Home > Uncategorized > Arsitektur dan Pemiskinan Budaya

Arsitektur dan Pemiskinan Budaya

May 20th, 2012

Antariksa




Perkembangan arsitektur sudah sedemikian rupa mengimbas kesegala pelosok daerah di Indonesia. Perubahan banyak terjadi pada bangunan (rumah tinggal) yang terdapat di kota-kota besar maupun di perdesaan. Menyerapnya informasi serta perkembangan industri, teknologi, dan perdagangan telah merubah mereka menjadi masyarakat penikmat, dan pemakai hasil arsitektur. Di mana masyarakat awam sendiri hanya mengikuti apa yang terjadi, tidak tahu menahu tentang asal usul bentuk arsitektur rumahnya, bahkan juga konsep serta ide-ide dasarnya. Apakah ini akibat globalisasi kota-desa atau dampak perubahan status sosio-budaya masyarakat di perkotaan dan juga di perdesaan. Sebagian besar hal ini terjadi karena untuk meningkatkan status sosial mereka terhadap lingkungannya agar dapat dipandang lebih tinggi secara sosio-kultural dengan masyarakat yang berada di sekitarnya. Kehidupan masyarakat merupakan bagian dari identitas yang dihasilkan dari konteks budaya dan sosial mereka. Maka, identitas dapat dianggap sebagai individual dan diri sendiri, tetapi juga identitas dapat semata bertransformasi menjadi bentuk yang berbeda mengikuti transformasi yang terjadi pada lingkungan sekitar kita. Dapat disimpulkan, bahwa tanpa usaha ber’arsitektur’ yang layak sebuah kota akan kehilangan sejarah dan identitas yang menghubungkan kita untuk menjelajah masa depan. Sebuah ’ideologi visual’ yang terkadang salah-letak secara geografis di dalam menetapkannya, dan hal itu dianggap sebagai budaya yang spesifik. Perubahan stilistik sepanjang waktu pun dapat membuka kunci dalam ber’evolusi budaya’, mencoba mentransformasikan ide dan keinginannya untuk dijadikan sebagai permainan objek desain belaka.

Peran gaya atau style dalam arsitektur
Masalah utama yang dihadapi adalah beragamnya pemberian makna pada arsitektur baik langgam ataupun style. Kata ‘style’ berasal dari bahasa Latin, stilus, yang berarti ‘peralatan menulis’, maka itulah ide tulisan tangan sebagai ekspresi langsung karakter individual. Jelaslah ini merupakan asal muasal teori ekspresi yang sangat berpengaruh dalam sejarah estetika; itu juga bisa disebut ‘teori tanda tangan’ (Walker 2010:170). Styleberkembang menjadi bagian mendasar dari penerjemahan fisik arsitektural yang memberikan wajah-wajah arsitektur perkotaan menjadi tempat eksebisi bagi para arsitek. Keraguan ini akhirnya muncul setelah pemahaman tentang gaya atau style tadi menjadi bagian dari peradaban ber’arsitektur’. Kemudian Walker (2010:171) juga menjelaskan bahwa, gaya atau style tadi dapat dipandang sebagai faktor dalam produksi artistik, yang dengan begitu sekalinya sejumlah gaya eksis, para seniman bisa memilih gaya mana yang ingin mereka gunakan atau diolah lagi. Mereka juga dapat memilih untuk menggabungkan berbagai gaya untuk menciptakan hibrida.
Dengan mengambil dasar iklim tropis (karena situasi geografis) pada bentuk desainnya, ternyata tidak dapat memberikan hasil yang sempurna. Kemudian muncul ‘arsitektur ramah lingkungan’ yang sepadan dengan ‘arsitektur berkelanjutan’ dan akhirnya muncul istilah green architecture, yang terkadang penerjemahannya secara fisik menjadi salah kaparah. Keramahan menjadi tidak adaptif terhadap lingkungan, dan tradisi budaya masyarakat di daerah kota maupun perdesaan baik dari golongan masyarakat menengah sampai bawah belum mengenal hal itu sebagai tatanan arsitekturnya. Hal inilah yang menjadikan permasalahan baru di dalam pendekatan arsitektur lingkungan binaan dengan sosio-kulturalnya. Bahan-bahan bangunan yang menjadi tuntutan secara arsitektural, terbentur dengan daya beli masyarakat menengah-bawah terhadap keadaan yang ditawarkan, dan akhirnya membuat masyarakat menjauhinya. Seorang arsitek dari Jepang Kurokawa (1988), mengatakan bahwa ada dua jalan pemikiran mengenai sejarah dan tradisi. Pertama, adalah sejarah yang dapat kita lihat seperti, bentuk arsitektur, elemen dekorasi, dan simbol-simbol yang telah ada pada kita. Kemudian yang kedua, adalah sejarah yang tidak dapat kita lihat seperti, sikap, ide-ide, filosofi, kepercayaan, keindahan, dan pola kehidupan. Penjelajahan arsitektur terkadang memberikan makna istilah lebih spesifik yang oleh Meyer Schapiro dijelaskan bahawa dengan gaya yang dimaksudkan adalah bentuk konstant-dan terkadang berbagi elemen, kualitas dan ekspresi kontras-dalam seni individual atau kelompok- di atas semuanya, gaya adalah sistem bentuk......deskripsi gaya merujuk kepada tiga aspek seni: motif atau elemen bentuk, berbagai hubungan bentuk dan kualitas (termasuk seluruh kualitas yang bisa kita sebut ’ekspresi’) (Walker 2010:171).
Dengan adanya ‘style’ tadi akhirnya memicu adanya simbol-simbol, seperti atap joglo dengan istilah-istilah seperti ‘tradisional’, ‘ciri-khas daerah’, ‘arsitektur Jawa’ dan lain sebagainya (yang seperti apa?). Ternyata penggunaan atap joglo di sini digunakan sebagai ungkapan simbol saja, tidak mencerminkan makna bagi penghuninya. Terkadang mereka hanya mengambil bentuk atapnya bukan ruang dalam serta struktur bangunannya. Pada hal joglo itu dibangun pada waktu lampau dimaksud agar ruang tersebut dapat menampung banyak orang, digunakan oleh para penguasa untuk bertatap muka dengan rakyatnya, dan dimiliki oleh kaum kebanyakan. Kecenderungan sekarang justru lain, adanya satu keinginan dari mereka agar istilah ‘ciri-khas daerah’ atau ‘arsitektur Jawa’ melekat pada bangunan mereka meskipun perilaku dan tatanan budayanya tidak mencerminkan sebagai orang Jawa. Bahkan dari pemilik rumah tersebut yang menggunakan atap joglo pada kenyataannya bukan orang Jawa. Di sini dinamisme sosial dan budaya telah mengawali perubahan pada masyarakat yang berakibat dan berpengaruh terhadap tempat huniannya. Adanya pengaruh tadi terlihat dari adanya perubahan tingkat ekonomi masyarakat yang dapat menaikkan derajat “status sosial” bentuk rumah mereka, dan bukan pada penghuninya. Hal yang sama juga ditegaskan oleh Rapoport (1990), bahwa budaya sebagai suatu kompleks gagasan dan pikiran manusia bersifat tidak teraga. Kebudayaan ini akan terwujud melalui pandangan hidup (world view), tata nilai (value), gaya hidup (life style) dan akhirnya aktifitas (activities) yang bersifat konkrit. Sebuah kecenderungan eklektis di dalam seni, khususnya arsitektur, untuk menghidupkan kembali pelbagai gaya di masa lalu alih-alih mengembangkan gaya-gaya baru yang sesuai dengan era di mana para seniman itu hidup. Istilah tersebut digunakan dalam pengertian ini oleh Pevsner. Historisisme artistik, dalam pandangannya, bersifat retrogresif: ”Semua pambangkitan gaya di masa silam adalah tanda kelemahan, sebab ketika membangkitkan pemikiran independen dan perasaan, permasalahannya tidak lebih dari kurangnya pilihan akan pola-pola.... Historisisme adalah keyakinan terhadap kekuatan sejarah sampai pada tingkat mematahkan aksi dan menggantinya dengan aksi yang diilhami oleh periode ditiru (Walker 2010:105) Pada sisi lain orang berbicara bagaimana bangunan lama dapat dipertahankan sebagai aset budaya bangsa, tetapi sisi lain memgembangkan arsitektur sebagai penerapan komersialisasi profesi. Warisan masa lalu terglobalisasi oleh perjalanan peradaban teknologi ber’arsitektur’, dan menjadi tempat untuk mengekspresikan ide-ide mereka yang mungkin bertentangan dengan sosio-kultural masyarakat. Salah satu yang banyak dikeluhkan dalam perkembangan kota modern adalah, hilangnya ciri khas wajah-wajah kota yang tergantikan oleh bangunan-bangunan bergaya internasional. Wajah-wajah tersebut menjadi anonimus dan tak berjiwa. Karena itulah warisan budaya menjadi penting mengingat gencarnya kegiatan modernisasi dan globalisasi kota-kota di dunia yang bila tidak dikendalikan akan memberikan wajah kota yang sama disetiap kota. Keprihatinannya dalam bidang arsitektur dan perkotaan di Indonesia dikemukakan oleh Budihardjo (1985), bahwa arsitektur dan kota di Indonesia saat ini banyak yang menderita sesak nafas. Bangunan-bangunan kuno bernilai sejarah dihancurkan dan ruang-ruang terbuka disulap menjadi bangunan. Banyak perencanaan arsitektur dan kota yang dikerjakan tidak atas dasar cinta dan pengertian sesuai etik profesional, melainkan berdasarkan eksploitasi yang bermotif komersial, sehingga menghasilkan karya berkualitas rendah. Gedung-gedung baru dari kaca dan benton yang mendominasi kota-kota adalah produk dari modernitas ini. Dalam hal ini, gedung-gedung itu adalah bagian dari modernisme, produksi gaya-gaya yang dimaksudkan sebagai inovatif, ekspresi kebaruan, dan biasanya menjadi kuno dalam satu-dua dekade. Mereka yang mendukung gagasan tentang gelora modernitas, ”para pembangun”, tidak melihat perbedaan antara modernitas dan modernisasi (Vickers 2009:173). Bahkan oleh Walkers (2010:104) dijelaskan bahwa sejarahwan seni menganggap gaya itu vital karena mereka memikirkannya sebagai manifestasi luaran dari wujud batin seorang person, kelompok sosial atau zaman. Dengan demikian, seseorang dapat memahami suatu gaya dengan melihat taerhadap keseluruhan nilai fisik arsitektural yang terpampang dalam bentuk bangunan tersebut. Apakah arsitektur bangunan itu mempunyai nilai dari suatu budaya asing, atau ungkapan masa lalu dari tampilan bentuknya atau memberikan tampilan strata sosial bentuk serta kawasan dimana bangunan itu berada.

Tradisi dan ke’daerah’an
Penyebab utama adalah adanya kebijakan-kebijakan yang diberikan oleh para penentu kebijakan (dalam hal ini pemerintah) yang ingin mentransformasikan budaya “ke-daerahan atau identitas ciri-khas” dengan cara memaksa serta mengharuskan mereka untuk mengubah bagian dari bentuk rumahnya. Sebagai contoh misalnya, pada permukiman di daerah perkotaan maupun di tingkat perdesaan banyak atap rumahnya harus mencerminkan ciri-khas daerah setempat, dinding ataupun atap rumah harus dicat warna tertentu, harus diberi pagar yang seragam, dan masih banyak lagi. Di sini terjadi ekspansi ide dasar yang menjurus kepada vandalisme arsitektur. Yang seolah-olah menutup kreatifitas masyarakat lingkungan sosial-kulturalnya dalam mengikuti perkembangan jaman. Kalau meminjam istilah psikolog Darmanto Jatman disebut pemaksaan jatidiri secara atributif. Hal ini akan mengundang persepsi yang serba salah kaprah.
Perjalanan bias dari atrsitektur dalam ide desain pun akhirnya menjadi bagian dari pop architecture (bentuk atau style arsitektur yang dapat muncul kembali setiap saat), yang berkembang merajalela di sekitar tahun 80-an. Salah satunya adalah style bangunan rumah tinggal dengan gaya kapsul betonnya. Dapat dikatakan bahwa style semacam itu sebagai impian model rumah tinggal modern. Pergeseran desain pun terjadi, bentuk yang tadinya menjadi populer saat itu, akhirnya bergeser ke sebuah bentuk baru, yaitu gaya Spanyolan dengan arsitektur ionic atau doric dengan lengkung-lengkungan dan kolom ala Yunani, menjadikan kearoganan baru dalam tatanan sosial bagi penghuni rumah tinggal tersebut. Popularitas gaya arsitektur itu pun akhirnya juga tenggelam, dan muncul sebuah tatanan baru, yaitu style mediteranean. Sebuah visi arsitektur adaptif yang mengkombinasikan unsur tropis dengan arsitektur indis ini berkembang sampai akhir tahun 2000-an. Dengan tradisi dan budaya beberbeda mencoba memberikan sebuah wacana dalam fisik dimensional bentuk tatanan rumah tinggal. Style ini pun tidak lama bertahan, suatu langgam baru muncul dengan bentuk minimalis sampai pada tatanan interior dan furniturenya. Secara simbolik menjadi kebanggaan baru bagi masyarakat konsumer yang mendambakaan sebuah tatanan rumah tinggal baru. Kecenderungan ini sudah menyusup keseluruh bagian tatanan permukiman di Indonesia baik yang dikota maupun perdesaan meskipun hanya secara eklektis mengambil konsep styleminimalis. Di sini urbanisme menjebak masyarakat dalam kebebasan untuk menentukan tempat kehidupan berarsitektur. Sebenarnya pekerjaan merancang bangunan atau merencanakan suatu kota harus mempertimbangakan keharmonisan antar bangunan dan kawasan barunya dengan sosio-kultural masyarakat sekitarnya. Menurut temuan McKinnon, para arsitek kreatif memiliki ketenangan dan percaya diri, meskipun terlalu suka bergaul. Secara watak mereka pun cerdas, memikirkan diri sendiri, berani bicara, dan bahkan agresif. Mereka juga memiliki opini yang sangat tinggi tentang diri mereka (Lawson 2007:160). Dengan demikian, diharapkan adanya kesinambungan styleantar bangunan baru dengan kawasan lamanya tanpa mengganggu lingkungan ber’arsitektur’ dan kehidupan sosio-kultural mereka. Hal ini penting, karena perkotaan dengan segala peradaban fisik arsitektural atau bangunannya dapat memberikan identitas atau karakteristik dari suatu kota terhadap sejarah masa lalunya. Salah satu manifestasi arsitektur adalah upaya berpegang teguh pada masa lalu, dan bahkan mengabstrasikan atau mengesensialkan unsur-unsur masa lalu sebagai bagian dari sejarah atau pusakanya.
Arsitektur itu diciptakan sebagai wadah untuk proses kehidupan manusia, melindungi dan memberikan akan kebahagiaan penghuninya. Dengan bentuk dan tatanan yang sangat beragam, kondisi geografis-kultural yang berbeda serta memunculkan adanya kearifan lokal. Di dalam arsitektur style ataupun langgam berjalan tanpa ada batas-batasnya. Proses perjalanan sejarahnya pun tidak dapat dipolitisasi bahkan direkayasa. Hal ini menjadi penting agar tradisi budaya mereka tidak terhenti. Kita berada pada “budaya citarasa” yang menawarkan berbagai macam gaya yang tidak ada habisnya (Grenz 2001:35)
Dengan demikian, kehendak untuk membisniskan kota menjadi ladang komersialisasi arsitektur hendaknya dipertimbangkan masak-masak, karena setiap kota mempunyai budaya dan sejarah yang mungkin berbeda dengan kota-kota lainnya. Demikian juga, kalau kita bandingkan dengan beberapa kota-kota di negara Asia lainnya mempunyai sejarah dan warisan budaya yang sangat panjang. Masyarakat dari masing-masing kota tersebut hidup dengan masa lalu dan masa sekarang dalam tatanan arsitektur perkotaannya, sekaligus juga dengan fisik dan spiritualnya. Adalah benar bahwa sistem tradisi di Asia didapati sangat berat untuk menghadapi tantangan dari dunia Barat dalam konteks globalisasi arsitektur, pada kenyataannya arus yang dikatakan global itu tak dapat dibendung. Modern biasanya disamakan dengan Barat, atau setidaknya pengaruh Barat. Salah satu pandangan yang muncul dari persamaan populer ini adalah bahwa apapun yang modern berarti asing bagi Asia Tenggara yang tradisional tulen (Vickers 2009:170). Ditambahkan oleh Vickers (2009:173) bahwa istilah ”modernisasi digantikan modernitas, kata yang dipakai untuk menyebut suatu proses subjektif (atau pembentukan subjek), kesadaran tentang menjadi modern, pengalaman tentang perubahan, dan cara merangkul hal-hal baru. Pertanyaan yang paling sukar adalah bagaimana untuk menetapkan nilai tradisi yang harus dimodifikasi tanpa menghilangkan identitas kebudayaan individu di dalam proses modernisasi. Kungkungan tradisi akan dibenturkan dengan hasrat modernitas dalam kehidupan yang penuh kontradiksi ini. Dahulu kutub-kutub yang berlawanan seperti kapitalisme dan sosialisme adalah kondisi material menjadi modern. Hal yang sangat mendasar adalah keinginan akan perubahan dan kebaruan, suatu rasa memutuskan arsitektur dari segala akar permasalahan yang melibatkan adanya sikap kembali ke masa silam. Orang Asia yang berusaha keras menjadi modern hanya bisa dianggap melakukan itu jika mengadopsi bentuk-bentuk dan ikon-ikon budaya Barat, dan dengan demikian menunjukkan bahwa mereka kekurangan sesuatu yang dimiliki Barat (Vickers 2009:175).
Pemiskinan akan pemahaman berarsitektur terjadi akibat sloganisasi para arsitek dan perencana kota dalam menstrukturkan tatanan lingkungannya. Penentuan dalam membuat bagian kehidupan berarsitektur telah terpolarisasi, sehingga masyarakat menjadi konsumer. Hal ini akan membuat pola ruang kota yang tadinya urban-tradisionalistik bergeser menjadi urban-modernis. Budaya urban tersebut secara perlahan akan masuk menjadi bagian yang akan mempengaruhi perkembangan arsitektur di Indonesia. Menjadi modernis adalah mendapati jatidiri kita berada di lingkungan yang menjanjikan petualang akan ketakutan dan kegembiraan yang bertranformasi pada saat yang bersamaan. Arsitektur perkotaan menunjuk pada suasana intelektual dan ekspresi kebudayaan yang sedang mendominasi masyarakat dewasa ini. Seolah-olah, kita sedang berpindah kepada sebuah era budaya baru, pasca-postmodernitas, tetapi kita harus memerinci apa saja yang tercakup dalam fenomena tersebut. Pencerahan melahirkan hal-hal yang baru dalam pemahaman budaya global dari generasi ke generasi melalui cara radikal dengan pola pikir yang tradisional. Kini masyarakat telah menyaksikan perubahan besar dan massal dengan bentuk-bentuk yang beranekaragam.


Sumber Pustaka
Budihardjo, E. 1985. Arsitektur dan Pembangunan Kota di Indonesia. Bandung: Alumni.
Kurokawa, K. 1988. Rediscovering Japanese Space. Tokyo: Kodansha.
Rapoport, A. 1990. History and Precedent in Environmental Design. New York: Plenum Press.
Sidharta & Budihardjo, E. 1989. Konservasi Lingkungan dan Bangunan Kuno Besejarah Di Surakarta. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Vickers, A. 2009. Peradaban Pesisir Menuju Sejarah Budaya Asia Tenggara. Denpasar: Pustaka Larasan-Udayana University Press.
Walker, J.A. 2010. Desain, Sejarah, Budaya; Sebuah Pengantar Komprehensif. Yogyakarta: Jalasutra.
Lawson, B. 2007. Bagaimana Cara Berpikir Desainer (How Designer Think). Yogyakarta&Bandung: Jalasutra.
Grenz, S.J. 2001. Pengantar Untuk Memahami Postmodernisme. Yogyakarta: Yayasan ANDI.


© Antariksa 2012
Categories: Uncategorized Tags:
Comments are closed.