Archive

Archive for July, 2010

arsitektur e-Journal, Volume 3 Nomor 1, Maret 2010

July 6th, 2010 Comments off

arsitektur e-Journal, Volume 3 Nomor 1, Maret 2010 hal. 1-13


KAWASAN BERSEJARAH KOTA TUA HINDIA BELANDA

DI BANDANEIRA MALUKU


Asia Ameliya Sahubawa, Antariksa, Fadly Usman

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Jl. Mayjen Haryono 167 Malang 65145

e-mail: ameliya_0914@yahoo.com


ABSTRAK

Degradasi fisik dan fungsi bangunan-bangunan peninggalan masa kolonial Belanda di Kota Bandaneira yang menyebabkan penurunan karakter dan aktivitas kawasan, menjadi latar belakang dari studi ini. Tujuan studi ini adalah untuk mengidentifikasi karakteristik elemen perancangan kawasan dan elemen citra kawasan yang membentuk kawasan Kota Tua Hindia Belanda di Bandaneira, serta mengevaluasi tingkat kualitas dan kepentingan kawasan berdasarkan persepsi pengunjung, dan tingkat potensial bangunan tua/bersejarah berdasarkan penilaian makna kultural. Metode analisis yang digunakan adalah metode deskriptif dan evaluatif. Hasil studi menunjukkan karakteristik Kawasan Kota Tua Hindia Belanda di Bandaneira yang sangat menonjol adalah ruang terbuka hijau, arsitektur bangunan kolonial, aktivitas pejalan kaki, serta citra kawasan yang terbentuk dari elemen bangunan tua/bersejarah dan lingkungan alamiah seperti vegetasi, pantai/laut, dan gunung. Berdasarkan persepsi pengunjung, diperoleh tingkat kualitas kawasan yang sedang dan tingkat kepentingan kawasan yang tinggi. Untuk tingkat potensial bangunan tua/bersejarah diperoleh 15 bangunan potensial tinggi, 17 bangunan potensial sedang, dan 11 bangunan potensial rendah.

Kata kunci: kawasan bersejarah, Hindia Belanda, Bandaneira


ABSTRACT

Physical degradation and the function of heritage buildings in the Dutch Colonial era that caused of decrease character and activities in Bandaneira as the background of this study. The purpose of this study are to identify the characteristics of design elements and image elements that formed the Old Dutch Indische City area in Bandaneira, and also to evaluate the level of performance and importance of the area which based on the perceptions of visitors. Methods that used in this study are descriptive and evaluative method, and potential level of old/historic buildings based on the scoring of cultural sense. The study shows the characteristics of the Old Dutch Indische City area in Bandaneira was dominated by green open space, colonial’s building architecture, pedestrian activity, and the area’s image that formed by the elements of the old/historical buildings and natural environment such as vegetation, beach/sea, and mountains. Based on the perceptions of visitors, obtained that the area has a middle level of performance and a high level of importance. For the potential level of old/historic buildings acquired 15 buildings of high potential, 17 buildings of medium potential and 11 buildings of low potential.

Keywords: historical area, Dutch Indische, Bandaneira


arsitektur e-Journal, Volume 3 Nomor 1, Maret 2010 hal. 14-23


ORNAMEN BANGUNAN RUMAH TINGGAL

DI KAMPUNG LAWEYAN SURAKARTA


Bernadetta Oktaviani Rahayuningtyas, Antariksa, Ema Yunita Titisari

Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Jalan MT. Haryono 167, Malang 65145. Tlp. 0341-567486

Email: bernadetta.oktaviani@hotmail.com


ABSTRAK

Kampung Laweyan merupakan salah satu kawasan sentra batik yang menjadi salah satu ikon budaya Kota Surakarta dan merupakan kampung batik tertua di Indonesia. Keberadaan Kampung Laweyan merupakan cerminan kemakmuran yang berhasil dicapai oleh saudagar batik terutama pada arsitektural bangunan rumah tinggalnya. Tujuan studi ini adalah mengidentifikasi dan menganalisis karakteristik ornamen bangunan di Kampung Laweyan Surakarta, mengidentifikasi adakah makna yang terkandung dalam karakter ornamen bangunan. Metode yang digunakan pada pada studi ini merupakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan historis. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan studi pustaka. Hasil studi menunjukkan bahwa karakteristik bentuk dari motif, pola, warna dan letak ornamen pada bangunan rumah tinggal Kampung Laweyan dipengaruhi oleh budaya dari ornamen itu sendiri. Makna khusus ditemukan pada ragam hias ornamen tradisional Jawa. Pada ornamen dengan pengaruh Eropa dan Arab tidak memiliki makna khusus.

Kata kunci: ornament dekoratif, makna budaya, Kampung Laweyan.


ABSTRACT

Kampung Laweyan is one of the batik’s centre regions which currently become one of cultural icon in Surakarta and is the oldest batik’s centre in Indonesia. Kampung Laweyan’s existence is a reflection of prosperity that achieved by batik’s merchant, especially on their home architecture. The purposes of this study are to identify and analyze the characteristic of the building’s ornament in Kampung Laweyan Surakarta and also to identify the meaning of the building’s ornament character. The method used in this study is descriptive method with qualitative historical approach. Data collection’s method carried out by observation, interview and literature study. The result of this study shown that the characteristic shape’s of motif, pattern, color and the place of the ornaments of houses in kampong Laweyan are influenced by cultural ornament itself. A special meaning is found at the Javanese traditional decorative ornaments. The ornaments with European and Arabic influences have no special meaning.

Keywords: decorative ornaments, cultural meaning, Kampung Laweyan


arsitektur e-Journal, Volume 3 Nomor 1, Maret 2010 hal. 24-39


PELESTARIAN POLA PERMUKIMAN

KAMPUNG BONTANG KUALA KOTA BONTANG


Puput Wahyu Budiman, Antariksa, Fadly Usman

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Jl. Mayjen Haryono 167 Malang 65145, Indonesia, Telp./fax. 62-341-7051558

E-mail: poet_chundank@yahoo.com


ABSTRAK

Permukiman Bontang Kuala merupakan cikal bakal berdirinya Kota Bontang. Perkembangan zaman yang semakin maju mengakibatkan permukiman masyarakat Bontang Kuala mulai berkurang. Tujuan studi ini adalah mengidentifikasi karakteristik pola permukiman masyarakat Kampung Bontang Kuala. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif eksploratif. Hasil studi menunjukkan bahwa permukiman makro terbentuk akibat adanya pengaruh sosial budaya, fisik bangunan, guna lahan dan ruang–ruang budaya secara makro. Kegiatan sosial budaya dan religi masyarakat yang bersifat rutin dan menggunakan ruang yang bersifat tetap dapat membentuk suatu pola ruang dalam permukiman secara temporer yang di antaranya adalah ruang rumah, jalan, sungai atau laut, dan anjungan (open space). Dalam skala mikro, pola permukiman dipengaruhi oleh orientasi kosmologis bangunan yang menghadap arah matahari terbit (timur), jalan dan laut; struktur bangunan yang diidentifikasi melalui tipe atap dan pola ruang dalam dalam rumah; serta tata letak bangunan yang berkaitan dengan sistem kekerabatan. Topografi wilayah yang landai terdapat di sepanjang aliran muara sungai pengelompokan permukiman di wilayah ini. Kecenderungan perkembangan permukiman dari tahun ke tahun adalah linear mengikuti pertambahan jaringan jalan dan mendekati anjungan (open space).

Kata Kunci: Kampung Bontang Kuala, pelestarian, pola permukiman


ABSTRACT

Bontang Kuala settlements is the origin of Bontang City. The settlement of Bontang Kuala community has decreased nowadays. The objective of this study is to identify settlement pattern characteristics of Bontang Kuala community in Bontang Kuala Village. The method used is descriptive explorative. The result shows that macro settlement pattern is formed by socio cultural, building physically, land use and cultural spaces in a macro manner. Socio cultural and religion activity could form space pattern temporarily in the settlement, such as house, wooden road, river or sea and anjungan as open space. In micro scale, the settlements pattern was affected by cosmological orientation of building which face the sunrise (east) and the sea; the building structure indentified through roof type and space pattern inside building; also the layout of building related kinship system. Slope landscape is along south to north made the settlement located along the mouth of river. The settlement grows linearly along the road and more close with the anjungan as the open space

Key words: Bontang Kuala village, preservation, settlement pattern


arsitektur e-Journal, Volume 3 Nomor 1, Maret 2010 hal. 40-53


POLA TATA RUANG DALAM RUMAH TINGGAL

MASA KOLONIAL DI KIDUL DALEM MALANG


Lathiyfah Shanti Purnamasari, Antariksa, Noviani Suryasari

Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Jl. Mayjen Haryono 167, Malang 65145, Telp. 0341-567486

Email: lathiyfah_shanti@yahoo.com


ABSTRAK

Rumah tinggal kolonial sudah menjadi bagian dari sejarah arsitektur Indonesia. Keberadaannya selama beberapa dekade telah membawa warna tersendiri bagi arsitektur Indonesia. Fokus pembahasan dibatasi pada kajian pola tata ruang dalam pada rumah tinggal kolonial di Kidul Dalem Malang. Hal ini dimaksudkan untuk menggambarkan pola tata ruang dalam pada rumah tinggal kolonial yang terdapat pada permukiman masa pemerintah kolonial. Tujuan studi ini untuk mengetahui gambaran mengenai pola tata ruang dalam rumah tinggal kolonial, perubahan serta faktor penyebabnya. Metode yang digunakan, adalah metode deskriptif melalui survey lapangan dengan menetapkan variabel-variabel studi untuk menganalisis kasus rumah tinggal kolonial, dan kemudian ditabulasikan untuk didapatkan pola tata ruang dalam rumah tinggal kolonial. Hasil studi menunjukkan pola tata ruang dalam rumah tinggal kolonial di Kidul Dalem memiliki zona publik di bagian depan rumah yang simetris hingga zona semipublik yang berupa selasar/koridor yang sekaligus berfungsi sebagai sumbu ruang. Fungsi rumah tinggal pada masa kolonial ini merupakan murni rumah tinggal. Saat ini, rumah tinggal kolonial di Kidul Dalem telah mengalami perubahan tata ruang dalam disebabkan kebutuhan dasar manusia, kebutuhan identitas diri, perubahan gaya hidup, teknologi baru, faktor ekonomi, serta faktor politik.

Kata kunci: pola tata ruang, rumah tinggal kolonial


ABSTRACT

Colonial house has already become a part of Indonesian architecture history. Its existence for several decades has brought its own color for the architecture in Indonesia. The focus of this study is limited to the spatial patterns of colonial house in Kidul Dalem. It is intended to describe the spatial patterns within the existing of colonial house settlement in the colonial period. The purpose of this study is to know the explanation of spatial pattern in a colonial house, the changes, and the contributing factor of their changes. Method used in this study is descriptive with field survey and determine by setting the variables to analyze a case of colonial house, and then tabulated to obtain the spatial patterns inbuilt in the colonial house. The results of this study shown that spatial patterns in the colonial house in Kidul Dalem has a public zone on the front of the house and is symmetrical zone in the semipublic form of hallway/corridor have a function as the axis of space. The function of the house in the colonial period is purely a residential. Currently, the south's of colonial house in Kidul Dalem has undergone changes in spatial structure due to basic of human needs, identity needs, lifestyle changes, new technologies, economic factors, as well as political factors.

Key words: spatial pattern, colonial architecture house


arsitektur e-Journal, Volume 3 Nomor 1, Maret 2010 hal. 54-62


PELESTARIAN BANGUNAN DAN LINGKUNGAN

KAWASAN SUNDA KELAPA JAKARTA


Anggun Dwi Anugerah, Antariksa, Tunjung W. Suharso

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Jl. Mayjen Haryono 167 Malang 65145 – Telp. (0341) 567886

Email: plano.anggun86@gmail.com


ABSTRAK

Citra Kawasan Sunda Kelapa bagi masyarakat Jakarta khususnya telah banyak mengalami pergeseran. Gambaran Sunda Kelapa sebagai tempat awal pembentukan Kota Jakarta dan simbol perjuangan bangsa telah tergantikan oleh citra negatif yang berkaitan dengan kemiskinan, kriminalitas serta kesemrawutan kondisi fisik lingkungan. Tujuan studi ini adalah untuk mengidentifikasi karakteristik Kawasan Sunda Kelapa, menganalisis faktor penyebab penurunan kegiatan pelestarian di Kawasan Sunda Kelapa. Metode yang digunakan dalam studi ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif evaluatif dengan teknik AHP. Hasil studi didapat bahwa proses hirarki, tingkatan faktor tertinggi adalah faktor fisik (aktivitas guna lahan) dengan rata-rata bobot 0.125, sedangkan aspek yang dinilai tidak terlalu berpengaruh, yaitu aspek non fisik (dasar hukum) dengan rata-rata bobot 0.050. Penilaian makna kultural bangunan kuno dengan metode skoring terdiri atas 4 tindakan, yaitu preservasi (5 bangunan), konservasi (9 bangunan), rehabilitasi (5 bangunan) dan renovasi (4 bangunan). Tindakan pelestarian pada masing-masing kawasan, yaitu Sub Kawasan Galangan dilakukan rehabilitasi dan Pasar Ikan diarahkan konservasi, sedangkan pada sub Kawasan Pelabuhan dilakukan rekontruksi.

Kata kunci: pelestarian kawasan, sunda kelapa, analisis hirarki proses.

ABSTRACT

The image of Sunda Kelapa district for Jakarta people especially have changed. For long time ago, it is the first place of construction of Jakarta, and symbol of national struggle, but today it has been changed by negative image which is related to poverty, criminality, and disordered physical condition of environment. The aim of this study are identification characteristic of Sunda Kelapa district, analyzes the causal factors of decreasing preservation activities, and main direction in Sunda Kelapa district. The method that used to reach the aim is using Analysis Hierarchy Process. The result of hierarchy process analysis, the highest aspect is the physical factor (utilization area activities) with average weight of 0, 125, while aspect that considered to be less influential factor is nonphysical one (legal basic) with average weight of 0, 050. According to result of cultural old building assessment by using scoring method, the treatments that can be conducted in Sunda Kelapa district consist of four, preservation (5 buildings), conservation (9 buildings), rehabilitation (5 buildings), and renovation (4buidings). Each of area has different treatments; the treatment of Galangan sub district is conservation, Pasar Ikan sub district is rehabilitation and for Pelabuhan sub district is reconstruction.

Key words: district preservation, Sunda Kelapa, hierarchy process analysis

Copyright © 2010 by Antariksa

Categories: Uncategorized Tags: