Archive

Archive for October, 2011

arsitektur e-Journal, Volume 4 Nomor 2, Juli 2011

October 9th, 2011 Comments off





ABSTRAK
Tujuan dari studi ini adalah mengidentifikasi dan menganalisis karakteristik bangunan, serta menganalisis dan menentukan arah pelestarian bangunan Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia di Bogor. Studi ini merupakan studi deskriptif dengan menggunakan tiga macam metode, yaitu metode deskriptif analisis, metode evaluatif (pembobotan), dan metode development. Dalam studi ini ditemukan bahwa karakter arsitektur kolonial di bangunan Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan adalah penggunaan simetri bilateral yang dominan pada komposisi massa, tampak depan, dan denah bangunan. Elemen-elemen bangunan menggunakan bentuk-bentuk geometris yang rapi, sederhana, dengan minim ornament, serta perulangan pada elemen bukaan (jendela dan ventilasi). Di sepanjang keliling selubung bangunan dengan menggunakan pola a-a-a-a yang berkesan formal-monoton. Penggunaan material batu kali yang dominan sebagai finishing pada dinding eksterior bangunan, dan penggunaan keramik pada dinding interior ruang-ruang yang mempunyai fungsi sebagai laboratorium. Denah bangunan menggunakan pola grid 90° dengan aksentuasi berupa grid 45◦ pada bagian pusat bangunan yang dilengkapi dengan inner courtyard untuk memperkuat aksentuasi pola grid. Orientasi bangunan yang berpatokan pada landmark kawasan, yakni Taman Kencana. Arahan pelestarian bangunan Balai Penelitian Bioteknologi Penelitian Indonesia terbagi menjadi empat tindakan, yaitu preservasi (3 elemen), konservasi (7 elemen), rehabilitasi (12 elemen), dan rekonstruksi (3 elemen).
Kata kunci: pelestarian, bangunan bersejarah, strategi.


ABSTRACT
The aims of this study are to identify and to analyze the building characteristic, and also to analyze and to determine the building conservation strategies. This study is based on a descriptive research which used three different kinds of methods: descriptive analysis, evaluative, and development method. The study found that the characteristic of Indonesian Biotechnology Research Institute for Estate Corps building are dominant bilateral symmetry used ahead building masses composition, front elevation, and floor plan. The elements form used geometrical. The building elements used neatly geometrical form, simple, with least ornamental detail form of building element, with least ornament, and repetition at the opened element (window and ventilation). In the long side of the building envelope used with a-a-a-a rhythm created a formal-monotone effect. The domination using of wall stone is to finished gravel exterior wall, and the using of ceramic at the interior wall rooms have a function room as laboratories. The plan used 90° grid pattern floor plan with 45° grid drawl at the central room along with inner courtyard to emphasize the grid pattern accentuation. The building landmark orientation area is towards to Taman Kencana. Conservation strategies for Indonesian Biotechnology Research Institute for Estate Corps building are divided into four strategies: preservation (3 elements), conservation (7 elements), rehabilitation (12 elements), and reconstruction (3 elements).
Keywords: conservation, historical building, strategy.







ABSTRAK
Tujuan studi ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis karakteristik bangunan, serta menganalisis dan menentukan arah pelestarian gedung Merah Putih Balai Pemuda Kota Surabaya. Studi ini merupakan studi deskriptif dengan menggunakan tiga macam metode, yaitu metode deskriptif analisis, metode evaluatif (pembobotan), dan metode development. Dalam studi ini karakter bangunan dibagi dalam tiga karakter utama, yakni karakter visual bangunan yang didominasi dengan bentuk lengkung dan ornamen floral pada elemen fasade dan bentuk geomteri presegi panjang pada elemen ruang dalam sebagai perubahannya; perulangan bentuk pada elemen bukaan dengan jenis, ukuran dan material penyusun yang berbeda; massa bangunan berbentuk kubus dengan deformasi bentuk limas persegi delapan. Karakter spasial bangunan memiliki alur sirkulasi ruang linier yang tidak saling terhubung akibat perubahan pola ruang dalam; orientasi bangunan pada arah barat daya sebagai adapatasi bangunan terhadap site; kesimetrisan bersifat global dan memiliki dua jenis sumbu bangunan, sumbu simetri dan asimetri seimbang. Karakter struktural dengan perpaduan sistem rangka kayu dan rangka pipa sebagai struktur atap dan menggunakan sistem dinding pemikul dengan pelengkung sebagai penguat struktur dinding bangunan. Arahan pelestarian gedung Merah Putih Balai Pemuda Surabaya terbagi menjadi tindakan preservasi (4 elemen), konservasi (7 elemen), restorasi (2 elemen), rehabilitasi (7 elemen), dan rekonstruksi (1 elemen).
Kata kunci: pelestarian, bangunan bersejarah, strategi.


ABSTRACT
The aims of this study are to identify and to analyze building characteristic, also to analyze and to determine building conservation strategies. This study is based on a descriptive research which uses three different kinds of methods: descriptive analysis, evaluative, and development method. The characteristic of Balai Pemuda in Surabaya are divided into three main characters, visual character of the building has dominant curve shape with floral ornament on building facade and square geometrical shape on interior element of the building as a transformation; shape repetition on the building opening (window and door) with different type, dimension and material; has cube form mass with deformation of octagonal-shaped mass. Spatial characters of the building are disconnect linear circulation between rooms of the building was formed by the changing of space in pattern; building’s orientation face southwest direction as a site adaptation; symmetrical plan with two kind of axis, symmetrical axis and asymmetrical axis. Structure character of the building are use combination of wood and pipes as a frame roof construction and bearing wall system with arch as a brace wall structure. Balai Pemuda in Surabaya are divided into five strategies: preservation (4 elements), conservation (7 elements), restoration (2 element) rehabilitation (7 elements), and reconstruction (1 elements).
Keywords: conservation, historical building, strategy.







ABSTRAK
Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis karakter bangunan utama eks Rumah Dinas Residen Kediri yang meliputi karakter visual dan spasial bangunan; menganalisis dan menentukan strategi dalam upaya pelestarian bangunan utama eks Rumah Dinas Residen Kediri. Metode analisis data yang digunakan pada studi ini ada tiga, yaitu metode deskriptif analisi, metode evaluatif (pembobotan), dan metode developmen. Hasil dari analisis menunjukkan bahwa karakter visual massa bangunan utama eks Rumah Dinas Residen Kediri beserta kedua massa bangunan penunjang di sebelah kanan kirinya didominasi oleh elemen-elemen bangunan berbentuk geometri. Ciri visual yang paling kuat pada bangunan ini adalah sumbu simetri pada denah dan fasade yang masih bertahan hingga saat ini. Selain itu, penggunaan elemen-elemen bangunan dengan ukuran besar dan dengan adanya dua massa penunjang merupakan ciri khas yang menggambarkan fungsi bangunan ini sebagai banguna pemerintahan jaman kolonial yang tetap terjaga hingga saat ini. Ciri spasial pada kompleks massa bangunan ini telah mengalami banyak perubahan seiring berubahnya fungsi dari bangunan saat ini. Arahan pelestarian pada kompleks massa bangunan ini, diklasifikasikan ke dalam tiga kelas elemen-elemen bangunan potensial, yaitu potensial rendah, potensial sedang, dan potensial tinggi. Selanjutnya untuk dari hasil penetapan klasifikasi ditentukan strategi pelestarian yang sesuai dengan kondisi masing-masing elemen bangunan tersebut.
Kata kunci: karakter arsitektural, arsitektur kolonial, pelestarian bangunan


ABSTRACT
The aims of this study are to identify and analyze building character of the main building of former Residential House Kediri, which includes its visual and spatial characters; analyzing and identifying the conservation strategy for the main building of former Residential House Kediri. This study applied three analysis methods; descriptive analysis, evaluative (scoring) and development. The study result showed the visual characters of the main building in former Residential House included the surrounds buildings on its left and right sides are dominated with geometric-shaped elements. The most significant visual feature on this building is the axes applied on the plan and façade which are still sustained until present time. Besides, pillars (Tuscan and ionic) constructed in large scale and the existence of two buildings surround this building showed the building’s function as colonial government building that remained until present time. The spatial feature on its mass are changed as well as the function itself changed. The building conservation strategy is classified into three potential building’s elements; low potential, average potential, and high potential. Those classified strategies will be applied on each building’s elements.
Keywords: Architecture characteristic, colonial architecture, building conservation







ABSTRAK
Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakter bangunan Stasiun Kota Bondowoso, kemudian menentukan upaya pelestarian bangunan stasiun tersebut. Metode yang digunakan, yakni metode analisis dekriptif, metode evaluatif dan metode development. Hasil studi ditemukan bahwa karakter bangunan Stasiun Bondowoso dilihat dari bentuk denah bangunan memiliki denah dan tampak depan yang dominan simetris. Proporsi antara tinggi dan lebar bangunan dibuat horisontal agar tercipta kesan lebar dan mewah. Pada bagian tengah bangunan memiliki ketinggian yang berbeda dengan sayap kanan dan sayap kiri bangunan. Untuk jendela, pintu dan atap bangunan menggunakan posisi simetris. Bangunan memiliki point of interest pada bagian tengah yang merupakan main entrance dari bangunan berupa list berbentuk garis pada kolomnya. Pada bagian belakang atau ruang peron terdapat perulangan pada pintu dengan menggunakan dua jenis pintu. Kolom bagian peron berbeda dengan kolom lainnya, terbuat dari baja dengan finishing warna putih biru. Stasiun Bondowoso menggunakan 4 arahan pelestarian, yaitu preservasi (7 elemen), konservasi (11 elemen), rehabilitasi (5 elemen), dan restorasi (2 elemen)
Kata kunci: pelestarian, bangunan bersejarah, strategi.


ABSTRACT
The aims of this study are to identify the character of the Bondowoso City Station building, and then determine the preservation of the building. The methods used in this study are descriptive analysis, evaluative analysis and development analysis. This result of this study found the characters of Bondowoso Station building based on the building layout plan have a symmetrically dominant of the plan and façade. The proportion between height and width of the building made horizontally to create impressions of wide and glory. In the middle part of the building have different level compared to the right and left sides of the building. The windows, doors, and roofs are used in symmetrically position. The building have a point of interest at the center part of the main entrance of the building, as shapes with lining list at the pillar. In the rear side or in the lane room found repetition at the door with used two different kinds of doors. Pillars in the lane room are different with the other pillars of the building, these pillars constructed from steel and blue-white furnished. The conservation strategy of Bondowoso Station divided in four conservation strategy which are preservation (7 elements), conservation (11 elements), rehabilitation (5 elements) and restoration (2 elements).
Keywords: conservation, historical building, strategy.







ABSTRAK
Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis perubahan secara fisik yang terjadi pada bangunan Bale Tani dan Bale Bontar di Dusun Sade, kemudian menganalisis penyebab dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perubahan tersebut. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah metode historis–kualitatif–deskriptif. Perubahan yang paling banyak muncul pada rumah tradisional, yakni pada perubahan pada ruang (denah) dan juga pada elemen pintu secara bentuk maupun material dan warna yang digunakan. Perubahan juga banyak terjadi pada fasade bangunan dengan adanya penambahan bukaan atau ventilasi sebagai jalur keluar masuknya udara. Elemen bangunan yang yang tidak berubah, yang masih dijaga keasliannya, yakni pada bentukan maupun material dan warna pada atap. Tidak dilakukan perubahan karena masyarakat sudah cukup nyaman dengan pemakaian atap tersebut. Atap merupakan bagian yang paling utama pada rumah karena atap mencerminkan rumah tradisional. Perubahan–perubahan yang terjadi tersebut dapat disebabkan oleh kebutuhan penghuni, kelangkaan material, kesehatan rumah dan penghuni, perkembangan pola pikir masyarakat (pendidikan tinggi), bertambahnya anggota baru, perawatan bangunan, adanya fungsi tambahan, kepraktisan pada pemakaian elemen bangunannya, kenyamanan penghuni, estetika bangunan, dan lain sebagainya. Faktor– faktor yang mempengaruhi perubahan, yakni faktor ekonomi, geografis, dan sosial budaya.
Kata Kunci : Perubahan bentuk fisik, Rumah Tradisional Sasak, Bale Tani, Bale Bontar.


ABSTRACT
This study aims to identify and analyze the physical changes that occur in buildings of Bale Tani and Bale Bontar Sade Village, then analyze the causes and that factors influence those of changes. The methods in this study are historical research - qualitative - descriptive. The most changes appear in traditional houses that are change at the space (layout) and also at the door elements on a form in spite of materials and colors used. Changes also take place in the building facade with the addition of openings or vents as pathways out of air entry. Building elements which are unchanged, which still maintained its authenticity, that is the formation as well as material and color to the roof. They are not changes because of people quite comfortable with the use of the roof. It is the most important part of the house because the roof reflects of the traditional house. The changes of building could be due to the needs of residents, the scarcity of materials, and occupants of the home health, community development mind side (higher education), the increase of new members, building maintenance, the presence of additional functionality, practicality in the use elements of the building, occupant comfort, aesthetics buildings, etc. The traditional houses changes because of economic, geographic, social and cultural.
Keywords: the changes in physical form, Sasak Traditional House, Bale Tani, Bale Bontar


Antariksa © 2011
Categories: Uncategorized Tags:

arsitektur e-Journal, Volume 4 Nomor 1, Maret 2011

October 4th, 2011 Comments off

arsitektur e-Journal, Volume 4 Nomor 1, Maret 2011 hlm. 1-14

POTENSI DAN MASALAH KAWASAN PECINAN

KEMBANG JEPUN KOTA SURABAYA


Kartika Eka Sari, Antariksa, Eddi Basuki Kurniawan

Minat Perencanaan Wilayah dan Kota Program Studi Teknik Sipil

Program Magister dan Doktor Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Jl. Mayjen Haryono 167, Malang 65145

Email: kartika_plano@yahoo.co.id


A B S T R A K

Tujuan studi ini adalah untuk mengidentifikasi karakter fisik, sosial, ekonomi dan budaya Kawasan Kembang Jepun, menganalisis potensi dan masalah terkait pelestarian Kawasan Kembang Jepun dan menentukan strategi pelestarian Kawasan Kembang Jepun. Perkembangan dan eksistensi Pecinan semakin kuat pada masa pemerintahan Kolonial Belanda melalui pemberlakuan UU Wilayah (Wijkenstelsel) tahun 1843. Pada kondisi eksisting Kawasan Kembang Jepun memiliki penggunaan lahan perdagangan dan jasa (84,86%) dengan skala pelayanan nasional, regional dan kota, perumahan (14,71%), peribadatan berupa kelenteng (0.29%) dan kantor (0.14%). Jaringan jalan yang terdapat di wilayah studi terdiri dari jaringan jalan arteri sekunder, kolektor sekunder dan jalan lokal. Koridor Jl. Kembang Jepun memiliki nilai LHR sebesar 1012 smp/jam dengan kapasitas jalan sebesar 1799 smp/jam dan tingkat pelayanan C. Potensi yang dimiliki antara lain: Perkembangan guna lahan perdagangan dan jasa, ketersediaan void untuk pengoptimalan citra kawasan, arus koridor jalan utama Kembang Jepun stabil, keberadaan pedestrian way di pusat kawasan, ketersediaan massif untuk pengoptimalan citra kawasan, kesan ruang yang harmonis, keberadaan landmark Gerbang Kya-kya, mata pencaharian penduduk, kegiatan peribadatan, tradisi dan seni Tionghoa di Kawasan Kembang Jepun dan keberadaan etnis Cina dalam struktur masyarakat. Permasalahan yang dimiliki Kawasan Kembang Jepun antara lain keterbatasan lahan untuk parkir, belum ada penataan PKL, kurangnya pedestrian way, kurang optimalnya street furniture dan citra kawasan serta SK Cagar Budaya, kurangnya minat pemilik bangunan kuno serta tidak adanya penyuluhan teknis perawatan bangunan kuno dan penyelenggaran seni budaya Tionghoa.

Kata kunci: potensi, masalah, pecinan, Kembang Jepun


A B S T R A C T

The aim of this study are to identify pyhsical, social, economic and culture’s characteristic of Kembang Jepun, to analyze potention and issues related to Kembang Jepuns’s and to preserve and determined Kembang Jepun’s presevation concepts and strategies. Development and existence of Kembang Jepun was dominant in Dutch Colonial era through Region’s Law (Wijkenstel) enforcement in 1843. In existing, Kembang Jepun has 84,86% of trading and service land use with national, regional and city scale of service, 14,71% housing, 0,29% religion landuse and 0,14% office land use. Path system in Kembang Jepun consists of secondary artery, secondary collector and local path. Kembang Jepung corridor has 1012 smp/hour of LHR, 1799 smp/hour of capacity and scale of service in class C. Kembang Jepun’s potention are land use development, void and massif presence, harmonius scale of landscape, Kya kya gate presence, community working activities, religion activities of Tionghoa people and the presence of Tionghoa community. Issues of Kembang Jepun are space limitation for parking area, lack of pedestrian way, street furniture, area imag and Herritage’s Law are less than optimal, lack of building owner’s interest and also no maintenance technique of old building counseling and performance of China’s art and culture.

Key word: potention, issue, China Town, Kembang Jepun

arsitektur e-Journal, Volume 4 Nomor 1, Maret 2011 hlm. 15-27

PELESTARIAN KAWASAN BENTENG KERATON BUTON


Novesty Noor Azizu, Antariksa, Dian Kusuma Wardhani

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Jl. Mayjen Haryono 167 Malang 65145; Telp (0341) 567886

email: nov_27@ymail.com

ABSTRAK

Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik kawasan bersejarah, mengidentifikasi dan menganalisis penyebab perubahan kawasan bersejarah dan menentukan arahan pelestarian kawasan. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif (observasi lapangan dan data sekunder), metode evaluatif (analisis faktor) dan metode analisis development. Hasil yang diperoleh, yaitu penggunaan lahan di kawasan saat ini menjadi lebih beragam namun tetap didominasi oleh permukiman dan ruang terbuka. Area sirkulasi yang terkait dengan aktivitas sosial dan budaya masyarakat masih tetap dipertahankan hingga kini. Kondisi bangunan bersejarah sebagian besar telah mengalami perubahan fisik. Faktor penyebab perubahan kawasan, yaitu pembangunan bangunan baru yang tidak selaras, kurang tegasnya pelaksanaan hukum dan peraturan tentang pelestarian, kurangnya peran aktif masyarakat, perubahan bangunan bersejarah, faktor sosial, faktor politik dan ekonomi. Faktor penyebab perubahan fisik bangunan bersejarah di kawasan, yaitu perubahan kepemilikan, kegiatan wisata, kurangnya kesadaran masyarakat, perubahan selera pemilik, kurangnya komitmen pemerintah, material bangunan dan faktor ekonomi. Berdasarkan hasil penilaian makna kultural bangunan diperoleh 6 bangunan bersejarah potensial tinggi, 61 bangunan potensial sedang dan 5 bangunan potensial rendah.

Kata kunci: kawasan bersejarah, penyebab perubahan, pelestarian

ABSTRACT

The aims of this study are to identify characteristic of historical sites, to identify and analyze the causes of historical sites changes and determines the act of historical sites preservation. This study used descriptive analysis method (observation and secondary data), evaluative method (factor analysis) and development method. The study found that the land use of these historical sites became more heterogenic but was still dominated by settlement area and open space. The circulation area for social and culture activity has been still maintained until now. Most of historical building had physical changes. The causes of historical sites changes were incompatible development of new building, less of implementation of preservation rules, less of people participation, changes of historical building, social factor, politic and economic factor. The causes of historical building changes were ownership changes, tourist activities, less awareness for preservation, owner preference changes, less of government commitment, building material, and economic factor. Based on the result of culture value scoring, the study showed that there were 6 high potential building, 61 medium potential building and 5 low potential building.

Key words: historical sites, causes of changes, preservation

arsitektur e-Journal, Volume 4 Nomor 1, Maret 2011 hlm. 28-38

PELESTARIAN LINGKUNGAN DAN BANGUNAN KUNO

KORIDOR UTAMA KOTA LAMA AMPENAN

Riana Rizki Anindita Wiggers­, Antariksa, Fadly Usman

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Jl. Mayjen Haryono 167 Malang 65145, Indonesia, Telp./fax. 62-341-7051558

E-mail: rianawiggers@yahoo.com

ABSTRAK

Sebagai Kota Pelabuhan yang potensial pada jaman kolonial Belanda, Kota Lama Ampenan memiliki nilai sejarah yang cukup tinggi dan pengaruh kolonial yang sangat terasa terutama pada karakter fisik bangunan-bangunan yang ada pada kawasan tersebut. Tujuan studi ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganlisis karakteristik kawasan dan bangunan kuno di Kota Lama Ampenan. Metode yang digunakan adalah deskriptif, digunakan untuk mengetahui karakteristik kawasan Kota Lama Ampenan, yang terdiri dari karakteristik fisik dan non fisik; analisis pembobotan dengan metode skoring untuk menentukan aspek prioritas pelestarian non fisik, dan menentukan bangunan kuno yang potensial dilestarikan berdasarkan tujuh kriteria makna kultural (estetika, kejamakan, kelangkaan, kieluarbiasaan, peranan sejarah, keaslian, dan keterawatan). Berdasarkan penilaian aspek prioritas pelestarian non fisik, didapatkan prioritas pelestarian non fisik adalah aspek hukum dan ekonomi, yaitu perlunya pengadaan sebuah aturan hukum dan sebuah alokasi dana khusus, dan berdasarkan kriteria-kriteria makna kultural yang telah dilakukan dengan metode pembobotan, maka dapat diketahui bahwa dari 52 bangunan yang diteliti terdapat 10 bangunan dengan potensial tinggi untuk dilestarikan (preservasi), 13 bangunan dengan potensial cukup tinggi (konservasi), 21 bangunan dengan potensial sedang (rehabilitasi), dan 8 bangunan dengan potensial rendah (rekonstruksi).

Kata kunci: pelestarian lingkungan dan bangunan kuno, Kota Lama Ampenan.

ABSTRACT

As an potential seaport in the colonial era, the old Ampenan town has a high sufficient historical value and colonial influence that appear exquisite, especially on the physical characteristic of the buildings in that district. The aim of this study is to identify and analyze the district and the ancient buildings of old Ampenan. The method of this study is descriptive used to identify characteristic of old Ampenan district, which consist of physical characteristic and non physical characteristic; and quality analysis with scoring method to determinee priority aspectt of non physical conservation, and determine ancient building which potential to be conserved based on seven criteria of cultural meaning (aesthetics, plurality, peculiarity, historical role, building authenticity, maintenance). Based on the scoring of priority aspect of non physical conservation, can be found that the law and economy aspect is a priority in non physical conservation that comes with a law policy and a special budget alocation as an implemention, and based on criteria of cultural meaning that already carried out with ranking method, then can be found that from 52 buildings, there are 10 buildings in high potential score to be conserved (preservation), 13 buildings are in medium potential (conservation), 21 buildings in low-medium potential (rehabilitation), and 8 buildings in low potential (reconstruction).

Keywords: preservation of environmental and old buildings, old town Ampenan.

arsitektur e-Journal, Volume 4 Nomor 1, Maret 2011 hlm. 39-54

POLA TATA RUANG RUMAH TINGGAL KUNO

DESA BAKUNG KECAMATAN UDANAWU BLITAR

Siti Maria Ulfa, Antariksa, Ema Yunita Titisari

Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Jl. Mayjen Haryono 167, Malang 65145, Indonesia – Telp. (0341) 567886

E-mail: mar.mariaulfa@gmail.com

ABSTRAK

Tujuan studi adalah untuk mengetahui pola tata ruang dan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan pola tata ruang rumah tinggal kuno di Desa Bakung. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan historis. Hasil studi menunjukkan bahwa rumah-rumah kuno di Desa Bakung mempunyai pola yang memadukan konsepsi lama-modern dalam penataan ruangnya. Halaman rumah memiliki batas fisik maupun visual dengan rumah lainnya, sebab mempunyai fungsi sebagai persediaan lahan rumah anak dan kegiatan ekonomi. Rumah juga mempunyai orientasi berdasarkan arah mata angin, mempunyai tiga jenis dan susunan ruang yang kesemuanya berbentuk grid dan memiliki hirarki ruang dalam semakin ke belakang semakin privat serta semakin ke kiri semakin kotor. Perubahan pola terjadi untuk membuat fungsi baru, pengurangan fungsi yang dapat mengakibatkan perubahan jenis ruang, kesimetrisan, organisasi serta hirarki ruang. Ruang yang cenderung mengalami perubahan adalah ruang-ruang di gugus bale, dan pawon, sedangkan ruang yang sedikit mengalami perubahan dan cenderung tetap adalah ruang-ruang di dalam gugus omah, khususnya sentong tengah yang merupakan area paling sakral di dalam rumah. Perubahan tersebut antara lain dipengaruhi oleh kebutuhan dasar manusia, teknologi baru, gaya hidup, faktor ekonomi, system hak waris dan budaya.

Kata kunci: pola tata ruang, perubahan, Desa Bakung

ABSTRACT

The objection of this study is to identify the layout spacing with factors that triggered its changing on ancient houses in Bakung Village. The applied methods are descriptive analysis with historical approach. The result of this study showed that the layout spacing on ancient houses applied with the old-modern concept. The yard have visual and physical boundary, separate it from one to another, due to its function that aimed to be the land for children’s needs and economic activities. These ancient houses applied orientation based on three different windward, space composition is grid organized, and also applied space hierarchy of symmetric; the more we go inside the spaces, the more private it is, and the center side tends to be sacred, meanwhile the left side tends to be profane. Changing the layout spacing is done in order to add new functions therefore it affected on lessening the existed functions, which it changed the symmetrical, axes, organization and the space hierarchy. Spaces that tend to change significantly are spaces on gugus bale and pawon, meanwhile the least spaces that potentially changed are spaces on gugus omah, especially sentong tengah which are the most sacred area compared to other spaces in the house. The trigger factor that affected layout spacing changed on ancient houses in Bakung Village are basic human needs, new technologies, life style, economy factor, inheritance system and cultures.

Keywords: layout spacing, changes, Bakung Village

Antariksa © 2011

Categories: Uncategorized Tags:

METODE PELESTARIAN ARSITEKTUR

October 2nd, 2011 Comments off
Antariksa

Jenis dan Metode Penelitian

Jenis penelitian

Bentuk penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk melukiskan keadaan objek atau persoalannya. Dalam hal ini, objek yang diamati adalah bangunan. Hasil analisis tersebut dapat memberikan arahan tindakan pelestarian bangunannya. Hal ini dilakukan dengan cara mengkaji elemen-elemen bangunan yang terdapat pada tersebut dengan kriteria-kriteria makna kultural bangunan.

Pada tahap ini terdapat berbagai langkah pokok yang dilakukan dengan pendekatan objek penelitian, di antaranya: 1. Merekam kondisi fisik bangunan dengan cara mengamati kondisi objek penelitian pada saat ini; 2. Mengumpulkan informasi mengenai karakteristik Arsitektur Kolonial yang berkembang di Indonesia, khususnya di lokasi penelitian; 3. Melakukan pembandingan antara hasil yang didapat dari langkah 1 dan 2, sehingga didapatkan suatu gambaran karakter bangunan, dan juga perubahan-perubahan yang terjadi; dan 4. Membuat kesimpulan tentang kondisi fisik bangunan, dan juga menentukan arahan tindakan pelestarian fisik bagi bangunan tersebut.

Metode penelitian

Penelitian dapat diartikan sebagai suatu usaha untuk mengumpulkan, mencatat, dan menganalisa fakta-fakta mengenai suatu masalah. Penelitian diadakan dengan tujuan pokok, yakni menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian untuk mengungkap fenomena sosial atau alami tertentu. Untuk mencapai tujuan pokok ini peneliti merumuskan hipotesa, mengumpulkan data, memproses data, membuat analisa, dan interpretasi. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode analisis kualitatif. Metode pendekatan menggunakan deskriptif analisis (pemaparan kondisi), dan metode evaluatif, dan metode development. Metode analisis kualitatif ini dilakukan dengan cara observasi lapangan dan wawancara. Metode deskriptif analisis dilakukan dengan pendekatan historis. Metode analisis kualitatif adalah suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasarkan pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah manusia. Pada pendekatan ini, peneliti membuat suatu gambaran kompleks, meneliti kata-kata, laporan terinci dari pandangan responden, dan melakukan studi pada situasi yang alami (Creswell 1998). Bogdan dan Taylor mengemukakan bahwa metodologi kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati (Moleong 2007). Metode ini dilakukan dengan cara observasi lapangan dan wawancara.

Metode deskriptif merupakan metode penelitian yang mendeskripsikan atau menggambarkan keadaan atau status fenomena-fenomena ataupun hubungan antara fenomena yang diteliti dengan sistematis, faktual, dan akurat. Metode deskriptif berguna untuk mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan keadaan sesuatu. Metode ini merupakan suatu metode dalam penelitian yang dilakukan dengan cara mengumpulkan data dari hasil observasi lapangan, wawancara, pengambilan gambar (foto), dokumen pribadi/resmi, dan data lain yang mempunyai relevansi dengan objek penelitian. Penelitian deskriptif merupakan metode penelitian yang berusaha menggambarkan dan menginterpretasi objek sesuai dengan apa adanya (Best 1982). Penelitian deskriptif pada umumnya dilakukan dengan tujuan utama, yaitu menggambarkan secara sistematis fakta dan karakteristik objek dan subjek yang diteliti secara tepat. Metode rasionalistik-kualitatif merupakan metode dengan peneliti bertindak sebagai instrumen utama, penelitian dilakukan dengan proses interview secara mendalam dan mendetail secara silang dan berulang untuk dapat mengetahui perkembangan kawasan, lingkungan serta perubahan – perubahan yang mungkin terjadi (Moehadjir 1996). Dengan penerapan metode ini dapat diketahui perkembangan dan perubahan yang terjadi pada bangunan. Metode evaluatif digunakan sebagai metode dalam memberikan penilaian bagi bangunan yang menjadi objek penelitian, penilaian ini berkaitan dengan nilai – nilai makna kultural yang dimiliki bangunan. Metode development merupakan metode yang bertujuan untuk mengembangkan pengetahuan yang sudah ada.

Beberapa prosedur yang harus dilakukan sebagai pedoman pelaksanaan suatu penelitian adalah sebagai berikut: 1. Merumuskan persoalan dengan jelas; 2. Menentukan sumber informasi; 3. Menentukan metode pengumpulan data dan cara memperoleh informasi; 4. Pelaksanaan riset; 5. Pengolahan data; dan 6. Menyusun laporan. Pada bagian lain Hartoto (2009) juga menjelaskan bahwa langkah penelitian yang menggunakan metode deskriptif sebagai berikut: a) Mengidentifikasi adanya permasalahan yang signifikan untuk dipecahkan melalui metode deskriptif; b) Membatasi dan merumuskan permasalahan secara jelas; c) Menentukan tujuan dan manfaat penelitian; d) Melakukan studi pustaka yang berkaitan dengan permasalahan; e) Menentukan kerangka berpikir, dan pertanyaan penelitian dan atau hipotesis penelitian; f) Mendesain metode penelitian yang hendak digunakan termasuk dalam hal ini menentukan populasi, sampel, teknik sampling, menentukan instrumen, mengumpulkan data, dan menganalisis data; g) Mengumpulkan, mengorganisasikan, dan menganalisis data dengan menggunakan teknik statistika yang relevan; dan h) Membuat laporan penelitian

Kriteria pemilihan objek penelitian ini didasarkan pada kriteria Benda Cagar Budaya UU No. 11 Tahun 2010, yakni 1. berusia 50 (lima puluh) tahun atau lebih; 2. mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 (lima puluh) tahun; 3. memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan; dan 4. memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa.

Selain itu, terdapat juga beberapa pertimbangan lain terhadap kriteria pemilihan objek penelitian, mengacu pada pendapat Pontoh (1992: 37), yakni 1. Kriteria Arsitektural: Suatu kota atau kawasan yang akan dipreservasikan atau konservasikan memiliki kriteria kualitas arsitektur yang tinggi, disamping memiliki proses pembentukan waktu yang lama atau keteraturan dan kebanggaan (elegance). 2. Kriteria Historis: Kawasan yang dikonservasikan memiliki nilai historis dan kelangkaan yang memberikan inspirasi dan referensi bagi kehadiran bangunan baru, meningkatkan vitalitas bahkan menghidupkan kembali keberadaannya yang memudar; dan 3. Kriteria Simbolis: Kawasan yang memiliki makna simbolis paling efektif bagi pembentukan citra suatu kota.

Instrumen Pengumpulan Data

Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian bertujuan untuk mempermudah pengumpulan data selama melakukan observasi lapangan. Instrumen pengumpulan data tersebut adalah sebagai berikut: 1. Kamera; Untuk mengambil foto eksisting dan detail bangunan; 2. Lembar catatan dan sketsa; dan Untuk mencatat keterangan dan menggambar hasil observasi di lapangan; dan 3. Lembar observasi. Berupa gambar bangunan untuk mencatat berbagai pengamatan pada titik-titik bangunan.

Variabel Penelitian

Variabel penelitian merupakan berbagai hal yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari, sehingga dapat diperoleh sebuah informasi mengenai data yang dibutuhkan untuk dianalisis dan didapatkan kesimpulan. Varibel tersebut perlu didefinisikan dengan jelas, sehingga dapat memudahkan dalam pengaplikasiannya. Pengolahan data dilakukan dengan mencari dan mengumpulkan berbagai variabel yang berhubungan dengan objek penelitian.

Pemilihan variabel penelitian dilakukan berdasarkan berbagai pendapat yang telah dikutip pada Bab II. Variabel tersebut diharapkan dapat mempermudah untuk melakukan pengelompokan data dan sampel. (Tabel 1).

Tabel 1. Variabel Konsep, Faktor, dan Indikator

Konsep

Faktor

Indikator

Karakter Visual

Dinding

Tekstur, perubahan

Warna, perubahan

Material, perubahan

Ornamen, perubahan

Atap

Bentuk, perubahan

Material, perubahan

Jendela

Bentuk, perubahan

Material, perubahan

Warna, perubahan

Ventilasi

Bentuk, perubahan

Material, perubahan

Warna, perubahan

Pintu

Bentuk, perubahan

Material, perubahan

Warna, perubahan

Jumlah, perubahan

Fasade

Komposisi: simetri,

ritme/perulangan,

kontras kedalaman,

proporsi dan skala.

Karakter Spasial

Denah

Bentuk: “tipis”/U, perubahan

Simetri

Pola: grid, perubahan

Massa Bangunan

Bentuk dasar, perubahan

Orientasi bangunan, perubahan

Pola penataan, perubahan

Jenis Data dan Pengumpulan Data

Penyusunan hasil kajian ini didukung oleh adanya suatu data yang berkaitan langsung dengan objek, baik berupa data primer maupun data sekunder. Dalam memperoleh data tersebut digunakan beberapa metode pengumpulan data, yaitu:

Data primer

Data primer merupakan data pokok yang didapat langsung dari objek penelitian, yakni data kualitatif. Data kualitatif,adalah data yang tidak diukur secara nominal (data fisik bangunan, yang meliputi karakter visual dan karakter spasial), serta kondisi bangunan.(Tabel 2.)

Tabel 2. Jenis Data Primer, Sumber Data, dan Kegunaan

Jenis Survei Primer

Jenis Data Primer

Sumber Data Primer

Kegunaan Data Primer

Data kualitatif

· Data fisik bangunan

· Literatur terkait

· Hasil survei

· Arsip bangunan

Untuk mengetahui karakter bangunan sebagai penentu upaya pelestarian bangunan

· Perkembangan dan perubahan fisik bangunan

· Literatur terkait

· Hasil survei

· Arsip bangunan

· Kuisioner

· Pengelola bangunan

· Pengguna bangunan

· Instansi terkait

Untuk mengetahui data yang tidak tidak terukur (kualitatif) yang berhubungan dengan bangunan.

Proses pengumpulan data primer dilakukan dengan beberapa metode, antara lain: 1) Wawancara: Wawancara dilakukan untuk mendapatkan data yang lebih spesifik dan detail di mana data tersebut tidak dapat kita temukan pada literatur, seperti: - Perkembangan dan perubahan yang terjadi pada bangunan, untuk mengetahui dan menganalisis perkembangan dan perubahan bangunan, sebagai pertimbangan dalam upaya konservasi; - Jumlah pengguna bangunan, sebagai acuan untuk menentukan jumlah responden kuisioner; dan - Permasalahan yang terdapat pada bangunan dan mempengaruhi kegiatan pelestarian bangunan objek. Hal ini dimaksudkan untuk upaya pelestarian yang telah dilakukan sebelumnya sebagai acuan untuk melakukan tahapan yang lebih lanjut; dan 2) Observasi lapangan: Observasi lapangan merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan melalui pengamatan objek guna memperoleh gambaran secara langsung mengenai lokasi objek penelitian, dan untuk mengetahui masalah yang mungkin muncul pada objek yang dapat mempengaruhi upaya konservasi bangunan. Observasi lapangan ini dilakukan dengan melakukan pengambilan gambar (visual) dengan menggunakan kamera digital, terdiri dari gambar fasade bangunan, kawasan sekitar bangunan, dan interior bangunan. Dengan melakukan pengambilan gambar bertujuan juga untuk mengetahui berbagai aktifitas dalam bangunan yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam upaya konservasi bangunan.

Data sekunder

Data sekunder merupakan data pelengkap yang berisi mengenai hal-hal yang dapat mendukung dan mempunyai hubungan dengan data primer. Data sekunder juga berfungsi sebagai bahan arahan dan pertimbangan dalam proses komparasi. Data sekunder tersebut antara lain (Tabel 3): a. Konservasi bangunan yang berhubungan dengan bangunan; b. Sejarah dan perkembangan bangunan; dan c. Karakteristik bentuk asitektural pada bangunan.

Tabel 3. Jenis Data Sekunder, Sumber Data, dan Kegunaan

Jenis Survei Sekunder

Jenis Data Sekunder

Sumber Data Sekunder

Kegunaan Data Sekunder

Studi Literatur

· Karakter Arsitektural

Data literatur

Mengetahui karakter pada pada bangunan kolonial sebagai acuan untuk upaya konservasi bangunan

· Pelestarian Bangunan

UU No. 5 th. 1992

UU No. 10 th. 2010

Data literatur

Mengetahui pengertian, kriteria-kriteria, klasifikasi, dan manfaat pelestarian bangunan.

· Makna Kultural Bangunan

Piagam Burra 1981

Guidelines to the Burra Charter 1988

Data literatur

Mengetahui makna kultural bangunan dalam upaya menentukan elemen-elemen objek studi yang layak untuk dilestarikan

· Strategi Pelestarian Bangunan

Data literatur

Mengetahui strategi pelestarian yang tepat untuk diterapkan pada objek penelitian

Instansi Terkait

· Penngelola bangunan

· Wawancara

· Data literatur

· Arsip bangunan

Mengetahui perubahan dan perkembangan bangunan.

· Bappeda Kota

· RTRW Kota

· RDTRK Kecamatan Kota

· Zoning Regulation Kawasan Strategis Kota

· Data literatur

Mengetahui pedoman-pedoman dalam upaya pelestarian, serta arahan kebijakan pengembangan pelestarian dalam skala kawasan/kota

Berdasarkan kebutuhan data, dalam penelitian ini dibagi data yang digunakan terbagi menjadi dua kategori, antara lain data umum dan data pustaka:

Data umum

Data umum dibagi menjadi dua macam: 1. Data fisik, berupa informasi yang berhubungan dengan bangunan, seperti: a. Sejarah perkembangan bangunan dan berbagai alasan yang melatar-belakangi pembangunannya; dan b. Identifikasi/analisis ciri-ciri dan karakter pembentuk bangunan. Data ini akan digunakan sebagai bahan analisa komparasi karakter bangunan; dan 2. Data non-fisik: Data non-fisik merupakan informasi yang didapat yang bersifat kualitatif (tidak terukur) berupa kondisi di lapangan, yang meliputi kondisi politik, ekonomi, sosial, serta nilai-nilai historis bangunan.

Data pustaka

Data pustaka merupakan data yang diperoleh melalui studi literatur yang berhubungan dengan objek penelitian, misal buku-buku mengenai arsitektur kolonial, jurnal dan penelitian sejenis yang dilakukan sebelumnya oleh orang lain. Data pustaka tersebut digunakan sebagai konsep dasar untuk memperkuat analisis, sehingga dapat dihasilkan sebuah analisa yang jelas.

Metode Analisis Data

Metode analisis data merupakan suatu alat yang digunakan dalam pembahasan dan penyelesaian rumusan masalah yang bertujuan untuk mendapatkan suatu kesimpulan yang menjadi dasar bagi penyelesaian suatu keputusan. Analisis data adalah proses penyederhanaan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diintrepretasikan (Singarimbun, 1995). Analisis data yang dilaukan dalam upaya pelestarian bangunan menggunakan analisis kualitatif. Metode pendekatan menggunakan deskriptif analisis (pemaparan kondisi), metode evaluatif (pembobotan) dan metode development.

Metode deskriptif analisis

Metode deskriptif analisis merupakan suatu metode yang menggunakan penjelasan data berupa kondisi objek penelitian yang telah diperoleh melalui hasil survey lapangan, yaitu pengamatan dan wawancara. Dari hasil survey lapangan tersebut akan ditemukan kemungkinan perubahan pada unsur-unsur pembentuk karakter bangunan, baik dari tinjauan gaya bangunan, atap, interior, eksterior, dan lain sebagainya. Beberapa aspek yang akan dilakukan analisis menggunakan metode deskriptif analisis ini, yaitu 1) Identifikasi Karakter Bangunan: Pada tahap ini bertujuan untuk mengetahui karakter bangunan yang didapat dari berbagai sumber, baik melalui obeservasi lapangan maupun wawancara. Dalam tahap ini diperlukan analisis yang membahas mengenai: a. Usia Bangunan, menunjukan bahwa bangunan tersebut masuk ke dalam kategori pelestarian; b. Fungsi Bangunan, menunjukan bahwa bangunan tersebut masih memiliki fungsi yang sama seperti pada saat pertama kali dibangun; dan c. Kondisi Fisik Bangunan, menunjukkan tingkat keterawatan dan keaslian bangunan; 2) Kondisi Bangunan: Analisis bangunan dilakukan pada seluruh bagian bangunan. Analisis tersebut meliputi luas bangunan, jumlah dan pola tata ruang serta orientasi bangunan. Analisis secara khusus dilakukan untuk mengetahui kriteria bangunan, yaitu meliputi gaya bangunan, fungsi dan bahan. Hasil analisis berupa gambaran umum kondisi bangunan yang sekarang dibandingkan dengan kondisi asli bangunan: dan 3) Masalah Pelestarian: Analisis mengenai permasalahan ini bertujuan untuk mengetahui kendala–kendala yang terdapat pada kegiatan pelestarian dan juga konservasi bangunan–bangunan tua yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat. Permasalahan fisik, yaitu kesadaran dan inisiatif, dasar implementasi (dasar hukum), konsep dan rencana, organisasi dan realisasi serta pendanaan kegiatan. Hasil pada tahap ini akan digunakan dalam pertimbangan upaya konservasi yang akan dilakukan.

Metode evaluatif

Untuk menentukan nilai makna kultural bangunan didasarkan pada kriteria-kriterianya (estetika, kejamakan, kelangkaan, peranan sejarah, keluarbiasaan, dan karakter bangunan). (Tabel 4)

Tabel 4. Kriteria Penilaian Bangunan

No

Kriteria

Definisi

Tolak ukur

1.

Estetika

Terkait dengan perubahan estetis dan arsitektonis bangunan (gaya bangunan, atap, fasade/selubung bangunan, ornamen/elemen, dan bahan)

Perubahan gaya bangunan, atap, fasade/selubung bangunan, ornamen/elemen serta struktur dan bahan

2.

Keluarbiasaan

Memiliki ciri khas yang dapat diwakili oleh faktor usia, ukuran, bentuk bangunan, dan lain sebagainya

Peran kehadirannya dapat meningkatkan kualitas serta citra dan karakter bangunan

3.

Peranan sejarah

Berkaitan dengan sejarah baik kawasan maupun bangunan itu sendiri

Berkaitan dengan peristiwa bersejarah sebagai hubungan simbolis peristiwa dahulu dan sekarang

4.

Kelangkaan

Bentuk, gaya serta elemen-elemen bangunan dan penggunaan ornamen yang berbeda dan tidak terdapat pada bangunan lain

Merupakan bangunan yang langka dan tidak terdapat di daerah lain

5.

Karakter Bangunan

Memiliki peran yang penting dalam pembentukan karakter bangunan

Memiliki ciri khas seperti usia bangunan, ukuran/luas bangunan,

bentuk bangunan, dan sebagainya

6.

Memperkuat citra kawasan

Memiliki peran yang penting dalam pembentukan karakter kawasan

Peran kehadirannya dapat sesuai dengan fungsi kawasan dan meningkatkan kualitas serta citra dan karakter kawasan

Sumber : Catanese (1989), Budiharjo (1985), Nurmala (2003), Hastijanti (2008)

Masing–masing kriteria tersebut dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu tinggi, sedang dan rendah. Yang sesuai dengan kondisi bangunan ditinjau dari makna kultural elemen–elemen bangunan. Setiap tingkatan mempunyai bobot nilai tertentu.

Bobot penilaian ini juga dapat digunakan pada bobot nilai yang berbeda juga. Penelitian ini menggunakan scoring dengan tiap kriteria dibagi menjadi tiga tingkatan mulai rendah, sedang dan tinggi, yaitu 1,2 dan 3.

Untuk penjelasan lebih lanjut mengenai bobot dan penilaian makna kultural bangunan serta batasan yang digunakan pada tiap tingkatan sebagai berikut:

  1. Estetika

Estetika bangunan terkait dengan variabel konsep dan kondisi bangunan. Penilaian estetika berdasarkan terpeliharanya elemen–elemen bangunan dari suatu perubahan, sehingga bentuk dan gaya serta elemen–elemen bangunan masih sama dengan bentuk dan gaya bangunan asli. (Tabel 5)

Tabel 5. Kriteria Penilaian Estetika Bangunan

No.

Penilaian

Bobot Nilai

Keterangan

1.

Rendah

1

Variabel dan konsep bangunan mengalami perubahan / tidak terlihat karakter aslinya.

2.

Sedang

2

Terjadi perubahan yang tidak merubah karakter

3.

Tinggi

3

Tingkat perubahan sangat kecil, karakter asli tetap bertahan

2. Keluarbiasaan

Kriteria keluarbiasaan terkait erat dengan bentuk bangunan serta elemen – elemennya terutama yang berhubungan dengan ukuran, sehingga menjadi faktor pembentuk karakter bangunan. (Tabel 6)

Tabel 6. Kriteria Penilaian Keluarbiasaan Bangunan

No.

Penilaian

Bobot Nilai

Keterangan

1.

Rendah

1

Bangunan tidak mendominasi keberadaan lingkungan bangunan sekitarnya.

2.

Sedang

2

Bangunan memiliki beberapa elemen yang berbeda dengan lingkungan bangunan di sekitarnya

3.

Tinggi

3

Keseluruhan bangunan terlihat dominan sehingga dapat menjadi landmark.

3. Peranan Sejarah

Penilaian terhadap peranan sejarah berhubungan dengan peristiwa bersejarah atau perkembangan Kota yang dapat dilihat dari gaya dan karakter bangunan serta elemen–elemennya yang mewakili gaya arsitektur pada masa itu. (Tabel 7)

Tabel 7. Kriteria Penilaian Peranan Sejarah Bangunan

No.

Penilaian

Bobot Nilai

Keterangan

1.

Rendah

1

Bangunan tidak memiliki kaitan dengan periode sejarah / periode sejarah arsitektur tertentu

2.

Sedang

2

Bangunan memiliki fungsi yang terkait dengan periode sejarah

3.

Tinggi

3

Bangunan memiliki kaitan dan peranan dalam suatu periode sejarah / periode sejarah tertentu

  1. Kelangkaan

Kelangkaan bangunan serta elemen–elemen bangunan sangat terkait dengan aspek bentuk, gaya dan struktur yang tidak dimiliki oleh bangunan lain pada kawasan studi, sehingga menjadikan bangunan tersebut satu–satunya bangunan dengan ciri khas tertentu yang terdapat pada kawasan studi. (Tabel 8)

Tabel 8. Kriteria Penilaian Kelangkaan Bangunan

No.

Penilaian

Bobot Nilai

Keterangan

1.

Rendah

1

Ditemukan banyak kesamaan variabel pada bangunan di sekitarnya

2.

Sedang

2

Ditemukan beberapa kesamaan variabel pada bangunan lain di sekitarnya

3.

Tinggi

3

Tidak ditemukan kesamaan / ditemukan sangat sedikit kesamaan dengan bangunan lain di sekitarnya

  1. Karakter Bangunan

Penilaian terhadap kriteria memperkuat karakter berhubungan dengan elemen–elemen bangunan yang mempengaruhi bangunan dan berfungsi sebagai pembentuk dan pendukung karakter bangunan asli. (Tabel 9)

Tabel 9. Kriteria Penilaian Memperkuat Karakter Bangunan

No.

Penilaian

Bobot Nilai

Keterangan

1.

Rendah

1

Tidak memiliki nilai tinggi dari kelima aspek sebelumnya

2.

Sedang

2

Memiliki minimal satu nilai tinggi dari kelima aspek sebelumnya

3.

Tinggi

3

Memiliki minimal dua nilai tinggi dari kelima aspek sebelumnya

6. Memperkuat Citra Kawasan

Penilaian terhadap kriteria memperkuat citra kawasan berkaitan dengan pengaruh kehadiran bangunan terhadap kawasan sekitarnya yang dapat meningkatkan dan memperkuat kualitas dan citra lingkungan (Tabel 10).

Tabel 10. Kriteria Penilaian Memperkuat Citra Kawasan

No.

Penilaian

Bobot Nilai

Keterangan

11

22.

33

Rendah

Sedang

Tinggi

1

2

3

Apabila elemen bangunan dan bangunan secara keseluruhan tidak menciptakan kontinuitas dan laras arsitektural pada kawasan.

Apabila elemen bangunan dan bangunan secara keseluruhan cukup menciptakan kontinuitas dan laras arsitektural pada kawasan.

Apabila elemen bangunan dan bangunan secara keseluruhan menciptakan kontinuitas dan laras arsitektural pada kawasan.

Nilai pada masing–masing elemen bangunan untuk tiap kriteria selanjutnya akan dijumlahkan untuk mendapatkan nilai total yang dimiliki oleh masing–masing elemen. Nilai inilah yang menjadi patokan dalam klasifikasi elemen yang selanjutnya menjadi dasar dalam penentuan arahan pelestarian.

Langkah–langkah dalam penilaian makna kultural bangunan sebagai berikut: - Menjumlahkan hasil dari masing–masing kriteria:

- Menentukan total nilai tertinggi dan terendah. Total nilai tertinggi sesuai dengan penilaian makna kultural pada bangunan dalam penelitian ini adalah 18, sedangkan total nilai terendah adalah 6

- Menentukan jumlah penggolongan kelas pada data dengan rumus Sturgess:

k= 1 + 3,22 log n

Keterangan:

k = jumlah kelas

n = jumlah angka yang terdapat pada data

- Menentukan pembagian jarak interval dengan cara mencari selisih antara total nilai tertinggi dan total nilai terendah untuk kemudian dibagi dengan jumlah kelas.

i= jarak: k

Keterangan:

i = interval kelas

jarak = rentang nilai tertinggi dan terendah

k = 1 + 3,322 log n

- Mendistribusikan setiap total nilai ke dalam klasifikasi sesuai dengan jarak interval.

Nilai rata – rata tersebut akan dibagi dalam tiga interval untuk kemudian digolongkan dalam kelompok potensi bangunan dilestarikan. Pengelompokkan tersebut terbagi atas nilai potensial rendah,sedang dan tinggi (Tabel 11).

Tabel 11 Kelompok Penilaian

Penilaian

Keterangan

Nilai < 10

Potensial rendah

Nilai 11– 15

Potensial sedang

Nilai > 16

Potensial tinggi

Metode development

Metode development yang dilakukan untuk menentukan arahan dalam upaya pelestarian bangunan yang terdiri dari arahan fisik. Di dalam penelitian dengan metode ini pengujian datanya dibandingkan dengan suatu kriteria atau standar yang sudah ada/ditetapkan terlebih dahulu pada waktu penyusunan desain penelitian. Standar yang telah ditetapkan tersebut adalah penetapan arahan yang dilakukan dengan cara menyesuaikan hasil analisis terhadap bangunan dengan teori–teori pelestarian yang dijabarkan oleh para ahli serta bentuk–bentuk arahan yang telah diterapkan pada kondisi yang sama dengan kondisi pada penelitian.

Penentuan arahan tindakan fisik pada metode ini didasarkan pada hasil metode sebelumnya, yakni metode evaluatif. Berdasarkan hasil analisis pada metode evaluatif, didapatkan elemen-elemen bangunan berdasarkan klasifikasi potensial tinggi, sedang, dan rendah. Setiap elemen pada kelas potensial tertentu kemudian diarahkan untuk tindakan pelestarian lebih lanjut.

Bentuk arahan yang dimaksud difokuskan pada arahan tindakan fisik. Arahan tindakan fisik pada bangunan diklasifikasikan lagi ke dalam empat kelas, yaitu preservasi, konservasi, rehabilitasi dan rekonstruksi (Tabel 10).

Tabel 10. Teknik Pelestarian Fisik

Klasifikasi Elemen Bangunan Potensial

Arahan Pelestarian Fisik

Tingkat Perubahan Fisik yang Diperbolehkan

Potensial Tinggi

Preservasi

Sangat kecil

Konservasi

Kecil

Potensial Sedang

Konservasi

Kecil

Rehabilitasi

Sedang – Besar

Potensial Rendah

Rehabilitasi

Sedang – Besar

Rekonstruksi

Besar

Arahan tindakan fisik tersebut berfungsi untuk menentukan batas-batas perubahan fisik yang diperbolehkan bagi setiap elemen-elemen bangunan. Setelah batas perubahan fisik ditentukan, kemudian akan ditentukan tindakan teknis pelestarian berdasarkan tiap tingkat perubahan yang diperbolehkan bagi setiap elemen pembentuk karakter bangunan. Penentuan strategi dan arahan pelestarian yang ditetapkan melalui metode development terkait dengan hasil yang didapat dari penilaian pada metode evaluasi berupa penilaian makna kultural bangunan terbagi atas tiga kategori, yakni bangunan yang berpotensi tinggi, sedang dan rendah. Penilaian yang diperoleh tidak hanya pada keseluruhan bangunan namun juga pada tiap elemen–elemen bangunan yang memungkinkan memiliki potensi yang berbeda. Perbedaan pada tingkat potensi bangunan berpengaruh pada arahan pelestarian fisik yang akan dilakukan. Bangunan yang memiliki potensi tinggi perlakuan preservasi maupun restorasi sangat disarankan untuk mengembalikan wujud asli bangunan maupun elemen-elemen bangunan yang memiliki nilai tinggi dan telah banyak berubah. Pengembalian elemen tersebut disarankan menggunakan bahan maupun material yang sama atau mendekati agar dapat menghasilkan nilai bangunan sesuai kondisi aslinya. Bangunan maupun elemen yang memiliki potensi sedang dilakukan usaha konservasi untuk melestarikan kondisi bangunan dan mengatur arah perkembangannya. Upaya konservasi juga berkaitan dengan usaha pemeliharaan bangunan yang dapat dilakukan dengan pemeliharaan secara rutin maupun berkala. Elemen bangunan yang memiliki potensial rendah dapat dilakukan upaya rehabilitasi yakni penggantian bagian – bagian yang rusak agar dapat berfungsi kembali. Pengembalian kondisi bangunan tersebut tidak harus menggunakan bahan material maupun motif dan gaya yang sama, yang lebih ditekankan kesan bangunan harus tampak sama. Pada upaya rehabilitasi elemen bangunan yang berpotensi rendah dimungkinkan untuk melakukan penambahan-penambahan elemen baru yang dapat disesuaikan dengan fungsi bangunan.


Desain Survei

Untuk menghasilkan suatu hasil penelitian yang valid dan sesuai dengan tujuan penelitian yang diharapkan, maka perlu dibuat suatu desain survei yang merupakan rencana mengenai cara pengumpulan dan analisis data.

Daftar Pustaka

Attoe, W. 1989. Perlindungan Benda Bersejarah. Dalam Catanese, Anthony J. dan Snyder, James C. (Editor). Perencanaan Kota: 413-438. Jakarta: Erlangga.

Basuki, S. 2006. Metode Penelitian. Wedatama Widya Sastra. Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Jakarta: UI

Budihardjo, E. 1985. Arsitektur dan Pembangunan Kota di Indonesia. Bandung: Alumni.

Budiharjo, E. 1997. Arsitektur Pembangunan dan Konservasi. Jakarta: Djambatan

Budiharjo, E. 1997. Arsitektur sebagai Warisan Budaya. Jakarta: Djambatan

Dobby, Al. 1984. Conservation and Palnning. London: Hunchinson

Farchan, A. 1992. Pengantar Metoda Penelitian Kualitatif. Usaha Nasional. Surabaya.

Fitch, J.M. 1992. Historic Preservation:Curatorial Management of The Build World. New York: Mc Graw Hill Book company.

Hastijanti, R. 2008. Analisis Penilaian Bangunan Cagar Budaya. http://saujana17.wordpress.com/2008/analisis-penilaian-bangunan-cagar-budaya .html. (diakses 27 Februari 2011)

Kerr, J. 1982. The Conservation Plan: A Guide to the Preparation of Conservation Plans for European Cultural Significant. New South Wales: The National Trust of Australia.

Krier, R. 1988. Komposisi Arsitektur. Jakarta: Erlangga.

Marzuki. 1977. Metodologi Riset. Yogyakarta: BPFE – UII.

Mills, E. 1876. Planning: Building for Education, Culture, and Science. London: Newnes-Butterworth.

Mills, E. 1994. Building Maintenance and Preservation: a Guide for Design and Management. Oxford: Butterworth-Heinemann.

Moelyono, P., Abdy, D., Djaya, H., & Ghufron, M. 1988. Pengantar Metode Penelitian. Jakart : Penerbit Fero.

Nurmala. 2003. Panduan Pelestarian Bangunan Bersejarah di Kawasan Pecinan-Pasar Baru Bandung. Tesis. Tidak dipublikasikan. Bandung: ITB

Pontoh, N.K. 1992. Preservasi dan Konservasi Suatu Tinjauan Teori Perancangan Kota. Jurnal PWK, IV (6):34-39.

Singarimbun, M & Effendi, S. 1995. Metode Penelitian Survai. Jakarta: LP3ES.

Antariksa © 2011


Categories: Uncategorized Tags: