Home > Uncategorized > arsitektur e-Journal, Volume 4 Nomor 2, Juli 2011

arsitektur e-Journal, Volume 4 Nomor 2, Juli 2011

October 9th, 2011





ABSTRAK
Tujuan dari studi ini adalah mengidentifikasi dan menganalisis karakteristik bangunan, serta menganalisis dan menentukan arah pelestarian bangunan Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia di Bogor. Studi ini merupakan studi deskriptif dengan menggunakan tiga macam metode, yaitu metode deskriptif analisis, metode evaluatif (pembobotan), dan metode development. Dalam studi ini ditemukan bahwa karakter arsitektur kolonial di bangunan Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan adalah penggunaan simetri bilateral yang dominan pada komposisi massa, tampak depan, dan denah bangunan. Elemen-elemen bangunan menggunakan bentuk-bentuk geometris yang rapi, sederhana, dengan minim ornament, serta perulangan pada elemen bukaan (jendela dan ventilasi). Di sepanjang keliling selubung bangunan dengan menggunakan pola a-a-a-a yang berkesan formal-monoton. Penggunaan material batu kali yang dominan sebagai finishing pada dinding eksterior bangunan, dan penggunaan keramik pada dinding interior ruang-ruang yang mempunyai fungsi sebagai laboratorium. Denah bangunan menggunakan pola grid 90° dengan aksentuasi berupa grid 45◦ pada bagian pusat bangunan yang dilengkapi dengan inner courtyard untuk memperkuat aksentuasi pola grid. Orientasi bangunan yang berpatokan pada landmark kawasan, yakni Taman Kencana. Arahan pelestarian bangunan Balai Penelitian Bioteknologi Penelitian Indonesia terbagi menjadi empat tindakan, yaitu preservasi (3 elemen), konservasi (7 elemen), rehabilitasi (12 elemen), dan rekonstruksi (3 elemen).
Kata kunci: pelestarian, bangunan bersejarah, strategi.


ABSTRACT
The aims of this study are to identify and to analyze the building characteristic, and also to analyze and to determine the building conservation strategies. This study is based on a descriptive research which used three different kinds of methods: descriptive analysis, evaluative, and development method. The study found that the characteristic of Indonesian Biotechnology Research Institute for Estate Corps building are dominant bilateral symmetry used ahead building masses composition, front elevation, and floor plan. The elements form used geometrical. The building elements used neatly geometrical form, simple, with least ornamental detail form of building element, with least ornament, and repetition at the opened element (window and ventilation). In the long side of the building envelope used with a-a-a-a rhythm created a formal-monotone effect. The domination using of wall stone is to finished gravel exterior wall, and the using of ceramic at the interior wall rooms have a function room as laboratories. The plan used 90° grid pattern floor plan with 45° grid drawl at the central room along with inner courtyard to emphasize the grid pattern accentuation. The building landmark orientation area is towards to Taman Kencana. Conservation strategies for Indonesian Biotechnology Research Institute for Estate Corps building are divided into four strategies: preservation (3 elements), conservation (7 elements), rehabilitation (12 elements), and reconstruction (3 elements).
Keywords: conservation, historical building, strategy.







ABSTRAK
Tujuan studi ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis karakteristik bangunan, serta menganalisis dan menentukan arah pelestarian gedung Merah Putih Balai Pemuda Kota Surabaya. Studi ini merupakan studi deskriptif dengan menggunakan tiga macam metode, yaitu metode deskriptif analisis, metode evaluatif (pembobotan), dan metode development. Dalam studi ini karakter bangunan dibagi dalam tiga karakter utama, yakni karakter visual bangunan yang didominasi dengan bentuk lengkung dan ornamen floral pada elemen fasade dan bentuk geomteri presegi panjang pada elemen ruang dalam sebagai perubahannya; perulangan bentuk pada elemen bukaan dengan jenis, ukuran dan material penyusun yang berbeda; massa bangunan berbentuk kubus dengan deformasi bentuk limas persegi delapan. Karakter spasial bangunan memiliki alur sirkulasi ruang linier yang tidak saling terhubung akibat perubahan pola ruang dalam; orientasi bangunan pada arah barat daya sebagai adapatasi bangunan terhadap site; kesimetrisan bersifat global dan memiliki dua jenis sumbu bangunan, sumbu simetri dan asimetri seimbang. Karakter struktural dengan perpaduan sistem rangka kayu dan rangka pipa sebagai struktur atap dan menggunakan sistem dinding pemikul dengan pelengkung sebagai penguat struktur dinding bangunan. Arahan pelestarian gedung Merah Putih Balai Pemuda Surabaya terbagi menjadi tindakan preservasi (4 elemen), konservasi (7 elemen), restorasi (2 elemen), rehabilitasi (7 elemen), dan rekonstruksi (1 elemen).
Kata kunci: pelestarian, bangunan bersejarah, strategi.


ABSTRACT
The aims of this study are to identify and to analyze building characteristic, also to analyze and to determine building conservation strategies. This study is based on a descriptive research which uses three different kinds of methods: descriptive analysis, evaluative, and development method. The characteristic of Balai Pemuda in Surabaya are divided into three main characters, visual character of the building has dominant curve shape with floral ornament on building facade and square geometrical shape on interior element of the building as a transformation; shape repetition on the building opening (window and door) with different type, dimension and material; has cube form mass with deformation of octagonal-shaped mass. Spatial characters of the building are disconnect linear circulation between rooms of the building was formed by the changing of space in pattern; building’s orientation face southwest direction as a site adaptation; symmetrical plan with two kind of axis, symmetrical axis and asymmetrical axis. Structure character of the building are use combination of wood and pipes as a frame roof construction and bearing wall system with arch as a brace wall structure. Balai Pemuda in Surabaya are divided into five strategies: preservation (4 elements), conservation (7 elements), restoration (2 element) rehabilitation (7 elements), and reconstruction (1 elements).
Keywords: conservation, historical building, strategy.







ABSTRAK
Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis karakter bangunan utama eks Rumah Dinas Residen Kediri yang meliputi karakter visual dan spasial bangunan; menganalisis dan menentukan strategi dalam upaya pelestarian bangunan utama eks Rumah Dinas Residen Kediri. Metode analisis data yang digunakan pada studi ini ada tiga, yaitu metode deskriptif analisi, metode evaluatif (pembobotan), dan metode developmen. Hasil dari analisis menunjukkan bahwa karakter visual massa bangunan utama eks Rumah Dinas Residen Kediri beserta kedua massa bangunan penunjang di sebelah kanan kirinya didominasi oleh elemen-elemen bangunan berbentuk geometri. Ciri visual yang paling kuat pada bangunan ini adalah sumbu simetri pada denah dan fasade yang masih bertahan hingga saat ini. Selain itu, penggunaan elemen-elemen bangunan dengan ukuran besar dan dengan adanya dua massa penunjang merupakan ciri khas yang menggambarkan fungsi bangunan ini sebagai banguna pemerintahan jaman kolonial yang tetap terjaga hingga saat ini. Ciri spasial pada kompleks massa bangunan ini telah mengalami banyak perubahan seiring berubahnya fungsi dari bangunan saat ini. Arahan pelestarian pada kompleks massa bangunan ini, diklasifikasikan ke dalam tiga kelas elemen-elemen bangunan potensial, yaitu potensial rendah, potensial sedang, dan potensial tinggi. Selanjutnya untuk dari hasil penetapan klasifikasi ditentukan strategi pelestarian yang sesuai dengan kondisi masing-masing elemen bangunan tersebut.
Kata kunci: karakter arsitektural, arsitektur kolonial, pelestarian bangunan


ABSTRACT
The aims of this study are to identify and analyze building character of the main building of former Residential House Kediri, which includes its visual and spatial characters; analyzing and identifying the conservation strategy for the main building of former Residential House Kediri. This study applied three analysis methods; descriptive analysis, evaluative (scoring) and development. The study result showed the visual characters of the main building in former Residential House included the surrounds buildings on its left and right sides are dominated with geometric-shaped elements. The most significant visual feature on this building is the axes applied on the plan and façade which are still sustained until present time. Besides, pillars (Tuscan and ionic) constructed in large scale and the existence of two buildings surround this building showed the building’s function as colonial government building that remained until present time. The spatial feature on its mass are changed as well as the function itself changed. The building conservation strategy is classified into three potential building’s elements; low potential, average potential, and high potential. Those classified strategies will be applied on each building’s elements.
Keywords: Architecture characteristic, colonial architecture, building conservation







ABSTRAK
Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakter bangunan Stasiun Kota Bondowoso, kemudian menentukan upaya pelestarian bangunan stasiun tersebut. Metode yang digunakan, yakni metode analisis dekriptif, metode evaluatif dan metode development. Hasil studi ditemukan bahwa karakter bangunan Stasiun Bondowoso dilihat dari bentuk denah bangunan memiliki denah dan tampak depan yang dominan simetris. Proporsi antara tinggi dan lebar bangunan dibuat horisontal agar tercipta kesan lebar dan mewah. Pada bagian tengah bangunan memiliki ketinggian yang berbeda dengan sayap kanan dan sayap kiri bangunan. Untuk jendela, pintu dan atap bangunan menggunakan posisi simetris. Bangunan memiliki point of interest pada bagian tengah yang merupakan main entrance dari bangunan berupa list berbentuk garis pada kolomnya. Pada bagian belakang atau ruang peron terdapat perulangan pada pintu dengan menggunakan dua jenis pintu. Kolom bagian peron berbeda dengan kolom lainnya, terbuat dari baja dengan finishing warna putih biru. Stasiun Bondowoso menggunakan 4 arahan pelestarian, yaitu preservasi (7 elemen), konservasi (11 elemen), rehabilitasi (5 elemen), dan restorasi (2 elemen)
Kata kunci: pelestarian, bangunan bersejarah, strategi.


ABSTRACT
The aims of this study are to identify the character of the Bondowoso City Station building, and then determine the preservation of the building. The methods used in this study are descriptive analysis, evaluative analysis and development analysis. This result of this study found the characters of Bondowoso Station building based on the building layout plan have a symmetrically dominant of the plan and façade. The proportion between height and width of the building made horizontally to create impressions of wide and glory. In the middle part of the building have different level compared to the right and left sides of the building. The windows, doors, and roofs are used in symmetrically position. The building have a point of interest at the center part of the main entrance of the building, as shapes with lining list at the pillar. In the rear side or in the lane room found repetition at the door with used two different kinds of doors. Pillars in the lane room are different with the other pillars of the building, these pillars constructed from steel and blue-white furnished. The conservation strategy of Bondowoso Station divided in four conservation strategy which are preservation (7 elements), conservation (11 elements), rehabilitation (5 elements) and restoration (2 elements).
Keywords: conservation, historical building, strategy.







ABSTRAK
Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis perubahan secara fisik yang terjadi pada bangunan Bale Tani dan Bale Bontar di Dusun Sade, kemudian menganalisis penyebab dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perubahan tersebut. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah metode historis–kualitatif–deskriptif. Perubahan yang paling banyak muncul pada rumah tradisional, yakni pada perubahan pada ruang (denah) dan juga pada elemen pintu secara bentuk maupun material dan warna yang digunakan. Perubahan juga banyak terjadi pada fasade bangunan dengan adanya penambahan bukaan atau ventilasi sebagai jalur keluar masuknya udara. Elemen bangunan yang yang tidak berubah, yang masih dijaga keasliannya, yakni pada bentukan maupun material dan warna pada atap. Tidak dilakukan perubahan karena masyarakat sudah cukup nyaman dengan pemakaian atap tersebut. Atap merupakan bagian yang paling utama pada rumah karena atap mencerminkan rumah tradisional. Perubahan–perubahan yang terjadi tersebut dapat disebabkan oleh kebutuhan penghuni, kelangkaan material, kesehatan rumah dan penghuni, perkembangan pola pikir masyarakat (pendidikan tinggi), bertambahnya anggota baru, perawatan bangunan, adanya fungsi tambahan, kepraktisan pada pemakaian elemen bangunannya, kenyamanan penghuni, estetika bangunan, dan lain sebagainya. Faktor– faktor yang mempengaruhi perubahan, yakni faktor ekonomi, geografis, dan sosial budaya.
Kata Kunci : Perubahan bentuk fisik, Rumah Tradisional Sasak, Bale Tani, Bale Bontar.


ABSTRACT
This study aims to identify and analyze the physical changes that occur in buildings of Bale Tani and Bale Bontar Sade Village, then analyze the causes and that factors influence those of changes. The methods in this study are historical research - qualitative - descriptive. The most changes appear in traditional houses that are change at the space (layout) and also at the door elements on a form in spite of materials and colors used. Changes also take place in the building facade with the addition of openings or vents as pathways out of air entry. Building elements which are unchanged, which still maintained its authenticity, that is the formation as well as material and color to the roof. They are not changes because of people quite comfortable with the use of the roof. It is the most important part of the house because the roof reflects of the traditional house. The changes of building could be due to the needs of residents, the scarcity of materials, and occupants of the home health, community development mind side (higher education), the increase of new members, building maintenance, the presence of additional functionality, practicality in the use elements of the building, occupant comfort, aesthetics buildings, etc. The traditional houses changes because of economic, geographic, social and cultural.
Keywords: the changes in physical form, Sasak Traditional House, Bale Tani, Bale Bontar


Antariksa © 2011
Categories: Uncategorized Tags:
Comments are closed.