Home > Uncategorized > Pop Arsitektur Sebuah Dinamika Budaya

Pop Arsitektur Sebuah Dinamika Budaya

July 2nd, 2012
Antariksa


Arsitektur perkotaan dewasa ini mempunyai bentuk tampilan fisik yang sangat beraneka ragam. Bentuk tampilan fisik itu menjadikan ciri budaya yang menarik bagi sebagian masyarakat, dan berkembangnya memunculkan spekulasi dari perjalanan arsitektur yang sulit untuk dikontrol lagi. Hal itu dilanjutkan dengan perkembangan arsitektur di seantero pelosok dunia yang sangat pesat pengaruhnya dan ini sebagai bagian dari era yang kita sebut dengan globalisasi. Tentu saja dari perkembangan tersebut akan memberikan pengaruh besar terhadap pendidikan arsitektur di Indonesia. Baik mazab, doktrin, style, maupun desain bangunannya. Arsitektur demikian berbicara dengan bahasa pop terkadang diproduksi massal dengan standar-standar tertentu. Dalam perkembangan dan perjalanannya karya-karya arsitektur semacam itu kadang-kadang terlihat tidak menghargai gaya masa lalu, yang muncul tanpa melihat kontekstual lingkungan tempat bangunan lain berada. Pada dasarnya seni ber’arsitektur’ itu tidaklah eksklusif dan sempit tentunya, tetapi selalu membaur dalam kehidupan fisiknya serta ingin sekali menghargai keanekaragaman dan pluralisme. Pada kenyataan perjalanan arsitek selalu mencari bentuk sederhana, dan dapat dijadikan sebuah karya yang bermakna tunggal. Meskipun banyak juga yang dalam prosesnya memunculkan elemen-elemen masa kini yang pada kenyataannya merupakan elemen “repetisi” (pengulangan). Karya asitektur dibangun dalam lingkungan urban yang sangan kontekstual sekali, namun teknik membangunnya tidak disertai pemahaman mengenai nuansa artistik. Bukan sebuah kisah arsitek dengan karya-karya yang melambangkan suatu dunia yang imajiner. Akan tetapi, aspek urban inilah yang memperlihatkan gaya, bentuk, dan corak yang saling bertentangan. Charles Moore dalam ‘Conversation with Architects’, mengatakan sebuah bangunan mempunyai kekuatan untuk menjadi apa yang diinginkannya, mengatakan apa yang ingin dikatakannya sehingga telinga kita mulai mendengar apa yang ingin disampaikan oleh bangunan tersebut (Grenz 2001:42). Kenyataannya kaum modernis menemukan identitas dirinya dengan membuang segala sesuatu yang lain dari dirinya; dengan cara ini, para arsitek modern mengatakan bahwa hasil karya arsitektur mereka bersifat murni (orisinal). Apakah arsitektur itu berkembang dan menjadi arus yang sangat dominan? Pada awalnya, mereka mempunyai keyakinan untuk menciptakan suatu tempat dan bangunan yang dapat memberikan kenyamanan pada manusia. Kenyataannya industrialisasi arsitekturlah yang menyingkirkan keanekaragaman tradisi dan lokalitas yang ada. Ekspansi ini berlanjut dengan menghancurkan bangunan kuno dan juga bangunan tradisional. Meskipun berdasarkan prinsip yang konon oleh Frank Llyod Wright dinyatakan dengan prinsip kesatuan (unity), dikatakan bahwa bangunan modern harus merupakan sebuah kesatuan organis. Bangunan harus merupakan “kesatuan yang agung” (one great thing) dan bukan kumpulan “bahan yang tidak agung” (little things) dalam kata lain bangunan harus mengekspresikan makna tunggal (Grenz 2001:39).
Arsitektur berkembang menjadi arus yang dominan sebagai cetusan jiwa modern untuk selalu “maju” dalam menghadapi tatanan global. Tidak Nampak kedalaman atau keluasan, melanggar batas sejarah demi untuk memberikan kesan masa kini. Melanggar orisinalitas dan tidak ada gaya sama sekali. Walter Gropius dalam “Programme of the staatloches Bauhaus in Weimar”, mengatakan mari bersama-sama kita bayangkan, pikirkan, dan ciptakan sebuah struktur masa depan baru yang meliputi bidang arsitektur, seni pahat, seni lukis sebagai sebuah kesatuan. Suatu hari, semua ini akan menjulang sampai ke langit melalui tangan berjuta-juta seniman. Ini menjadi keyakinan baru seperti sebuah kristal (Grenz 2001:40). Karena itu memikirkan struktur masa depan baru dengan menyingkirkan demensi modern dan postmodern dan hanya berfokus pada fungsi akan mengalami perjalanan yang tidak mudah. Bahwa demensi artistik mempunyai peran besar untuk menyampaikan suatu kisah. Ditekankan oleh Eco (2004:375), di dalam kasus-kasus tertentu, bahkan terjadi pembunuhan arsitektur. Hanyalah style-nyalah yang diberi kesempatan hidup. Dalam kondisi ketidakpastian sekarang ini sangatlah sulit untuk member pandangan definitif mengenai peran perancang di masa mendatang atau bahkan di masa kini. Cross (1975) meminta kita untuk mempertimbangkan apakah kita sekarang memasuki masyarakat pasca-industri dan karenanya memerlukan proses desain pasca-industri (Lawson 2007:29). Arsitektur haruslah memberikan kepastian dengan bahasa barunya, yaitu kesatuan dan keseragaman (uniformity), meskipun pada kenyataannya juga terdapat bangunan-bangunan yang sangat tidak manusiawi. Dengan berbagai produksi massalnya, kekuasaan arsitektur semakin menjadi, sehingga mereka kehilangkan nilai-nilai sejarah bahkan juga kreatifitas dan imajinatifnya. 
                                                                                                                                                                                                                                                  
Dinamika Modern dan Postmodern
Banyak sejarawan menyebut era modern sebagai “era industrialisasi”, karena era ini di dominasi oleh produksi barang-barang. Karena fokusnya pada produksi material-material, modernism menghasilkan masyarakat industri. Simbolnya dalah pabrik. Sebaliknya, era postmodern mengarahkan fokus kepada informasi. Kita sedang menyaksikan transisi dari masyarakat industry ke masyarakat informasi. Simbolnya adalah computer (Grenz 2001:33). Apakah benar bahwa ciri dari budaya postmodern adalah pluralism. Untuk itulah para arsitek yang berjiwa seni mulai mencampurkan berbagai komponen yang saling bertentangan menjadi sebuah karya seni. Perubahan ini hanya sekedar mencemoohkan apa yang dilakukan di dalam era modernism dengan tradisi industrialisnya. Sebuah ekletisme baru yang ditata sedemikian rupa seolah mengubah tata cara dan tradisi yang berkembang pada era modernism. Komerialisasi ini memberikan perubahan besar dalam peradaban ber’arsitektur’, mereka saling melakukan tawaran yang saling bertentangan baik secara teknologi mupun material bahannya. Tanggung-jawab dari akibat perubahan itu menjadikan arsitektur perkotaan sebagai tempat mereka melakukan eksperimen menawarkan cara-cara baru yang terkadang ironis. Charle Jencks dalam ‘What is Post-Modernisme?’ mengatakan, postmodern adalah campuran antara macam-macam tradisi dan masa lalu. Postmodern adalah kelanjutan dari modernism, sekaligus melampaui modernism. Ciri khas karya-karyanya adalah makna ganda, ironi, banyaknya pilihan, konflik, dan terpercaya berbagai tradisi, karena heteregenitas sangat memadai bagi pluralism (Granz 2001:37). Kemasa kinian membuat arsitektur terjerembah ke dalam fenomena baru dalam menjelaskan stylenya, pemiskinan komponen dan elemen arsitektur menjadi perhatian besar dalam karya-karya yang nampak diseantero belahan dunia. Tak terkecuali di Indonesia, tatanan yang dipamerkan semakin beragam dengan adaptasi dan pemikiran si arsitek menjadikan eksebisi baru dalam menata sebuah perkotaan. Kelokalitasan menjadi trend baru saat ini, pencerminan bahan dan teknologi dicoba untuk diperdagangkan dengan moralitas tinggi. Ide klasik ditata dengan tampilan baru yang terkesan glamour menjadikan suasana semu yang penuh misteri itulah lokalitas arsitektur yang modernistis. Tampilan itu menjadikan nuansa baru bagi lingkungan dan masyarakat awam yang melihatnya. Namun, dampak urban-arsitektural pun akan mengganggu sebuah kawasan dengan kontekstual kuat terhadap aspek kultur-historis, yang tentu saja menjadi sebuah hak milik masyarakat yang harus dihormati. Apakah tatanan postmodern telah memberikan jaminan perjalanan bagi karya-karya arsitektur, regionalism dan lokalitas menjadi tantangan yang tentu saja harus diadaptasi agar bisa berjalan berdampingan. Dengan bentuk dan ruang barunya dan untuk menjaga agar tidak terjadi keasingan di kawasan baru tersebut, maka tatanan masyarakat urban yang masih tradisionalistik itu perlu dijaga.
Reaksi terhadap tumbuhnya arsitektur yang akhir-akhir ini menjamur di perkotaan telah memperlihatkan gaya dan corak dengan kekhasan masing-masing. Apakah ini menjadikan sebuah gejala arsitektur yang simbolik, atau mereka selalu memikirkan fungsi tanpa melihat rasio dan logika yang berkembang. Seharusnya mereka melayani penghuni perkotaan, yaitu masyarakat yang mempunyai tatanan sosio-budaya-ekonomi dengan kelas menengah bawah yang tidak sama atau berbeda di antara mereka. Kesesuaian antara bentuk dan realitas yang diciptakan para artis dalam hal ini arsitek membaur di dalam tatanan urban yang selalu dinamis. Kesejajaran antara batasan ruang publik terhadap persepsi masyarakat perkotaan menjadi semakin tajam perbedaan nuansa budaya yang diciptakannya. Menjadikan kota sebagai ‘ekspetasi visual’ dibentuk oleh apa yang dinamakan ketidaksesuaian antara objek dan realitasnya.
Dengan kata lain, batas antara fakta arsitektur dengan berjalannya styleatau langgam yang dibawanya tampak tegas telah semakin mengabur di era dinamika ‘postmodern’ ini. Perubahan dalam merekonstruksi peradaban arsitektur menjadi bagian untuk mencari kebenaran tampilan fisiknya, sebagai alternatif dalam menelusuri masa lampau. Popularitas arsitektur masa kini dengan beberapa eksperimennya menjadi ilustrasi menarik untuk dikaji. Memiliki masa lampau dan masa depannya sendiri dengan struktur dan elemen-elemennya.   

Kebudayaan dan Budaya Popularitas
Kebudayaan adalah sebuah konsep yang definisi sangat beragam. Pada abad ke-19. Istilah ‘kebudayaan’ umumnya digunakan untuk seni rupa, sastra, filsafat, ilmu alam, dan musik, yang menunjukkan semakin besarnya kesadaran bahwa seni dan ilmu pengetahuan dibentuk oleh lingkungan sosialnya (Burke 2001:177). Lalu bagaimana dengan arsitektur, bahwa tradisi ber’arsitektur’ tidak bertahan selamanya dan akan terjadi sebuah perubahan di dalamnya. Apakah itu tradisi dalam berbudaya atau sebuah ‘reproduksi budaya’. Penafsiran ulang dalam arsitektur akan mengingatkan pada terjadinya proses di era modernisme yang berproses kemudian masuk menjadi bagian dari era postmodernisme. Dengan demikian, konstruksi dalam budaya ber’arsitektur’ seharusnya lebih dilihat sebagai sebuah masalah arsitektur, bukan yang lainnya dan dibutuhkan sebuah analisis yang lebih rinci. Pada sisi inilah kecenderungan-kecenderungan baru itu memberikan makna pada arsitektur, sehingga kota sebagai tempat masyarakat harus dilihat dalam dua sisi, meskipun menurut Rogier Chartier perlu diganti, yaitu ‘sejarah sosial kebudayaan’ (social history of culture) dan yang satunya adalah ‘sejarah budaya masyarakat’ (cultural history of society). (Burke 2001:182) Sebaiknya keduanya hal itu, baik sejarah sosial maupun sejarah budaya tidak saling ditinggalkan, dan dapat digunakan sebagai pendekatan dalam menyelesaikan permasalahan arsitektur diperkotaan.
Akhir-akhir ini banyak gaya bangunan muncul untuk mewakili ciri tertentu dari apa yang dinamakan ‘kebudayaan populer’, yakni sikap-sikap dan nilai-nilai masyarakat awam serta pengungkapannya dalam arsitektur yang mereka maknai sebagai arsitektur ‘kerakyatan’. Perhatian terhadap tinggalan arsitektur akhirnya mencul seperti sebuah ‘puisi kebudayaan’, di tata berjajar dalam sebuah koridor atau jalan, dengan kolase dan warna yang gemerlap, elemen-elemen eklektis menjadi hiasan kemegahan bangunan tersebut. Arsitektur akhirnya menjadi ladang kegagalan akibat eksperimen dari arsitek yang kurang memahami lokalitas (kearifan lokal) dan budaya setempat. Bangunan yang dirancang ditata seperti etalase, dipertontonkan dengan bentuk dan warna-warninya, dan menjadi bagian kepentingan ekonomi bagi pemilik, arsitek maupun pemerintah kota. Pola-pola kebudayaan dengan ekspresi-simboliknya dalam kehidupan sehari-hari tidak dimaknai sebagai bagian dari perjalanan sejarah. Bangunan dapat dilihat sebagai ‘habitus’ menurut Arsitoteles, yang didefinisikan sebagai seperangkat skema (tatanan) yang memungkinkan agen-agen menghasilkan keberpihakannya kepada praktik-praktik yang telah diadaptasi atau disesuaikan dengan perubahan situasi yang terus terjadi (Burke 2001:179-180). Di sinilah letaknya keterkaitan lingkungan-arsitektur-sosial-budaya menjadi bagian yang harus dan perlu untuk diperhatikan oleh arsitek dan penentu kebijakan. Ilustrasi hidup ini menjadi impian perjalanan arsitektur saat ini, meskipun style dan langgam menjadi bagian yang selalu menghantui para arsitek di dalam merencana dan merancang objek arsitekturalnya. Popularitas pasca postmodern menjadi budaya yang semakin digemari dengan komersialisasinya yang berkembang baik di perkotaan maupun di wilayah perdesaan. Budaya masyarakat dikalahkan oleh komersialisasi global dalam bidang ekonomi menjelajahi hampir semua wilayah di Indonesia. Menjadikan sebuah budaya yang populer dalam ber’arsitektur’ dengan bentuk permainan-permainan, dengan maksud untuk menggantikan pandangan tradisional bahwa ideologi adalah refleksi dari masyarakat. Rasa identitas (nativisme), menjadi alat agar tampilan bangunan sebagai karya arsitektur ini sangat tergantung kepada keefektifan dalam mempertahankan rintangan dengan cara mencegah masuknya para arsitek maupun paham-pahamnya dari luar.
Tradisi tidak otomatis bertahan selamanya, ditularkan oleh orang tua kita dulu secara turun-temurun yang sekarang menjadi bagian tinggalan dari budaya masa lalu. Perjalanan arsitektur yang direpresentasikan sebagai perjalanan peradaban bangsa ini memberikan banyak memunculkan bentukan fisik, yang saling kontroversial tanpa memahami kesadaran terhadap pentingnya ‘kebudayaan’ itu.  Sebaliknya perubahan kondisi sosio-kultural masyarakat adalah fakta sosial yang bukan ilusi tetapi fakta kolektif masyarakat urban. Popularitas arsitektur menjadi gaya trend saat ini, memunculkan bahasa baru dalam budaya ber’arsitektur’, di mana ruang publik sudah tidak lagi memerlukan dimensi artistik sebagai lambang masyarakat modern. Dengan bahan-bahan industri mereka melayani dunia baru yang dikuasai oleh kekuasan sains dan teknologi. Bahwa di dalam kebudayaan abad kedua puluh, arsitektur Barat didominasi oleh ekonomi dan teknologi. Brutalisme atau Venturisme, Archigram atau arsitektur rasional operasionalisme atau rasionalisme baru-semua mengandung kesan teknologis. Mereka adalah produk-produk masyarakat teknologis abad kedua puluh (Skolimowski 2004:124-125). Penghargaan akan gaya masa lalu menjadi sirna, gaya modern seolah telah menemukan identitas dirinya dengan membuang segala yang lain dari dirinya. Karena itulah, arsitektur seharusnya menganut keanekaragaman tidak hanya berbicara masalah global, tetapi budaya kelokalan atau dengan kata lain ada yang menyebut ‘regionalisme’, haruslah juga diperhatikan. Menurut Skolimowski (2004:125), kita tidak ingin membangun gedung-gedung yang steril, lingkungan-lingkungan yang bermutu rendah, ruang-ruang yang di dalamnya jiwa manusia dihalangi; kebudayaan kita membuatkita merancang lingkungan-lingkungan dan ruang-ruang semacam itu. Kemudian Skolimowski melanjutkan ada sesuatu yang tersembunyi dan membahayakan di dalam pertunjukan para arsitek yang berbakti, tekun, dan berbakat yang bisa, dan ingin, membangun lebik baik daripada yang diizinkan untuk mereka hasilkan di dalam konteks masa kini.

Dinamika Budaya Ber’arsitektur’
          Pergesaran budaya dalam arsitektur terjadi akibat beberapa pendekatan dalam tradisional. Banyak pengamat sosial sepakat bahwa dunia Barat sedang mengalami pergeseran atau perubahan. Faktanya kita sedang merasakan perubahan budaya yang berlawanan dengan cirri khas zaman modern, yakni inovasi yang lahir sebagai reaksi terhadap kemandulan dan kelumpuhan Abad Pertengahan. (Grenz 2001:8) Hal itu akibat dari kreativitas arsitek sebagai kekuatan aktif yang dilandasi oleh kesadaran akan bagaimana hubungan budaya tersebut dengan masyarakat sekitarnya dapat berlangsung. Arsitektur seharusnya dipandang sebagai bagian dari konstruksi budaya dalam artian telah terjadi adanya dialektis antara mempengaruhi dan dipengaruhi. Apakah masyarakat yakin bisa menerima inovasi baru? Bagaimana konsepsi tradisional tidak mampu untuk meyakinkan masyarakat tertentu pada masa sekarang? Bagaimanakah seorang arsitek dapat mengkonstruksi konsep dan pemikiran baru dengan anlisis yang lebih rinci dan menjadi sebuah kajian menarik? Pembangunan bangunan-bangunan baru setelah pasca-postmodern ini memunculkan reaksi bahkan konflik dalam melihat arsitektur sebagai model seni untuk membangun identitas kolektif dengan cara nenampilkan diri secara berbeda dari lingkungan/kawasan di sekitarnya.
Seberapa jelaskah batas-batas budaya yang ada itu dapat dijadikan patokan-patokan dalam berkarya, dan sampai kapan semuanya dapat bertahan dalam dunia arsitektur ini. Tanda-tanda ekspresi budaya dalam demensi hidup terganjal oleh dinamika fenomena arsitektur yang dibangun berdasar lokalitas. Pemahaman semu ini menjadikan era di mana gagasan, ide-ide, dan nilai-nilai bertahta ketika arsitektur menyeberang dari modern ke postmodernisme, dan seolah-olah kita sedang berpindah kepada sebuah era budaya baru. Budaya ber’arsitektur’ menjadikan kesadaran arsitek sekarang ini berkembang dengan pola pikir masa lalu. Radikalisme dalam meletakkan bangunan dengan segala macam ragam bentuk stylenya tercermin dalam sebuah tatanan bangunan Ruko, yang berkembang atas dasar optimisme ekonomis sebagai tempat mereka (arsitek) untuk bermain. Dinamika ini menjadikan semua wilayah ‘terjajah’ oleh globalisasi ekonomi yang mendominasi masyarakat dewasa ini. Munculnya beberapa apartemen baru dengan berbagai macam sajiannya masing-masing telah menyerbu kehidupan masyarakat sekarang ini. Seolah mereka berpikir bahwa hunian yang mereka rancang yang menjulang tinggi akan memberikan kenyamanan dengan lingkungan barunya. Sebenarnya komunitas tempat masyarakat berada dengan keanekaragaman dan sikap pluralismenya mempunyai keyakinan bahwa pemahaman akan kebenaran itu dapat hidup berdampingan.
Teori-teori dan pendekatan-pendekatan yang dilakukan para arsitek perlu ada penyempurnaan bukan petikan atau pengulangan dari karya lain. Bahkan apa yang dinamakan dengan stylistic integrity (integritas gaya) ini, bukan dalam artian menantang kekuatan aturan-aturan yang ada. Akan tetapi menjadi salah satu sikap keragaman arsitektur dalam massa tunggal maupun banyak. Harapannya, budaya pop dalam arsitektur ini sebagai sebuah karya yang tidak terkait waktu dan ide-ide yang tidak dibatasi oleh waktu. Karena arsitektur masa kini menyukai radikalisme bentuk massa bangunan dijadikan sebagai pangung teater, dan membuat berbagai elemen saling berbenturan.
Ciri khas ini akan mempengaruhi budaya populer kita sekarang ini, mereka kurang bisa menempatakan seni arsitektur bermutu tinggi di atas budaya tersebut. Arsitektur mengikhtisarkan kebudayaan di mana ia merupakan bagian. Di dalam suatu kebudayaan yang maju, arsitektur ikut serta di dalam kemegahan. Kemudian ia mengungkapkan bukan hanya kekokohan dan komoditi tetapi juga kegembiraan. Ketika sebuah kebudayaan sedang runtuh dan tak mampu mempertahankan corak khasnya, arsitektur mendapat bagian yang banyak dipersalahkan karena kekurangan-kekurangannya terlihat sangat mencolok dan dialami semua orang (Skolimowski 2004:123-124). Arsitektur menjadi objek yang menarik dan unik, namun hasilnya belum tentu bisa dijangkau oleh masyarakat kelas menengah maupun bawah. Dengan langgam dan elemen-elemen yang dikatakan bernilai seni tinggi, namun hasilnya belum tentu bisa diterima oleh masyarakat awam. Harapannya arsitektur dapat mentautkan dua alam yang berbeda, yaitu profesional dan popularitas di dalam menata budaya masyarakat setempat.


Sumber Pustaka
Grenz, S.J. 2001. A Primer on Postmodernism: Pengantar untuk Memahami Postmodernisme. Yogyakarta: Yayasan ANDI.
Lawson, B. 2007. Bagaimana Cara Berpikir Desainer (How Designr Think). Yogyakarta & Bandung: Jalasutra.
Eco, H. 2004. Tamasya Dalam Hiperealitas. Yogyakarta & Bandung: Jalasutra.
Burke, P. 2001. Sejarah dan Teori Sosial. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Skolimowski, H. 2004. Filsafat Lingkungan. Yogyakarta: Bentang Budaya.


© Antariksa 2012
Categories: Uncategorized Tags:
Comments are closed.