Home > Uncategorized > Makna Kultural Bangunan dan Strategi Pelestarian

Makna Kultural Bangunan dan Strategi Pelestarian

April 15th, 2012
Antariksa

Konsep makna kultural bangunan
Di dalam Burra Charter, makna kultural berarti "nilai estetika, peranan sejarah, keilmuan, atau sosial untuk generasi di masa lampau, sekarang, dan masa mendatang". Makna kultural merupakan sebuah konsep yang membantu untuk mengestimasi nilai suatu tempat yang dianggap signifikan. Diharapkan, dengan memahami masa lalu dan memperdalam masa kini, di masa mendatang akan menjadi bernilai bagi generasi selanjutnya.
Konsep ini merupakan gabungan nilai-nilai arsitektural dari suatu lingkungan bersejarah. Menurut Wiryomartono (2002), bangunan monumental yang merupakan bangunan yang dilindungi oleh undang-undang harus memenuhi satu atau lebih dari kriteria peradaban dan teknis sebagai berikut: 1. Memiliki sumbangan terhadap inovasi atau temuan kreatif atau prestasi dalam bidang ilmu pengetahuan, teknik rancangan, dan konstruksi; 2. Menjadi bagian terpadu ingatan kolektif masyarakat tentnga tempat dan masyarakatnya berada; 3. Usia yang lebih dari 50 tahun dengan dugaan secara ilmiah memiliki indikasi kuat, merupakan kesatuan atau bagian dari hasil peradaban dari zaman tertentu; 4. Kelangkaan dalam jumlah dan kualitas pada produk sejenis dan kini mudah diproduksi lagi. Jikapun dapat diproduksi lagi, keaslian dan keotentikan sistem produksi maupun konsumennya tidak menunjang; dan 5. Menjadi rujukan masyarakat dalam arti tempat ziarah atau tujuan dan identitas tempat.

Kriteria penilaian bangunan berdasarkan makna kultural
Dalam upaya pelaksanaan pelestarian baik bangunan maupun kawasan sebelum dilakukannya pelestarian tersebut, terdapat suatu proses penilaian makna kultural yang dimiliki bangunan maupun kawasan tersebut. Tujuan dari penilaian makna kultural ini ialah untuk menentukan arah serta strategi pelestarian yang dirasa sesuai dengan kondisi bangunan maupun kawasan yang akan dilestarikan. Menurut Catanese (dalam Pontoh, 1992) krietria penilaian pada bangunan yang memiliki makna kultural terbagi atas: a. Kriteria estetika atau keindahan yang berkaitan dengan keindahan arsitektural dari berbagai masa. Tolak ukur yang digunakan dalam kriteria estetika meliputi bentuk, gaya, struktur, tata kota yang mewakili prestasi khusus atau gaya sejarah tertentu; b. Kriteria kejamakan (typical), yaitu bangunan–bangunan yang merupakan wakil dari kelas atau tipe bangunan tertentu. Tolak ukur kejamakan ditentukan oleh bentuk suatu ragam atau jenis khusus yang spesifik; c. Kriteria kelangkaan (searcity), merupakan bangunan terakhir yang menjadi peninggalan dari gaya yang mewakili jamannya; d. Kriteria keluarbiasaan (superlative), merupakan kriteria bagi bangunan yang paling menonjol, besar, tinggi dan sebagainya; e. Kriteria peran sejarahnya (hystorical role), merupakan bangunan maupun lingkungan yang memiliki peran dalam peristiwa bersejarah, sebagai ikatan simbolis dengan peristiwa masa lalu dengan perkembangan kota; dan f. Kriteria memperkuat kawasan (landmark), kehadiran bangunan tersebut dapat mempengaruhi kawasan sekitarnya dan bermakna untuk meningkatkan dn citra lingkungan.
Selain ke enam tolak ukur yang telah dijabarkan oleh Catanese diatas, menurut Kerr (1983) dalam Budiharjo (1997) terdapat kriteria penilian lain yang menjadi tolak ukur penilaian antara lain: a. Kriteria nilai sosial, merupakan kriteria yang digunakan pada bangunan maupun kawasan yang bermakna bagi masyarakat; b. Kriteria nilai komersial, merupakan kriteria yang digunakan sehubungan dengan peluangnya untuk dimanfaatkan bagi kegiatan ekonomis; dan c. Kriteria nilai ilmiah, berkaitan dengan peranannya untuk pendidikan dan pengembangan ilmu.
Attoe (1989: 423-425) mengemukakan poin-poin yang menjadi pertimbangan dalam penilaian sutu bangunan, antara lain: 1. Estetika, Keindahan yang berkaitan dengan keindahan arsitektural dari berbagai masa; 2. Keluarbiasaan, Bangunan yang dianggap sebagai bangunan yang pertama dibangun, misalnya gereja pertama, bangunan bertingkat pertama, dan lain-lain; 3. Peranan sejarah, Bangunan yang memiliki kaitan dengan peristiwa atau tokoh sejarah tertentu; 4. Kelangkaan, Bangunan yang melambangkan tradisi kebudayaan, yaitu mencerminkan kedaan sebenarnya, cara kehidupan dan cara melakukan sesuatu pada sesuatu tempat dan suatu waktu tertentu; 5. Karakter bangunan, Bangunan yang unik dan langka dan merupakan warisan terahir dari suau tipe bangunan.
Dalam Guidelines to the Burra Charter (1988), dijelaskan mengenai criteria nilai-nilai makna kultural secara umum sebagai berikut: 1. Nilai estetika: Nilai estetika mencakup aspek persepsi sensorik yang kriteria dapat dan harus ditetapkan. Kriteria tersebut dapat mencakup beberapa pertimbangan, antara lain skala, bentuk, tekstur, warna, dan material dari kain, bau dan suara yang terkait dengan tempat dan penggunaannya; 2. Nilai historis (historic value): Nilai sejarah meliputi sejarah dari estetika, ilmu pengetahuan dan sosial, dan oleh karena itu, untuk sebagian besar persyaratan yang mendasar ditetapkan dalam bagian ini. Sebuah tempat mungkin memiliki nilai sejarah karena telah mempengaruhi, atau telah dipengaruhi oleh, sebuah peristiwa bersejarah, fase, atau kegiatan. Mungkin juga memiliki nilai sejarah sebagai lokasi peristiwa penting. Untuk setiap tempat tertentu signifikansi akan lebih besar tergantung dari bukti dari asosiasi atau peristiwa bertahan di situ, atau pengaturan secara substansial utuh, dari mana telah diubah atau bukti yang tidak dapat bertahan hidup. Namun, beberapa peristiwa atau asosiasi mungkin begitu penting bahwa tempat tetap penting terlepas dari pengobatan selanjutnya; 3. Nilai ilmiah: Nilai dari tempat yang dikaji akan tergantung pada pentingnya data yang terlibat, kelangkaan data tersebut, kualitas keterwakilan data, dan pada tingkat yang lebih lanjut dapat berkontribusi besar dalam memberikan informasi yang substansial; 4. Nilai sosial: Nilai sosial mencakup kualitas tempat yang telah menjadi fokus spiritual, sentimen budaya politik, nasional atau lainnya untuk mayoritas atau kelompok minoritas; dan 5. Pendekatan-pendekatan lainnya: Pengelompokan ke dalam nilai-nilai estetika, sejarah, ilmiah dan sosial merupakan salah satu pendekatan untuk memahami konsep signifikansi budaya. Namun, kategori yang lebih tepat dapat dikembangkan seiring dengan meningkatnya pemahaman akan tempat tertentu.

Strategi Pelestarian Bangunan
Pelestarian bangunan cagar budaya merupakan salah satu topik yang kurang mendapat perhatian dari masyarakat, sehingga mengakibatkan banyak bangunan bersejarah yang tidak memiliki fungsi lagi tidak mendapat perhatian yang sepatutnya dan secara tiba-tiba keberadaannya menghilang tanpa disadari. Upaya pelestarian bangunan maupun kawasan kuno banyak mengalami kendala khususnya di kota besar. Berdasarkan pada hasil studi yang dilakukan oleh (Panjaitan 2004), beberapa kendala yang terjadi pada usaha pelestarian bangunan antara lain: 1. Faktor Eksternal: - Kepadatan penduduk mempengaruhi pertumbuhan kota dan menjadikan nilai tanah dan bangunan menjadi tinggi, adanya perubahan struktur masyarakat yang berpengaruh pada kehidupan sosialnya; - Banyak bangunan baru yang tidak menjaga kesinambungan dengan bangunan lama, tidak sedikit pula pembangunan bangunan baru dilakukan dengan membongkar bangunan lama yang bersejarah; -Banyak bangunan lama yang terbengkalai dan digunakan untuk fungsi yang tidak semestinya; - Kondisi sosial ekonomi sebagian masyarakat yang masih rendah mengakibatkan kurangnya kesadaran masyarakatnya akan kesejarahan yang dimiliki kota; dan 2.Faktor Internal: - Rendahnya kesadaran serta minimnya pengetahuan berkaitan dengan bangunan bersejarah yang memiliki potensi besar serta berpengaruh terhadap identitas kota; - Tidak adanya kepastian hukum terhadap pelestarian objek-objek kawasan bersejarah di Kota Surabaya; - Tidak ada kesadaran akan pentingnya nilai gaya bangunan, skala bangunan ataupun skala ruang pada perancangan bangunan baru disekitar kawasan bangunan bersejarah.
Menurut Busono (2009) strategi pelestarian bangunan kuno sangat terkait erat dengan kegiatan pemeliharaan bangunan. Aktifitas pemeliharaan bangunan tidak sekedar merupakan kegiatan merawat bangunan secara fisik, melainkan kegiatan yang mencakup aspek teknis maupun administratif dalam mempertahankan dan memulihkan fugnsi bangunan sebagaimana mestinya. Kegiatan pemeliharaan bangunan meliputi berbagai aspek yang dapat dikategorikan dalam empat kegiatan, antara lain: - Pemeliharaan rutin harian; - Rectification ( perbaikan bangunan yang baru selesai); - Replacement( penggantian bagian yang berharga dari bangunan); dan - Retrofitting (melengkapi bangunan sesuai kemajuan teknologi).
Secara umum kegiatan pemeliharaan bangunan dapat dibagi menjadi 2 macam kegiatan yakni pemeliharaan rutin dan pemeliharaan remedial(perbaikan). Pemeliharaan rutin adalah pemeliharaan yang dilaksanakan dalam interval waktu tertentu untuk mempertahankan gedung dalam kondisi yang diinginkan. Sebagai contoh kegiatan pemeliharaan rutin ini ialah kegiatan pengecatan dinding luar yang dilaksanakan 2 tahun sekali, pengecatan interior 3 tahun sekali, pembersihan dinding luar dan sebagainya. Pemeliharaan rutin juga berkaitan dengan perbaikan atau penggantian komponen yang rusak akibat proses alami maupun proses pemakaian bangunan (Busono, 2009)
Dalam upaya adaptasi fungsi bangunan yang akan dilestarikan, tentunya akan ada upaya-upaya penyesuaian terhadap fungsi pengguna yang baru dan juga standar-standar bangunan di masa kini. Hal ini tentunya akan berdampak terhadap perubahan fisik eksisting bangunan untuk menyesuaikan kebutuhan saat ini. Secara umum, terdapat dua jenis strategi pelestarian bangunan, yakni strategi yang berupa arahan/panduan (guideline) dan strategi yang berupa aspek teknis pelaksanaan tindakan pelestarian. Nurmala (2003) menjabarkan strategi pelestarian komponen bangunan melalui standar pengaturan melalui beberapa dasar pertimbangan, antara lain estetika, kejamakan, kelangkaan, keistimewaan, dan nilai historis (Tabel 2).

Tabel 2. Standar Pengaturan Komponen Bangunan
Dasar Pertimbangan
Komponen
Variabel
Aturan Wajib
Aturan Anjuran
Estetika
Fasade
·  Bentuk dan ukuran bukaan
·  Material
+  Mempertahankan bentuk dan ukuran bukaan yang masih dalam kondisi baik yang mencerminkan estetika bangunan dan mewakili karakter gaya fasade bangunan.
+  Mempertahankan material dinding bukaan asli bangunan jika kondisinya masih baik
+  Memperbaiki bagian fasade yang rusak sesuai dengan tampilan dan tekstur aslinya.


Atap
·  Bentuk
·  Ukuran
·  Material
+  Mempertahankan bentuk, ukuran, dan material atap yang masih dalam kondisi baik dan estetis.
+  Mengganti material penutup atap yang rusak dengan material baru yang sesuai/mirip dengan material aslinya sehingga tidak menghilangkan karakter bangunan

-  Tidak diperbolehkan mengganti bentuk dan material atap yang dapat mengubah karakter bangunan.
+ Jika dilakukan pengembangan, atap bangunan baru disesuaikan dengan bentuk dan material atap bangunan lama untuk menjaga keharmonisan bentuk bangunan.
+ Diperbolehkan menambahkan teritisan dengan bentuk yang disesuaikan dengan atap bangunan lama untuk melindungi fasade bangunan terhadap tampias hujan dan cahaya matahari.

Ornamen
·  Gaya dan bentuk ornamen
·  Ukuran
+  Mempertahankan bentuk, ukuran ornamen yang kondisinya masih baik dan bersifat estetis.
+  Mengganti ornamen yang kondisinya sudah rusak dengan ornament baru yang sesuai dalam ukuran, bentuk, dan material dengan ornamen lainnya.

-  Tidak diperbolehkan menambahkan ornamen pada bangunan dengan bentuk baru tanpa memperhatikan kesesuaian dengan kondisi sebelumnya, sehingga dapat merusak nilai estetika bangunan.

+ Diperbolehkan menambahkan ornamen pada bangunan disesuaikan dengan fungsi bangunan dan bentuk ukuran ornamen asli.
Kejamakan
Ornamen
·  Gaya dan bentuk ornamen
·  Ukuran
+  Mempertahankan bentuk, ukuran ornamen yang memperkuat kekhususan gaya arsitektur.
+  Mempertahankan material bangunan yang mendukung kekhususan gaya bangunan.

-  Tidak diperbolehkan mengganti/menghilangkan bentuk ornamen unik pada bangunan sehingga menghilangkan karakter bangunan.

+ Diperbolehkan menambahkan ornamen pada bangunan disesuaikan dengan gaya, bentuk, dan ukuran ornamen asli serta fungsi bangunan.

Fasade
·  Bentuk dan ukuran bukaan
·  Material
+  Mempertahankan bentuk dan ukuran bukaan yang masih dalam kondisi baik yang mencerminkan ciri pada gaya fasade bangunan.
+  Mempertahankan material dinding bukaan asli bangunan jika kondisinya baik
+  Memperbaiki bagian fasade yang rusak sesuai dengan tampilan dan tekstur asli.

-  Tidak diperbolehkan mengganti material penutup dinding fasade dengan material yang kontras dengan aslinya sehingga merusak kekhususan gaya arsitektur bangunan asli.

+ Jika dalam perbaikan atau pengembangan tidak ditemukan material yang sama dengan material fasade bangunan lama, maka dapat digunakan material baru yang sedapat mungkin mirip karakternya dengan material asli, sehingga karakter asli bangunan tidak hilang.

Atap
·  Bentuk atap
·  Dimensi atap
+  Mempertahankan bentuk, ukuran, dan material atap yang masih dalam kondisi baik yang mendukung kekhususan gaya arsitektur bangunan
+  Mengganti material penutup atap yang rusak dengan material baru yang sesuai/mirip dengan material aslinya.

-  Tidak diperbolehkan mengganti bentuk dan material atap yang dapat merusak karakter asli bangunan.
+ Jika dilakukan pengembangan, atap bangunan baru disesuaikan dengan bentuk dan material atap bangunan lama untuk menjaga keharmonisan bentuk bangunan.
+ Diperbolehkan menambahkan teritisan dengan bentuk yang disesuaikan dengan atap bangunan lama untuk melindungi fasade bangunan terhadap tampias hujan dan cahaya matahari.


Kelangkaan
(indikator kelangkaan disesuaikan dengan perkembangan arsitektur suatu kota)
Ornamen
·  Gaya dan bentuk ornamen
·  Ukuran
+  Mempertahankan ornamen yang merupakan ciri gaya arsitektur khusus dalam kawasan.

-  Tidak diperbolehkan menambahkan ornamen yang berbeda gaya dan berukuran lebih dominan dari ornamen lama.

+ Diperbolehkan menambahkan ornamen pada bangunan disesuaikan dengan fungsi bangunan dan gaya, bentuk, serta ukuran ornamen asli.


Fasade
·  Bentuk dan ukuran bukaan
·  Material
+  Mempertahankan bentuk dan dimensi bukaan yang unik untuk mempertahankan tampilan fasade bangunan.
+  Mempertahankan material yang memberikan karakter pada fasade bangunan dan kondisinya masih baik.
+  Mengganti material yang rusak dan tidak bisa diperbaiki lagi dengan material yang memberikan tekstur yang sama dengan aslinya sehingga tidak merusak karakter kelangkaan bangunan asli.

-  Tidak diperbolehkan mengubah bentuk dan dimensi bukaan asli bangunan.

+ Jika dilakukan pengembangan, diperbolehkan menambah bukaan bangunan disesuaikan dengan bentuk dan dimensi bukaan asli serta tidak merusak tampilan fasade secara keseluruhan.
+ Jika dilakukan pengembangan, material yang dipilih disesuaikan dengan karakter material asli bangunan.

Keistimewaan
Bentuk dan skala bangunan
·  Bentuk
·  Ketinggian
·  Lebar
+  Mempertahankan bentuk dan skala bangunan asli.

-  Penambahan pada bangunan tidak boleh merubah bentuk dan skala fisik bangunan.
+ Jika dilakukan pengembangan bangunan, disesuaikan dengan bentuk-skala bangunan lama dan bangunan di sekitarnya, serta peraturan bangunan di kawasan.



Ornamen
·  Gaya dan bentuk ornamen
·  Material
·  Warna
·  Dimensi
+  Mempertahankan bentuk dan gaya ornamen asli.
+  Penambahan ornamen baru disesuaikan dengan gaya, bentuk dan dimensi ornamen asli.
+ Diperbolehkan menambahkan ornamen baru untuk kepentingan fungsi bangunan selama sesuai dengan gaya, bentuk, dan dimensi ornamen asli bangunan.






Keistimewaan
Ornamen
·  Gaya dan bentuk ornamen
·  Material
·  Warna
·  Dimensi
+  Memperbaiki ornamen khusus yang rusak dan mengganti ornamen yang sudah tidak dapat diperbaiki lagi dengan ornamen baru yang gaya, bentuk dan dimensinya sama dengan ornamen asli bangunan. Jika bentuk ornamen yang rusak tidak teridentifikasi lagi, maka dipilih ornamen yang sesuai dengan gaya bangunan tua/bersejarah baik dari segi bentuk, material, maupun warna.


Fasade
·  Bentuk dan ukuran bukaan
·  Material
+  Mempertahankan bentuk dan dimensi bukaan yang unik untuk mempertahankan tampilan fasade bangunan.
+  Mempertahankan material yang memberikan karakter pada fasade bangunan dan kondisinya masih baik.
+  Mengganti material yang rusak dan tidak bisa diperbaiki lagi dengan material yang memberikan tekstur yang sama dengan aslinya sehingga tidak merusak karakter kelangkaan bangunan asli.

-  Tidak diperbolehkan mengubah bentuk dan dimensi bukaan asli bangunan.
+ Jika dilakukan pengembangan, diperbolehkan menambah bukaan bangunan disesuaikan dengan bentuk dan dimensi bukaan asli serta tidak merusak tampilan fasade secara keseluruhan.
+ Jika dilakukan pengembangan, material yang dipilih disesuaikan dengan karakter material asli bangunan.

Konstruksi
·  Kekuatan
·  Material
·  Bentuk
·  Dimensi
+  Mempertahankan bentuk konstruksi yang unik pada bangunan.
+  Mengganti konstruksi khusus yang sudah rusak dengan bentuk, material, dan dimensi yang sama dengan konstruksi aslinya.
+ Jika dalam perbaikan tidak ditemukan material konstruksi yang sama, maka diperbolehkan menggunakan material yang berbeda disesuaikan dengan karakter material asli bangunan dengan mempertimbangkan kekuatannya pula.
Nilai Historis
Fungsi
·  Fungsi
+  Mempertahankan funsgi bangunan yang bernilai sejarah.
+ Jika terjadi perubahan fungsi, maka harus disesuaikan dengan fungsi kawasan dengan tidak merubah tampilan fisik bangunan yang mewakili sejarah gaya arsitektur tertentu.







Sumber: Nurmala (2003)

Highfield (1987) menjabarkan poin-poin aspek teknis yang harus diperhatikan dalam tindakan pelestarian bangunan, antara lain: 1. Meningkatkan ketahanan struktur eksisting terhadap api. Elemen-elemen bangunan yang paling umum dilakukan tindakan peningkatan (upgrading) terhadap api adalah elemen-elemen yang berhubungan dengan lantai kayu, kolom dan balok baja, atau besi tempa. Berikut adalah strategi pelestarian fisik elemen-elemen bangunan yang perlu ditingkatkan ketahanannya terhadap kebakaran: a. Meningkatkan resistensi lantai kayu terhadap api (i.  Menambahkan lapisan tahan api dibawah balok eksisting atau atap; ii.  Mengisi ruang kosong antara permukaan lantai dengan plafon); b. Meningkatkan resistansi terhadap api pada elemen baja dan besi (i. Solid encasement; ii.   Lightweight hollow encasement; iii. Spray-applied coating); c.  Meningkatkan resistensi terhadap api pada pintu; d. Meningkatkan resistensi terhadap api pada tembok; 2. Memperbarui finishing interior: a. Memperbarui permukaan dinding ( i. Lapisan plaster; dan ii. Dry linings): b. Memperbarui permukaan langit-langit; dan c. Memperbarui lapisan lantai; i. Melapisi ulang dengan kayu; ii. Re-screeding; dan iii. Memoles lantai seperlunya untuk pengrataan kembali); 3. Memperbarui performa akustik dari elemen eksisting: a. Dinding antar ruangan; b. Lantai antar ruangan; dan c. Dinding pemisah dengan dunia luar; 4. Mencegah kelembaban dalam bangunan: a. Mencegah penetrasi air hujan melalui tembok eksternal (i. Dry linings; ii. Lapisan penahan kelembaban; iii. Cairan kedap air; iv. Cat tahan air); b. Mencegah penambahan kelembaban pada tembok (i. Instalasi ulang penahan kelembaban baru; dan ii. Injeksi bahan kimia penahan kelembaban di dinding); c. Mencegah peningkatan kelembaban pada lantai dasar; d. Mencegah penetrasi air hujan pada atap; 5. Mencegah kerusakan kayu: a. Serangan jamur(i. Dry rot (Serpula lacrymans); ii. Wet rot (Coniophora puteana); dan b. Serangan serangga dengan injeksi in-situ injection untuk elemen-elemen kayu; dan c. Perbaikan dan restorasi menggunakan epoxy-resin pada kayu yang mulai hancur; dan 6. Perkuatan lantai kayu eksisting: a. Mengganti dengan bagian kayu atau baja baru; b. Memperkuat dengan potongan baja kanal baru; c. Memadatkan dengan baja atau kayu; d. Memadatkan dengan pelat baja; dan e. Memperkuat dengan metode beton bertulang.
Mills (1994) menjabarkan aspek-aspek teknis yang pada umumnya dilakukan pada pelestarian bangunan, antara lain perawatan pada kerusakan bangunan eksisting dengan cara: 1. Menambahkan kapasitas tarik; 2. Mencegah penetrasi kelembaban; 3. Antisipasi penetrasi air hujan melalui atap; 4. Antisipasi penetrasi air hujan melalui dinding; 5. Antisipasi penetrasi air tanah; 6. Mencegah pembusukan kayu; 7. Antisipasi serangan jamur pada kayu; dan 8. Antisipasi serangan serangga pada kayu.


Sumber Pustaka
Akihary, H. 2006. Ir. F.J.L.Ghijsels: Architect in Indonesia. Utrecht: Seram Press.
Antariksa. 2010. Tipologi Wajah Bangunan dan Riasan dalam Arsitektur Kolonial Belanda. http://antariksaarticle.blogspot.com/2010/05/tipologi-wajah-bangunan-dan-riasan.html.  (diakses 27 Februari 2011)
Attoe, W. 1989. Perlindungan Benda Bersejarah. Dalam Catanese, Anthony J. dan Snyder, James C. (Editor). Perencanaan Kota: 413-438. Jakarta: Erlangga.
Badan Pelestarian Pusaka Indonesia. 2003. Piagam Pelestarian Pusaka Indonesia. http://www.indonesianheritage.org/produk-hukum/74-piagam-pelestarian-pusaka-indonesia.html. (diakses 3 Maret  2011)
Budihardjo, E. 1985. Arsitektur dan Pembangunan Kota di Indonesia. Bandung: Alumni.
Budiharjo, Eko. 1985. Arsitektur dan Pembangunan Kota di Indonesia. Bandung : Alumni
Budiharjo, Eko. 1997. Arsitektur Pembangunan dan Konservasi. Jakarta: Djambatan
Budiharjo, Eko. 1997. Arsitektur sebagai  Warisan Budaya. Jakarta: Djambatan
Dobby, A.. 1984. Conservation and Palnning. London : Hunchinson
Fitch, J.M. 1992. Historic Preservation:Curatorial Management of The Build World. New York: Mc Graw Hill Book company.
Handinoto. 1996. Perkembangan Kota dan Arsitektur Kolonial Belanda di Surabaya (1870-1940). Surabaya: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Kristen PETRA Surabaya.
Handinoto. 1996. Perkembangan Kota dan Arsitektur Kolonial Belanda di Surabaya (1870-1940). Surabaya: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Kristen PETRA Surabaya.
Handinoto. 2004. Kebijakan Politik dan Ekonomi Pemerintah Kolonial Belada yang Berpengaruh pada Morpologi (Bentuk dan Struktur) Beberapa Kota di Jawa. Dimensi Teknik Arsitektur. 32 (1): 19-27.
Handinoto. 2010. Arsitektur dan Kota-kota di Jawa pada Masa Kolonial. Yogyakarta : Graha Ilmu
Hastijanti, R. 2008. Analisis Penilaian Bangunan Cagar Budaya. http://saujana17.wordpress.com/2008/analisis-penilaian-bangunan-cagar-budaya .html.  (diakses 27 Februari 2011)
Highfield, D. 1987. Rehabilitation and Re-use of Old Building. London: E. & F.N. Spon.
ICOMOS. 1981. Charter for the Conservation of Places of Cultural Significance. http://australia.icomos.org/wp-content/uploads/BURRA_CHARTER.pdf. (diakses 5 Maret 2011)
Istiantomo. 2009. Revitalisasi Gedung Balai Pemuda Surabaya. Skripsi tidak dipublikasikan. Malang  : Universitas Brawijaya
Kerr, J. 1982. The Conservation Plan: A Guide to the Preparation of Conservation Plans for European Cultural Significant. New South Wales: The National Trust of Australia.
Krier, Rob. 1988. Komposisi Arsitektur. Jakarta: Erlangga.
Mills, E. 1876. Planning: Building for Education, Culture, and Science. London: Newnes-Butterworth.
Mills, E. 1994. Building Maintenance and Preservation: a Guide for Design and Management. Oxford: Butterworth-Heinemann.
Moelyono, P. Abdy, D, Djaya, H, Ghufron, M. 1988. Pengantar Metode Penelitian. Jakart : Penerbit Fero.
Muhammad, N B. 2004. Model Pelestarian Arsitektur Berbasis Teknologi Informasi. Jurnal Dimensi Teknik Arsitektur. 32.
Mutiari, D. 2003. Heritage Environment Conservation Management Related to Economic Orientation in Urban Design. Proseding dalam International Symposium and Workshop on Managing Heritage Environment in Asia. Pusat Pelestarian Pusaka Arsitektur. Yogyakarta, 8-12 Januari 2003.
Nurmala. 2003. Panduan Pelestarian Bangunan Bersejarah di Kawasan Pecinan-Pasar Baru Bandung. Tesis. Tidak dipublikasikan. Bandung: ITB
Panjaitan, T.W.S. 2004. Peranan Konservasi Arsitektur Bangunan dan Lingkungan dalam Melestarikan Identitas Kota. Selasar Jurnal Arsitektur. 1 (1):
Pontoh, N.K. 1992. Preservasi dan Konservasi Suatu Tinjauan Teori Perancangan Kota. Jurnal PWK, IV (6): 34-39.
Shirvani, H. 1985. Urban Design Process. New York: Van Nostrand Remhold
Sopandi, S. 2008. Arsitektur Kota Bogor: Dulu dan Sekarang. http://handelstraat.wordpress.com/2008/11/24/arsitektur-kota-bogor-dulu-dan-sekarang-setiadi-sopandi/ (diakses 27 Februari 2011)
Sudibyo, I. 1997. Pembongkaran Bangunan Kuno: Sebuah Kemiskinan Budaya. Dalam Budiharjo, Eko (Penyunting). Arsitektur Pembangunan dan Konservasi: 142 - 149. Jakarta: Djambatan
Widodo, Indra. 2003. Pengembangan Balai Pemuda Surabaya sebagai Gedung Seni Pertunjukan. Skripsi tidak dipublikasikan. Malang  : Universitas Brawijaya
Wiryomartono, B. P. 2002. Urbanitas dan Seni Bina Perkotaan. Jakarta: Balai Pustaka.
Yunani, R.M. 2009. Bergejolaklah Sebelum Dibongkar.  Jayabaya.


 ©Antariksa 2012

Categories: Uncategorized Tags:
Comments are closed.