Home > Uncategorized > arsitektur e-Journal, Volume 5 Nomor 1, Maret 2012

arsitektur e-Journal, Volume 5 Nomor 1, Maret 2012

July 15th, 2012

ABSTRAK
Permukiman tradisional di Indonesia selalu memiliki lokalitas tertentu dalam menata dan menggunakan ruang, baik dalam skala hunian maupun permukiman. Seiring dengan kemajuan zaman dan globalisasi budaya,nilai dan bentuk-bentuk lokalitas ruang arsitektur tradisional pun semakin hilang.Kondisi tersebut sejalan dengan gerakan global untuk melindungi tempat-tempat yang memiliki warisan budaya yang signifikan. Di Dusun Sawun Kecamatan Wagir Malang terdapat permukiman masyarakat yang memiliki kebudayaan khas berupa akulturasi antara Kejawen dan Hindu yang tertuang dalam lokalitas ruang ritual dan sosialnya. Tujuan studi ini adalah untuk mengetahui nilai-nilai lokalitas ruang ritual dan sosial pada lokasi studi tersebut. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif, dan pendekatan Environment Behaviour Study. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lokalitas ruang ritualnya terwujud pada penggunaan konsep hirarki ruangnya, yaitu dimulai dari nilai kesakralan terendah (ruang nista) yaitu jalan umum desa;kesakralan menengah (madya) yaitupenggunaan ruang ritual pada halaman hunian maupun halaman pura;dan ruang dengan hirarki tertinggi (utama)yang terwujud dalam penggunaan ruang paling sakral baik dalam hunian maupun pura desa. Lokalitas ruang sosial dalam permukiman ini tercermin dalam terdapatnya pos-pos bambu di sekitar permukiman yang berfungsi sebagai sarana keamanan dan juga tempat warga bersosialisasi antar warga dalam lingkup kecil yang disebut dengan jagongan dan juga bale banjar Pura sebagai public space dan tempat kegiatan partisipatorik lainnya.
Kata kunci:  lokalitas, ruang,arsitektur tradisional, ritual, sosial.


ABSTRACT
Traditional settlements inIndonesia always hada particular locality in managing and using the space, both in residential and neighborhoodscale. Along with the development of civilization andglobalization of culture, values ​​and forms of traditionalarchitectural space locality getting lost. Conditions are in line with the global movementto protect the places that have significantcultural heritage. Hamlet Sawun WagirMalang District settlementsare communities thathave a distinctive culture as acculturation between Javanese andHindu locality contained in the ritual and social space. The purpose of this study is to determine the values ​​of locality and social ritualspace at the location of the study. The methodused in this study is qualitativedescriptive research and approach Environment BehaviorStudy. The results showed that the locality of the ritual space manifested in the use of the concept of spatial hierarchy, beginning from the sanctity of the lowest (abject space) is a public road villages, the sanctity of intermediate (middle) is the ritual use of space occupancy on a page orpages temples, and spaces with the highesthierarchy (main) embodiedin the use of the most sacred space in both the residentialand village temple. Locality social space in the settlements is reflectedin the presence of bamboo posts around theneighborhood that serves as a means of security andalso where peoplesocialize among people in a small scopecalled jagongan. BaleBanjar temple serves as a public space and places other participatoryactivities.
Key words: locality, space, traditional architecture, ritual, social.




ABSTRAK
Permukiman tradisional merupakan manifestasi dari nilai sosial budaya masyarakat yang memiliki peranan sangat penting dalam pembentukan struktur ruang permukiman di suatu desa. Permukiman Desa Wonokitri terbentuk dari nilai sosial budaya masyarakat Tengger yang terlihat dari penerapan kegiatan sosial budaya dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis karakteristik sosial budaya yang membentuk permukiman di Desa Wonokitri. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif eksploratif, analisis behavior mapping dengan metode person centered mapping dan analisis family tree. Hasil studi menunjukkan bahwa keterkaitan antara sistem aktivitas dengan ruang sebagai tempat pelaksanaannya membentuk pola pergerakan (lintasan) dan hierarki ruang tertentu di dalam permukiman masyarakat Tengger Desa Wonokitri. Terbentuk ruang budaya dan ruang ritual di dalam permukiman yang berdasarkan skala penggunaan ruangnya dikelompokkan menjadi skala ruang mikro, meso dan makro. Ditinjau dari tingkat kepentingan ruang ritual, pura, padhanyangan, makam keramat merupakan ruang sakral yang utama dan mempunyai peranan penting dalam pelaksanaan kegiatan sosial budaya di Desa Wonokitri. Pola pergerakan yang terbentuk dari pelaksanaan kegiatan sosial budaya menggambarkan pergerakan secara hierarkis, yakni pergerakan dari tempat sakral ke profan ataupun sebaliknya. Terdapat kesamaan dalam pola tahapan kegiatan, pola pergerakan dan penggunaan ruang pada beberapa kegiatan, terutama kegiatan yang terkait dengan ritual.
Kata kunci:sosial budaya, pola ruang, Tengger


ABSTRACT
Traditional settlement is a manifestation of the socio-cultural society that has a very important role in the formation of spatial structures in a rural settlement. Settlement of Wonokitri village formed from socio-cultural values ​​of Tengger society which is seen from the application of socio-cultural activities in the people’s daily lives.The purpose of this study is to identify and analyze the socio-cultural characteristics that form the settlement in Wonokitri village. The method used is descriptive exploratory method, behaviour mapping analysis with person centered mapping method and family tree analysis. The study results showed that the linkage between the activities and the space as a place where it happen form movement patterns (trajectory) and the hierarchy of a specific space in the settlement of Tengger society in Wonokitri village. Cultural space and ritual space formed in the settlement which is grouped into space scale micro, meso and macro based on the use of spatial scale. In terms of the importance of ritual space, temples, padhanyangan, sacred cemetery are the main sacred spaces and have a major role in the implementation of socio-cultural activities in Wonokitri village. Movement patterns that formed from the implementation of socio-cultural activities hierarchically describe the movement, the movement from the sacred place to the profane, or otherwise. There are similarities in the pattern of phases of activity, movement patterns and use of space in some activities, especially activities related to the ritual.
Key words: socio-cultural, space pattern, Tengger



Abstrak
Gaya arsitektur jengki merupakan modifikasi dan bukan tahapan lanjut dari gaya sebelumnya, yaitu arsitektur kolonial Belanda. Dari sisi bentuknya dapat dilihat dengan tanda unsur miring, seperti atap yang tidak menyatu pada puncaknya, tembok depan (gevel) miring, memiliki lubang angin (rooster) dan ragam ornamen yang campuraduk menjadi satu. Sesuatu yang tidak disadari di belakang adalah proses perkembangan pola pemikiran daripada bentuk fisiknya, yaitu sifat kemandirian, nasionalisme melawan penjajahan dan pencarian bentuk dari gaya yang sudah ada. Pola penyebarannya pun dapat dikatakan tidak merata dan tidak selalu memiliki ragam elemen yang kuat. Hal ini disebabkan arsitektur jengki berkembang pada era pasca kemerdekaan atau era transisi. Studi ini difokuskan untuk mengidentifikasi rumah bergaya jengki pada setiap kecamatan di Kota Malang dan Lawang, yang mana banyak ditemukan objek rumah jengki dan masih belum mendapat perhatian. Tujuan studi ini adalah untuk menganalisis tipologi dengan mengklasifikasi rumah jengki berdasarkan tipe-tipe tertentu dan menganalisis morfologinya berdasarkan tingkat perubahan dan kecenderungan perubahannya. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan rasionalistik dan studi kualitatif. Hasil studi adalah tabulasi tentang tipologi dan morfologi arsitektur jengki sebagai esensi pedoman bentuk arsitektur rumah jengki, yang akan memberikan kontribusi terhadap keilmuan arsitektur nusantara.
Kata Kunci:tipologi dan morfologi, arsitektur jengki,


Abstract
The jengki architecture style is a modification and not the later stages of the previous style of Dutch colonial architecture. From the form side it marked with at an angle elements, such as a roof that is not blend at its peak, the front side wall (gevel) at an angle, and have a vent (rooster) and ornaments variety that mixed into one. Something that not realized behind is the development process of the pattern than its physical form as nature of independence, nationalism against colonialism and searching the form from the existing style. The spreading pattern can be said uneven and not always have a strong various element. This is due the jengki architecture developed in post-independence era or the transition era. This research focused to identify the jengki style house in every district in Malang and Lawang, which many jengki houses object founded and still have not obtain attention. The purpose of this study is to analysis the typology with classified the jengki houses based on certain types and analysis the morphology based on the level and trends of change. The method used is descriptive with rationalistic approach and qualitative study. The result of this study is a tabulation of typology and morphology of jengki architecture as the essential guidelines for the jengki houses architecture and will contribute to scientific of nusantara architecture.
Key words:typology and morphology, jengki architecture 


ABSTRAK
Kampung Arab Kota Malang merupakan kampung kota yang terbentuk dari pengaruh kebijakan Pemerintah Belanda (Regering Regleementdan Vremde Oosterlingen), sehingga memiliki gaya arsitektur bangunan kolonial dan Jawa, serta budaya Islam. Namun modernisasi kawasan mengakibatkan perubahan tampilan visual bangunan kuno yang digantikan oleh bangunan modern. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengidentifikasi sejarah dan karakteristik kawasan dan bangunan kuno Kampung Arab. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif (observasi lapangan dan data sekunder) untuk mengidentifikasi dan menganalisis perubahan kawasan dan bangunan kuno, metode deskriptif evaluatif (analisis time series dan metode scoring), untuk mengetahui faktor penyebab perubahan kawasan, sedangkan untuk bangunan kuno digunakan metode deskriptif evaluatif (sinkronik diakronik dan analisis faktor). Hasil studi menunjukkan bahwa perubahan pada elemen fisik kawasan (character, connection, continuity, dan accessibility) adalah penambahan jumlah, jenis, dan kondisi bentuk elemen fisik kawasan dari periode ke periode. Untuk bangunan kuno terdapat 4 bangunan yang mengalami perubahan besar, 27 bangunan perubahan sedang dan 11 bangunan yang mengalami perubahan kecil. Perubahan kawasan dengan sinkronik-diakronik menunjukkan pengaruh perkembangan aspek sosial budaya, ekonomi dan politik saling memiliki keterkaitan terhadap perubahan kawasan maupun bangunan. Perubahan kawasan maupun bangunan disebabkan oleh ketiga aspek tersebut yang saling berkaitan. Penyebab perubahan bangunan kuno dikelompokkan menjadi tiga faktor, yaitu faktor I adalah kepemilikan dan lokasi, faktor II adalah usia dan perawatan, dan faktor III terkait adalah sosial budaya dan jumlah anggota keluarga.
Kata kunci: perubahan, kawasan dan bangunan kuno, Kampung Arab


ABSTRACT
Kampong Arab of Malang City represented in urban kampong is formed from by the influence policies of the Dutch Government (Regering Regleement and Vremde Oosterlingen) has an architecture style of colonial building and Javanese, as well as Islamic culture. However modernization of the area is consequently changes of the visual appearance of old buildings replaced by modern buildings. The purpose of this study is to identify the history and characteristics of the area and the old buildings in Kampong Arab. Method used is descriptive method (field observation and secondary data), to identify and analyze the changes of the area and the old buildings, evaluative descriptive method (time series analysis and scoring method), for old buildings used evaluative descriptive method (synchronic–diachronic and factor analysis). The result of this study showed that the changes of physical area elements (character, connection, continuity, and accessibility) are increase of the number, type, and the condition of physical area elements from period to period. For the old buildings enclose of 4 buildings which have in large change, 27 buildings have in moderate change and 11 buildings have small change. The changes of area used by synchronic-diachronic showed the influences concerning the development of social culture, economy and political aspects is have interconnected with the changes of area or the buildings. The changes of area or the buildings caused of the three aspects which is interconnected. Whereas the causal changes of the old buildings consist of three factors, the first factor are the owner and location, the second factors are age and treatment, and the third factors are social culture and number of family members.
Key words: changes, area and old buildings, Kampong Arab



© Antariksa  2012
Categories: Uncategorized Tags:
Comments are closed.