Archive

Archive for August, 2011

arsitektur e-Journal, Volume 3 Nomor 3, November 2010

August 19th, 2011 Comments off

arsitektur e-Journal, Volume 3 Nomor 3, November 2010 hal. 63-74

PELESTARIAN BANGUNAN DAN LINGKUNGAN KAWASAN BERGENBUURT

(JALAN GUNUNG-GUNUNG) KOTA MALANG

Amelia Dewi Safitra Ningtyas, Antariksa, Fadly Usman

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Jl. Mayjen Haryono 167 Malang 65145 Indonesia, Telp (0341) 567886.

email: amelia_pwkftub@yahoo.com

ABSTRAK

Tujuan dari studi ini adalah untuk mengidentifikasi karakteristik bangunan dan lingkungan kuno, dan mengidentifikasi perubahan yang terjadi pada bangunan kuno beserta penyebabnya. Studi ini juga menjelaskan pengaruh adanya perubahan tersebut dengan perubahan identitas dan citra kawasan bersejarah. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif untuk mengidentifikasi karakteristik bangunan dan lingkungan kuno, citra kawasan serta perubahannya, metode evaluatif untuk menentukan tingkat perubahan bangunan, dan metode development untuk menentukan pelestarian. Faktor utama yang menyebabkan terjadinya perubahan bangunan kuno adalah perubahan fungsi (guna lahan). Hal ini mempengaruhi terjadinya perubahan identitas dan citra kawasan.

Kata kunci: pelestarian, bangunan kuno, perubahan identitas dan citra kawasan bersejarah.

ABSTRACT

The purposes of this study are to identify the characteristics of historical building and environment, to identify the change of historical building and environment, and to determine the factor causing the changes. This study also explained the building and environmental change’s effect on the identity and image change of the historical district. The methods which used in this study are descriptive method to identify historical building and environment’s character and also to identify the image of historical environment, evaluative method to determine the level of historical building’s change, and development method to determine the preservation acts. The result of this study shown the main factor that caused historical building’s change was the land use change. It affected this district’s identity and image change.

Keywords: preservation, historical buildings, historical district’s identity, image historical area

arsitektur e-Journal, Volume 3 Nomor 3, November 2010 hal. 75-90

PERUBAHAN POLA RUANG TRADISIONAL DESA ADAT TENGANAN PEGRINGSINGAN KARANGASEM – BALI

Mirza Permana, Eddi Basuki, Nindya sari

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Jl. Mayjend Haryono 167 Malang 65145 – Telp. (0341) 567886

E-mail: permanamirza@yahoo.com


ABSTRAK

Pola ruang tradisional Desa Adat Tenganan Pegringsingan lahir dari falsafah dan konsep masyarakatnya yang berlandaskan pada ajaran Hindu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan pola ruang tradisional yang dimiliki Desa Adat Tenganan Pegringsingan, baik dalam lingkup desa maupun unit hunian. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif, analisis sinkronik diakronik perkembangan kawasan serta analisis korelasi. Pola tata ruang Desa Adat Tenganan berdasarkan pada konsep Tapak Dara, yaitu sebuah konsep pertemuan antara arah utara-selatan dan arah timur-barat dengan porosnya berada di tengah-tengah. Perkembangan pola ruang desa terjadi karena dipengaruhi aspek politik (kebijakan pemerintah), sosial budaya dan ekonomi. Sejalan dengan adanya pariwisata, kehidupan masyarakat desa telah bergeser dari aturan adat. Tata nilai utama (suci) pada pekarangan desa kian terpinggirkan dengan adanya aktivitas berjualan oleh penduduk. Begitu juga pergeseran yang terjadi pada fungsi bangunan adat dan unit bangunan dalam rumah penduduk. Kesakralan menjadi sesuatu yang layak dikomersilkan. Pergeseran yang terjadi dalam unit hunian karena dipengaruhi beberapa faktor, seperti renovasi rumah yang memiliki korelasi kuat serta mata pencaharian, tingkat pendapatan, fungsi bangunan dan pengetahuan penduduk terhadap hukum adat yang kesemuanya itu memiliki korelasi cukup.

Kata Kunci: pola ruang tradisional, perkembangan kawasan

ABSTRACT

The traditional spatial pattern of Desa Adat Tenganan Pegringsingan is manifested from philosophy and concept of Hindus community. This study aimed to see development of the traditional spatial pattern of Desa Adat Tenganan Pegringsingan, well within the scope of rural or housing unit. The method used in this study is descriptive analysis, sinchronic-diachronic analysis in order to explain the district development, and bi variate correlation analysis. Spatial patterns of Desa Adat Tenganan Pegringsingan is known that based on the Tapak Dara concept, a concept of meeting between south and north east west direction with its axis in the middle. The development of rural spatial pattern occurs because affected political aspect (government policies), social cultural, and economic. While the tourism growth, rural community life has shifted from the customary rule. The main values (holiness) of the village courtyard are increasingly marginalized of selling activity by the peoples. As well as the shift that occurred in the function of traditional buildings and units in residential buildings. Sanctity into something commercially is feasible. The shift that occurred in the affected housing units due to several factor, such as the renovation of the house that has a strong correlation, and livelihood, income level, the function of building and population knowledge of customary law which all had a correlation adequate.

Keyword: traditional spatial pattern, development area


arsitektur e-Journal, Volume 3 Nomor 3, November 2010 hal. 91-102

PELESTARIAN KAWASAN PERMUKIMAN LOJI SELATAN

EMBONG BRANTAS KOTA MALANG

Putri Puspita Sari, Antariksa, Septiana Hariyani

Minat Perencanaan Wilayah dan Kota Program Studi Teknik Sipil

Program Magister dan Doktor Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Jl. Mayjen Haryono 167 Malang 65145; Telp (0341) 567886

Email: ismi_putri00@yahoo.com

Abstrak

Tujuan dari studi ini adalah untuk mengidentifikasi karakteristik lingkungan dan bangunan kuno, dan menganalisis kualitas lingkungan dan bangunan kuno di Kawasan Permukiman Loji Selatan Embong Brantas Kota Malang. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif, evaluatif, dan development. Lokasi studi berada di kawasan permukiman Loji Selatan Embong Brantas, Kelurahan Kidul Dalem, Kecamatan Klojen Kota Malang. Berdasarkan hasil studi karakteristik lingkungan merupakan permukiman masyarakat pribumi yang pada tahun 1800-an dimanfaatkan kompeni sebagai rumah benteng. Lingkungan merupakan kawasan yang sangat mudah diakses, aman dan bebas dari bencana, dengan fasilitas umum yang mudah dijangkau, dan lingkungannya bersih dan sehat. Kualitas bangunan kuno terdapat 60 bangunan kuno yang letaknya menyebar dengan gaya arsitektur kolonial dan Jengki. Sebagian besar kerusakan bangunan kuno diakibatkan oleh kerusakan pada finishing bangunan seperti berlumut atau kerusakan cat.

Kata kunci: permukiman bersejarah, kualitas lingkungan dan bangunan kuno, pelestarian

Abstract

The purpose of this study is to identify the characteristics of the environment and ancient buildings, and to analyze the quality of the environment and ancient buildings in settlement areas of south Loji Embong Brantas Malang. The method used is descriptive, evaluative, and development. Location of this study is in settlement areas of south Loji Embong Brantas, Kidul Dalem, District Klojen Malang. Based on the result of this study the environmental characteristics is an society settlement of indigenous people who in the 1800s exploited the Dutch colonial as a home fortress. The environment is an area that easily reached, safe and free from disasters, with an easily reached for public facilities, and clean and healthy environment. The quality of old buidings be found 60 old buildings which placed spread with colonial architecture and Jengki styles. Most of the of old buildings is caused by damage of buildings finishing, such as mossy or paint damage.

Keywords: historic settlements, environmental quality and old buildings, conservation

Antariksa © 2010

Categories: Uncategorized Tags:

Pola Permukiman Tradisional Madura Desa Ellak Daya Kabupaten Sumenep

August 17th, 2011 Comments off
Mukhlisah, Antariksa, Tunjung Widjayanto Suharso
Minat Perencanaan Wilayah dan Kota, Program Studi Teknik Sipil, Program Magister dan Doktor Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Abstrak Khasanah pola ruang permukiman tradisional merupakan kekayaan kita yang tak terhingga, di dalamnya mengandung banyak pelajaran yang berkaitan dengan budaya masyarakat tradisional, dalam merumuskan proses interaksinya dengan alam. Pengkajian ini, merupakan suatu upaya untuk dapat mempelajari budaya tersebut, dan mentransformasihkan untuk menjawab persoalan-persoalan lingkungan masa kini. Pola ruang permukiman tradisional Madura di Desa Ellak Daya dalam penelitian mengunakan metode kualitatip etnografi fenomenologi. Dalam penelitian ini ditemukan ada tiga unsur yang mempengaruhi pola ruang yang ada yaitu pola ruang berdasarkan kepercayaan, kekerabatan dan strata sosial. Melalui penelitian case study didapat aspek kepercayaan yang ada tetap masihh dipertahankan yang meliputi arah hadap, orientasi bangunan dan urutan dalam pembangunan tetapi dalam pemaknaan sudah sangat berbeda, sedangkan budaya yang berkaitan dengan sistem kepercayaan ditemukan tanean lanjhang sebagai fungsi sentries cosmologi. Pola ruang yang berdasarkan sistem kekerabatan dapat menunjukkan sejarah atau proses terbentuknya pola ruang dalam skala mikro, meso dan makro. Pola ruang yang dipengaruhi oleh tatanan strata sosial di Desa Ellak Daya yang ditemukan adalah strata berdasarkan kyai dan santre.

Kata kunci: budaya bermukim, kepercayaan, kekerabatan, strata sosial. pola permukiman tradisional.

Pendahuluan

Permukiman pada dasarnya merupakan ekspresi budaya masyarakat dalam mengimplementasikan budayanya. Dalam pelaksanaan adat istiadat ini mengalami perubahan sehingga mengancam keberlanjutan identitas budaya setempat. Jika perubahan-perubahan terjadi secara terus menerus dan tidak dikendalikan akan kehilangan identitas, dan oleh karena itu harus dipertahankan tatanannya. Permukiman merupakan suatu gejala struktural yang bentuk dan organisasinya sangat dipengaruhi oleh lingkungan budaya yang dimilikinya, serta erat hubunganya dengan kehidupan penghuninya. Rapoport (1969:77) menerangkan bahwa makna simbolisme dan fungsi akan mencerminkan status penghuninya, manusia sebagai penghuni, permukiman, budaya serta lingkungannya merupakan satu kesatuan yang erat. Menurut Rapoport (1969:47), permukiman sebagai lingkungan binaan merupakan refleksi dari kekuatan sosial budaya seperti kepercayaan, hubungan keluarga, organisasi sosial serta interaksi sosial antar individu. Hubungan penghuni dengan permukimannya merupakan hubungan saling ketergantungan (transactional interdependency), yaitu manusia mempengaruhi permukiman dan sebaliknya permukiman mempengaruhi penghuninya.

Rapoport (1969:47) mengungkapkan bahwa permukiman banyak ditentukan oleh nilai-nilai, budaya penghuninya, iklim dan kebutuhan akan pelindung, bahan bangunan, konstruksi dan teknologi, karakter tapak, ekonomi, pertahanan serta agama. Bentuk permukiman sangat ditentukan oleh keterjangkauan ekonomi dan pengaruh budaya, yang akan mempengaruhi pula bentuk fisik lingkungan permukiman.

Koentjaraningrat (2009:144) mengungkapkan, bahwa budaya diwujudkan sebagai suatu yang komplek dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma dan sebagainya, perwujudan budaya yang berwujud sistem sosial, wujud budaya sebagai fisik dan aktivitas. Koentjaraningrat (2009) menggungkapkan juga “Sosial cultural” pada suatu tempat akan selalu berbeda sehingga perlu pengkajian pola ruang yang mempunyai nilai spesifik pada sebuah tempat yang mempunyai budaya dan tatanan adat. Koentjaraningrat (2000: 66) mengatakan salah satu perwujudan budaya adalah sistem kekerabatan, sistem kepercayaan dan strata sosial.

Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam kajian pola ruang permukiman ini adalah metode kualitatif. Sugiono (2006:9) menyebutkan bahwa metode penelitian kualitatif sering disebut metode penelitian naturalistik karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah (natural setting); disebut juga metode etnografi, karena pada awalnya metode ini lebih banyak digunakan untuk penelitian bidang antropologi budaya; disebut metode kualitatif, karena data yang terkumpul dan analisanya lebih bersifat kualitatif.

Penelitian yang dilakukan bersifat alamiah berkembang apa adanya berdasarkan penemuan yang ada dilapangan, tetapi tidak terlepas dari koridor teori-teori ruang permukiman tradisional pada penelitian–penelitian pola ruang permukiman terdahulu sebagai bekal teori awal.

Hasil dan Pembahasan

Pembentukan pola ruang permukiman Desa Ellak Daya

Pola ruang permukiman secara makro

A. Aspek strata sosial

Terbentuknya pola ruang permukiman Desa Ellak Daya saat ini tidak terlepas dari budaya yang terdapat di desa tersebut walaupun ada sebagian mulai bergeser. Budaya yang berkaitan dengan kepercayaan dan kekerabatan cukup kuat di desa ini. Masih cukup banyak pola ruang tradisional yang masih dipertahankan walaupun si pemilik rumah sebagian besar tidak memahami apa makna pola ruang yang terbentuk di lingkungan perumahannya. Untuk budaya yang berkaitan dengan strata sosial sudah mulai hilang dan dalam sejarah Sumenep dikatakan strata sosial yang ada di Sumenep adalah, berdasarkan keningratan. Atas adalah golongan raja, pangeran&kerabat, golongan tengah adalah pangaji, pejabat kerajaan dan golongan bawah rakyat biasa. Berdasarkan geografis ada masyarakat kota, masyarakat Pesisir, masyarakat gunung. Berdasarkan ekonomi ada oreng sogi, oreng mesken. Berdasarkan agama, ada golongan kyai, golongan orang pondok dan santre. Sementara yang masih terlihat perbedaannya, adalah perbedaan antara kyai dan santre. Di Madura golongan kyai sangat dihargai dan dihormati kediaman seorang kyai merupakan sentries kosmis kegitan masyaraka, misalnya kegiatan belajar dan kegiatan sosial kemasyarakatan. Pengaruh pola ruang secara mikro terlihat perbedaan antara golongan santre dan golongan kyai, pola ruang golongan kyai memiliki pola ruang yang lebih komplek lengkap dengan fasilitas pendidikan dan peribadatan. Untuk tatanan pola sama, yaitu rumah berorientasi kearah selatan dan utara sedangkan untuk fasilitas sekolah tidak memiliki ketetapan orientasi tergantung lahan yang tersedia.

B. Aspek kepercayaan

Masyarat Madura terkenal dengan masyarakat agamis (Islam) berdasarkan penelitian adatnya masyarakat Madura merupakan ajaran agama, ajaran yang menjadi perintah agama merupakan budaya yang melekat pada masyarakat yang dilakukan sebagai kebiasaan sehari-hari. Berdasarkan hasil analisis etnografi dan fenomenologi (Setiawan 1995:75) dan konsep (Sasongko 2005:133) di wilayah studi didapat bahwa pola ruang permukiman secara makro menunjukkan pusat orientasi kegiatan kepercayaan terorientasi ke masjid dan di komplek masjid tersebut adalah komplek rumah kyai yang merupakan kegiatan ritual daur hidup dan ritual khataman Al-Qur’an.

C. Aspek kekerabatan

Pola ruang di Desa Ellak Daya sangat dipengaruhi oleh sistem kekerabatan dan di dalamnya terdapat sistem waris secara hukum Islam, tetapi secara suka rela dari kerabat tersebut menyerahkan sesuai kebiasaan atau tradisi yang berlaku selama turun temurun. Misalnya dalam pembuatan rumah dalam sebuah keluarga anak perempuanlah yang dibuatkan rumah, sedangkan anak laki-laki ikut dalam keluarga istri jadi pihak perempuan menyediakan rumah sedangkan pihak laki-laki melengkapi perabot yang ada di dalamnya. Kalau dari pihak laki-laki dari keluarga kaya keluarga baru tersebut akan membuat kelompok keluarga baru cikal bakal tanian lanjhang.

Pola ruang permukiman secara mikro

Secara mikro kajian pola ruang permukiman tradisional Madura diambil satu titik amatan yang mewakili 14 titik pola ruang yang menjadi objek penelitian. Satu titik tersebut diambil karena berdasarkan penelitian pola kekerabatan terdapat tiga titik yang .merupakan cikal bakal terbentuknya Desa Ellak Daya. Berdasarkan temuan artifak (ukiran pembangunan) direnovasi sebelum tahun 1272 H atau tahun 1851 M. Diambil satu titik dari tiga titik tersebut karena pola yang terbentuk menunjukkan pola yang sama.

Secara mikro pola ruang permukiman tradisional Madura berbentuk klaster-klaster permukiman yang dihuni oleh satu kerabat yang terdiri dari satu sampai lima generasi, yang terdiri dari bagunan langgar/mussollah, rumah, dapur dan kandang yang di ikat oleh tanean lanjhang (halaman panjang) adapun fungsi dari ruang dan bagunan tersebut adalah:

1. Analisis fungsi ruang

Tanean Lanjhang

Tanean lanjhang adalah halaman yang di kelilingi oleh rumah dan bangunan yang lain (langgar, dapur, dan kandang). Kata pekarangan digunakan untuk tanah yang ada di sekitar tanean lanjhang. Pekarangan sering ditanami pohon buah-buahan, jagung, tanaman belukar. Kalau kompleks perumahan tersebut terdiri dari beberapa rumah tinggal barulah disebut tanean lanjhang (halaman yang panjang). (menurut penuturan Ibu Hj Dra.Rukmini Fadlan Dusun Bukakak)

1. Fungsi tanean lanjhang berdasarkan ekonomi:

Merupakan suatu wadah yang dapat menampung aktivitas tertentu dari warga lingkungan setempat menjemur hasil pertanian, kayu bakar, tembakau, menjemur pakaian.

2. Fungsi tanean lanjhang berdasarkan sosial:

Sebagai tempat berkumpulnya anggota keluarga dan mungkin juga warga lingkungan sekitarnya, sebagai tempat bermain bagi anak-anak jadi merupakan ruang terbuka yang aktif, merupakan sarana untuk berkomunikasi bagi penghuni. Dari kondisi yang ada tanean lanjhang pada kompleks hunian Madura, sangat kuat sekali hal ini disebabkan karena posisinya yang dikelilingi oleh deretan masa bangunan dan sebagai orientasi/arah hadap bangunan-bangunan tersebut.

3. Fungsi tanean lanjhang berdasarkan agama:

Berdasarkan fungsi agama perempuan di Madura sangat dihormati dan penghormatannya juga harus diikuti kepatuan juga bagi perempuan. Perempuan yang ada dalam rumah dan di dalam rumah tidak ada suami tidak boleh menemui tamu laki-laki, si perempuan hanya boleh melihat dari dalam rumah yang tidak terlihat tamu laki-laki. Untuk menuju langgar/mussollah keluarga yang berfungi untuk menerima tamu laki-laki. Dengan adanya tanean lanjhang pengguni rumah bisa leluasa melihat setiap orang yang berjalan pada halaman tersebut. Fungsi tanean lanjhang adalah merupakan pelindung bagi perempuan untuk tidak terlihat semua laki-laki yang bukan mukrimnya.

4. Fungsi tanean lanjhang berdasarkan kekerabatan:

Fungsi tanean lanjhang untuk kekerabatan cukup kuat tanean lanjhang merupakan satu kesatuan kosmis. Pasangan suami isteri yang membangun satu tanean lanjhang tinggal di roma tongghu (rumah tinggal yang pertama) dengan anak-anak mereka yang belum kawin. Setelah anak laki-laki berumur kira-kira sepuluh tahun (kadang-kadang lebih muda) mereka sudah tidak tinggal lagi di rumah orang tuanya, tetapi di langgar atau masjid yang dekat. Kalau anaknya perempuan sudah agak besar akan dikawinkan, orang tuanya akan menyediakan rumah yang baru di tanean lanjhang. Kalau mereka tidak mampu, tempat yang ada akan dibagi atau orang tua meninggalkan sementara roma tongghu kepada penganten baru dan menempatkan diri di dapur.

Bagi masyarakat yang mampu semua anak perempuan dibangunkan sebuah rumah untuk ditempati setelah anak perempuan menikah. teknik pembangunan dari barat ke timur sehingga terbentuklah tanean lanjhang yang merupakan titik ikat antar kerabat yang satu dengan kerabat yang lainnya.

5. Fungsi tanean lanjhang berdasarkan ritual daur hidup:

Aktifitas ritual daur hidup hapir semua dilakukan pada tanean lanjhang misalnya ritual perkawinan, kematian dilakukan pada tanean lanjhang.

Langgar/Mussollah

Fungsi langgar/musollah adalah tempat terpenting dalam permukiman tradisional di Madura tanpa langgar/mussollah dianggap kurang lengkap oleh orang-orang Madura dianggap sebagai orang Islam yang taat. Di samping, tempat ibadah langgar/mussollah adalah tempat untuk menerima tamu laki-laki (juga untuk tamu laki-laki yang bermalam). Tamu-tamu perempuan diterima di emper (teras rumah) atau di dalam rumah.

Dapur dan kandang

Dapur dan kandang biasanya terletak menghadap rumah tinggal atau kadang-kadang dalam satu bangunan tanpa dinding pemisah tetapi sering ada bangunan tersendiri. Kalau satu tanean lanjhang terdiri dari beberapa rumah, artinya sepasang suami isteri dengan anak-anak yang belum kawin anak yang cerai, tiap rumah akan berusaha untuk membangun tempat dapur sendiri. Mempunyai tempat dapur kecil, seperti dalam ruangan tambahan di belakang atau di samping rumah tinggal, sudah dapat mengurangi ketergantungan dan kemungkinan timbul konflik. Sehari-hari anggota keluarga, laki-laki dan perempuan, makan di dapur, kalau ada tamu, orang laki-laki di langgar dan perempuan di dapur atau di amper.

Bangunan tambahan

Tergantung pada keadaan ekonomi dan tempat yang tersedia, tanean lanjhang dapat ditambah dengan bangunan-bangunan yang lain. Contohnya, ghandu (gardu) satu bangunan yang mirip dengan langgar tetapi dibangun di tengah halaman dan yang dipakai sebagai tempat duduk atau tempat pertemuan biasa. atau dhapa (pendopo), satu bangunan yang terbuka. Fungsinya sama dengan ghandu, tapi lebih besar dan pada umumnya hanya terdapat di tanean lanjhang orang terkemuka (kepala desa) atau kerabatnya.

2. Analisis bentukan ruang

Bentukan pola ruang permukiman Madura Desa Ellak Daya, berdasarkan hasil penelitian dan hasil analisa dapat disimpulkan bahwa proses terbentuknya ruang secara makro dan mikro untuk budaya kekerabatan dan strata sosial tidak menunjukkan hal yang berbeda jadi ada kesamaan proses terbentuknya ruang budaya tersebut. Untuk pembentukan pola ruang permukiman berdasarkan kepercayaan diperlukan menelitian yang lebih mikro.

Tatanan ruang permukiman Desa Ellak Daya berdasarkan kepercayaan menggambarkan pola yang sama dari 14 sampel yang diambil. Perempuan bagi masyarakat Madura kedudukannya sangat terhormat, dalam pembangunan rumah perempuan adalah pemilik rumah, sedangkan laki-laki adalah yang mengisi perabot yang di dalamnya, orang tua apabila memiliki anak perempuan berkewajiban untuk membangun rumah sesuai dengan banyaknya anak perempuan yang ada sedangkan anak laki-laki ikut pada pihak perempuan. Adat tersebut ada sejak zaman kerajaan Hindu dan saat ini adat tersebut masihh ada dan menjadi budaya masyarakat Madura.

Rumah utama untuk perempuan diletakkan di utara karena letaknya diatas sesuai dengan kedudukan perempuan yang terhormat, sedangkan dalam pembangunan urutan senioritas adalah dari barat ke timur pemaknaannya adalah dari yang paling tua ke yang paling muda, langgar diletakkan pada sebelah barat yang berarti suci mengingat akhirat. Berdasarkan penelitian yang dilakukan mengapa langgar terletak pada sebelah barat karena arah kiblat adalah barat jadi sebisa mungkin di depan langgar tidak ada bangunan atau kegiatan yang menghalangi arah kiblat.

Tanean lanjhang adalah pusat kosmis. Kegiatan pembangunan dari arah barat ke timur dengan menghadap ke selatan, lambang menghadap ke selatan karena pulau jawa terletak pada daerah selatan sehingga diorientasikan ke pulau jawa sebagai pulau yang senior dari pulau Madura. Berdasarkan penelitian saat ini menghadap ke selatan kanena unsur kenyamanan tidak menghadap lansung pada matahari, dan alasan kedua adalah menghadap ke tanean lanjhang sebagai pusat kegiatan. Pada rumah atau kandang yang dibangun pada daerah selatan arah hadap menghadap ke utara orientasi ke tanean lanjhang. Dari pola tersebut tanean lanjhang merupakan pusat kosmis dengan sumbu aksis utara selatan dan barat timur. Pemaknaan matangin tersebut adalah barat tertutup suci akhirat, timur terbuka dunia, utara suci gelap lambang akhirat, selatan terang lambang dunia.

Analisis Perubahan Pola Ruang Permukiman Tradisional Madura dalam Penetapan Keberlanjutan.

Dalam penetapan keberlanjutan pola ruang tradisional Madura berdasarkan penelitian di Desa Ellak Daya dapat dianalisis dengan metode pentabulasian antara tradisi yang ada berdasarkan penelitian yang terdahulu dan berdasarkan kajian teori, di kroscekkan dengan konsisi yang ada berdasarkan survei primer dan wawancara secara triagulasi. Didapat bahwa adat pada aspek strata sosial yang terdiri dari strata keningratan, starata geografis, strata agama, kondisi yang ada saat ini stara agama yang masih ada. Dari strata tersebut terlihat dari pola ruang pada kediaman kyai/ustad selalu ada masjid dan pesantren yang menjadi pusat orientasi kegiatan masyarakat. Kyai adalah orang yang sangat disegani dan dihormati sehingga pola ruang yang terbentuk berbeda dengan masyarakat biasa atau santre. Dari analisis tersebut pada strata agama dapat ditetapkan sebagai aspek yang berkelanjutan

Keberlanjutan terhadap agama pada aspek kepercayaan sulit dipertahankan karena dianggap sering ke luar dari ajaran agama Islam, kepercayaan yang sejalan dengan ajaran Islam pasti berkelanjutan misalnya khataman Al-Qur’an. Pada aspek kekerabatan polanya dapat berkelanjutan karena sistem yang ada mendukung agama yang diyakini dan tidak bertentangan dengan agama, walaupun berdasar sistem waris bertentangan dengan agama Islam akan tetapi dengan suka rela laki-laki merelakan warisnya untuk diberikan pada anak perempuan seperti adat yang ada selama ini.

KESIMPULAN

Kajian terhadap teori-teori sebagai konsep metodologi etnografi dan fenomenologi terhadap prinsip dan bentukan budaya yang ada menggunakan triagulasikan terdadap budayawan, pelaku pembangunan tukang bangunan, masyarakat yang mengerti hitungan tanggal baik dan pengguna bangunan dihasilkan:

1. Faktor-faktor yang berpengaruh dalam membentuk pola ruang permukiman tradisional Desa Ellak Daya

Kajian terhadap faktor-faktor pembentuk pola ruang permukiman tradisional Desa Ellak Daya adalah faktor budaya kepercayaan, kekerabatan dan strata sosial. Faktor kepercayaan yang masih ada adalah kepercayaan dalam melakukan ritual rokat desa, untuk keselamatan dan kesehatan. Terhadap tata letak pembangunan secara mikro faktor kekerabatan pengaruhnya cukup kuat bahkan sistem terbentuknya tanean lanjhang sampai dusun dan desa terbentuk karena sistem kekerabatan yang kuat di Desa Ellak Daya. Berikut adalah faktor yang dipengaruhi strata sosial, pada aspek strata sosial faktor yang berpengaruh adalah strata sosial berdasarkan agama, yaitu pembeda pola ruang antara santre dan kyai.

2. Bentukan pola ruang permukiman tradisional Desa Ellak Daya

Bentukan pola ruang permukiman tradisional Desa Ellak Daya. Dari kajian bentukan pola ruang ditemukan dua bentukan pola yaitu bentukan pola ruang permukiman secara makro dan bentukan pola ruang secara mikro. Berdasarkan hasil analisis etnografi dan fenomenologi pada wilayah sudi, didapat bahwa pola ruang permukiman secara makro menunjukkan pusat orientasi kegiatan berorientasi ke masjid, dan komplek masjid tersebut merupakan komplek rumah Kyai dengan kegiatan ritual daur hidup dan ritual khataman Al-Qur’an. Hal ini tidak terlepas dari masyarakat Madura yang terkenal dengan masyarakat agamis (Islam) dengan adat Madura dan ajaran agamanya. Perintah agama merupakan budaya yang melekat pada masyarakat yang dilakukan sebagai kebiasaan sehari-hari. Kajian secara mikro pola ruang permukiman tradisional Madura berbentuk klaster- klaster permukiman, yang dihuni oleh satu kerabat yang terdiri dari satu sampai lima generasi, dan terdiri dari bagunan langgar/mussollah, rumah, dapur dan kandang yang berorintasi ke tanean lanjhang (halaman panjang). Dapat disimpulkan secara makro bahwa kegiatan beorientasi ke Masjid adalah merupakan komplek dari kyai/ustad dan sebagai pusat kosmis, sedangakan dalam skala mikro berorientasi ke tanean lanjhang merupakan pusat kosmis.

3. Perubahan dan keberlanjutan pola ruang permukiman di Desa Ellak Daya

Didapatkan bahwa adat pada aspek strata sosial yang terdiri dari strata keningratan, starata geografis, dan strata agama, dan pada kondisi saat ini stara agama yang masih bertahan. Dari strata tersebut dilihat dari pola ruang yang terdapat pada kediaman kyai/ustad selalu terdapat masjid dan pesantren yang menjadi pusat orientasi kegiatan masyarakat. Kyai adalah orang yang sangat disegani dan dihormati, sehingga pola ruang yang terbentuk berbeda dengan masyarakat biasa atau santre. Dari analisis tersebut pada strata agama dapat ditetapkan sebagai aspek yang berkelanjutan.

Berdasarkan kajian di desa Ellak Daya ritual kepercayaan sudah mulai hilang, sehingga ruang budaya mulai menghilang sedangkan budaya yang masihh tetap lestari, ruang tetap terbentuk, yaitu budaya khataman Al-Qur’an dan dirayakan setiap satu tahun sekali. Budaya kepercayaan terhadap tata letak pembangunan rumah tetap ada, tetapi pemaknaanya sudah berbeda.

Strata Sosial berkelanjutan untuk strata agama, sedangkan pada strata keningratan sudah tidak ada lagi di Desa Ellak Daya. Ditinjau dari kenyamanan kepercayaan berkeberlanjutan karena topografi dan klimatologi sangat memperhatikan alam, sehingga ruang yang terbentuk nyaman untuk hunian. Dari aspek kekerabatan berkelanjutan, pola ruang yang terbentuk semakin memper erat tali persaudaraan, sedangkan strata sosial berkelanjutan untuk strata agama terbentuk pola ruang sentries berorientasi ke kediaman kyai/ustad.

DAFTAR PUSTAKA

Koentjaraningrat. 1987. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Koentjaraningrat. 1990. Sejarah Teori Antropologi I. Jakarta: Universitas Indonesia.

Koentjaraningrat.1992. Sejarah Teori Antropologi II. Jakarta: Universitas Indonesia.

Koentjaraningrat. 2000. Beberapa Pokok Antropologi Sosial. Jakarta: Dian Rakyat.

Koentjaraningrat. 2009. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Djambatan.

Koentjaraningrat. 2009. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: PT. Gramedia.

Rapoport, A. 1973. Some Perspectives on human use and organization of space. The Urban International Press.

Rapoport, A. 1978. Culture And Environment. The Urban International Press.

Sasongko, I. 2005. Pembentukan Ruang Permukiman Berbasis Budaya. Desertasi tidak dipublikasikan. Surabaya: Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

Sugiyono. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Rapoport, A. 1970. The Study of Spatial Quality. The Urban International Press.

Weterson, R. 1997. The Living House An Antrropology Of Architecture In South-East Asia. Thames and Hudson.

Tulisan di atas telah dipresentasikan dalam ”Seminar Nasional “Teritorialitas, Pariwisata, Dan Pembangunan Daerah” Program magister arsitektur universitas udayana, denpasar 6 agustus 2011

antariksa © 2011




Categories: Uncategorized Tags: