Archive

Archive for April, 2011

Peunayong Chinetown Banda Aceh Post-Earthquake and Tsunami as Cultural Heritage District

April 28th, 2011 Comments off

Dian Kusuma Wardhani, Antariksa, Nanda Indira Sari

Department of Regional and Urban Planning, Faculty of Engineering, Brawijaya University, Malang, Indonesia


Abstract

This paper studied the Chinese ancient buildings degradation post-earthquake and tsunami and determined the direction of preservation as an effort to protect the cultural heritage of building and environment. The methodology consisted Crosstab Chi-square Analysis using the concept of Good City Form. Result was used in term of preserving Peunayong as cultural heritage district of Aceh.

Key Words: earthquake and tsunami, the ancient building, preservation, Chinatown.


Dian Kusuma Wardhani, Antariksa & Nanda Indira Sari. 2011. Peunayong Chinetown Banda Aceh Post-Earthquake and Tsunami as Cultural Heritage District. Journal of Basic and Applied Scientific Research. 1 (4): 275-282. ISSN 2090-424X.

Antariksa © 2011

Categories: Uncategorized Tags:

POLA PERMUKIMAN TRADISIONAL SUKU SASAK DUSUN LIMBUNGAN KABUPATEN LOMBOK

April 24th, 2011 Comments off
Rina Sabrina, Antariksa, Gunawan Prayitno
Jl. Mayjen Haryono 167, Malang 65145
Telp. 62-341-567886
e-mail: sabrina_plano@yahoo.com


Abstrak
Karakter dari suatu susku dapat dilihat dari tradisi dan budaya yang terbentuk dalam suatu permukiman dan masih menjaga local wisdom mereka. Hal ini dapat terlihat dari permukiman tradisional Suku Sasak di Dusun Limbungan Kabupaten Lombok Timur, yang menjaga rumah adat mereka dari segala perubahan. Tujuan dari studi ini adalah mengidentifikasi karakteristik non fisik sosial budaya masyarakat Dusun Limbungan, dan mengidentifikasi karakteristik fisik pola tata ruang permukiman yang terbentuk, menganalisis pola tata ruang permukiman tradisional yang terbentuk akibat pengaruh fisik dan non fisiknya, dan kearifan lokalnya, serta menentukan arahan pelestarian bagi permukiman tradisional Limbungan. Metode yang digunakan adalah diskriptif-evaluatif. Hasil studi menunjukkan bahwa konsep keruangan makro yang terbentuk dari tatanan fisik lingkungan hunian memperlihatkan adanya pembagian ruang permukiman berdasarkan guna lahan, yaitu tempat hunian di bagian tengah, dan lahan pertanian di bagian luar area permukiman. Dari hasil struktur ruang permukiman tradisional Suku Sasak Limbungan terbentuk berdasarkan konsep filosofi, yaitu konsep arah sinar mata hari, konsep terhadap Gunung Rinjani, konsep pembangunan rumah dan elemennya secara berderet dan tanah berundak-undak, dan konsep bentuk rumah yang seragam terdiri dari rumah yang berjajar (suteran). Penempatan elemen rumah (bale) berupa panteq memiliki posisi saling berhadapan dengan bale. Pola pengembangan tata ruang masyarakat Sasak di Dusun Limbungan berorientasi pada nilai kosmologi berdasarkan sistem kepercayaan dan tradisi-tradisi masyarakat yang berbasis budaya sehingga menghasilkan ruang-ruang khusus.

Kata kunci:
tata ruang, permukiman tradisional Sasak Limbungan, sosial budaya, pelestarian



Abstract
The characteristic of an ethnic group area able to be seen from the tradition and the culture that are formed in a settlement and still guard local their domestic tourist. This can be seen from the traditional settlement of the Sasak ethnic group in Limbungan village at east Lombok regency that is one responsibility at their traditional house from all changes. The aim of this research is to identify non physical of social culture characteristic of Limbungan village community, and to identify the physical characteristic of the lay out pattern of settlement that formed cause of a physical and non physical influences, and local wisdom, as well as to conclude the conservation way for the traditional Limbungan settlement. The method used in this study is descriptive-evaluative. The study shows that the spatial concept of macro space which formed from physical settlement pattern show a division of settlement space based on land use, and the settlement area is located in the middle, and farming area placed in the outside of the settlement area. From the space structure of traditional settlement of Sasak Limbungan ethnic is formed based on philosophy concept, is the concept of direction of the sun rays, the concept of Rinjani Mountain, the concept of built house and their elements in a lined-up manner and land terrace, and the concept formed house which uniform consists of lined-up house (suteran). The placed of the housing elements (bale) are form of panteq have position face each other with bale. The development pattern of spatial space of Sasak community in Limbungan village is oriented to cosmological value based on believe system and community tradition which cultural base with the result that produce special spaces.

Key words:
spatial pattern, traditional settlement Sasak Limbungan, social culture, conservation


Rina Sabrina, Antariksa & Gunawan Prayitno, 2009. Pola Permukiman Tradisional Suku Sasak Dusun Limbungan Kabupaten Lombok Timur. Jurnal Tata Kota & Daerah. Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota. Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Vol. 1, No. 1, Juni, hlm 69-80. ISSN: 2085-434X.

Antariksa© 2011
Categories: Uncategorized Tags:

PELESTARIAN LINGKUNGAN DAN BANGUNAN DI KAWASAN PEKOJAN JAKARTA

April 24th, 2011 Comments off

Ari Suprihatin, Antariksa, Christia Meidiana, Fadly Usman

Jl. Mayjen Haryono 167 Malang 65145, Indonesia

Telp. 62-341-567886

Email: arie_47plano@yahoo.com


Abstrak

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi karakteristik dan kualitas lingkungan dan bangunan kuno, menentukan faftor-faktor penyebab terjadinya penurunan kualitas lingkungan dan bangunan kuno, serta menentukan arahan pelestarian dalam melindungi lingkungan dan bangunan kuno. Metode yang digunakan adalah metode diskriptif, evaluatif, dan developmen. Hasil studi tingkat kualitas lingkungan di Kawasan Pekojan menunjukkan bahwa telah terjadi penurunan kualitas, yaitu pada aspek kemudahan aksesibilitas, kesehatan, keamanan dan keselamatan, serta keromantisan. Penurunan kualitas juga terjadi pada bangunan kuno yang masih bertahan di Kawasan Pekojan. Terdapat bangunan kuno yang memilki tingkat kerusakan kecil sebanyak 11 bangunan (16%), kerusakan sedang sebanyak 55 bangunan (78%), dan kerusakan besar sebanyak 4 bangunan (6%). Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya penurunan kualitas lingkungan di Kawasan Pekojan adalah faktor kurangnya peran aktif masyarakat dan faktor pergeseran fungsi kawasan. Adapun faktor-faktor penyebab terjadinya penurunan kualitas bangunan kuno yang paling utama adalah kurangnya dana yang dimiliki pemerintah, faktor pergantian kepemilikan, dan faktor kurangnya perawatan pada bangunan kuno. Arahan pelestarian lingkungan di Kawasan Pekojan terbagi menjadi tiga jenis tindakan, yaitu tindakan preservasi (lingkungan I), konservasi (lingkungan II), dan rehabilitasi atau gentrifikasi (Lingkungan III). Adapun tindakan pelestarian bangunan kuno di Kawasan Pekojan terbagi menjadi tindakan preservasi (8 bangunan), konservasi (54 bangunan), dan rehabilitasi atau restorasi (8 bangunan).

Kata kunci: Pelestarian, faktor-faktor penurunan kualitas lingkungan, bangunan kuno


Abstract

The aims of this study are to identify the character and quality of ancient environment and building, analyze and determine the factors caused degradation of ancient environment and building quality, and determine the act of ancient environment and building protection. The method used in this study are descriptive, evaluative, and development. The results of this study shows that the degradation of environment quality occur in four aspects, there are accessibility reach out, healthy, safety, and romantically. The degradation of quality occurs at the ancient building too. There are 11 buildings with little damaged (16%), 55 buildings with moderate damaged (78%), and 4 buildings with great damaged (6%). The factors that caused degradation of environment quality are less society involved in conservation and fricative environment function. The factors that caused the degradation of ancient building are less government fund, change of owner, and less treatment at the building. The act to protect the ancient environment is differences in three steps, there are preservation, conservation, and rehabilitation or gentrification. The act to protect the ancient building are preservation (8 buildings), conservation (54 buildings), and rehabilitation or restoration (8 buildings).

Key words: conservation, factors degradation of environment quality, ancient building


Ari Suprihatin, Antariksa, Fadly Usman & Christia Meidiana, 2009. Pelestarian Lingkungan dan Bangunan Kuno di Kawasan Pekojan Jakarta. Jurnal Tata Kota & Daerah. Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota. Fakultas Teknik Universitas Brawijaya. Vol. 1, No. 1, Juni, hlm 1-12. ISSN: 2085-434X.

Antariksa© 2011

Categories: Uncategorized Tags:

MAKNA LOKAL RUMAH TINGGAL BERGAYA JENGKI DI KOTA MALANG

April 21st, 2011 Comments off
Irawan Setyabudi, Antariksa, Agung Murti Nugroho

Abstrak

Arsitektur jengki merupakan sebuah karya besar yang terlupakan. Gaya ini merupakan tahap lanjut dari perkembangan arsitektur kolonial di era tahun 1950-1960-an. Orang awam melihat dari sisi bentuknya yang ditandai dengan unsur miring, seperti atap yang tidak menyatu pada puncaknya, tembok depan (gevel) miring, memiliki lubang angin (rooster) dan elemen bangunan yang lain. Sesuatu yang tidak disadari di belakang proses perkembangannya adalah pola pemikiran daripada bentuk fisiknya yaitu sifat kemandirian dan penolakan dari gaya yang sudah ada, dan wujud penghayatan terhadap nilai-nilai setempat hal inilah dapat disebut dengan makna arsitektur jengki. Pola penyebarannya-pun dapat dikatakan tidak merata dan tidak selalu memiliki ragam elemen yang kuat. Pada penelitian ini akan difokuskan tentang rumah tinggal bergaya jengki beberapa lokasi di Kota Malang yang dianggap cukup representatif. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh pemikiran dengan dihubungkan terhadap nilai-nilai lokal arsitektur jengki. Metode yang digunakan adalah deskriptif-eksploratif dengan aspek fenomenologis. Hasilnya adalah hubungan penerapan konsep pemikiran tersebut terhadap fisik bangunan jengki yang akan memberikan kontribusi terhadap keilmuan sejarah arsitektur nusantara.

Kata Kunci : pola pemikiran, kearifan lokal, rumah jengki, Malang

Pendahuluan

Dalam keilmuan arsitektur, istilah jengki sudah mulai populer kembali. Hal ini ditandai ketika Prijotomo pada tahun 1992 menulis tentang arsitektur jengki di surat kabar. Secara garis besar, terjemahan arsitektur jengki bagi orang awam selalu dihubungkan dengan bentukan yang miring pada hunian rumah tinggal. Ketika ditelusuri dari sejarahnya, banyak peneliti yang berpendapat dengan menghubungkan dengan kondisi pada masa itu seperti Sukada (2004) istilah itu diimpor dari Amerika, yaitu Yankee dan berkonotasi negative, yaitu tentara yang berperang untuk penyatuan dalam perang sipil di Amerika. Tulisan sejenis juga dilakukan dalam mencari padanan arti, yaitu secara analogi bentuk dari celana jengki, sepeda jengki dan perabot jengki. Silas dalam Widayat (2006) mengatakan bahwa asal usulnya diperkirakan dari adegan draw dalam film cowboy saat posisinya dengan kaki membentuk kuda-kuda miring yang menjadi ilham untuk melahirkan arsitektur bergaya jengki. Widayat memprediksikan ada hubungan bentuk dasar pentagonal pada dinding depan dengan lambang TNI-AU ataupun pancasila yang didukung dengan kondisi waktu lalu yang diliputi semangat nasionalisme berupa penolakan terhadap sistem kolonial ini juga diperkirakan membentuk gaya yang sama sekali berbeda. Pemikiran ini sejalan dengan dekonstruksi yang dipelopori oleh Derrida sekitar tahun 1970. Walaupun secara sinkronis tidak sejaman, namun spirit arsitektur jengki yang muncul tahun 1960 ini menurut Prijotomo dapat disebut sebagai langgam khas Indonesia. Hal ini juga diperkuat dengan pendapat Ir. Soekarno dalam Ardhiati (2005) melalui mentalite Soekarno yang menolak adanya kolonialisme dan berupaya menghapus ingatan terhadap paham yang membuat Indonesia rendah diri.

Masih berhubungan dengan bentuk, arsitektur yang berkembang pada tahun 1950-1960-an bersamaan dengan runtuhnya arsitektur modern dan beralih pada fase posmodern awal dengan dipengaruhi oleh beberapa tokoh yaitu Sullivan (1856-1924) yang berkaitan dengan form follow function seperti yang disebutkan oleh Widayat (2006), menurut beliau, rumah jengki lebih didominasi oleh kepentingan fungsi. Seperti kemiringan atap agak curam untuk memudahkan aliran air hujan, bentukan segilima yang melebar ke atas pada dinding untuk pelindung sinar matahari, teras untuk mengurangi panas ruangan dan lubang angin pada rooster untuk memudahkan sirkulasi udara. Sedikit berseberangan dengan pendapat tersebut, banyak juga yang berpendapat bahwa arsitektur jengki hanya memoles bentukan luar. Pada penelitian sebelumnya gambaran tipologis telah disebutkan oleh Kurniawan (1999) dan diperkuat oleh widayat (2006) dengan mengkaji tentang karakteristik bentukan arsitektur jengki dikategorisasikan dengan menyebutkan elemen-elemennya yang terdiri atas: a. Atap pelana, sebagian besar dari gaya jengki menggunakan atap pelana yang mengecil pada bagian belakang. Sudut atap kurang lebih 350. Kedua bidang atap tidak bertemu dan tidak memiliki bubungan; b. Tembok depan miring, pada awal perkembangan, bidang segilima dibentuk oleh dua sisi tegak dari dinding konvensional yang dimiringkan. Hal ini menunjukkan ciri anti geometris dan mirip simbol TNI AU; c. Krawang/Rooster, rooster merupakan bukaan sebagai adaptasi terhadap iklim tropis, selain itu juga merupakan media ekspresi baru. Bentuknya bermacam-macam dari segilima, segitiga, maupun bidang tidak beraturan; d. Teras/Beranda, teras berdiri sendiri kalaupun menyatu tidak merusak bidang miring fasade rumah. Teras yang terpisah ini dimungkinkan karena pengaruh sudut atap besar. Teras ditutupi oleh atap datar sehingga memberi tekanan yang berbeda dari bangunan utama yang beratap pelana; e. Bentuk dasar, jika dilihat dari luar memiliki bentukan yang miring, tetapi ketika memasuki ruangnya tetap pada bentukan kubus seperti rumah rakyat pada umumnya; dan f. Kombinasi bahan, kombinasi pelapisan meliputi bahan lempengan batu belah, pasangan batu serit, kubistis batu paras dan susunan batu telor. Terkadang penyelesaian material masih kasar yaitu semen yang dilemparkan ke dinding tanpa finishing

Pada penelitian sebelumnya, bentukan arsitektur jengki sudah diteorikan yang mana merupakan evolusi dari rumah di kampung dan dekonstruksi terhadap gaya kolonial. Sebatas yang diketahui, hampir semuanya masih mengulas bentukan selubung luar bangunan karena diyakini ruang dalam rumah jengki memiliki kesamaan dengan rumah kolonial pada umumnya. Bentuk sebenarnya memiliki suatu makna yang dikandung di dalamnya. Bentuk dalam arsitektur dapat menyampaikan arti secara visual dan merupakan ungkapan dari arsiteknya. Pengalaman secara persepsi dapat diapresiasikan dalam tampilan bentuk dari pencernaan indera visual. Kualitas keindahan oleh pikiran diartikan ke dalam pemberian tanda yang ideal (Burnette, 1974 dalam Ratnatami, 2005). Ekspresi tersebut oleh pengamat dijadikan referensi dasar dari bentuk-bentuk yang pernah dialaminya. Demikian dapat disarikan bahwa hampir setiap lokasi, bentukan arsitektur jengki dapat dikatakan mirip-mirip, karena secara visual pengamat sudah mengenal tanda-tandanya.

Makna dijelaskan oleh Keraf (2004) dalam Widayat (2006) sebagai hubungan antara bentuk dengan barang yang diwakilinya. Senada dengan pernyataan tersebut, Sukanto (1989) dalam Ratnatami (2005) menyatakan bahwa makna merupakan alat untuk melihat, memahami dan mengartikan simbol yang mana akan terungkap simbol-simbol tersebut. Jika arsitektur jengki dianggap sebagai teks yang menyimpan simbol maka dapat dibaca kembali untuk ditafsirkan maknanya. Contoh simbol yang dapat disepakati bersama adalah mindset: bahwa semua elemen jengki adalah miring dan ditipologikan karena memiliki kesamaan. Sebenarnya setiap individu pengamat bebas untuk memaknai kembali sehingga terjadi keragaman tafsir tetapi tetap didukung oleh fenomenanya. Secara kebetulan Derrida dalam teori dekonstruksi menyatakan bahwa teks (tulisan) dapat mewakili lisan dan memiliki makna tak berhingga. Teori ini dapat diperkirakan berhubungan dengan arsitektur jengki adalah dekonstruksi dari langgam sebelumnya.

Berdasarkan penelitian sebelumnya, Widayat (2006) menyatakan bahwa makna arsitektur jengki mencerminkan gaya hidup pada masanya. Orang yang memiliki rumah bergaya jengki dianggap terpandang dan cukup kaya karena tidak begitu banyak yang memiliki gaya rumah ini. Selain itu juga berkaitan dengan konteks nasionalisme yang berupaya membuat langgam yang berbeda. Hal inilah rumah gaya jengki pemaknaannya mewakili simbol perjuangan bangsa Indonesia melawan kolonialisme dengan media arsitektur. Sifat pemaknaan tersebut dapat berubah (meningkat atau menurun) apabila disesuaikan dengan kondisi lokal rumah jengki.

Selain makna bentuk juga perlu diketahui makna ruang di dalamnya. Kodrat manusia untuk hidup adalah memerlukan ruang untuk kebutuhan sesuai dengan hirarkinya. Meskipun jika digali lebih dalam kebutuhan ruang akan bertolak belakang dengan langgam (bisa tidak berhubungan), pembentukan ruang juga berhubungan dengan simbol-simbol penghuninya. Waterson (1997) menyatakan bahwa pembentukan ruang tradisional akan terbentuk apabila penghuni yang membawa simbol-simbol (dalam mindset-nya) kemudian membentuk ruang sesuai dengan kebutuhannya sedangkan arsitektur kolonial wadah atau ruang diciptakan dahulu kemudian manusia akan menempati dan beradaptasi di dalamnya. Secara garis besar, ruang arsitektur jengki hampir sama dengan pendahulunya, yaitu arsitektur kolonial namun diperkirakan ada sedikit perbedaan sesuai dengan kebutuhan penghuni. Pemaknaan kembali terhadap arsitektur jengki akan dilakukan pada studi ini berdasarkan potensi kesetempatan.

Pada penelitian ini, arsitektur bergaya jengki diambil sebagai objek dikarenakan memiliki potensi dalam pengembangan keilmuan lokal yang mana selain mengetahui bentuk juga makna di dalamnya. Kota Malang juga tidak lepas dari persebaran arsitektur jengki, peneliti secara persepsi subyektif menyatakan bahwa rumah bergaya jengki memiliki potensi untuk dilestarikan salah satunya dengan mencari maknanya kembali baik secara bentukan ataupun ruang. Berdasarkan observasi di Kota Malang, terdapat kriteria umum berdasarkan lokasi persebarannya yaitu daerah permukiman awal, industri dan akademis. Karena adanya keterbatasan waktu penelitian maka pada studi kasus di bawah ini lebih representatif pada persebaran rumah jengki di permukiman awal dan industri. Adapun permasalahan utama dari studi ini adalah bagaimana pengaruh bentuk dan ruang terhadap makna lokal arsitektur jengki di kota Malang?

Metode Penelitian

Bahan kajian pada tulisan ini berupa hasil observasi lapangan oleh peneliti dan sebagian mengambil dari jurnal ilmiah dan penelitian sejenis. Metode penelitian dengan analisis deskriptif-eksploratif yang berhubungan dengan aspek fenomenologis dalam mencari makna bentuk dan ruang dalam lingkup lokal Kota Malang.

Hasil dan Pembahasan

Pada kajian ini dibahas mengenai bentukan dan makna dari beberapa studi kasus yang diambil dan cukup representatif mengenai rumah jengki di Kota Malang. Objek berada di daerah permukiman awal dan industri. Berkaitan dengan persebaran rumah bergaya jengki ini belum terdapat kepastian tentang mengapa persebarannya tidak merata dan dalam waktu relatif singkat menghilang. Mengenai bentukan fisik fasade akan lebih dititikberatkan pada pengujian teori sebelumnya, sedangkan ruang dalamnya berupa penjelasan persepsi pengalaman ruang penghuninya.

  1. Rumah Jalan Garbis 4 Malang

Rumah jengki ini terletak tidak begitu jauh dari Jalan Langsep dan berada di wilayah permukiman awal. Rumah Bapak Soehardjo bergaya jengki ini dibangun sekitar tahun 1962 dengan direncanakan oleh Pak Tjip, yaitu seorang pemborong atau orang STM. Rumah ini sekarang masih ditempati oleh keluarganya dan berfungsi sebagai rumah tinggal profesi. Menurut bapak Indro dan Iradat (putera Bpk. Soehardjo dan sebagai narasumber) tanah yang akhirnya didirikan rumah ini merupakan tanah negara yang mana Bpk. Soehardjo adalah seorang anggota DPRD-GR pada masa walikota Koesno Soeroatmodjo, diberikan bagian tanah yang sebelumnya tinggal di Betek. Rumah ini akhirnya menjadi cikal bakal permukiman di kawasan sekitarnya.

Ruang rumah ini terdiri atas teras, ruang tamu, 5 kamar tidur, ruang usaha, ruang keluarga, dan 2 buah kamar mandi. Sebagai penjelasnya terdapat pada gambar berikut ini. Bentukan rumah ini tidak banyak berubah, pemilik cenderung mempertahankan kejengkiannya meskipun secara morfologi dalam beberapa fase telah mengalami penambahan fungsi seperti membuat kanopi dan keramik pada teras, dan penambahan ruang keluarga pada interiornya. Fungsi ruang usaha atau profesi pada bagian belakang carport digunakan sebagai tempat fotocopy tetapi baru-baru ini berubah menjadi tempat service komputer. Elemen ‘jengki’-nya sangat kuat terasa pada bentukan atap yang tidak menyatu sehingga mirip seperti jambul. Hal yang dikeluhkan dari bentukan atap ini adalah kurang adaptif terhadap kebocoran akibat hujan. Elemen yang lainnya adalah dinding berbentuk pentagonal atau miring dengan diikuti garis diagonal pada gevel, dan pelipit jendela. Warna kontras pada fasade rumah dengan pemakaian cat hitam-putih diatas dinding dengan acian semen yang dilempar-lemparkan memberikan kesan berat atau menonjol namun demikian kondisi sekarang finishing ini seragam. Material rumah ini didominasi oleh campuran kapur dan semen yang mana secara struktur finishing kurang kokoh, dalam beberapa bagian seperti dinding dan pelipit jendela ada kerapuhan. Menurut pemilik, hal ini memang disengaja karena kondisi ekonomi waktu itu tidak stabil yang mana juga bersamaan dengan G30S/PKI. Ciri lainnya adalah dari segi strukturalnya rumah ini tidak memiliki sloof dan sebagai gantinya terdapat kolom yang cukup besar. Secara umum berhubungan dengan bentukan, pemilik tidak memilih bentukan gaya jengki karena murni dari kreativitas arsiteknya. Hubungan antara arsitek dan penghuni dapat dikatakan terputus karena bentukan dan ruang kurang disesuaikan dengan kebutuhan penghuni, selain itu saat ini terdapat kesulitan dalam melacak keberadaan arsiteknya. Ketika ditanyakan tentang perubahan, pemilik cenderung mempertahankan bentukan jengki ini dan hanya menambahkan fungsi ruang yang artinya tidak akan mengubah inti atau gaya rumah ini.

Ruang dalam rumah ini tidak begitu jauh berbeda dengan rumah kolonial (pada jamannya), namun ada hal yang cukup menarik, yaitu pada pembatas antara ruang tamu dan ruang keluarga terdapat bentuk geometri yang khas dan disayangkan sekarang sudah berubah. Begitupula pintu sebagai pemisah ruang, terkadang antara ruang yang satu dengan yang lain dihubungkan lebih dari satu pintu.

Makna lokal yang diperoleh dari penjelasan rumah ini bahwa rumah jengki sangat dipengaruhi oleh pengalaman arsiteknya khususnya secara visual membawa pesan-pesan bentuk dan ruang yang mana terdapat kesamaan dari berbagai daerah khususnya berhubungan dengan teori morfologi bentuk sebelumnya. Ditinjau dari lokasi, rumah ini berada pada kawasan permukiman awal sehingga dapat diprediksikan orang yang memiliki cukup terpandang dengan bentukan gaya yang cukup berbeda. Secara makna bentuk, pemilik tidak mengetahui bahwa bentukan ini adalah hasil evolusi dari gaya sebelumnya.

  1. Rumah Jalan Ciptomulyo 12 Malang

Rumah ini terletak tidak begitu jauh dengan kawasan industri rokok dan Pasar Besar Malang. Dari satu kawasan, rumah ini tampak begitu menonjol dengan gaya jengki sedangkan yang lain umumnya vernakular. Pemilik sekarang adalah Pak Gunawan merupakan merupakan alih tangan dari pemilik sebelumnya. Rumah ini awalnya dimiliki dengan kontrak, karena pemiliknya memilih bekerja di Surabaya. Pak Gunawan sendiri bekerja di pabrik rokok tidak jauh dengan rumahnya. Peta lokasi objek ditunjukkan pada gambar berikut ini,

Secara bentukan, rumah ini unik dengan bentukan atapnya yang khas tidak pernah menyatu dan tekanan irama pada finishing material pada gevel berupa warna-warna kontras; hitam dan putih. Elemen yang lainnya adalah bukaan yang cukup banyak seperti rooster pada dinding di atas patahan atap dan lubang angin di atas pintu dan jendela. Elemen yang lain seperti portico dan dinding miring tidak terdapat di rumah ini sekaligus menunjukkan bahwa tidak selamanya rumah jengki memiliki bentukan miring yang lengkap, yang mana tergantung kreativitas arsiteknya.

Ruang di dalamnya terdiri atas ruang tamu, dua kamar tidur, gudang, dapur dan kamar mandi. Kesan ruang di dalamnya tidak ada yang terlalu diistemewakan dan seperti layaknya rumah pada umumnya. Pada objek kedua ini fungsi ruang murni sebagai tempat tinggal meskipun putra dari pemilik juga wirausaha keramik dan kaca hias tetapi tidak menggunakan ruang secara khusus.

Berkaitan dengan makna arsitektur jengki, pemilik juga sedikit mengerti pemahaman tentang transformasi bentuk kemungkinan beliau mendapatkan informasi dari anaknya yang kebetulan juga seorang arsitek. Menurut beliau, rumah jengki ini sedikit ada rantai dengan kondisi masa lalu yakni kepemimpinan Ir. Soekarno. Mengenai morfologi dari rumah ini, rumah ini masih dalam kondisi asli seperti waktu awal dibangun, selain itu pemilik sadar bahwa rumah ini memiliki potensi untuk dipertahankan bentuknya.

Dari penjelasan kedua studi kasus di atas dapat diketahui bahwa ada makna dibelakang bentukan jengki yang miring ini dan bisa digunakan sebagai cara pandang untuk melihat objek lain yang sejenis. Makna lokal tersebut antara lain: 1. Makna bentuk secara khusus tidak diperoleh dari kedua studi kasus di atas yang mana seperti diutarakan pada teori sebelumnya. Elemen jengkinya masih lebih banyak pada objek 1, yaitu pada patahan atap, portico, pelipit jendela dan transisi ruang pada ruang tamu; sedangkan objek 2, hal yang menonjol adalah bentuk atapnya dan warna fasadnya yang kontras. Hal ini ditunjukkan bahwa setiap rumah memiliki perbedaan yang intinya tidak semua elemen itu ada, tergantung kreativitas arsiteknya. Parameter yang bisa dikatakan jengki masih belum diketahui, apakah harus banyak elemen yang menonjol ataukah hanya sedikit elemen yang masuk, seperti rumah yang terdapat pelipit bukaan saja; 2. Dari aspek orientasinya cenderung ke jalan, kedua rumah ini memiliki variasi bentuk. Rumah objek 1 sisi pendeknya menghadap ke jalan sedangkan rumah objek 2 sisi panjangnya. Sisi ini dapat dimungkinkan adanya penyesuaian terhadap iklim setempat yang mana pengaruhnya berasal dari arah bukaan; 3. Pemilik merupakan orang yang cukup terpandang dan terpelajar; Pemilik rumah pada objek 1 adalah pegawai pemkot sedangkan pada objek 2 adalah karyawan pabrik. Umumnya mereka sedikit tahu tentang arsitekturnya, sehingga ada kesadaran untuk mempertahankan bentuknya. Meskipun secara kebutuhan ruang meningkat tetapi tidak akan merubah bentukan jengkinya. Perubahan ini diprediksikan karena adanya rantai yang terputus antara arsitek dengan pemiliknya; 4. Mengenai materialnya, menurut narasumber diambil dari material lokal setempat. Kondisi masa lalu yang tidak stabil secara ekonomi dan politik menyebabkan adanya keterbatasan sehingga secara struktural kurang kokoh karena perbandingannya lebih banyak kapur daripada semennya; dan 5. Hal yang masih perlu dicari berkaitan dengan bahasa visual yang disampaikan oleh arsiteknya berupa kesepakatan pemahaman jengki adalah elemen miring. Secara sinkronis ada kesesuaian tipologis.

Kesimpulan

Makna berhubungan dengan ekspresi dan dengan hal yang diwakilinya atau dapat diartikan ada ‘sesuatu’ di belakang bentukan dan ruang arsitektur jengki. Pada kedua studi kasus di atas, pemilik sedikit banyak mengetahui apa makna di belakang jengki tersebut khususnya mereka mengerti kesejarahan dan morfologi rumahnya. Dari berbagai fakta diperoleh bahwa jengki merupakan gaya bangunan yang ditemui pada kawasan tertentu seperti permukiman awal, pendidikan dan industri. Pemilik awalnya adalah orang yang cukup berada mengingat secara bentukan rumah ini cukup unik. Hal ini diperkirakan pola penyebaran kurang merata. Secara arsitektural bentukan sesuai dengan teori sebelumnya yaitu terdapat elemen-elemen yang miring pada selubung bangunannya tetapi tidak semuanya itu ada, tergantung kreativitas arsiteknya dalam membawa ‘bahasa’ jengki-nya.

Ucapan Terima Kasih

Puja dan puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kelancaran kegiatan penelitian ini. Begitu pula rasa terima kasih kami ucapkan pada Prof. Ir. Antariksa, MEng., PhD dan Dr. Agung Murti Nugroho, ST., MT atas bimbingannya, pada teman-teman seangkatan atas dukungannya, keluarga RM. Soebantardjo, keluarga Bpk Soeharjo dan Bpk Gunawan atas segala informasi dan bantuannya, dan pihak Universitas Brawijaya atas terselenggaranya acara Seminar Nasional ini.

Daftar Pustaka

Ardhiati, Yuke. (2005). “Bung Karno Sang Arsitek : Kajian Artistik Karya Arsitektur, Tata Ruang kota, Interior, Kria, Simbol, Mode Busana dan Teks Pidato 1926-1965”. Depok : Komunitas Bambu.

Dyah S, Anggraeni. (…..). “Tipologi Perubahan Wajah Bangunan Rumah Jengki di Kawasan Pakubuwono Jakarta Selatan”. Jurnal Teknik Arsitektur Universitas Budi Luhur.

Kurniawan, Kemas Ridwan. (1999). “Identifikasi Tipologi dan Bentuk Arsitektur Jengki di Indonesia Melalui Kajian Sejarah”. Jurnal Teknik Arsitektur Universitas Indonesia. Laporan Penelitian SPP/DPP.

Prakoso, Imam. (2002). “Arsitektur Jengki, Perkembangan Sejarah yang Terlupakan”. (Online). (www.arsitekturindis.com diakses 28 Juni 2010)

Ratnatami, Ariko. (2005). “Aspek Bentuk Arsitektur Bangunan pada Makna Fungsi Bangunan dan Ekspresi Arsitektur Kawasan Koridor (Studi Kasus : Koridor Jl. Jend. Sudirman Surakarta”. Tesis Magister Teknik Arsitektur Universitas Diponegoro Semarang.

Tjahjono, Gunawan. (2002). “Indonesian Heritage Jilid 6 edisi Bahasa Indonesia”. Jakarta : PT. Widyadara.

Triyosoputri, Etikawati, dan Santoso, Imam. (2006). “Eksplorasi Arsitektur Jengki di Malang”. Malang : Grup Konservasi Arsitektur dan Kota, Jurusan Arsitektur Universitas Merdeka Malang

Triyosoputri, Etikawati. (2008). “Bangunan Ber-Arsitektur Jengki di Malang; Kajian terhadap Elemen Fasade; Kasus : Rumah Dinas PT. Pindad (Persero) Turen”. Laporan Penelitian Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Merdeka Malang.

Widayat, Rahmanu. (2006). “Spirit dari Rumah Gaya Jengki Ulasan tentang Bentuk, Estetika, dan Makna”. Jurnal Dimensi Interior, Vol4, No.2, hlm 80-89.


Tulisan di atas telah dipresentasikan dalam Seminar Nasional The Local Tripod, akrab lingkungan, kearifan lokal dan kemandirian. Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Malang 26 Maret 2011.

Antariksa© 2011


Categories: Uncategorized Tags: