Archive

Archive for July, 2012

arsitektur e-Journal, Volume 5 Nomor 1, Maret 2012

July 15th, 2012 Comments off

ABSTRAK
Permukiman tradisional di Indonesia selalu memiliki lokalitas tertentu dalam menata dan menggunakan ruang, baik dalam skala hunian maupun permukiman. Seiring dengan kemajuan zaman dan globalisasi budaya,nilai dan bentuk-bentuk lokalitas ruang arsitektur tradisional pun semakin hilang.Kondisi tersebut sejalan dengan gerakan global untuk melindungi tempat-tempat yang memiliki warisan budaya yang signifikan. Di Dusun Sawun Kecamatan Wagir Malang terdapat permukiman masyarakat yang memiliki kebudayaan khas berupa akulturasi antara Kejawen dan Hindu yang tertuang dalam lokalitas ruang ritual dan sosialnya. Tujuan studi ini adalah untuk mengetahui nilai-nilai lokalitas ruang ritual dan sosial pada lokasi studi tersebut. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif, dan pendekatan Environment Behaviour Study. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lokalitas ruang ritualnya terwujud pada penggunaan konsep hirarki ruangnya, yaitu dimulai dari nilai kesakralan terendah (ruang nista) yaitu jalan umum desa;kesakralan menengah (madya) yaitupenggunaan ruang ritual pada halaman hunian maupun halaman pura;dan ruang dengan hirarki tertinggi (utama)yang terwujud dalam penggunaan ruang paling sakral baik dalam hunian maupun pura desa. Lokalitas ruang sosial dalam permukiman ini tercermin dalam terdapatnya pos-pos bambu di sekitar permukiman yang berfungsi sebagai sarana keamanan dan juga tempat warga bersosialisasi antar warga dalam lingkup kecil yang disebut dengan jagongan dan juga bale banjar Pura sebagai public space dan tempat kegiatan partisipatorik lainnya.
Kata kunci:  lokalitas, ruang,arsitektur tradisional, ritual, sosial.


ABSTRACT
Traditional settlements inIndonesia always hada particular locality in managing and using the space, both in residential and neighborhoodscale. Along with the development of civilization andglobalization of culture, values ​​and forms of traditionalarchitectural space locality getting lost. Conditions are in line with the global movementto protect the places that have significantcultural heritage. Hamlet Sawun WagirMalang District settlementsare communities thathave a distinctive culture as acculturation between Javanese andHindu locality contained in the ritual and social space. The purpose of this study is to determine the values ​​of locality and social ritualspace at the location of the study. The methodused in this study is qualitativedescriptive research and approach Environment BehaviorStudy. The results showed that the locality of the ritual space manifested in the use of the concept of spatial hierarchy, beginning from the sanctity of the lowest (abject space) is a public road villages, the sanctity of intermediate (middle) is the ritual use of space occupancy on a page orpages temples, and spaces with the highesthierarchy (main) embodiedin the use of the most sacred space in both the residentialand village temple. Locality social space in the settlements is reflectedin the presence of bamboo posts around theneighborhood that serves as a means of security andalso where peoplesocialize among people in a small scopecalled jagongan. BaleBanjar temple serves as a public space and places other participatoryactivities.
Key words: locality, space, traditional architecture, ritual, social.




ABSTRAK
Permukiman tradisional merupakan manifestasi dari nilai sosial budaya masyarakat yang memiliki peranan sangat penting dalam pembentukan struktur ruang permukiman di suatu desa. Permukiman Desa Wonokitri terbentuk dari nilai sosial budaya masyarakat Tengger yang terlihat dari penerapan kegiatan sosial budaya dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis karakteristik sosial budaya yang membentuk permukiman di Desa Wonokitri. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif eksploratif, analisis behavior mapping dengan metode person centered mapping dan analisis family tree. Hasil studi menunjukkan bahwa keterkaitan antara sistem aktivitas dengan ruang sebagai tempat pelaksanaannya membentuk pola pergerakan (lintasan) dan hierarki ruang tertentu di dalam permukiman masyarakat Tengger Desa Wonokitri. Terbentuk ruang budaya dan ruang ritual di dalam permukiman yang berdasarkan skala penggunaan ruangnya dikelompokkan menjadi skala ruang mikro, meso dan makro. Ditinjau dari tingkat kepentingan ruang ritual, pura, padhanyangan, makam keramat merupakan ruang sakral yang utama dan mempunyai peranan penting dalam pelaksanaan kegiatan sosial budaya di Desa Wonokitri. Pola pergerakan yang terbentuk dari pelaksanaan kegiatan sosial budaya menggambarkan pergerakan secara hierarkis, yakni pergerakan dari tempat sakral ke profan ataupun sebaliknya. Terdapat kesamaan dalam pola tahapan kegiatan, pola pergerakan dan penggunaan ruang pada beberapa kegiatan, terutama kegiatan yang terkait dengan ritual.
Kata kunci:sosial budaya, pola ruang, Tengger


ABSTRACT
Traditional settlement is a manifestation of the socio-cultural society that has a very important role in the formation of spatial structures in a rural settlement. Settlement of Wonokitri village formed from socio-cultural values ​​of Tengger society which is seen from the application of socio-cultural activities in the people’s daily lives.The purpose of this study is to identify and analyze the socio-cultural characteristics that form the settlement in Wonokitri village. The method used is descriptive exploratory method, behaviour mapping analysis with person centered mapping method and family tree analysis. The study results showed that the linkage between the activities and the space as a place where it happen form movement patterns (trajectory) and the hierarchy of a specific space in the settlement of Tengger society in Wonokitri village. Cultural space and ritual space formed in the settlement which is grouped into space scale micro, meso and macro based on the use of spatial scale. In terms of the importance of ritual space, temples, padhanyangan, sacred cemetery are the main sacred spaces and have a major role in the implementation of socio-cultural activities in Wonokitri village. Movement patterns that formed from the implementation of socio-cultural activities hierarchically describe the movement, the movement from the sacred place to the profane, or otherwise. There are similarities in the pattern of phases of activity, movement patterns and use of space in some activities, especially activities related to the ritual.
Key words: socio-cultural, space pattern, Tengger



Abstrak
Gaya arsitektur jengki merupakan modifikasi dan bukan tahapan lanjut dari gaya sebelumnya, yaitu arsitektur kolonial Belanda. Dari sisi bentuknya dapat dilihat dengan tanda unsur miring, seperti atap yang tidak menyatu pada puncaknya, tembok depan (gevel) miring, memiliki lubang angin (rooster) dan ragam ornamen yang campuraduk menjadi satu. Sesuatu yang tidak disadari di belakang adalah proses perkembangan pola pemikiran daripada bentuk fisiknya, yaitu sifat kemandirian, nasionalisme melawan penjajahan dan pencarian bentuk dari gaya yang sudah ada. Pola penyebarannya pun dapat dikatakan tidak merata dan tidak selalu memiliki ragam elemen yang kuat. Hal ini disebabkan arsitektur jengki berkembang pada era pasca kemerdekaan atau era transisi. Studi ini difokuskan untuk mengidentifikasi rumah bergaya jengki pada setiap kecamatan di Kota Malang dan Lawang, yang mana banyak ditemukan objek rumah jengki dan masih belum mendapat perhatian. Tujuan studi ini adalah untuk menganalisis tipologi dengan mengklasifikasi rumah jengki berdasarkan tipe-tipe tertentu dan menganalisis morfologinya berdasarkan tingkat perubahan dan kecenderungan perubahannya. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan rasionalistik dan studi kualitatif. Hasil studi adalah tabulasi tentang tipologi dan morfologi arsitektur jengki sebagai esensi pedoman bentuk arsitektur rumah jengki, yang akan memberikan kontribusi terhadap keilmuan arsitektur nusantara.
Kata Kunci:tipologi dan morfologi, arsitektur jengki,


Abstract
The jengki architecture style is a modification and not the later stages of the previous style of Dutch colonial architecture. From the form side it marked with at an angle elements, such as a roof that is not blend at its peak, the front side wall (gevel) at an angle, and have a vent (rooster) and ornaments variety that mixed into one. Something that not realized behind is the development process of the pattern than its physical form as nature of independence, nationalism against colonialism and searching the form from the existing style. The spreading pattern can be said uneven and not always have a strong various element. This is due the jengki architecture developed in post-independence era or the transition era. This research focused to identify the jengki style house in every district in Malang and Lawang, which many jengki houses object founded and still have not obtain attention. The purpose of this study is to analysis the typology with classified the jengki houses based on certain types and analysis the morphology based on the level and trends of change. The method used is descriptive with rationalistic approach and qualitative study. The result of this study is a tabulation of typology and morphology of jengki architecture as the essential guidelines for the jengki houses architecture and will contribute to scientific of nusantara architecture.
Key words:typology and morphology, jengki architecture 


ABSTRAK
Kampung Arab Kota Malang merupakan kampung kota yang terbentuk dari pengaruh kebijakan Pemerintah Belanda (Regering Regleementdan Vremde Oosterlingen), sehingga memiliki gaya arsitektur bangunan kolonial dan Jawa, serta budaya Islam. Namun modernisasi kawasan mengakibatkan perubahan tampilan visual bangunan kuno yang digantikan oleh bangunan modern. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengidentifikasi sejarah dan karakteristik kawasan dan bangunan kuno Kampung Arab. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif (observasi lapangan dan data sekunder) untuk mengidentifikasi dan menganalisis perubahan kawasan dan bangunan kuno, metode deskriptif evaluatif (analisis time series dan metode scoring), untuk mengetahui faktor penyebab perubahan kawasan, sedangkan untuk bangunan kuno digunakan metode deskriptif evaluatif (sinkronik diakronik dan analisis faktor). Hasil studi menunjukkan bahwa perubahan pada elemen fisik kawasan (character, connection, continuity, dan accessibility) adalah penambahan jumlah, jenis, dan kondisi bentuk elemen fisik kawasan dari periode ke periode. Untuk bangunan kuno terdapat 4 bangunan yang mengalami perubahan besar, 27 bangunan perubahan sedang dan 11 bangunan yang mengalami perubahan kecil. Perubahan kawasan dengan sinkronik-diakronik menunjukkan pengaruh perkembangan aspek sosial budaya, ekonomi dan politik saling memiliki keterkaitan terhadap perubahan kawasan maupun bangunan. Perubahan kawasan maupun bangunan disebabkan oleh ketiga aspek tersebut yang saling berkaitan. Penyebab perubahan bangunan kuno dikelompokkan menjadi tiga faktor, yaitu faktor I adalah kepemilikan dan lokasi, faktor II adalah usia dan perawatan, dan faktor III terkait adalah sosial budaya dan jumlah anggota keluarga.
Kata kunci: perubahan, kawasan dan bangunan kuno, Kampung Arab


ABSTRACT
Kampong Arab of Malang City represented in urban kampong is formed from by the influence policies of the Dutch Government (Regering Regleement and Vremde Oosterlingen) has an architecture style of colonial building and Javanese, as well as Islamic culture. However modernization of the area is consequently changes of the visual appearance of old buildings replaced by modern buildings. The purpose of this study is to identify the history and characteristics of the area and the old buildings in Kampong Arab. Method used is descriptive method (field observation and secondary data), to identify and analyze the changes of the area and the old buildings, evaluative descriptive method (time series analysis and scoring method), for old buildings used evaluative descriptive method (synchronic–diachronic and factor analysis). The result of this study showed that the changes of physical area elements (character, connection, continuity, and accessibility) are increase of the number, type, and the condition of physical area elements from period to period. For the old buildings enclose of 4 buildings which have in large change, 27 buildings have in moderate change and 11 buildings have small change. The changes of area used by synchronic-diachronic showed the influences concerning the development of social culture, economy and political aspects is have interconnected with the changes of area or the buildings. The changes of area or the buildings caused of the three aspects which is interconnected. Whereas the causal changes of the old buildings consist of three factors, the first factor are the owner and location, the second factors are age and treatment, and the third factors are social culture and number of family members.
Key words: changes, area and old buildings, Kampong Arab



© Antariksa  2012
Categories: Uncategorized Tags:

Pop Arsitektur Sebuah Dinamika Budaya

July 2nd, 2012 Comments off
Antariksa


Arsitektur perkotaan dewasa ini mempunyai bentuk tampilan fisik yang sangat beraneka ragam. Bentuk tampilan fisik itu menjadikan ciri budaya yang menarik bagi sebagian masyarakat, dan berkembangnya memunculkan spekulasi dari perjalanan arsitektur yang sulit untuk dikontrol lagi. Hal itu dilanjutkan dengan perkembangan arsitektur di seantero pelosok dunia yang sangat pesat pengaruhnya dan ini sebagai bagian dari era yang kita sebut dengan globalisasi. Tentu saja dari perkembangan tersebut akan memberikan pengaruh besar terhadap pendidikan arsitektur di Indonesia. Baik mazab, doktrin, style, maupun desain bangunannya. Arsitektur demikian berbicara dengan bahasa pop terkadang diproduksi massal dengan standar-standar tertentu. Dalam perkembangan dan perjalanannya karya-karya arsitektur semacam itu kadang-kadang terlihat tidak menghargai gaya masa lalu, yang muncul tanpa melihat kontekstual lingkungan tempat bangunan lain berada. Pada dasarnya seni ber’arsitektur’ itu tidaklah eksklusif dan sempit tentunya, tetapi selalu membaur dalam kehidupan fisiknya serta ingin sekali menghargai keanekaragaman dan pluralisme. Pada kenyataan perjalanan arsitek selalu mencari bentuk sederhana, dan dapat dijadikan sebuah karya yang bermakna tunggal. Meskipun banyak juga yang dalam prosesnya memunculkan elemen-elemen masa kini yang pada kenyataannya merupakan elemen “repetisi” (pengulangan). Karya asitektur dibangun dalam lingkungan urban yang sangan kontekstual sekali, namun teknik membangunnya tidak disertai pemahaman mengenai nuansa artistik. Bukan sebuah kisah arsitek dengan karya-karya yang melambangkan suatu dunia yang imajiner. Akan tetapi, aspek urban inilah yang memperlihatkan gaya, bentuk, dan corak yang saling bertentangan. Charles Moore dalam ‘Conversation with Architects’, mengatakan sebuah bangunan mempunyai kekuatan untuk menjadi apa yang diinginkannya, mengatakan apa yang ingin dikatakannya sehingga telinga kita mulai mendengar apa yang ingin disampaikan oleh bangunan tersebut (Grenz 2001:42). Kenyataannya kaum modernis menemukan identitas dirinya dengan membuang segala sesuatu yang lain dari dirinya; dengan cara ini, para arsitek modern mengatakan bahwa hasil karya arsitektur mereka bersifat murni (orisinal). Apakah arsitektur itu berkembang dan menjadi arus yang sangat dominan? Pada awalnya, mereka mempunyai keyakinan untuk menciptakan suatu tempat dan bangunan yang dapat memberikan kenyamanan pada manusia. Kenyataannya industrialisasi arsitekturlah yang menyingkirkan keanekaragaman tradisi dan lokalitas yang ada. Ekspansi ini berlanjut dengan menghancurkan bangunan kuno dan juga bangunan tradisional. Meskipun berdasarkan prinsip yang konon oleh Frank Llyod Wright dinyatakan dengan prinsip kesatuan (unity), dikatakan bahwa bangunan modern harus merupakan sebuah kesatuan organis. Bangunan harus merupakan “kesatuan yang agung” (one great thing) dan bukan kumpulan “bahan yang tidak agung” (little things) dalam kata lain bangunan harus mengekspresikan makna tunggal (Grenz 2001:39).
Arsitektur berkembang menjadi arus yang dominan sebagai cetusan jiwa modern untuk selalu “maju” dalam menghadapi tatanan global. Tidak Nampak kedalaman atau keluasan, melanggar batas sejarah demi untuk memberikan kesan masa kini. Melanggar orisinalitas dan tidak ada gaya sama sekali. Walter Gropius dalam “Programme of the staatloches Bauhaus in Weimar”, mengatakan mari bersama-sama kita bayangkan, pikirkan, dan ciptakan sebuah struktur masa depan baru yang meliputi bidang arsitektur, seni pahat, seni lukis sebagai sebuah kesatuan. Suatu hari, semua ini akan menjulang sampai ke langit melalui tangan berjuta-juta seniman. Ini menjadi keyakinan baru seperti sebuah kristal (Grenz 2001:40). Karena itu memikirkan struktur masa depan baru dengan menyingkirkan demensi modern dan postmodern dan hanya berfokus pada fungsi akan mengalami perjalanan yang tidak mudah. Bahwa demensi artistik mempunyai peran besar untuk menyampaikan suatu kisah. Ditekankan oleh Eco (2004:375), di dalam kasus-kasus tertentu, bahkan terjadi pembunuhan arsitektur. Hanyalah style-nyalah yang diberi kesempatan hidup. Dalam kondisi ketidakpastian sekarang ini sangatlah sulit untuk member pandangan definitif mengenai peran perancang di masa mendatang atau bahkan di masa kini. Cross (1975) meminta kita untuk mempertimbangkan apakah kita sekarang memasuki masyarakat pasca-industri dan karenanya memerlukan proses desain pasca-industri (Lawson 2007:29). Arsitektur haruslah memberikan kepastian dengan bahasa barunya, yaitu kesatuan dan keseragaman (uniformity), meskipun pada kenyataannya juga terdapat bangunan-bangunan yang sangat tidak manusiawi. Dengan berbagai produksi massalnya, kekuasaan arsitektur semakin menjadi, sehingga mereka kehilangkan nilai-nilai sejarah bahkan juga kreatifitas dan imajinatifnya. 
                                                                                                                                                                                                                                                  
Dinamika Modern dan Postmodern
Banyak sejarawan menyebut era modern sebagai “era industrialisasi”, karena era ini di dominasi oleh produksi barang-barang. Karena fokusnya pada produksi material-material, modernism menghasilkan masyarakat industri. Simbolnya dalah pabrik. Sebaliknya, era postmodern mengarahkan fokus kepada informasi. Kita sedang menyaksikan transisi dari masyarakat industry ke masyarakat informasi. Simbolnya adalah computer (Grenz 2001:33). Apakah benar bahwa ciri dari budaya postmodern adalah pluralism. Untuk itulah para arsitek yang berjiwa seni mulai mencampurkan berbagai komponen yang saling bertentangan menjadi sebuah karya seni. Perubahan ini hanya sekedar mencemoohkan apa yang dilakukan di dalam era modernism dengan tradisi industrialisnya. Sebuah ekletisme baru yang ditata sedemikian rupa seolah mengubah tata cara dan tradisi yang berkembang pada era modernism. Komerialisasi ini memberikan perubahan besar dalam peradaban ber’arsitektur’, mereka saling melakukan tawaran yang saling bertentangan baik secara teknologi mupun material bahannya. Tanggung-jawab dari akibat perubahan itu menjadikan arsitektur perkotaan sebagai tempat mereka melakukan eksperimen menawarkan cara-cara baru yang terkadang ironis. Charle Jencks dalam ‘What is Post-Modernisme?’ mengatakan, postmodern adalah campuran antara macam-macam tradisi dan masa lalu. Postmodern adalah kelanjutan dari modernism, sekaligus melampaui modernism. Ciri khas karya-karyanya adalah makna ganda, ironi, banyaknya pilihan, konflik, dan terpercaya berbagai tradisi, karena heteregenitas sangat memadai bagi pluralism (Granz 2001:37). Kemasa kinian membuat arsitektur terjerembah ke dalam fenomena baru dalam menjelaskan stylenya, pemiskinan komponen dan elemen arsitektur menjadi perhatian besar dalam karya-karya yang nampak diseantero belahan dunia. Tak terkecuali di Indonesia, tatanan yang dipamerkan semakin beragam dengan adaptasi dan pemikiran si arsitek menjadikan eksebisi baru dalam menata sebuah perkotaan. Kelokalitasan menjadi trend baru saat ini, pencerminan bahan dan teknologi dicoba untuk diperdagangkan dengan moralitas tinggi. Ide klasik ditata dengan tampilan baru yang terkesan glamour menjadikan suasana semu yang penuh misteri itulah lokalitas arsitektur yang modernistis. Tampilan itu menjadikan nuansa baru bagi lingkungan dan masyarakat awam yang melihatnya. Namun, dampak urban-arsitektural pun akan mengganggu sebuah kawasan dengan kontekstual kuat terhadap aspek kultur-historis, yang tentu saja menjadi sebuah hak milik masyarakat yang harus dihormati. Apakah tatanan postmodern telah memberikan jaminan perjalanan bagi karya-karya arsitektur, regionalism dan lokalitas menjadi tantangan yang tentu saja harus diadaptasi agar bisa berjalan berdampingan. Dengan bentuk dan ruang barunya dan untuk menjaga agar tidak terjadi keasingan di kawasan baru tersebut, maka tatanan masyarakat urban yang masih tradisionalistik itu perlu dijaga.
Reaksi terhadap tumbuhnya arsitektur yang akhir-akhir ini menjamur di perkotaan telah memperlihatkan gaya dan corak dengan kekhasan masing-masing. Apakah ini menjadikan sebuah gejala arsitektur yang simbolik, atau mereka selalu memikirkan fungsi tanpa melihat rasio dan logika yang berkembang. Seharusnya mereka melayani penghuni perkotaan, yaitu masyarakat yang mempunyai tatanan sosio-budaya-ekonomi dengan kelas menengah bawah yang tidak sama atau berbeda di antara mereka. Kesesuaian antara bentuk dan realitas yang diciptakan para artis dalam hal ini arsitek membaur di dalam tatanan urban yang selalu dinamis. Kesejajaran antara batasan ruang publik terhadap persepsi masyarakat perkotaan menjadi semakin tajam perbedaan nuansa budaya yang diciptakannya. Menjadikan kota sebagai ‘ekspetasi visual’ dibentuk oleh apa yang dinamakan ketidaksesuaian antara objek dan realitasnya.
Dengan kata lain, batas antara fakta arsitektur dengan berjalannya styleatau langgam yang dibawanya tampak tegas telah semakin mengabur di era dinamika ‘postmodern’ ini. Perubahan dalam merekonstruksi peradaban arsitektur menjadi bagian untuk mencari kebenaran tampilan fisiknya, sebagai alternatif dalam menelusuri masa lampau. Popularitas arsitektur masa kini dengan beberapa eksperimennya menjadi ilustrasi menarik untuk dikaji. Memiliki masa lampau dan masa depannya sendiri dengan struktur dan elemen-elemennya.   

Kebudayaan dan Budaya Popularitas
Kebudayaan adalah sebuah konsep yang definisi sangat beragam. Pada abad ke-19. Istilah ‘kebudayaan’ umumnya digunakan untuk seni rupa, sastra, filsafat, ilmu alam, dan musik, yang menunjukkan semakin besarnya kesadaran bahwa seni dan ilmu pengetahuan dibentuk oleh lingkungan sosialnya (Burke 2001:177). Lalu bagaimana dengan arsitektur, bahwa tradisi ber’arsitektur’ tidak bertahan selamanya dan akan terjadi sebuah perubahan di dalamnya. Apakah itu tradisi dalam berbudaya atau sebuah ‘reproduksi budaya’. Penafsiran ulang dalam arsitektur akan mengingatkan pada terjadinya proses di era modernisme yang berproses kemudian masuk menjadi bagian dari era postmodernisme. Dengan demikian, konstruksi dalam budaya ber’arsitektur’ seharusnya lebih dilihat sebagai sebuah masalah arsitektur, bukan yang lainnya dan dibutuhkan sebuah analisis yang lebih rinci. Pada sisi inilah kecenderungan-kecenderungan baru itu memberikan makna pada arsitektur, sehingga kota sebagai tempat masyarakat harus dilihat dalam dua sisi, meskipun menurut Rogier Chartier perlu diganti, yaitu ‘sejarah sosial kebudayaan’ (social history of culture) dan yang satunya adalah ‘sejarah budaya masyarakat’ (cultural history of society). (Burke 2001:182) Sebaiknya keduanya hal itu, baik sejarah sosial maupun sejarah budaya tidak saling ditinggalkan, dan dapat digunakan sebagai pendekatan dalam menyelesaikan permasalahan arsitektur diperkotaan.
Akhir-akhir ini banyak gaya bangunan muncul untuk mewakili ciri tertentu dari apa yang dinamakan ‘kebudayaan populer’, yakni sikap-sikap dan nilai-nilai masyarakat awam serta pengungkapannya dalam arsitektur yang mereka maknai sebagai arsitektur ‘kerakyatan’. Perhatian terhadap tinggalan arsitektur akhirnya mencul seperti sebuah ‘puisi kebudayaan’, di tata berjajar dalam sebuah koridor atau jalan, dengan kolase dan warna yang gemerlap, elemen-elemen eklektis menjadi hiasan kemegahan bangunan tersebut. Arsitektur akhirnya menjadi ladang kegagalan akibat eksperimen dari arsitek yang kurang memahami lokalitas (kearifan lokal) dan budaya setempat. Bangunan yang dirancang ditata seperti etalase, dipertontonkan dengan bentuk dan warna-warninya, dan menjadi bagian kepentingan ekonomi bagi pemilik, arsitek maupun pemerintah kota. Pola-pola kebudayaan dengan ekspresi-simboliknya dalam kehidupan sehari-hari tidak dimaknai sebagai bagian dari perjalanan sejarah. Bangunan dapat dilihat sebagai ‘habitus’ menurut Arsitoteles, yang didefinisikan sebagai seperangkat skema (tatanan) yang memungkinkan agen-agen menghasilkan keberpihakannya kepada praktik-praktik yang telah diadaptasi atau disesuaikan dengan perubahan situasi yang terus terjadi (Burke 2001:179-180). Di sinilah letaknya keterkaitan lingkungan-arsitektur-sosial-budaya menjadi bagian yang harus dan perlu untuk diperhatikan oleh arsitek dan penentu kebijakan. Ilustrasi hidup ini menjadi impian perjalanan arsitektur saat ini, meskipun style dan langgam menjadi bagian yang selalu menghantui para arsitek di dalam merencana dan merancang objek arsitekturalnya. Popularitas pasca postmodern menjadi budaya yang semakin digemari dengan komersialisasinya yang berkembang baik di perkotaan maupun di wilayah perdesaan. Budaya masyarakat dikalahkan oleh komersialisasi global dalam bidang ekonomi menjelajahi hampir semua wilayah di Indonesia. Menjadikan sebuah budaya yang populer dalam ber’arsitektur’ dengan bentuk permainan-permainan, dengan maksud untuk menggantikan pandangan tradisional bahwa ideologi adalah refleksi dari masyarakat. Rasa identitas (nativisme), menjadi alat agar tampilan bangunan sebagai karya arsitektur ini sangat tergantung kepada keefektifan dalam mempertahankan rintangan dengan cara mencegah masuknya para arsitek maupun paham-pahamnya dari luar.
Tradisi tidak otomatis bertahan selamanya, ditularkan oleh orang tua kita dulu secara turun-temurun yang sekarang menjadi bagian tinggalan dari budaya masa lalu. Perjalanan arsitektur yang direpresentasikan sebagai perjalanan peradaban bangsa ini memberikan banyak memunculkan bentukan fisik, yang saling kontroversial tanpa memahami kesadaran terhadap pentingnya ‘kebudayaan’ itu.  Sebaliknya perubahan kondisi sosio-kultural masyarakat adalah fakta sosial yang bukan ilusi tetapi fakta kolektif masyarakat urban. Popularitas arsitektur menjadi gaya trend saat ini, memunculkan bahasa baru dalam budaya ber’arsitektur’, di mana ruang publik sudah tidak lagi memerlukan dimensi artistik sebagai lambang masyarakat modern. Dengan bahan-bahan industri mereka melayani dunia baru yang dikuasai oleh kekuasan sains dan teknologi. Bahwa di dalam kebudayaan abad kedua puluh, arsitektur Barat didominasi oleh ekonomi dan teknologi. Brutalisme atau Venturisme, Archigram atau arsitektur rasional operasionalisme atau rasionalisme baru-semua mengandung kesan teknologis. Mereka adalah produk-produk masyarakat teknologis abad kedua puluh (Skolimowski 2004:124-125). Penghargaan akan gaya masa lalu menjadi sirna, gaya modern seolah telah menemukan identitas dirinya dengan membuang segala yang lain dari dirinya. Karena itulah, arsitektur seharusnya menganut keanekaragaman tidak hanya berbicara masalah global, tetapi budaya kelokalan atau dengan kata lain ada yang menyebut ‘regionalisme’, haruslah juga diperhatikan. Menurut Skolimowski (2004:125), kita tidak ingin membangun gedung-gedung yang steril, lingkungan-lingkungan yang bermutu rendah, ruang-ruang yang di dalamnya jiwa manusia dihalangi; kebudayaan kita membuatkita merancang lingkungan-lingkungan dan ruang-ruang semacam itu. Kemudian Skolimowski melanjutkan ada sesuatu yang tersembunyi dan membahayakan di dalam pertunjukan para arsitek yang berbakti, tekun, dan berbakat yang bisa, dan ingin, membangun lebik baik daripada yang diizinkan untuk mereka hasilkan di dalam konteks masa kini.

Dinamika Budaya Ber’arsitektur’
          Pergesaran budaya dalam arsitektur terjadi akibat beberapa pendekatan dalam tradisional. Banyak pengamat sosial sepakat bahwa dunia Barat sedang mengalami pergeseran atau perubahan. Faktanya kita sedang merasakan perubahan budaya yang berlawanan dengan cirri khas zaman modern, yakni inovasi yang lahir sebagai reaksi terhadap kemandulan dan kelumpuhan Abad Pertengahan. (Grenz 2001:8) Hal itu akibat dari kreativitas arsitek sebagai kekuatan aktif yang dilandasi oleh kesadaran akan bagaimana hubungan budaya tersebut dengan masyarakat sekitarnya dapat berlangsung. Arsitektur seharusnya dipandang sebagai bagian dari konstruksi budaya dalam artian telah terjadi adanya dialektis antara mempengaruhi dan dipengaruhi. Apakah masyarakat yakin bisa menerima inovasi baru? Bagaimana konsepsi tradisional tidak mampu untuk meyakinkan masyarakat tertentu pada masa sekarang? Bagaimanakah seorang arsitek dapat mengkonstruksi konsep dan pemikiran baru dengan anlisis yang lebih rinci dan menjadi sebuah kajian menarik? Pembangunan bangunan-bangunan baru setelah pasca-postmodern ini memunculkan reaksi bahkan konflik dalam melihat arsitektur sebagai model seni untuk membangun identitas kolektif dengan cara nenampilkan diri secara berbeda dari lingkungan/kawasan di sekitarnya.
Seberapa jelaskah batas-batas budaya yang ada itu dapat dijadikan patokan-patokan dalam berkarya, dan sampai kapan semuanya dapat bertahan dalam dunia arsitektur ini. Tanda-tanda ekspresi budaya dalam demensi hidup terganjal oleh dinamika fenomena arsitektur yang dibangun berdasar lokalitas. Pemahaman semu ini menjadikan era di mana gagasan, ide-ide, dan nilai-nilai bertahta ketika arsitektur menyeberang dari modern ke postmodernisme, dan seolah-olah kita sedang berpindah kepada sebuah era budaya baru. Budaya ber’arsitektur’ menjadikan kesadaran arsitek sekarang ini berkembang dengan pola pikir masa lalu. Radikalisme dalam meletakkan bangunan dengan segala macam ragam bentuk stylenya tercermin dalam sebuah tatanan bangunan Ruko, yang berkembang atas dasar optimisme ekonomis sebagai tempat mereka (arsitek) untuk bermain. Dinamika ini menjadikan semua wilayah ‘terjajah’ oleh globalisasi ekonomi yang mendominasi masyarakat dewasa ini. Munculnya beberapa apartemen baru dengan berbagai macam sajiannya masing-masing telah menyerbu kehidupan masyarakat sekarang ini. Seolah mereka berpikir bahwa hunian yang mereka rancang yang menjulang tinggi akan memberikan kenyamanan dengan lingkungan barunya. Sebenarnya komunitas tempat masyarakat berada dengan keanekaragaman dan sikap pluralismenya mempunyai keyakinan bahwa pemahaman akan kebenaran itu dapat hidup berdampingan.
Teori-teori dan pendekatan-pendekatan yang dilakukan para arsitek perlu ada penyempurnaan bukan petikan atau pengulangan dari karya lain. Bahkan apa yang dinamakan dengan stylistic integrity (integritas gaya) ini, bukan dalam artian menantang kekuatan aturan-aturan yang ada. Akan tetapi menjadi salah satu sikap keragaman arsitektur dalam massa tunggal maupun banyak. Harapannya, budaya pop dalam arsitektur ini sebagai sebuah karya yang tidak terkait waktu dan ide-ide yang tidak dibatasi oleh waktu. Karena arsitektur masa kini menyukai radikalisme bentuk massa bangunan dijadikan sebagai pangung teater, dan membuat berbagai elemen saling berbenturan.
Ciri khas ini akan mempengaruhi budaya populer kita sekarang ini, mereka kurang bisa menempatakan seni arsitektur bermutu tinggi di atas budaya tersebut. Arsitektur mengikhtisarkan kebudayaan di mana ia merupakan bagian. Di dalam suatu kebudayaan yang maju, arsitektur ikut serta di dalam kemegahan. Kemudian ia mengungkapkan bukan hanya kekokohan dan komoditi tetapi juga kegembiraan. Ketika sebuah kebudayaan sedang runtuh dan tak mampu mempertahankan corak khasnya, arsitektur mendapat bagian yang banyak dipersalahkan karena kekurangan-kekurangannya terlihat sangat mencolok dan dialami semua orang (Skolimowski 2004:123-124). Arsitektur menjadi objek yang menarik dan unik, namun hasilnya belum tentu bisa dijangkau oleh masyarakat kelas menengah maupun bawah. Dengan langgam dan elemen-elemen yang dikatakan bernilai seni tinggi, namun hasilnya belum tentu bisa diterima oleh masyarakat awam. Harapannya arsitektur dapat mentautkan dua alam yang berbeda, yaitu profesional dan popularitas di dalam menata budaya masyarakat setempat.


Sumber Pustaka
Grenz, S.J. 2001. A Primer on Postmodernism: Pengantar untuk Memahami Postmodernisme. Yogyakarta: Yayasan ANDI.
Lawson, B. 2007. Bagaimana Cara Berpikir Desainer (How Designr Think). Yogyakarta & Bandung: Jalasutra.
Eco, H. 2004. Tamasya Dalam Hiperealitas. Yogyakarta & Bandung: Jalasutra.
Burke, P. 2001. Sejarah dan Teori Sosial. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Skolimowski, H. 2004. Filsafat Lingkungan. Yogyakarta: Bentang Budaya.


© Antariksa 2012
Categories: Uncategorized Tags: