilihat dari arah luar. Ornamen tou-Kung ini akan terlihat jelas pada bangunan-bangunan istana, kuil atau tempat ibadah dan rumah tinggal keluarga kaya. Ujung balok dihiasi dengan kepala singa yang berfungsi menangkal pengaruh roh jahat; 4. Bentuk atap, ada beberapa tipe atap yaitu, wu tien, hsieh han, hsuah han dan ngang shan ti. Studi arkeologis menerangkan bahwa, terdapat dua macam struktur kayu yang memberikan perbedaan besar pada perletakan kolom dan perbedaan sistem penyangga atap. Dua sistem konstruksi tadi adalah Tai Liang dan Chuan Dou. Dua sistem struktur ini, menurut arkeolog berasal dari dua cara membangun rumah tinggal. Tailiang berasal dari gua primitif yang berkembang di Cina Utara dan Chuan Dou berasal dari rumah di atas pohon (Knapp, 1986: 6-7). Sistem struktur Tai Liang adalah sistem tiang dan balok yang mana balok terendah diletakkan di atas kolom ke arah lebar bangunan. Sistem struktur kedua dinamakan Chuan Dou. Sistem ini memiliki Kolom-kolom yang didirikan kearah tranvesal dan saling di ikat; dan 5. Penggunaan warna, penggunaan warna pada arsitektur Cina juga sangat penting karena jenis warna tertentu melambangkan hal tertentu pula. Hal ini berkaitan dengan kepercayaan-kepercayaan yang berkaitan dengan orientasi baik dan buruk. Prinsip dasar komposisi warna adalah harmonisasi yang mendukung keindahan arsitekturnya. Umumnya warna yang dipakai adalah warna primer seperti kuning, biru, putih, merah dan hitam yang selalu dikaitkan dengan unsur-unsur alam seperti air, kayu, api, logam dan tanah. Warna putih dan biru dipakai untuk teras, merah untuk kolom dan bangunan, biru dan hijau untuk balok, siku penyangga, dan atap. Warna-warna di sini memberikan arti tersendiri, warna biru dan hijau berada di posisi timur dan memberikan arti kedamaian dan keabadian, warna merah berada di selatan dan memberikan arti kebahagiaan dan nasib baik, sedangkan warna kuning melambangkan kekuatan, kekayaan, dan kekuasaan. Putih berada di barat dengan arti penderitaan (duka cita) dan kedamaian. Hitam berada di utara yang melambangkan kerusakan. Warna-warna tersebut di antaranya: a. Warna merah yang melambangkan kebahagiaan; b. Warna kuning juge melambangkan kebahagiaan dan warna kemuliaan; c. Warna hijau melambangkan kesejahteraan, kesehatan, dan keharmonisan; d. Warna putih melambangkan kematian dan berduka cita; e. Warna hitam merupakan warna netral dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari; dan f. Warna biru gelap juga merupakan warna berduka cita; 6. Gerbang, Gih Djin Su memasukkan pintu gerbang sebagai Ciri Arsitektur Cina, khususnya bangunan rumah tinggal. Pintu gerbang biasanya berhadapan langsung dengan jalan menghadap ke selatan (orientasi baik). Pintu gerbang ini berfungsi sebagai ruang transisi antar luar bangunan dan di dalam bangunan. Pada pintu gerbang biasanya dipasang tanda pengenal penghuni dan juga gambar-gambar dewa atau tokoh dalam Mitos Cina atau tulisan-tulisan yang berfungsi sebagai penolak bala; dan 7. Detail balkon, detail balkon atau angin-angin biasanya menggunakan bentuk-bentuk tiruan bunga krisan atau bentuk kura-kura darat, yang memiiki makna panjang umur.


Arsitektur kolonial milik etnis Tionghoa di Indonesia

Skala arsitektur bangunan Cina, berbeda dengan bangunan di Eropa, lebih menunjukkan skala manusia daripada Tuhan. Emperan yang rendah digaris beranda depan dan ketinggian wuwungan yang masih empat kali tinggi manusia memberikan inpreresi masih bisa dicapai oleh manusia yang hidup di halaman sekitarnya. Bahkan bangunan dua lantai yang tingginya lima sampai enam kali tinggi manusia, dengan pengaturan teritisan yang rendah tetap memberikan kesan kehangatan yang sangat manusiawi.


Beberapa ciri dari arsitektur Tionghoa di daerah Pecinan sampai sebelum tahun 1900.

Khol (1984:22), menulis dalam “Chinese Architecture in The Straits Settlements and Western Malaya”, memberikan semacam petunjuk terutama bagi orang awam, bagaimana melihat ciri-ciri dari arsitektur orang Tionghoa yang ada terutama di Asia Tenggara. Ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut: 1. Courtyard, Courtyard merupakan ruang terbuka pada rumah Tionghoa. Ruang terbuka ini sifatnya lebih privat. Biasanya digabung dengan kebun/taman. Rumah-rumah gaya Tiongkok Utara sering terdapat courtyard yang luas dan kadang-kadang lebih dari satu, dengan suasana yang romantis. Di daerah Tiongkok Selatan tempat banyak orang Tionghoa Indonesia berasal, courtyard nya lebih sempit karena lebar kapling rumahnya tidak terlalu besar (Khol 1984:21). Rumah-rumah orang-orang Tionghoa Indonesia yang ada di daerah Pecinan jarang mempunyai courtyard. Kalaupun ada ini lebih berfungsi untuk memasukkan cahaya alami siang hari atau untuk ventilasi saja. Courtyard pada Arsitektur Tionghoa di Indonesia biasanya diganti dengan teras-teras yang cukup lebar. Courtyard menjadi ukuran status penghuni ditambah ornamen-ornamen aristektur lain, baik dalam wujud inskripsi yang menunjukkan tingkat intelektualitas maupun dalam wujud simbol kosmologis yang menunjukkan status si pemilik di dalam masyarakat; 2. Penekanan pada bentuk atap yang khas. Semua orang tahu bahwa bentuk atap Arsitektur Tionghoa yang paling mudah ditengarai. Diantara semua bentuk atap, hanya ada beberapa yang paling banyak di pakai di Indonesia. Di antaranya jenis atap pelana dengan ujung yang melengkung keatas yang disebut sebagai model Ngang Shan; 3. Elemen-elemen struktural yang terbuka (yang kadang-kadang disertai dengan ornamen ragam hias). Keahlian orang Tionghoa terhadap kerajinan ragam hias dan konstruksi kayu, tidak dapat diragukan lagi. Ukir-ukiran serta konstruksi kayu sebagai bagian dari struktur bangunan pada arsitektur Tionghoa, dapat dilihat sebagai ciri khas pada bangunan Tionghoa. Detail-detail konstruktif seperti penyangga atap (tou kung), atau pertemuan antara kolom dan balok, bahkan rangka atapnya dibuat sedemikian indah, sehingga tidak perlu ditutupi. Bahkan diekspose tanpa ada finishing tertentu, sebagai bagian dari keahlian pertukangan kayu yang piawai; dan 4. Penggunaan warna yang khas. Warna pada arsitektur Tionghoa mempunyai makna simbolik. Warna tertentu pada umumnya diberikan pada elemen yang spesifik pada bangunan. Meskipun banyak warna-warna yang digunakan pada bangunan, tapi warna merah dan kuning keemasan paling banyak dipakai dalam arsitektur Tionghoa di Indonesia. Warna merah banyak dipakai di dekorasi interior, dan umumnya dipakai untuk warna pilar. Merah menyimbolkan warna api dan darah, yang dihubungkan dengan kemakmuran dan keberuntungan. Merah juga simbol kebajikan, kebenaran dan ketulusan. Warna merah juga dihubungkan dengan arah, yaitu arah Selatan, serta sesuatu yang positif. Itulah sebabnya warna merah sering dipakai dalam arsitektur Tionghoa.


Budaya Cina dalam Arsitektur

Secara kosmologis, tradisi arsitektur Cina melambangkan semesta-langit dalam bentuk-bentuk bulat dan dunia-Bumi dalam bentuk kubus. Susunan aristektur berbatas dinding di Bumi biasanya ditemui dalam penataan geometris yang ketat, persegi panjang, maupun bujur sangkar, ditata berdasarkan arah mata angin. Arah utara-selatan menjadi acuan utama, mungkin karena secara klimatologis, angin udara yang dingin menjadi kontras terhadap angin selatan. Ruang ditata berlapis-lapis dalam suatu seri pola grid yang tegas baik bentukan ruang-ruang luar (coutryards) maupun dalam susunan ruang-ruang dalam.

Arsitektur Cina dibangun tidak dengan bahan-bahan permanen, mungkin ada hubungannya dengan negasi terhadap segala bentuk yang bersifat fana. Susunan geometris, ritual-ritual, dan nilai hadir lebih utama dari bangunan yang dianggap fana. Semua proporsi dan aturan tergantung pada sistem standart dimensi kayu dan standard pembagiannya. Dengan demikian keseluruhan bangunan Cina dirancang dalam modul-modul standard dan moduler dari variabel ukuran yang absolut proporsi yang benar melindungi dan mempertahankan hubungan harmoni bagaimanapun besarnya struktur.

Arsitektur khas Oriental, yang notabene berasal dari dataran Cina, memang memiliki akar budaya yang sangat tua dan dilestarikan dengan baik selama beribu-ribu tahun. Tak heran bila para keturunan Tionghoa bila berada di daerah baru juga selalu membawa budaya mereka yang mengakar kuat. Demikian pula dengan arsitektur khas oriental. Arsitektur ini pada dasarnya adalah arsitektur tradisional berornamen/berhias. Sama seperti kebudayaan Eropa yang memiliki ornamen atau hiasan khas arsitektur mereka, arsitektur khas oriental juga memiliki kekhasan bentuk-bentuk ornamentasi, seperti hiasan pada dinding, pintu dan jendela yang didasarkan pada mitos dan kepercayaan bangsa Tionghoa. Ornamen yang ada beragam dari ornamen geometris, motif tanaman dan binatang. Arsitektur Tionghoa tradisional sangat dipengaruhi oleh kepercayaan mereka, seperti patung dewa-dewa, naga. Ciri arsitektur lainnya seperti penggunaan Feng Shui untuk arsitektur cukup memberikan banyak batasan sekaligus kreativitas dalam penataan ruang, perabot dan aksesori rumah lainnya. Karakter bangsa Tionghoa yang juga cukup menghargai dunia material terlihat pada penggunaan hiasan yang sangat rumit, indah, serta bernilai seni tinggi, karena menunjukkan kekayaan secara material dianggap menambah martabat bagi sebagian orang Tionghoa tradisional. Sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kebudayaan Jawa, dan masing-masing bagian dari bangunan tradisional khas oriental selalu memiliki makna, dari atap hingga ke pondasinya.


Daftar Pustaka

Fahruddin (2002). Transformasi Tatanan Permukiman sebagai Akibat Pembangunan Ekonomi di Pasuruan. Tesis. Tidak Dipublikasikan. Surabaya: ITS.

Gin Djin Su 1964. Chinese Architecture, Last and Contemporer. Hongkong: The Sinpoh Amalgamated ltd.

GNU Free Documentation License (2005). Babad Pasuruan. http://id.wikipedia.org/wiki/babadpasuruan.html. (13 Maret 2007)

Handinoto (1999). Lingkungan Pecinan dalam Tata Ruang Kota di Jawa pada Masa Kolonial, Jurnal Dimensi Arsitektur. 7 (2) :20.

Handinoto (1999). Sekilas tentang Arsitektur Cina di Pasuruan, Jurnal Dimensi Arsitektur 7 (1):1.

Lilananda, R.P. (1998). Inventarisasi Karya Arsitektur Cina di Kawasan Pecinan Surabaya. Penelitian. Tidak dipublikasikan. Surabaya: Universitas Kristen Petra.

Nurmala (2003). Panduan Pelestarian Bangunan Tua/Bersejarah di Kawasan Pecinan-Pasar Baru Bandung. Skripsi. Tidak dipublikasikan. Bandung: Institut Teknologi Bandung

Siregar, S.A. (2004). Kota Sebagai Arsitektur. Jurnal Komposisi. 2 (1): 30.

Tantri, A.W. (2006). Karakteristik Kawasan Pecinan Kota Kediri. Skripsi. Tidak dipublikasikan. Malang: Universitas Brawijaya.

Untung (2001). Menelusuri Asal Muasal Pasuruhan. Pasuruan: Erlangga.

Widayati, N. & Sumintardja, D. (2003). Permukiman Cina di Jakarta Barat (Gagasan Awal Mengenai Evaluasi SK Gubernur No. 475/1993). Jurnal Kajian Teknologi. 5 (1): 1-24.

Wulandari, K. V. (2006). Pelestarian Kawasan Pusat Kota Pasuruan. Skripsi. Tidak diterbitkan. Malang: Universitas Brawijaya.

Copyright © 2010 by Antariksa


Categories: Uncategorized Tags: